Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 47


__ADS_3

"Aku tidak bisa bertarung dengan sosok jiwa tanpa tubuh ini, aku harus bagaimana menghadapi sosok mengerikan itu? Tak kusangka, selama ini ada makhluk mengerikan bersemayam di dalam dirimu, Tuan Peteng."


"Grrrgh...!"


Sosok mengerikan itu semakin mendekat ke arah pak tua itu, tampak pak tua itu ragu-ragu mendekati sosok mengerikan itu.


"Tidak, aku tidak bisa mundur! Aku sudah janji pada Tuan Peteng untuk membantunya menjadi sangat kuat."


Pak tua itu langsung maju ke arah sosok mengerikan itu dengan perasaan campur antara takut dan nekat.


"..?!"


Sosok mengerikan itu terkejut dan bingung sebab pak tua itu tadi mundur dan takut saat melihat dirinya, sekarang dia menampakkan dirinya penuh kenekatan di depan makhluk mengerikan itu.


"Makhluk itu pasti hanya ingin melindungi Tuan Peteng. Baiklah, aku akan menunjukkan niat baikku padanya."


Sesaat semakin mendekat, pak tua itu sudah berdiri tepat di depan makhluk mengerikan itu dan mereka saling menatap satu sama lain.


"Matanya benar-benar tajam...."


Pak tua itu mengulurkan tangannya ke arah depan dan mencoba menyentuh sosok mengerikan itu.


Glup!


Rasa gugup dan takut menjadi satu dan sudah terpampang jelas di wajahnya, tapi sosok mengerikan itu tidak menunjukkan perlawanan sama sekali.


Sesaat tangan pak tua itu berhasil menyentuh kepala sosok mengerikan itu.


"Lembut...." Sembari mengelusnya dengan lembut.


Cring! Cring! Cring!


"Hah? Apa yang terjadi?"


Tiba-tiba suasana gelap ini berubah menjadi tempat penuh kehangatan dan indah, lalu pak tua itu kaget melihat kejadian ini dan langsung melirik ke arah sosok mengerikan itu lagi.


"Ternyata kamu benar-benar serigala, tubuh besar seperti singa dan rambut tebal tumbuh di lehernya. Kamu benar-benar sosok yang kuat."


"He, he.., guk...." Sembari menggoyangkan ekornya.


Pak tua yang melihat itu tersenyum dan mengelus kembali kepala serigala hitam itu, tampak serigala itu menyukai pak tua itu.


"Syukurlah, kamu mengerti niat baikku. Sekarang tempat ini benar-benar tenang, mungkin Tuan Peteng bisa mengendalikan Aura miliknya."


Tiba-tiba tubuh jiwa pak tua itu mulai menghilang.


"Hing...."


Melihat serigala hitam itu sedih dan terlihat pak tua itu juga sedih melihatnya.


"Kamu jangan sedih, mungkin kita akan bertemu lagi dan tolong jaga baik-baik, Tuan Peteng."


"Guk...!"


Mendengar itu, pak tua itu langsung tersenyum dan menghilang sepenuhnya dari tempat ini.


...•••...


Setelah beberapa menit merek berdua meditasi....


"Bagaimana Tuan Peteng, apa kamu merasakan kekuatan melimpah dalam dirimu?"


Aku bangun dan mencoba mengeluarkan Aura milikku.


Buh...!


"Eh? Aku berhasil?"


Aku melihat Aura berwarna putih mengelilingi diriku dan aku merasa juga tubuhku semakin ringan.


"Sudah kuduga, walaupun kamu tidak diberkati tubuh kuat untuk menampung Mana, tapi kamu diberkati jiwa yang kuat untuk membuatmu bisa hidup lebih lama lagi."


"Jiwa yang kuat...."


Saat mendengar itu entah kenapa perasaanku semakin tidak enak, sebab kemampuan sistem ini adalah menggunakan jiwa-jiwa yang bebas sesuka hatinya dan aku juga sudah berapa kali memakan jiwa-jiwa tidak bersalah.


"Sumber utama dari Aura adalah selain jiwa yang kuat, tapi kami juga harus memiliki kontrol diri hebat mulai dari mental, pikiran dan tubuh. Jika salah satu dari itu kamu tidak menguasainya, maka hanya ada cedera serius menimpa jiwa dan tubuhmu."

