Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 67


__ADS_3

Pukul 10.35


Di suatu tempat Universitas Jember....


"Tak kusangka tempatnya ini akan semakin mewah...."


Aku masuk ke universitas ini dan sudah dapat izin dari penjaganya. Aku melihat-lihat di sekitar dan ada banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi menuntut ilmu di sini.


"Kelas Susan ada di mana ya?"


Aku berjalan di sebuah koridor dan mencari kelas Susan. Dia mengambil jurusan keguruan dan pendidikan karena dia ingin menjadi seorang Guru SD.


Aku terus berjalan dan melihat satu persatu papan nama ruangan dan itu sangat banyak dan akan memakan waktu.


"Kalau begini terus hanya membuang waktu, sebaiknya aku bertanya pada seseorang...."


Karena di sini banyak orang maka bertanya pada mereka mungkin terlihat mudah, tapi itu tidak semudah untukku dan entah kenapa aku merasa sangat gugup berada di sini.


"Kayaknya aku tidak bisa deh." Sembari menghela napas.


Aku terlihat kebingungan di sini dan tidak tahu harus bagaimana, tapi tiba-tiba seseorang bicara padaku dari belakang.


"Ada yang bisa kubantu, Nak?"


Aku langsung berbalik dan tampak seorang wanita paruh baya mengajak diriku berbicara. Dilihat dari penampilannya, kayaknya dia salah satu dosen di sini.


"Itu... Bu, sebenarnya saya mencari seseorang."


"Kalau boleh tahu namanya siapa dan fakultasnya apa, mungkin Ibu bisa bantu mencarinya?"


"Namanya Susanti dan fakultas yang dia ambil keguruan dan ilmu pendidikan."


"Kebetulan sekali, dia itu salah satu mahasiswi di kelasku dan sekarang aku akan ke sana sekarang."


Ibu itu mengajak aku ikut dengannya dan aku menurutinya. Sesaat berjalan, kami berdua berbincang-bincang soal muridnya ini yaitu Susan.


Ibu itu sangat memuji ketekunan Susan dalam belajar dan sangat mudah menyerap ilmu yang diberikan kepadanya. Soal itu aku tak heran lagi, karena dari dulu Susan sudah seperti itu.


"Hubungan kamu dengan Susanti apa ya? Saudara?"


"Kami hanya teman dekat atau lebih tepatnya sahabat, dan hubungan itu sudah dari waktu kami masih kecil."


Ibu itu tersenyum mendengar dan berucap:


"Syukurlah, ternyata masih ada orang yang sangat perhatian padanya. Aku tak pernah melihatmu berada di kampus ini, apa kamu mahasiswa baru di sini?"


"Tidak, ini pertama kalinya aku masuk ke sini dan aku hanya selalu melihat kampus ini dari luar saja. Karena Anda dosennya, maka Ibu tahu kertas-kertas ini kan." Sembari memberikan sekumpulan map berkas itu kepadanya.


Ibu itu menerimanya dan melihat isinya lalu berkata:


"Ternyata dia melupakannya."


"Maksud Ibu?"


"Dari tadi dia sangat panik dan pikirnya tugasnya hilang. Aku akan memberikannya, tapi... kupikir akan mengerjai dia dulu deh, soalnya dia sangat manis."


Aku tersenyum mendengar itu dan berkata:


"Kalau begitu, aku titip balas dendamku. Karena dia selalu mengomeliku hanya karena hal-hal sepele."


Kami berdua langsung tertawa dan entah kenapa aku merasa bisa sangat akrab pada ibu dosen itu, padahal ini pertama kalinya kami bertemu. Tapi aku merasakan kehangatan sesaat berbicara dengannya, apa karena aku merindukan Ibu?


"Hm?"


Tiba-tiba langkahku terhenti dan aku merasakan aliran energi sihir di sekitar sini.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja... aku merasakan di sini ada aliran energi sihir, apa di sekitar sini ada portal?"


"Tidak ada portal di sini sama sekali, dan kurasa energi sihir itu berasal dari kelas 'Pemburu.'"


"Kelas Pemburu?"


"Kelas yang dikhususkan untuk orang yang sudah Terbangkitkan, tapi ada banyak juga orang yang sudah Terbangkitkan mengambil jurusan lain dan ingin pekerjaan normal kayak Susanti. Tapi, kamu bilang tadi merasakan aliran energi sihir, apa kamu orang Terbangkitkan juga?"


Mendengar itu aku hanya mengangguk saja dan ibu dosen itu langsung mengerti.


"Begitu ya." Lalu melihat jam tangannya. "Karena masih ada waktu, bagaimana kalau kita lihat-lihat kelas itu dulu, mungkin kamu akan tertarik."


"Kelas Ibu bagaimana?"


