Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 109


__ADS_3

Semua orang terkejut melihatnya. Sebab kedatangan sosok tak terduga telah merubah alur permainan perang ini.


Yah, dia datang dengan menaiki seekor kuda hitam dan menggenggam sebilah pedang yang bercahaya di tangan kanannya.


Dia datang seperti seorang kesatria yang datang menyelamatkan sang putri.


"Orang itu..."


Semuanya sudah tahu dan tidak sedikit juga tidak mengetahui bahwa kemunculan sosok Pilar Negara baru telah digosipkan belakang ini. Dan ternyata orang itu benar-benar datang.


"Prudens! Keluarlah!"


Seketika dua sosok penyihir putih keluar dan langsung memancarkan energi sihirnya ke sekitar medan perang.


"Hah? Lukaku... sembuh!"


Mereka terkejut dan terharu karena akhirnya mereka masih diberikan kesempatan hidup lagi.


Sesaat sisi manusia mulai mendapatkan kembali harapan kemenangannya. Tapi, apa yang terlihat di depan mereka tampak musuh hanya menyeringai kepada mereka, dengan lidah panjang dan sisik keras mereka.


Hanya saja, sosok bantuan berkekuatan besar umat manusia ini terfokus pada satu hal yaitu sosok pria bak pangeran itu.


"Aneh, kenapa aku merasakannya energi tidak asing darinya. Seperti milikku... tidak, mungkin milik 'Mereka'. Hanya saja..." pikirku yang berusaha mencari tahu, "aku merasakan ada semacam sedikit ikatan darinya yang sulit dijelaskan."


Di sisi lain, sosok misterius ini tersenyum dan menjulurkan lidahnya yang panjang itu. Sepertinya hidangannya yang utama telah datang.


"...?"


Tiba-tiba aku merasakan kehidupan yang samar-samar dari dalam dungeon itu. Aku yakin, mereka yang pergi menaklukkan dungeon ini tanpaku dikalahkan oleh pria ini.


"Kenapa hanya enam orang saja aku rasakan, bukannya mereka ada bertujuh?"


Aku yang berusaha merasakan energi kehidupan samar-samar dan ternyata memang hanya ada enam kehidupan saja, salah satu kehidupan itu memeluk sesuatu.


Deg!


"Sialan!"


Marah, hanya itu yang bisa kurasakan saat mengetahuinya. Sesaat aku menatap tajam monster berbentuk seperti manusia ini.


"Hmm..." Pria tersenyum senang kepadaku. Tampaknya dia tahu apa yang kupikirkan. "Mengenai yang di dalam sana. Kamu jangan khawatir, mereka kuberi kesempatan saja untuk memikirkan akan jadi pelayanku."


"Pelayan?"


Mendengar itu seperti buah apel yang diberikan kepadaku, tapi nyatanya itu hanya sebuah racun di dalamnya. Siapa yang mau percaya akan ucapan monster yang telah membunuh manusia-manusia yang dijadikan mainan dan santapannya.


Garrr...!!!


Seketika pihak musuh menyerbu ke arahku dan pemimpinnya hanya diam saja dengan wajah seringainya itu.


Bing! Slash! Slash!


Crak! Crak!


Pedang cahaya yang berterbangan datang menghujani monster reptil ini. Ternyata itu serangan dari Dami dengan skill barunya itu.


"Hoarrgh...!!!"


Hap! Krak!


Seekor singa putih tiba-tiba melompat ke arah sampingku dan menyergap para monster reptil itu.


"Tuanku..."


Aku berbalik ke arahnya dan dia ternyata Lucifer, dia memanggil makhluk summon miliknya.


"Anda fokus saja melawan pria itu dan biarkan kami mengurus para sisik keras ini," ucap Lucifer sembari menatap tajam pria dihadapannya itu, dengan tatapan matanya yang merah dan tajam, "dia membuatku sedikit kesulitan mendekatinya, dan ditambah lagi 'energi' miliknya samar-samar hampir mirip dengan Anda."


Mendengar itu dari Lucifer membuatku semakin yakin, bahwa kali ini ada hubungannya dengan "Mereka". Kemunculan mendadak dungeon ini serta kehadiranku di sini tampaknya sudah menjadi rencananya untuk memancing keluar sang Heredis of Death berikutnya.


"Kamu benar, dan itulah alasanku menjalani takdir ini," kataku.


