
Sebelum itu...
Pukul 10.47
Di suatu tempat di bandara internasional Jakarta...
Tampak banyak warga negara lokal berbondong-bondong mendatangi bandara ini, ada banyak jenis dari mereka mulai dari orang biasa, reporter dan media, serta beberapa orang Terbangkitkan pun ada juga.
"Apa benar para Pilar Negara asing akan datang membantu menangani dungeon tingkat bencana?"
"Kayaknya iya deh. Apalagi alasan mereka datang kalau bukan hal itu."
Beberapa dari orang-orang ini sudah tahu alasan kedatangan para Rank-S asing ini kalau hanya untuk menyelesaikan urusan ini. Tapi ada halnya pihak pemerintah maupun orang dalam, tahu alasan lain mereka datang kalau bukan hanya sekedar sebuah keuntungan semata.
"Wah!!"
"Lihat, lihat! Mereka benar-benar luar biasa!"
Langkah kaki orang-orang asing saat melewati semua kerumunan ini tampak membuat suasana sedikit memanas, tidak sedikit dari warga lokal tidak menyukai mereka. Sebab para Rank-S dari penjuru dunia sudah seperti idola setiap kaum mau itu muda dan tua sekalipun.
"Tak kusangka kita benar di sambut," ucap seorang wanita dalam bahasa Inggris.
"Kabar mengenai kita akan datang untuk membantu tersebar dengan cepat," ucap seorang pria dalam bahasa Inggris.
Tampak tiga orang asing sedang berjalan dengan santai dan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya.
Lalu sambutan meriah itu disambung lagi ke arah dua orang asing dan beberapa orang yang ikut mereka berdua.
"Apa mereka orang-orang yang katanya ikut datang membantu itu," ucap seorang pria dalam bahasa Melayu.
"Iya itu benar, kita sudah diberitahukan untuk bekerja sama dengan mereka," ucap seorang wanita dalam bahasa Melayu.
Orang-orang asing yang Terbangkitkan ini berjalan ke arah sesuai instruktur dari asosiasi yang datang menjemput mereka secara pribadi.
...•••...
Pukul 11.01
Sesaat sampai di pusat asosiasi biro keamanan...
Orang-orang asing ini memasuki sebuah ruangan yang cukup luas dan sebuah meja panjang di kiri dan kanan. Setiap perwakilan duduk arah berlawanan dan pemimpin asosiasi yaitu Master Agus, memimpin rapat ini secara langsung dan Adam dan beserta satu ketua lainnya yang berdiri di samping Agus.
"Pertama-tama saya ucapkan terima kasih karena mau ikut membantu mengatasi dungeon ini," ucap Agus dalam bahasa Inggris.
Mereka merespon ucapan Agus dan sang master asosiasi melanjutkan lagi, dia mengatakan semua tentang hal mengenai dungeon ini dan apa saja yang terjadi selama beberapa hari ini saat terjadi retakan.
(Maisa Berliana - Protector Rank-S dari Malaysia)
"Tak kusangka keadaannya akan segawat ini, dan baru kali ini aku melihat ada monster yang memiliki kecerdasan seperti itu," ucapnya dalam bahasa Inggris.
(Rasthin William - Venandi Rank-S dari Australia)
"Apa Anda sudah tahu apa yang terjadi di dalam sana (dungeon)?" Tanyanya dalam bahasa Inggris.
"Untuk saat ini kami belum bisa memasukinya karena kekurangan orang-orang potensi," jawab Agus dalam bahasa inggris.
Mereka berlima berasal dari guild besar yang ada di negaranya, ada alasan hanya sedikit Rank-S mereka dikirim ke sini selain mencari keuntungan, tapi ada alasan lain kenapa guild-guild besar mau saling membantu satu sama lain mengatasi dungeon Rank-S, yaitu karena ada sebuah rahasia yang tersebar secara tersembunyi dan itu disebarkan oleh orang misterius yang datang ke setiap guild besar di berbagai negara.
