
Aku merapatkan gigi-gigiku dan memandang mereka dengan sedikit gemetar.
Gulp!
"Pancaran Mana yang sangat kuat, sesaat aku merasa sesak!"
"Grrrgh..!!"
"Bahkan Norum yang memiliki indra lebih tajam dariku bisa merasakan bahaya dari dua orang itu. Ini jelas sangat berbeda dengan monster-monster yang aku hadapi di dungeon sebelum-sebelumnya."
Arena gladiator tempat di mana orang-orang mempertaruhkan kehidupan sosial dan nyawa mereka di arena. Biasanya orang-orang yang ikut gladiator kebanyakan dari mereka adalah narapidana, dan dijadikan tontonan hiburan republik romawi dan bangsawan romawi.
Hanya sedikit sukarelawan ikut gladiator dengan berbagai alasan seperti meninggikan status mereka atau mendapatkan harta, serta kehormatan tinggi dan berbagai alasan lainnya.
Tampak seorang kesatria dan penyihir memasuki arena secara bersamaan.
"Apa mereka keluarga?"
Sang kesatria maju duluan sembari menyeret pedang panjangnya di tanah, sedangkan sang penyihir hanya berdiam di tempat dan tidak bergerak sedikit pun.
Set!
"Dia datang...!"
Kesatria itu langsung melompat ke arahku dan mengayunkan pedang panjangnya itu.
Swoosh...!
Aku langsung menunduk dan Norum menghindar ke samping, dalam sekejap tembok di belakangku hancur.
"Tak kusangka serangannya sekuat itu, mungkin aku sudah terbelah dua seperti daging cincang. Bajingan ini... sangatlah kuat."
Aku langsung melompat ke belakang.
"Norum!"
"Grrgh... nging...!"
"Apa?!"
Tiba-tiba Norum tidak bisa menggerakkan dirinya dan kayak ada sesuatu menahannya. Aku langsung melirik penyihir hitam itu.
"Sial! Ternyata dia...."
Seketika aku melihat bayangan dari bawah yang tiba-tiba membesar, ternyata kesatria itu sudah ada di belakangku secara tiba-tiba sembari mengangkat pedangnya itu.
"Cepat sekali...!"
Dengan cepat aku berbalik dan menusuknya dengan belati milikku.
Treeng...!
"Cih... sudah kuduga, belati ini tidak akan menembusnya."
Seketika dia langsung menghantam pedang panjangnya itu ke bawah.
Bur...!
Tanah seketika hancur dan menciptakan asap yang cukup tebal, aku langsung menghindar dan menjauh darinya sembari keluar dari kumpulan asap ini.
"Bagaimana kalau dengan yang ini...."
Dor! Dor! Dor!
Aku menembak terus menerus ke arah kabut itu.
"Apa berhasil?"
Seketika muncul sesuatu yang panjang dari asap tebal itu dan mengarah padaku.
__ADS_1
"Egh...!"
Aku berhasil menghindarinya, tidak sampai di situ, seketika kesatria itu menarik pedangnya dan mengayunkan pedangnya itu sekuat mungkin.
Swoosh..! Bur..! Bur...!
"Untung aku bisa menjauh darinya, tapi... apa itu benar hanya serangan mengandalkan fisik saja?"
Aku terbelalak melihat ayunan pedangnya yang sangat kuat itu, sehingga menciptakan gelombang kejut kecil yang kuat dan menghempaskan asap yang ada di sekitarnya.
Gulp!
"Kekuatan penghancur yang sangat kuat, kecepatannya pun juga di atas rata-rata, serta armor-nya itu aku tidak bisa menembusnya dengan belati dan pistol milikku, ini jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Apakah ada jalan untuk mengalahkan monster ini?"
Seberapa keras aku berpikir pada akhirnya aku tidak menemukan jawabannya.
"Jika senjataku tidak bisa melawannya dan menembus baju besinya itu, maka...."
Aku membuang senjataku dan mengepalkan setiap tinjuku sekuat mungkin.
Crak... Crak....
"Bagaimana dengan adu tinju?"
Kesatria hitam itu langsung melempar pedang panjangnya dan melepaskan sayap armor-nya.
Crak... Crak....
Dia juga mengepalkan setiap tinjunya.
"Dia sangat meremehkanku. Tapi... dia benar-benar seorang kesatria sejati."
Set!