Lucifer mendengar itu terbelalak kagum dan menundukkan kepalanya dengan hormat.


Tap...


Aku turun dari punggung Unicorn dan mulai berjalan ke arah pria itu.


Set!


Garr...!!!


Beberapa monster reptil datang menyerangku. Tapi...


Bom! Bom!


"Alangkah baiknya kalian jangan mendekatinya! Selangkah kaki kalian berjalan ke arahnya, maka jangan harap tubuh kalian tersisa di sini!"


Seketika monster-monster reptil bergidik mendengar ucapan Belial. Sebab Belial melancarkan beberapa serangan bola sihir bola hitam miliknya dan melenyapkan sekejap beberapa dari mereka.


Tapi tidak sedikit mendengar ancaman Belial dan beberapa dari mereka masih terus berdatangan kepadaku.


Shut! Piuh! Crak!


Sebuah tombak darah melayang dan menembus kepala monster reptil itu. Aku memercayakan semua pada The Arcana untuk menjaga sekitarku dan fokus berjalan ke arah pemimpinnya.


Selangkah demi selangkah, aku bisa merasakan tekanan darinya. Mana super kuat benar-benar membuat siapa pun merinding saat mendekatinya. Tapi bagiku hal ini sudah seperti undangan kepadaku untuk menghadapinya.


Dia hanya tersenyum dan menampakkan giginya yang rapi dan tajam.


"Hehehe... 'energi' itu akan jadi milikku semuanya! Datanglah kepadaku!"


Bing!


Dur...!!!


Seketika energi kuat terpancarkan dari sebuah pedang yang dipegang pemuda itu.


Set!


Dengan gerakan yang cepat dia sudah ada di depan pria itu.


Slash! Boom!!


Ledakan besar terjadi saat pedang itu dihantamkan.


"Apa-apaan Mana ini...!!"


Semua orang yang melihat ini merasakan tekanan kuat dari arah dekat dungeon itu.


"Sudah kuduga, serangan semacam ini hanya menggelitik dirimu."


Pria itu hanya tersenyum lebar dan berkata:


"Menarik. Terima kasih hadiah kejutannya, sekarang giliranku!"


Punch!!


Sebuah tinju bertekanan tinggi datang dari arah kanan dan mengarahkannya kepadaku.


Bunh...! Dur!


Dengan cepat aku berhasil menghindarinya dan tinjunya itu terhantam ke tanah dan mengakibatkan asap tanah bergumpal di udara.


"Kamu cepat juga ya," kata pria itu.


Set!!!


"!!"


Dengan cepat dia maju melesat ke arahku dan aku sangat terkejut melihat akan gerakannya itu.


Punch!!!


Punch!!!


Dur...!!!


"Heh..." pria itu menampakkan wajah senang dan sedikit terkejut melihatnya. "Aku pikir kamu hanya mengandalkan benda-benda sihir untuk mengalahkanku, ternyata tubuhmu cukup kuat juga menahan pukulan ini."


Saat ini tinju kami benar-benar saling bertemu dan mengakibatkan sedikit guncangan di sekitar karena tekanan ini energi saling benturan ini.


Aku hanya diam menanggapi pernyataannya itu.


"Sedari awal aku sudah mengandalkan banyak item," pikirku yang merasa sedikit pecundang karena mengakuinya sendiri. "Ditambah item baru ini sangat membantuku."


[Kalung kenangan (Level 1)


Tingkat : ???


Kalung yang selalu dibawa oleh sang pria bijaksana ke mana pun ia melangkah, dialah Arjuna. Kalung inilah bukti perjalanannya selama menginjakkan kehidupannya di muka bumi ini. Sekarang kalung melingkar dia atas batu nisannya.


INT : +100 DEX : +100 LUK : +100


Skill :


- Setiap serangan yang berhasil mengenai tubuh pengguna dari musuh, maka serangan tersebut akan dipantulkan sebanyak 5% dan penyerang tidak sadar bahwa serangan tersebut telah mengenai dirinya. Efek ini bisa ditumpuk sebanyak lima kali.]


Aku sangat terkejut akan item ini tiba-tiba ada di inventori milikku saat menuju ke sini. Ditambah Rune Stone terakhir yang kumiliki menghilang di inventori, bisa dipastikan bahwa item ini harta warisan leluhur.