__ADS_1


"Apa kemampuan Aura ini hanya berkisar pada di tubuh kita dan benda yang kita genggam?"


"Aura tidak seperti Mana, sebab Mana tercipta dari alam yang ada di sekitar kita, dan sedangkan Aura tercipta dari dalam diri kita sendiri dengan kata lain 'Mana buatan sendiri.' Penggunaan Aura sangat terbatas sebab menggunakan berlebihan hanya akan membebani dirimu, maka dari itu pentingnya melatih jiwa dan raga kita semaksimal mungkin."


"Begitu ya, tapi apa yang terjadi jika Mana dan Aura disatukan?"


"Akan terjadi penolakan besar, maksudnya Mana dan Aura ini memiliki sifat masing-masing. Aura dikelola oleh jiwa di dalam diri kita yang bertugas melindungi tubuh dan kesadaran diri, hanya sedikit orang bisa mengelola Aura hingga tingkat tinggi seperti Aura bisa difungsikan sebagai senjata energi lepas seperti Mana, sedangkan Mana memiliki banyak fungsi terhadap tubuh kita sehingga mudah dikelola berbagai hal seperti bisa mengubahnya menjadi api keluar dari tubuh, pelindung, penguat dan lain-lain. Tapi, aku pernah dengar ada seseorang berhasil menyatukan Mana dan Aura secara bersamaan, aku tidak tahu apa itu benar atau tidak."


Setelah mendengar itu membuatku paham bahwa manusia bisa menjadi kuat dengan caranya sendiri tanpa bantuan pihak luar sekalipun.


"Mungkin tanpa bantuan sistem juga aku bisa sangat kuat."


Aku melihat Pak Adrian menatap ke arah jam dinding.


"Tampaknya waktu menjenguk sudah habis, sebaiknya kamu kembalilah sebelum para suster itu datang." Sembari naik ke atas kasur. "Sayang sekali, padahal aku ingin berbicara lebih lama denganmu, tapi datanglah kepadaku kapan saja dan aku akan menyambutmu dengan senang hati."


"Terima kasih atas bantuannya selama ini, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Bapak."


Aku langsung berjalan ke arah pintu, tapi langkahku terhenti dan berbalik lagi.


"Pak, soal kemampuanku waktu itu...."


"Kamu tidak perlu mengatakannya sekarang, aku tahu kamu punya alasan kuat menyembunyikannya. Tapi, sebaiknya kamu jangan menyembunyikannya terlalu lama, sebab akan banyak orang salah mengartikan dirimu kelak nanti."


"Terima kasih atas nasihatnya." Aku langsung membuka pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali.


Krak....


Seketika suasana menjadi hening dan hanya ada suara jam dinding terus berbunyi, tiupan angin menembus sela-sela kecil gorden jendela itu hingga membuatnya terangkat sedikit.


"Menjadi sangat kuat ya, sejak awal anak itu sudah sangat kuat dibandingkan semua orang aku temui, tapi aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam darinya. Kuharap penderitaannya itu bukan alasan membuatnya menjadi yang sekarang."


...•••...


Saat aku berjalan lagi menyusuri lorong rumah sakit setelah menuju ke administrasi untuk membeli obat untuk jaga-jaga jika Rena dan Reno masih merasakan sakit lagi.


Sesaat berjalan menuju ruangan si kembar, aku melihat seseorang dengan pakaian merahnya memasuki ruangan Adik-Adikku.


"Siapa dia?"


Karena cemas aku langsung bergegas menuju ke sana, sesaat sampai di depan pintunya aku langsung membukanya.


Krak....


Pria baju merah itu langsung berbalik dan melihat ke arahku.


"Dia kan...!"


Melihat wajahnya membuatku sedikit terkejut, sebab kami sudah berpapasan sekali saat di hutan itu.


"Apa dia datang ke sini karena sudah tahu aku yang menyelesaikan semua Hidden dungeon itu?"


"Jadi Anda ya, Tuan Arkha Peteng. Perkenalkan saya adalah Rian Kasim, ketua cabang dari guild Si jago merah di bagian barat."


Dia memperkenalkan dirinya dengan sopan dan hormat kepadaku, tapi tetap saja aku tidak nyaman berada di dekatnya sebab Mana yang terpancar darinya sangat kuat. Aku sudah melihatnya saat pertama kali bertemu dengannya waktu itu dan sekarang aku bisa merasakan tekanan kuat darinya.