"Jangan khawatir, waktu kelasnya masih lama dan sekalian aku hanya ingin membantu Susanti."


"Membantu? Memangnya Susan minta bantuan apa?"


"Dia pernah bertanya soal kelas pemburu dan kupikir dia ingin pindah mengingat dia juga seorang Terbangkitkan, jujur saja saat mendengar itu aku sangat sedih dan kupikir akan kehilangan murid kesayanganku. Tapi ternyata Susanti tidak ingin pindah, melainkan dia hanya ingin mengetahui soal biaya dari kelas itu dan katanya lagi dia ingin membantu seseorang."


Mendengar itu sekarang aku mengerti, aku tak menyangka Susan akan mau membantuku sampai hal ini juga. Padahal aku sudah bilang padanya bahwa aku tak akan pernah kuliah, mengingat keras kepalanya membuatku sulit menghentikan dia.


Aku menghela napas dan berkata:


"Dia orangnya suka ikut campur dalam urusanku."


Ibu dosen itu hanya tersenyum dan pikirnya mungkin melihat kedekatan kami berdua kayak sudah seperti saudara sendiri.


"Mengenai biaya kuliahnya, katanya akan ditanggung oleh guild sampai lulus sarjana satu."


"Guild?"


"Ya, nama guild-nya 'Malam suro.'"


Aku sedikit terkejut dan tak menyangka jika salah satu guild besar di negara ini mau terjun juga dalam hal pendidikan selain guild Si jago merah. Kedua guild ini sama-sama kuat dan banyak Venandi serta Protector rank tinggi di guild mereka.


"Si jago merah mulai melirikku, maka kali ini aku tak ingin mencolok di mata guild besar lagi."


Aku menyetujui ajakan ibu itu dan kami langsung menuju ke kelas itu.


Sesaat beberapa langkah, akhirnya kami sudah berada tepat di depan kelas pemburu dan sudah terlihat papan nama kelasnya.


"Energi Mana di sini sangatlah banyak, tak heran kenapa kelas ini dikhususkan untuk orang-orang yang sudah mengalami kebangkitan."


Aku dan ibu dosen ini melihat isi kelas pemburu ini melalu jendela kelas dekat koridor. Tampak kelas ini sangat menakjubkan dan banyak teori sihir serta pelajaran yang tidak diterapkan di depan umum.


"Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Sangat menakjubkan. Orang yang mengajar itu apa dia berasal dari guild?"


"Ya."


Tanpa menggunakan "Mata Dewa" sekalipun aku sudah bisa merasakan energi sihir miliknya yang sangat melimpah. Rambut emas dengan warna mata coklat jingga dan postur tubuh sempurna, dia terlihat pria yang sangat sempurna. Tak heran lagi kenapa kelas ini terlihat ada banyak cewek.


"Orang yang mengajar itu, dia adalah wakil ketua guild Malam suro."


"Kenapa orang penting sepertinya mau menghabiskan waktunya di kelas ini?"


"Soal itu aku tidak tahu, tapi dia sendiri yang mengajukan diri ingin mengajar di kelas ini."


Aku sangat takjub akan orang-orang hebat ini, selain ketua guild Si jago merah yaitu Pati Bagenas yang sangat peduli akan masa depan pemuda negara ini, ternyata ada seseorang yang sama seperti dirinya mau membantu orang-orang di bawahnya.


Aku melihat ibu dosen ini menatap jam tangannya.


"Waduh! Kelasku sudah mau dimulai, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama atau kamu ingin ke kelasku, sekalian kamu bertemu dengan Susanti."


"Tidak perlu, aku masih ingin mengamati kelas ini."


"Baiklah, kalau begitu aku duluan."


Setelah pamit, ibu dosen itu langsung pergi meninggalkanku dan tampak kelas pemburu ini juga sudah mau selesai.


"Yah... tidak sia-sia juga datang ke kampus ini."


Setelah cukup lama berada di universitas ini, aku memutuskan untuk balik dan melanjutkan perburuanku di dungeon.


Sesaat berjalan menyusuri lorong koridor ini dan mencari jalan keluar, tanpa sengaja aku mendengar suara keributan yang jaraknya tidak jauh dariku.


"Kenapa ada ribut-ribut di sini?"


Kupikir keributan ini hanya ditimbulkan oleh mahasiswa yang berdebat di kelas mereka. Tapi, suara ini terdengar semakin keras dan ada semacam perkelahian di suatu tempat.


"Karena indra pendengaranku semakin tajam, maka suara sekeras ini tak luput dariku...."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan melihat segala arah. Aku melihat tepat di atasku ada beberapa orang berkumpul dan lagi ada Mana yang dipancarkan di sana sangat kuat.


"Tempat itu... kelasnya Susan!"