Beberapa orang misterius itu mengatakan bahwa dunia akan mengalami kehancuran karena munculnya beberapa dungeon tingkat Bencana secara bersamaan di seluruh penjuru dunia dalam waktu dekat. Ada beberapa guild yang menganggap hal ini hanya omong kosong belaka, tapi tidak sedikit yang percaya dengan omongan orang misterius itu. Omongan orang-orang misterius itu mulai terbukti karena dua tahun terakhir ini, selalu bermunculan beberapa dungeon Rank-S dalam waktu singkat secara bersamaan di berbagai tempat.
Negara-negara yang memiliki beberapa Rank-S harus ikut turun tangan untuk membantu menutup dungeon tersebut demi mencegah ramalan itu terjadi, karena hal inilah--hubungan konflik antar negara mulai berkurang dan hanya fokus mengatasi bencana ini kapan saja bisa lepas.
"Syukurlah, setidaknya beberapa guild besar menerima hal ini dengan baik. Aku sangat berterima kasih pada saudara-saudaraku melakukan hal ini sebelum ditangkap oleh 'Mereka'," pikir Agus yang merasa sedikit lega di hatinya.
Di ruangan ini ada dua orang Rank-S dari Malaysia yaitu Maisa Berliana - Protector Rank-S dan Faisal Adly - Venandi Rank-S. Lalu ada tiga orang yang berasal dari Australia yaitu Rasthin William - Venandi Rank-S, Chloe Ambelin - Protector Rank-S, lalu yang terakhir dan dia adalah wakil ketua dari guild-nya yang turun tangan secara langsung membantu mengatasi masalah ini, Bindi Aleara - Protector Rank-S. Kemampuannya dalam memberikan debuff pada musuh sangat hebat dan mampu juga menghilangkan menghilang debuff pada diri sendiri serta orang yang dikehendakinya, dengan kata lain dia juga kebal terhadap segala jenis racun juga.
"Karena situasi di dalam belum diketahui, maka alangkah baiknya kita melakukannya selagi monster-monster itu keluar dari dungeon-nya," ucap Bindi dalam bahasa Inggris.
"Hal itu juga yang kami sedang pikirkan juga, setelah mengamati gerak-gerik mereka. Mereka hanya keluar dari dungeon pada tengah hari," ucap Agus dalam bahasa Inggris.
Mendengar usulan itu, tidak ada yang membantah dan akhirnya mereka sepakat untuk melakukan invasi dungeon dalam dua hari ke depan.
"Kalau begitu kami permisi du--"
Deg!!
Sesaat perasaan yang sangat kuat melonjak setiap orang yang ada di ruangan ini. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang sangat besar datang di hadapan mereka. Energi sihir yang sangat kuat dan Mana-nya yang sangat pekat telah membuat gerakan mereka semua terhenti sejenak.
Krek... Ngek...
Sesaat pintu ruangan di dorong secara perlahan, tampak sesosok orang yang perkasa telah memasuki ruangan ini.
"Ya ampun! Pak! Ini bukan ruang tunggunya!" Ucap seorang wanita asosiasi yang panik.
"Bukan ya?"
"Apa Anda tidak lihat tulisan di depan pintunya."
"Oh?" Sembari menengok ke atas dan melihat tulisan itu. "Itu tulisannya ya."
"Kalau begitu tolong ikut saya ke ruangan yang dimaksud."
"Tidak mau ah, di ruangan ini sangat nyaman."
"Tapi..."
Sesaat Agus menyela ucapannya dan mengatakan bahwa semua tidak apa-apa dan membiarkan tamunya ini ikut dalam rapat ini.
"Baiklah kalau begitu, tolong buat diri Anda nyaman, permisi."
__ADS_1
"Bagaimana kalau sebentar kita makan malam, aku yang traktir," goda pria perkasa itu.
"Maaf tidak bisa, karena malam nanti aku banyak urusan, permisi."