__ADS_1


Bisa dilihat kalung sama persis yang digunakan pendahuluku yaitu Arjuna. Hanya saja aku heran, karena aku belum melakukan ritual penyatuan seperti sebelum-sebelumnya yang kulakukan pada harta warisan leluhur lainnya.


Punch!!!


Kali ini giliranku membalasnya dengan tinju milikku dan pedagang milikku aku simpan kembali ke inventori.


Krak!!! Piuh!


Bur...!!!


Dalam sekejap seranganku berhasil mengenai uluh hatinya. Ya itu terjadi karena tinggi kami yang sangat berbeda, aku hanya 170 sedangkan dia hampir dua setengah meter.


Dirinya terlempar cukup jauh dan semua orang serta para reptil ini terkejut melihatnya.


"Master..." panggil Adam yang terkejut dengan mulut sedikit menganga.


"Ya?"


"Aku merasakan ada yang sangat berbeda dengan anak itu."


Agus memicingkan matanya ke arah anak muda yang melawan bos monster. Dia pun sama halnya dengan bawahannya itu, bahwa pemuda ini mengalami peningkatan drastis pada dirinya.


"Kamu benar, mungkin itu sebabnya dia datang terlambat." Adam mengangguk perlahan dan menyetujui pernyataan itu. "Kumohon... 'Penyelamat'. Lindungilah..."


Drak...! Bush...!


Asap debu berterbangan itu tak henti-hentinya melayang, terlihat sosok siluet seseorang berpostur tinggi di baliknya. Dialah sang bos monster, terlihat dirinya baik-baik saja setelah menerima serangan kuat itu.


Dia berjalan dengan santai sembari tersenyum lebar dan menampakkan gigi-giginya yang tajam itu.


Set! Chin!


Dalam sekejap dia menghilang dan membuatku sangat terkejut.


"Kamu melihat ke mana."


Punch!!! Bur...!!! Krak!!!


"!!!" Tiba-tiba dia sudah ada di belakangku dan menyerang dengan kekuatan yang sangat besarnya itu. Aku tak sempat menghindarinya dan hanya bisa menahan pukulannya itu.


Pukulannya sangat kuat dan berat, dan mampu membuatku hampir tertunduk kepadanya. Dengan sedikit perasaan kesal, aku pun mulai melakukan serangan balasan tak terduga.


"Seni bela diri Shuǐ, gerakan kelima...," gumamku.


Aku menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembuskan dengan cepat, ditambah aku menambahkan skill Heredis pada serangan ini.


...GIGITAN ULAR AIR...


...+...


...PEMILIK SEJATI (LEVEL 2)...


Punch!


"Eh?" Tak terduga, wajah bos monster itu terpukul dan membuat dirinya bingung dan heran. "Serangan macam apa itu, aku tak melihatnya sama sekali."


Sesaat tangan beratnya terlepas dariku dan memberikanku celah untuk menyerang bertubi-tubi.


"Seni bela diri Fēng, gerakan kedua...," gumamku.


...ANGIN MEMBAWA BATU...


Punch! Krak!!


Dengan serangan dua bela diri sekaligus, di mana kedua tanganku aku melapisi dengan Aura milikku disertai bela diri Fēng, dan tangan-tangan tak terlihat milikku terlapisi dengan Aura dan memakai seni bela diri Shuǐ, aku berhasil memunculkan enam tangan tak terlihat.


Punch! Punch!


Punch! Punch!


Serangan demi serangan aku lancarkan kepadanya dan itu berhasil membuat dirinya kesulitan bergerak. Aku leluasa menggunakan Aura dan Mana-ku secara bersamaan sekarang, berkat saat di ruang tes waktu itu. Aku memahami konstanta dari kedua energi ini dan berhasil melakukan penyesuaian dengan banyak variabel yang tidak jelas di antara keduanya.


Bush...


Pancaran kekuatan dan tekanan dari setiap tinju itu mampu membuat semua melihatnya secara langsung bergidik. Mereka hanya bisa diam dan bingung, sebab mereka yakin sekali dengan kedua matanya, serangan dari kedua tangan anak muda ini sangat jelas meninju ke arah bos monster.


Tapi kenapa muncul pukulan lain entah dari mana, mau itu di belakang, di samping kiri dan kanan, serta atas bawah sekalipun juga ada.


Tampak sang bos monster mulai kesal dan marah.


"!!"