Aku sangat terkejut melihat Mana kuat ini berkumpul di kelasnya Susan dan aku mengetahuinya saat melihat papan nama kelas itu. Ibu dosen itu tadi baru ke sana dan terlihat situasi di sana mulai semakin ricuh.


"Sial! Sebenarnya apa yang terjadi?"


Set!


Aku langsung berlari sekencang mungkin dan sangat khawatir pada Susan serta ibu dosen itu. Sesaat sampai di sana, orang-orang mulai berkumpul semakin banyak.


"Permisi, sebenarnya apa yang terjadi di sini?"


Aku bertanya pada seseorang yang berkumpul juga dan posisi dia tepat di belakang bersamaku.


"Katanya di sini ada perkelahian lagi."


"Perkelahian?"


"Iya, seseorang dari fakultas pemburu datang membuat keributan lagi dan ini sudah ketiga kalinya. Dari yang kudengar dia mengincar seorang wanita dan wanita itu menolak dirinya terus, dan pada akhirnya dia mengamuk dan menghajar orang-orang di kelas wanita itu."


Mendengar itu membuatku sangat terkejut dan kenapa ada orang seperti ini yang melakukan tindakan seperti orang gila.


"Mereka akan membuat keributan jika pembimbing mereka sudah pergi dari kampus ini, dan siapa yang bisa menghentikan orang-orang fakultas pemburu mengingat mereka sangatlah kuat."


Memang benar, mana ada orang biasa seperti mereka bisa menghentikan orang-orang super ini. Kalaupun ada maka itu hanya membawa dirinya pada bahaya.


"Sudah cukup...!"


Tiba-tiba terdengar suara wanita yang berteriak dari keributan.


"Ini sudah ketiga kalinya kamu berbuat begini! Aku hanya diam saja melihatmu bertingkah semena-mena, tapi aku tak tahan lagi dan hal ini akan kulaporkan pada pembimbing kalian!"


"Suara ini...."


Terdengar suara itu sangat tidak asing di telingaku dan kayaknya dia adalah ibu dosen waktu itu.


"Waduh, kayaknya Bu Sanas marah."


Sekarang aku baru tahu namanya dan kami lupa saling memperkenalkan diri waktu itu. Terdengar keributan semakin menjadi-jadi.


Plak...!


"Tidak... Bu...!"


"Bu..! Bangun Bu...!"


Aku mendengar suara tamparan yang keras di depan sana dan suara teriakan dari dalam kelas meneriaki seseorang untuk bangun.


Deg!


"Apa kamu gila!"


"Susan...!"


Aku mendengar suara Susan dan tampak dia bertengkar hebat dengan seseorang.


"Tentu saja aku gila! Tergila-gila padamu, sini kemari kau!"


"Lepaskan! Tanganku sakit...!"


Deg! Deg!


Mendengar teriakan kesakitan Susan membuat darahku mendidih dan tanpa sadar tanganku mengepal sekuat mungkin.


"Keadaan mulai semakin kacau nih. Sebaiknya kita segera menja..., eh? Di mana orang itu?"


"Hahaha..!! Sekarang kamu milikku!"


Tampak pria besar itu menggenggam erat tangan Susan, dan Susan menahan diri dari rasa sakit itu. Terlihat wajah menyebalkan dari pria itu.


Akan tetapi....


Chin!


"Hah?"


...??

__ADS_1


Krak...!


"Aaahh.!! Tanganku...!"


Tiba-tiba aku muncul tepat di dekat mereka berdua dan aku langsung memegang erat tangan besar pria itu dan meremasnya sekuat mungkin hingga dia melepaskan Susan.


"Arkha..? Kenapa kamu ada di sini?"


Terlihat semua orang kebingungan karena kedatangan orang asing yang secara tiba-tiba. Aku tak merespon pertanyaan Susan dan malah aku melihat ke arah kiri, dan tampak wanita paruh baya pingsan di sana dan hidungnya mengeluarkan darah.


Deg!


Krak...!


"Aaahhh..!!"


Teriakan pria besar itu semakin meraung dan membuat semua yang melihatnya ketakutan sekaligus puas karena pria bermasalah ini berhasil ditangani.


"Hei... kamu ini juga seorang anak, bagaimana perasaanmu saat kedua orang tuamu diperlakukan seperti itu. Jawab sekarang?"


Krak...!


Remasanku ke tangannya mulai semakin keras dan aku merasakan tulang tangannya ini retak. Dia beruntung aku menahan diri serta dia juga memiliki tubuh kuat untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Ketua tak berdaya! Kita harus membantunya...!"


Ada beberapa orang maju dan tampak mereka ingin membantu pria besar ini.


"Kalian semua jangan bergerak sedikit pun!"


Whus...!


Seketika Mana dalam diriku keluar dan membuat semua orang yang melihat ini sangat terkejut dan ketakutan.