Wanita asosiasi itu langsung pergi dan sang pria perkasa ini terkekeh sembari menjulurkan lidahnya, seolah-olah sudah ada mangsa menarik yang sudah siap di sergapnya.
"Sebaiknya kamu jangan macam-macam dengan orang-orangku!" Ucap Agus yang sedikit mengancam.
Pria perkasa itu merasakan ancaman itu hanya bisa tersenyum dan mengucapkan sesuatu dengan bahasa Inggris.
"Seperti yang dikatakan oleh Gading, Anda ini orangnya sangat keras. Hal inilah katanya membuat dia tak bisa berlama-lama berada di samping Anda."
Pria perkasa ini langsung mengambil kursinya dan ikut bergabung di rapat ini dengan santainya. Semua yang ada di ruangan merasa sedikit kurang nyaman akan kehadiran pria ini, dia adalah John Marques, salah satu pemimpin guild besar di Amerika. Alasan kedatangan karena suatu urusan pribadi kepada master asosiasi ini.
"Kenapa kalian hanya diam saja, ayo lanjutkan rapatnya," ucap John dengan santai.
Terkecuali Agus dan orang-orang asosiasi di ruangan ini yang tidak terkejut akan kedatangan tiba-tiba orang berdarah biru barat ini. Tapi lain halnya dengan tamu-tamu asing yang datang atas kesepakatan demi menyelesaikan sebuah dungeon, mereka tak ingin berurusan dengan pria Amerika ini, mereka tahu bahwa nasib guild mereka dan keuntungannya akan terganggu hanya kehadiran salah satu orang terkuat di dunia ini.
"John Marques, kenapa orang sesibuk dirinya datang ke sini. Apa dia juga akan ikut dalam ekspedisi ini?" Pikir Bindi yang khawatir akan kehadiran John yang menekan ini. Karena dia tahu seperti apa John ini, karena dirinya sering digoda oleh pria ini.
John yang merasa tatapan ini tak asing lagi padanya, tapi ada satu tatapan yang membuatnya sangat tertarik dan tersenyum kepadanya.
"Kenapa Sayang, apa kamu merindukanku?"
Bindi merasa muak akan tatapan pria ini dan berpaling darinya lalu berkata :
"Kenapa kamu ada di sini?"
John mendengar pertanyaan itu langsung terbelalak dan menatap Agus. Pikirnya bahwa tidak ada satu pun orang-orang asing ini tahu alasan kedatangan dirinya dan hanya master asosiasi dan beberapa orangnya saja yang tahu alasan kedatangannya.
"Ya... aku punya urusan pribadi dengan pak tua itu. Tapi jangan khawatir Sayang, aku tak akan ikut campur dalam urusan kalian, jika kamu menginginkan bantuanku, dengan senang hati aku akan membantu dan kamu tahu imbalan apa yang kuinginkan darimu kan, hehe," ucapnya sembari tersenyum dan menjulurkan lidahnya akan mangsa yang sangat nikmat di matanya.
Semua orang mendengar ini cukup terkejut terutama orang-orang yang ikut dengan Bindi, mereka hampir saja naik pitam karena tak terima karena merasa atasannya telah direndahkan oleh pria barat ini.
Bindi yang merasakan hawa kemarahan dari para bawahannya langsung mengisyaratkan mereka untuk diam saja, pikirnya walau semua orang sekalipun bersatu di ruangan ini melawan John, maka tak sebanding dengannya.
Karena John salah satu orang yang menyelesaikan dungeon Rank-S seorang diri tanpa bantuan siapa pun, ada rumor mengatakan jika ada sepuluh orang yang memiliki kekuatan sama sepertinya dan itu diungkapkan secara pribadi oleh John itu sendiri.
"Tampaknya kedatanganku membuat kalian semakin tidak nyaman. Baiklah, aku akan ke ruang tunggu... dan satu hal lagi, tawaranku masih berlaku, Sayang," ucapnya sembari menatap Bindi sembari tersenyum.