Sesaat aku merasakan ancaman membunuh kuat darinya.


Set!!!


Dengan cepat aku langsung melompat mundur ke belakang dan ternyata benar, dia memiliki sesuatu hal yang mampu bisa membunuh dalam sekejap mata.


Di belakang tubuhnya, muncul ekor besar dengan ujung yang sangat tajam. Entah sejak kapan ekor itu muncul, yang jelas serangan ekor itu berhasil melukai tangan kananku yang memukul barusan.


Aku memandang sejenak luka di tangan kananku dan lukanya cukup dalam, aku yakin jika orang dengan ketahanan tingkat Rank-S sekalipun akan terluka juga.


Bing!


Secara perlahan luka itu sembuh sendirinya berkat skill pasif milikku. Sebab serangan barusan membuat luka ini terus mengeluarkan darah tanpa henti, ini mengingatkanku akan dalam game dengan sebutan "Bleeding Effect."


"Tak kusangka kamu juga memiliki skill penyembuhan luar biasa." Dia berjalan sembari melebarkan kedua tangannya, seperti menyambut dengan hangat---tapi mematikan. "Kuakui kamu memiliki fisik yang sangat hebat, kali ini kita lanjutkan tesnya dengan sihir."


"Tes..." mendengar itu membuatku sedikit kesal, ternyata selama ini bertarung denganku hanya untuk mengujiku. "Baiklah, akan kutunjukkan semuanya," kataku sembari mengeluarkan Excalibur.


Bing!!!


Pancaran Mana kuat dari Excalibur membuat bulu ini merinding. Pria itu tertawa akan kekuatan hebat dari pedang itu dan mengatakan akan mengambilnya dariku.


Set!!!


Bur!!! Krakkk...!!!


Dengan hantaman kuat dari pedangku dan hampir membuat tanah Bali ini mengalami sedikit gempa. Tapi bos monster itu berhasil menghindarinya dan melakukan serangan balasan dengan cepat.


Tring!!!


Dengan ekornya itu yang tajam dia menyerang dan aku berhasil menangkisnya. Dia masih memiliki dua tangan dengan cakar yang tajam untuk menyerang juga.


Tring! Tring! Tring!


Suara benturan pedang milikku terdengar jelas, tapi belum cukup sampai situ saja.


"Coba hadapi ini!"


"Hah!" Sembari mendongak sejenak ke atas dan tampak bola api berukuran raksasa. "Sial!"


Saat ingin menghindar tiba-tiba tubuhku sulit digerakkan, saat aku menoleh sekejap padanya, ternyata dia berhasil mengikat diriku dengan sihir miliknya.


Bola api itu semakin dekat dengan cepat dan bos monster itu berhasil menjauh dariku.


Bom!!! Burn!!!


Ledakan dahsyat dengan gelombangnya kejut yang sangat panas, medan perang ini terasa seperti di gurun pasir yang tandus dan panas.


Crang!


"!" Bos monster terkejut.


Saat asap panas itu memudar, tampak sebongkah es telah mengelilingi pemuda itu dan keluar dari ruang dingin itu.


Karena ini sudah menjadi pertarungan menggunakan sihir, maka aku tak perlu menahan diri lagi.


Set!


Dengan melesat aku maju dan bersiap untuk menyerang. Bos monster bersiap menyerang juga.


Dur...


"...!"


Set!


Tiba-tiba pijakan kaki monster itu bergetar dan memunculkan batu-batu yang meruncing ke atas. Dia berhasil menghindarinya.


Tapi...


Slash!!!


Tebasan kuat dariku berhasil melukainya, ditambah aku melancarkan sihir es yang runcing ke arahnya.


Set! Set! Set!


Dia berhasil menghindar dengan cepat setelah terkena telat oleh tebasanku.


Bos monster ini terdiam sejenak dan memandangi luka tebasan yang dalam itu.


"Orang ini," batinnya sembari menatap pemuda itu, "dia sangat berbeda dengan mereka yang di dalam sana. Aku merasa bukan melawan sebangsa jenis mereka, melainkan makhluk lain yang menyamar jadi sejenis orang-orang lemah itu."


Bush...!!!


Karena merasakan ancaman serius dari musuhnya, kini bos monster itu mulai menampakkan keseriusannya dan memancarkan energi kuat yang meluap-luap darinya.