Seketika kesatria itu langsung maju dengan cepat, dengan instingku yang semakin tajam aku langsung menahannya dengan kedua tanganku.
Punch! Piuh!
Bur...!
"Agh...! Cepat sekali..., apa!!"
Tidak sampai di situ, kesatria hitam itu langsung maju dan melancarkan serangan kuatnya ke arahku.
"Sial!"
Bur...!
Aku berhasil menghindar dengan cepat sebelum dipojokkan olehnya. Aku langsung melihat kedua lenganku yang memar merah, akibat pukulan kuatnya.
"Rasanya tanganku mau hancur..., aku tidak bisa keluar hidup-hidup dari sini sebelum mengalahkan mereka berdua."
Dia berjalan dengan santai ke arahku.
"Tanganku benar-benar sakit, sebaiknya memakai skill-ku sekarang... 'Pemulihan Instan!'"
Saat ingin menggunakan skill-ku, seketika aku merasa tidak pulih sama sekali.
"Eh? Kenapa tidak bisa?!"
Aku melihat kesatria hitam itu yang menunjuk ke arah belakangnya, seketika aku terkejut.
"Apa Bajingan penyihir ini yang melakukannya? Aku tidak tahu sihir macam apa itu. Tapi, kurasa dia memasang medan anti-Mana di sekitar sini, sehingga aku tidak bisa menggunakan skill-ku sama sekali."
Karena skill tidak bisa maka aku langsung mengambil potion HP yang aku beli barusan, tapi... kesatria ini hanya diam saja melihatku meminum potion-ku. Apa dia menungguku pulih sementara?
"Karena kau memberiku waktu, maka akan kugunakan ini untuk menghancurkanmu."
Set!
__ADS_1
Kali ini aku yang maju duluan dan langsung melayangkan pukulan pertama ke arahnya.
Dia berhasil menghindarinya dan langsung membalasnya.
Ber...!
Aku berhasil menahannya dengan satu tangan dan langsung membalasnya lagi.
Terjadilah adu pukulan cepat antara kami.
Punch! Punch! Punch!
Punch! Punch! Punch!
Punch! Punch! Punch!
Aku langsung melancarkan tendangan ke arahnya, tapi....
"Apa!!"
Dia berhasil menahannya dan menangkap kakiku, lalu melemparku sejauh mungkin hingga membentur tembok dengan keras.
"Ha... ha... haah..., aku pikir... tadi berhasil...."
Seketika muncul sesuatu yang samar- samar dengan latar berwarna merah di depan mataku, ini mengingatkanku saat di "Dungeon Itu."
"Apa ini?"
[ Psikokinesis (Aktif)
Kemampuan memanipulasi sebuah objek fisik hanya dengan pikiran semata-mata. Batas mengendalikan objek tertentu yaitu 10 meter.
Tidak ada penggunaan Mana.
Cool down : None.]
"Skill baru!"
Kesatria hitam itu mengambil pedang panjangnya.
Set!
Dengan cepat ia berlari menuju arahku yang terlihat tak berdaya, dia pun mengangkat tinggi-tinggi pedang panjangnya.
Sesaat semakin dekat, dia terlihat seperti algojo yang siap mengeksekusiku.
Tapi....
Bak! Bur...!
Dengan cepat aku bangkit dan melayangkan tendangan putar ke arahnya, sehingga kepalanya terbentur ke arah tembok cukup keras.
"Aku berterima kasih pada Ayah yang telah mengajariku taekwondo!"
Karena tendangan kuat itu, seketika pedang panjangnya lepas dari genggamannya.
Aku mengambil pedangnya itu.
"Pedang ini benar-benar berat, tapi... bagaimana rasanya dihancurkan oleh pedangmu sendiri!"
Aku mengangkat tinggi pedangnya itu dengan dua tangan, lalu mengarahkan pedang itu kepadanya.
Bur..! Bur..! Bur...!
Aku terus melakukan hantaman demi hantaman yang sangat kuat kepadanya, baju besi digunakannya hancur sehingga dia tidak bisa bergerak lagi.
"Aku rasa dia sudah mati... karena aku tidak merasakan Mana miliknya lagi. Sekarang tinggal yang satunya lagi."
Aku langsung melirik ke arah penyihir hitam itu, tampak dia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
__ADS_1
Aku berjalan ke arahnya sembari menyeret pedang saudaranya ini.
"Saatnya memburu lagi!"