Setelah sedikit hawa ketegangan itu menghilang, John langsung mengangkat dirinya menuju pintu keluar ruangan. Dan orang-orang di ruangan itu masih terdiam sejenak apa yang barusan terjadi.
"Aku baru tahu, jika orang sepenting dia punya urusan pribadi dengan Anda," ucap Maisa sembari menatap Agus.
Agus merasakan tatapan penasaran dari tamu-tamu asingnya ini, meminta mereka untuk tak mengkhawatirkan hal ini.
"Ini hanya urusan bisnis biasa, karena salah satu Rank-S kita punya barang yang dititip di asosiasi, dan orang itu datang untuk membelinya."
Mendengar jawaban itu membuat ketegangan sedikit ringan, hanya saja... tidak sedikit dari mereka mempercayai ucapan Agus.
"Bisnis? Memangnya barang apa yang disimpan asosiasi negara ini, sampai-sampai orang seperti John mau mengambilnya sendiri," pikir Bindi yang berusaha mencari tahu itu, tapi hal itu tidak ia akan gubris karena ada urusan jauh lebih penting di depan matanya. "Sebelum kami pergi, aku punya usulan untuk menelusuri dungeon itu."
Bindi mengusulkan beberapa orang Terbangkitkan di Indonesia untuk mengalihkan atau melawan monster-monster di luar dungeon itu. Menurutnya, dirinya beserta timnya, tak ingin membuang banyak tenaga untuk mengurusi dan membersihkan bagian luarnya sebelum masuk ke sarangnya.
Adam dan rekannya mendengar itu sedikit terkejut dan berpikir :
"Kalau kita melakukan hal itu, maka kita yang akan mengalami banyak kerugian. Karena orang-orang Terbangkitkan di negara ini tak sekuat untuk melawan 10 reptil jadi-jadian itu, sekarang apa keputusanmu, Master?"
Adam menatap masternya dengan seksama apakah ia akan menerima usulan ini atau tidak. Tampak Agus memikirkan usulan itu dengan tenang dan setelah beberapa menit ia buka suara.
"30 menit..."
"?"
Lanjut Agus, "Kami hanya bisa mengulur waktu sebanyak itu atau kurang dari itu, seperti hal yang kalian lihat di video tersebut, sudah banyak orang-orang kami telah diseret masuk ke dalam sana dan mungkin sudah jadi santapan oleh monster-monster itu. Jadi, hanya hal ini bisa kuberikan, apa kalian menerimanya?"
Tamu-tamu asing ini saling menatap dan tampaknya mereka sedikit ragu menerima ini.
"Kalau waktunya sedikit itu, mustahil bagi kami untuk menutup dungeon dalam waktu singkat," ucap Rasthin.
"Iya, walau waktu berhasil diulur, maka monster-monster yang berada di luar sana bakalan kembali masuk jika merasakan ada orang telah memasuki sarangnya," ucap Faisal.
"Soal itu kami sudah memikirkannya," kata Adam. "Kami akan menggunakan 'Dunphantus' untuk menghalau mereka sementara."
Mendengar itu mereka tampak bingung, dan Adam menjelaskan bahwa Dunphanstus salah satu tanaman dalam dungeon yang berhasil ditemukan dan sekarang dibudidayakan sebagai obat dan potion penyembuhan. Ditambah lagi, tanaman ini memiliki racun setingkat monster Rank-B dan C.
Katanya, mereka sudah mencoba racun tanaman ini pada monster itu dan sangat efektif melawan mereka, selain memberikan efek lumpuh cukup lama, tampak reptil jadi-jadian itu tidak menyukai baunya karena sangat tajam.
"Kami berencana meletakkan semua racun ini tepat di depan gerbang dungeon untuk mencegah mereka masuk lagi. Walau seiring waktunya, mungkin mereka akan terbiasa dengan racun ini, jadi alangkah baiknya kita manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," lanjut Adam.