Semuanya ketakutan merasakan tekanan ini dan mulai menjauh dari medan perang, hanya khusus bagi para manusia yang merasa ketakutan. Sisanya para reptil dan The Arcana masih sibuk saling menghancurkan satu sama lain demi kemenangan sang majikan.

__ADS_1


Set!!! Shut!


Tring!!!


Bos monster itu maju dengan cepat dan langsung mengarahkan cakar tajamnya itu kepadaku. Aku berhasil menahannya dan berusaha membuat jarak dengannya, sebab saat ini dia benar-benar berbahaya.


"Jangan harap!"


"!!"


Ekor miliknya siap menyerang dengan kecepatan yang sangat luar biasa.


"Haarrrgh...!!"


Crak!


"Maaf, sebenarnya aku ini aslinya ada dua."


"Kamu..!!"


Norum muncul di saat yang tepat dan berhasil memotong ekor menyebalkan itu dengan cakar berlapis Mana-nya. Dengan amarah yang terlihat diwajahnya, kini satu ancaman berbahaya itu hilang.


Hal mengejutkan terjadi, dia mengambil ekornya itu dan menggunakannya seperti pedang dan langsung maju menghadapiku.


Tring! Tring!


Saling adu benda tajam ini membuat telinga siapa pun kesakitan mendengar, tapi tidak bagi kedua orang ini.


"Haarrrgh...!!" Norum melompat dan siap menyerang.


"Keluarlah!!"


Seketika muncul portal dari samping dan keluar seekor reptil ular dengan tanduk, wujudnya seperti seekor naga, tapi dominan ke ular wujudnya.


Norum terpaksa harus melawannya dan meninggalkan aku sendirian melawan bajingan ini.


Tring! Tring!


"Pengondisian," gumamku.


[STR, AGI dan VIT meningkat sebanyak 20% dalam kurung waktu enam menit.]


Aku pun menggunakan skill peminjam dan meminjam berbagai skill pendukung dari The Arcana yang bisa dipinjam dengan syarat sudah terpenuhi.


Slash!!! Besh...!!!


Satu ayunan kuat dariku berhasil membuatnya terhempas cukup jauh dan itu membuat dia sangat terkejut.


"Apa-apaan tingkatan kekuatan yang tiba-tiba ini!?" Bos monster itu terus menatap pemuda ini, dan tanpa sadar dirinya gemetar sedikit. "Apa aku mulai takut kepadanya?"


Merasa dihina, seketika emosinya semakin meluap.


"Aaahhh!!!"


Teriakannya memenuhi telingaku dan energinya semakin emosional juga, itu terlihat jelas dari Mana sekitarnya yang mulai tak beraturan.


"Jangan remehkan diriku! Aku adalah raja di dunia ini!!!"


Bom! Bom! Bom!


Serangan berbagai sihir bola energi ini memenuhi medan perang dan menyerang secara membabi buta.


"Cepat menjauh dari sini! Kita akan terkena serangannya juga!"


Serangannya yang gila ini memusnahkan juga separuh bawahannya dan The Arcana milikku dengan cekatan datang kepadaku, dan melindungiku dari serangan ini.


Bom! Bom! Bom!


Para The Arcana berusaha membuat sihir penghalang untuk melindungiku dan aku hanya memerhatikan bos monster yang sudah mulai kehilangan kewarasannya.


"Dasar gila."


Aku hanya bisa menghela napas dan mengeluarkan Belati Darah ini dan mengembalikan Excalibur--aku memerhatikan dengan sejenak belati ini.


"Kamu benar-benar hanya diciptakan untuk menyelesaikan momen ini dengan cepat."


Aku bersiap untuk menyerangnya dan melapisi belati ini dengan Mana milikku sebanyak mungkin.


Shut! Piuh!!!


Dengan lemparan yang sangat kuat, belati itu melaju dengan pesat, ditambah skill "Pemilik sejati" memperkuat dorongan dan mengontrolnya untuk mengenai sasarannya dengan tepat.


Slab! Crak!


Belati itu berhasil mengenai tubuhnya dan serangan membabi buta ini akhirnya berhenti.


Dia terjatuh dan tak berdaya, matanya mengarah kepadaku dengan wajah sangat terkejut.