"Apa-apaan tekanan Mana ini!"


Terlihat mereka mulai mundur secara perlahan dengan wajah pucat.


"Arkha...!"


Aku langsung melirik ke arah Susan dan tampak tangannya terluka.


"Tanganmu terluka, apa kamu tidak bisa menyembuhkannya?"


"Itu... Mana-ku tidak cukup aku sudah menggunakan semuanya untuk menyembuhkan yang lainnya tadi."


"Begitu ya." Aku langsung melemparkan HP dan MP 50% dengan ukuran botol tiga kali lipat dari yang biasanya.


"Potion..! Ini sangat mahal, sebaiknya kamu simpan saja."


"Tidak, gunakan sekarang dan gunakan potion itu pada Ibu itu."


Susan hanya mengangguk saja dan baru kali ini dia mau menurutiku tanpa menolak sedikit pun. Setelah Susan meminum potion itu dan meminumkan HP potion ke ibu itu, aku kembali menatap bajingan ini lagi.


"Hei... jawab pertanyaanku tadi."


Krak...!


"Iya...! Aku akan menjawabnya! Tolong lepaskan dulu tanganmu ini!"


Setelah mendengar itu aku langsung melepaskannya dan terlihat dia sangat ketakutan dan tidak berani menatapku.


"Hok... hok..., Nak. Kamu kah itu?"


Aku berbalik dan tampak ibu dosen itu sudah siuman dan dia langsung berdiri dengan dibantu Susan dan yang lainnya.


"Syukurlah, Anda baik-baik saja."


"Iya aku sudah baikan, semenjak meminum obat itu dan obat itu pasti mahal, Ibu akan menggantikannya."


"Tidak perlu, anggap saja ini balas budi karena Ibu sudah membantuku tadi. Dan kita apakan mereka yang berbuat onar ini?"


Aku langsung menatap geng bajingan ini tampak mereka sangat menyesalinya.


"Soal itu...." Ibu itu maju ke arah pria yang memukulnya dan menatapnya. Setelah beberapa saat dia langsung menunduk dan meletakkan tangannya di atas kepala pria itu. "Sudah tugas orang dewasa membimbing mereka dan perlakuan mereka kali ini, aku sudah anggap kenakalan biasa yang mana membutuhkan perhatian lebih. Ayo bangun, tidak baik duduk di lantai dingin seperti itu."


Mendengar itu membuatku terharu dan tidak semua orang dewasa akan berpikir menjadi orang tua sepenuhnya. Kupikir orang-orang bersifat seperti ibu itu sangat langka terhadap anak-anak lain selain anak sendiri.


"Hiks...!"


Seketika air mata keluar dari pria besar ini dan tangisannya pecah dan langsung memeluk kaki ibu itu. Orang yang bersama pria ini langsung maju bersimpuh minta maaf padanya. Mereka juga minta maaf pada orang-orang yang mereka lukai termasuk Susan.


Setelah beberapa waktu momen terharu ini, akhirnya aku bisa lega meninggalkan tempat ini.


"Sudah mau pergi?"


"Aku harus kembali bekerja."


"Sudah kuduga, tapi... apa kamu sudah mempertimbangkannya?"


"Aku rasa belum saatnya, melihat kelasnya saja membuatku sedikit takjub dan kupikir itu akan menyenangkan belajar di sana. Tapi, aku tidak bisa, karena ada hal penting yang harus kulakukan."


Seketika aku melihat wajah sedih Susan dan kayaknya dia mengerti apa yang kupikirkan, mungkin kematian orang tuaku membuatku tak bisa melupakannya dan dia pun sudah hapal kebiasaanku ini.


"Baiklah, jika kamu tidak mau. Tapi kamu jangan terlalu memaksakan diri karena si kembar tak ingin kamu pergi terlalu cepat darinya."


Aku hanya tersenyum saja dan setelah itu pergi meninggalkan dirinya dan menuju ke arah gerbang utama universitas ini.


Sesaat berjalan dan aku sudah berada di perhentian bus untuk pulang ke rumah. Akan tetapi tiba-tiba seorang wanita berlari ke arahku dengan cepat.


"Tunggu...!"


Aku langsung berbalik dan melihat ke arah suara itu. Setelah berhasil mengejarku, dia terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya.


"Kamu kan... temannya Susan. Ada apa ya?"


"Susan...!"


Terdengar dari suara nadanya, terlihat sangat panik dan lagi ini sangat menyangkut Susan sehingga membuatku khawatir lagi.


"Ada apa dengan Susan, apa para si brengsek itu berulah lagi?"


"Bukan..., Susan... dia terjebak dalam portal!"


Deg!

__ADS_1


"Apa..!! Portal...!"


__ADS_2