"Apa Anda punya urusan denganku?"


"Oh, ternyata dia orangnya sangat tenang di hadapanku, baru kali ini aku melihat orang setenang ini dan lagi... aku tidak merasakan Mana mencekam itu darinya, tapi samar-samar aku bisa merasakannya sedikit darinya sejak berhadapan langsung dengannya. Dia benar-benar hebat bisa menyembunyikan kekuatan sebesar itu tanpa ketahuan sensor milikku," pikir pria itu sembari memperhatikan pria di hadapannya dengan seksama. "Maaf, kupikir Anda sudah mengenalku, aku sudah memberikan kartu namaku pada teman perempuanmu."


"Kartu nama? Aku tidak menerima kartu itu."


"Mungkin temanmu lupa memberikannya, tapi kedatanganku di sini ada hal yang ingin kubicarakan secara pribadi denganmu."


Mendengar itu aku sudah mengerti apa tujuannya mendatangiku, padahal aku sudah bersembunyi dengan baik tapi dia seorang Rank-A yang memiliki kepekaan terhadap Mana dan sensor kuat terhadap Mana juga. Aku tidak lupa pria ini yang si ahli strategi dari guild Si jago merah.


"Baiklah, kalian berdua jangan nakal-nakal dan dengar apa yang dikatakan Zara, Kakak ingin berbicara dulu dengannya."


"Baik!"


"Baik!"


Akhirnya kami berdua keluar dari ruangan ini dan pergi menuju ke sebuah kafe dekat rumah sakit ini.


"Apa guild besar itu ingin merekrutnya? Mengingat kemampuan Arkha sangat hebat, pasti guild-guild besar akan merebutkannya, kuharap Pak Adrian mengajak dia masuk dalam guild kita juga."


...•••...

__ADS_1


Sesaat tiba di sebuah kafe terdekat....


Aku diajak masuk ke sebuah ruangan menurutku tertutup dan sunyi dari suara luar, dan pria kacamata itu masuk lagi ke ruangan ini sembari membawa dua buah cangkir berisi kopi.


"Silahkan diminum, Tuan." Sembari memberikan gelas itu kepadaku.


"Terima kasih." Aku langsung menerimanya dan meminumnya.


Pria itu langsung duduk di kursi satunya dan meminum kopinya langsung. Keheningan terjadi di antara kami dan belum ada yang memulai obrolan duluan sampai setetes kopi terakhir yang diseruput olehku.


"Maaf, tampaknya suasana di sini sangat tegang, aku akan memulai pembicaraannya duluan. Aku akan langsung ke intinya, Anda kan orang yang menyelesaikan semua Hidden dungeon?"


Deg!


Seketika tanpa sadar aku menunjukkan sikap was-was kepadanya dan membuat suasana dalam ruangan ini semakin tegang.


"Jadi benar dia orangnya, firasatku kali benar-benar tepat. Dia telah berhasil melewati tiga peristiwa besar sejauh ini dan aku meminta seluruh bawahanku meminta informasi mengenai dirinya, pertama peristiwa 'Dungeon parasit,' kedua terlibatnya dia kematian seluruh kelompok dari Gilang Himar, ketiga yang baru-baru ini yang katanya berhasil menyelesaikan dungeon tiba-tiba muncul di sebuah sekolah dasar, dan itu berhasil dia selesaikan dan selamatkan anak-anak terjebak bersama Pak tua itu. Dia berhasil selamat dari tiga insiden besar itu padahal dia hanya Venandi Rank-F, dan tiba-tiba muncul sosok misterius dengan kemampuan hebat tepat di depanku saat di hutan itu. Hanya satu yang bisa kusimpulkan kesamaan dua orang ini selain Mana mereka sama tapi ciri-ciri fisik juga sama, dengan kemampuan hebat tersembunyi itu berarti dia 'orang palsu' atau... orang yang telah mengalami peningkatan super secara mendadak dan orang seperti itu biasa disebut 'Inkarnasi.'"


Glup!


Aku semakin sesak bertatap dengannya sebab aku tak bisa lolos dari genggamannya, karena masa hukumanku masih belum berakhir.


"Maaf, maaf, membuatmu tidak nyaman, aku datang ke sini bukan soal kamu berhasil menyelesaikan semua dungeon itu, tapi kami tetap saja berterima kasih karena kamu berhasil menyelesaikannya duluan sebelum terjadinya retakan."