Dalam pandangan bos monster ini, dia melihat pemuda ini dikelilingi kegelapan pekat serta makhluk-makhluk sekitarnya ternyata sangat mengerikan. Yang lebih mengejutkan baginya, dia melihat pemuda ini seperti sosok yang sangat berbeda dari sebelumnya dia kenal. Sosok yang mengerikan, dengan mata tajam warna kuning miliknya.


Aku maju mendatangi dirinya, ternyata dia belum mati tapi matanya menunjukkan keterkejutan saat melihatku.


"Ternyata itu kamu... Aku minta maaf... O Demes."


Mendengar itu membuatku sangat terkejut dan berusaha menyembuhkannya dengan skill dipinjam dari Prudens.


"Hei jangan pergi dulu! Apa maksudnya kamu berkata begitu!"


Aku berusaha untuk membuatnya sembuh, tapi itu sia-sia. Dia sudah mati, ternyata serangan yang kuberikan kepadanya sangatlah kuat, entah kenapa aku mulai kesal akan hal ini. Satu keping informasi di hadapanku sendiri, malah kuhancurkan sendiri.


Tapi...


"Eh?"


Bing!!!


Tiba-tiba tubuh bos monster itu bercahaya dan terbang ke langit setinggi mungkin. Cahayanya berhasil mengganti cahaya matahari yang mana saat ini awan hitam menutup langit.


Semua orang melihat itu sangat terkejut dan begitu pun yang berada di pulau lain serta orang-orang yang berada di kapal-kapal induk yang mengelilingi pulau Bali.


"Energi ini..."


Aku hanya bisa terkejut mengetahuinya, kenapa monster ini memiliki energi dari para Pendahuluku. Aku tahu jelas, karena aku sudah dijadikan sebagai perbedaan yang sangat jelas dengan mereka, dan itu atas permintaan mereka sendiri juga.


Bing!!!


Cahayanya semakin menyilaukan dan membuat mata ini sulit mengatasinya.


"Apa itu?" Tanya salah seorang prajurit.


Tampak sosok kuat dan mengerikan melayang dia langit. Sosok itu muncul dari sumber cahaya itu.


Deg!!!


"!!!"


Tekanan yang dipancarkan olehnya membuatku merinding dan terlihat para The Arcana pun demikian, mereka sedikit kesulitan menghadapi tekanan energi ini.


"'Penyelamat' apa kamu bisa mendengarku?"


Tiba-tiba muncul suara aneh di kepalaku dan suara ini tidak asing bagiku.


"Suara ini..."


"Ya ini aku."


Ternyata suara ini milik Agus, aku cukup kaget atas telepati tiba-tiba ini. Ditambah dia memiliki skill ini, sungguh hebat.


"Aku langsung ke intinya saja. Saat ini aku merasakan energi tidak asing dari monster itu."


"Apa maksudmu?"


"Energi sama persis milik para Master kami, yaitu Master Koin."


Mendengar itu sudah memberikanku sedikit gambaran mengenai energi tak asing ini.


"Aku tidak tahu kenapa monster ini memiliki pancaran energi seperti itu. Tapi itu sangat menghina bagiku."


Mendengar suara Agus yang gemetar, membuatku sangat mengerti apa yang dirasakannya.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya."


Telepati di akhiri dan aku masih menatap dengan seksama bos monster itu.


"Kalian semua kembalilah, begitu pun denganmu Kawan." Sembari menatap Norum.


Mereka semua kembali ke dalam tubuhku dan aku pun mulai melakukan persiapan.


"Sebenarnya aku tak ingin menggunakannya lagi. Tapi aku merasa monster ini harus diakhiri segera."


Bush...!!!


Deru angin, tanah gemetar, suara kepanikan berbagai makhluk hidup terdengar. Energi hebat telah memunculkan sosoknya dan taringnya. Dan berhasil memancing minat orang-orang yang tak seharusnya.


"Alah~, tak kusangka anak semanis itu yang jadi pewaris berikutnya," ucap wanita bertudung yang menutupi seluruh wajahnya, sedang berdiri di sisi lain dari tempat ini.


"Bukankan anak itu yang kutemui beberapa waktu lalu. Kenapa dia memiliki energi dari 'Mereka' juga?" John yang berada di sisi tempat pengawasan keamanan pemerintah.


Begitupun bos monster menoleh ke bawah dan tersenyum.

__ADS_1


Setelah beberapa saat akhirnya sosok itu terwujud.


"Mode Heredis!"


__ADS_2