Mendengar itu membuatku sedikit lega, tapi kewaspadaanku tidak boleh menurun karena ancaman masih melingkar di leherku.


"Apa hanya Anda saja tahu soal ini?"


"Iya, jangan khawatir, cuma aku saja yang mengetahuinya dan aku belum mengatakan hal ini kepada Master guild kami."


"Lalu Anda datang menemuiku karena bukan soal dungeon itu, lalu apa?"


Pria kacamata ini meletakkan gelas kopinya setelah diminum dan berkata:


"Aku ingin mengajakmu bergabung ke guild kami, bagaimana apa kamu tertarik? Kami akan memberikan bayaran tinggi berdasarkan kemampuan anggota masing-masing."


Setelah mendengar itu membuatku cukup terkejut, sebab ada banyak orang bisa masuk ke guild-guild besar dan bekerja di sana. Selain gaji besar di dapat, orang-orang bisa mendapatkan banyak hak istimewa seperti perlengkapan tempur gratis kualitas tinggi, jaminan asuransi akibat kecelakaan dalam dungeon dan berbagai lainnya.


"Mungkin dengan ini aku bisa mendapatkan uang banyak tanpa harus susah payah berburu, tapi...."


Sekarang suatu hal besar telah menaiki punggungku dan hal itu tidak bisa lepas lagi sampai ajal menjemputku, sekarang aku seorang "Heredis," seorang yang bertanggung jawab atas keselamatan umat manusia dari "Mereka" sebelum datang merusak Bumi ini.


"Maaf, Tuan Kasim, aku tidak bisa."


"Sudah kuduga dia akan menjawab begitu." Sembari mengeluarkan sesuatu di balik jas merahnya itu. "Kalau begitu, tolong terima ini, sebentar lagi akan diadakan event tiga hari lagi di sana dan tolong kamu hadir sebagai tamu pribadiku."


Aku terima pemberiannya itu dan saat mengambilnya hanya sebuah tiket dengan logo gambar guild mereka.


"Universitas Sanjaya..., apa Anda ingin aku datang ke sini?"


"Iya, mengingat kamu sangat muda, mungkin kamu tertarik ingin kuliah dan kamu bisa lihat-lihat kampus kami, mungkin ada jurusan yang kamu inginkan di sana."


"Ini universitas khusus orang yang telah '


Terbangkitkan, apa orang biasa juga bisa masuk ke sini?"


"Master kami ingin membangun pusat pembelajaran bagi orang yang baru Terbangkitkan agar mereka tidak salah menggunakan kemampuannya kelak, untuk orang-orang biasa kami sudah membangun universitas khusus untuk orang biasa juga. Kamu jangan khawatir soal biaya, universitas kami tidak ditentukan kelas tinggi, menengah dan bawah, tapi semuanya rata. Sebab Master kami menjunjung tinggi pendidikan dan soal biaya Master kami tidak mempusingkan hal itu, malah dia bilang ini sebagai mottonya 'Uang... apa itu uang? Uang hanya parasit dalam pendidikan, maka dari itu pendidikan harus yang menjadi hal utama dan hasilkan uang kalian sendiri melalui pendidikan,' begitu katanya."


"Master kalian sangat unik...."


"Yah... begitulah dia, jadi kamu akan datang?"


Aku melihat tiket hitam dengan corak emas ini dan memandangnya sejenak.


"Tidak ada salahnya lihat-lihat, kan." Sembari menyimpan tiket itu ke saku jaketku. "Aku akan datang."


"Baguslah kalau begitu, terima kasih sudah meluangkan waktunya, aku rasa telah banyak menyita waktumu."


"Tidak apa-apa." Aku langsung bangkit dari dudukku. "Justru aku berterima kasih karena kamu tidak membocorkan rahasiaku."


Aku langsung berjalan ke arah pintu ruangan ini dan keluar dari ruangan sepi ini.


"Pemuda yang sangat luar biasa."


...•••...


Sesaat berada di luar kafe....

__ADS_1


Aku memandang langit dan sangat cerah.


"Akhirnya sistem ini bisa dibuka lagi, aku harus membawa Rena dan Reno jalan-jalan ke taman hiburan, untuk membuat mereka bersenang-senang karena mereka bosan di rumah sakit terus."


__ADS_2