Mendengar solusi itu, akhirnya keputusan bulat selesai dan mereka menerima. Adam dan rekannya membagikan kertas data mengenai dungeon tersebut pada mereka.
"Melihat data tambahan ini, aku teringat dengan monster-monster di dungeon Rank-S 1 tahun lalu di Australia," ucap Bindi. "Mereka juga memiliki semacam kecerdasan, tapi tidak strategis monster-monster reptil ini. Aku khawatir, jika monster-monster yang kita hadapi sekarang jauh lebih buruk daripada 1 tahun lalu."
"Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi di sana?" Tanya Agus.
"Saat itu situasinya sangat kacau dan seluruh media menutup rapat-rapat insiden ini karena atas permintaan presiden saat itu..."
Bindi mengatakan bahwa 30% wilayah dari Australia telah dikuasai oleh monster dan menyebabkan banyak korban jiwa saat itu mau itu orang biasa dan orang telah Terbangkitkan.
"Walau dengan bantuan beberapa negara, belum cukup menutupi kekuatan dungeon itu."
Mendengar itu Agus merasa sangat prihatin dan meminta maaf karena tak mengirim bantuan pada saat itu. Bindi menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa itu bukan keputusan yang bisa dibuat sendiri oleh asosiasi, hal ini selalu diputuskan oleh pemerintahan pusat negara atas hal ini. Mereka hanya memikirkan untung rugi jika melakukan sesuatu.
"Di tengah-tengah keputusasaan itu, datanglah orang itu berasal dari salah satu guild besar di Amerika..."
Saat Bindi mengatakan itu tubuhnya sedikit gemetar sembari menetap tajam kursi yang pernah diduduki oleh pria itu. Agus dan yang lainnya melihat itu, langsung mengerti siapa orang itu.
"Dia datang ke Australia bukan karena punya urusan, tapi katanya ia hanya ingin hal menarik saja."
__ADS_1
Mendengar itu membuat rekan tim Bindi marah dalam diam, tampaknya mereka tahu apa yang setelahnya terjadi saat itu.
"Lalu, apa John membantu kalian saat itu?" Tanya Agus.
"Iya, tapi tidak gratis," jawab Bindi sembari memeluk dirinya dengan sedikit gemetaran. "Dia berhasil menaklukkan dungeon itu bersama tim guild-nya, tanpa bantuan orang luar."
Agus menghela napasnya dan mengerti apa yang dialami wakil ketua guild Australia ini, ia teringat pada Gading yang sifatnya tidak jauh dari John.
"Jadi Master, apakah kita harus meminta bantuan dari Tuan Marques, seperti yang dikatakan Nona Aleara bahwa dungeon Rank-S ini mungkin jauh lebih buruk," ucap Adam.
"Tidak, kita tak perlu melakukannya. Bukannya kita punya kartu as untuk hal genting seperti ini."
"Maksud Anda, apakah..."
Agus menganggukkan kepalanya, katanya ia punya firasat baik kali ini bahwa anak muda itu akan ikut membantu mereka.
Sedangkan para tamu kebingungan, apa yang mereka bicarakan.
"Maaf, apa kalian masih punya strategi lain yang belum diberitahukan?" Tanya Chloe.
Agus dan Adam sontak menatap tamu-tamunya dan Agus memberikan jawabannya :
"Seperti yang kami ucapkan sebelumnya, sekarang kami akan mengirim 4 Rank-S kami untuk ikut menaklukkan dungeon itu."
"Empat?" Bindi sembari melihat data-data kertas yang diberikan sebelumnya. "Maaf, bukannya yang tertera di sini hanya tiga. Kenapa Anda bilang akan mengirim empat?"
"Dia baru-baru ini dievaluasi dan kami tak sempat memasukkan namanya dalam daftar," ucap Adam.
"Aku penasaran, seperti apa dia," kata Maisa.
Agus memberitahukan informasi Rank-S barunya, mulai dari nama serta kemampuannya, walau tidak semua kemampuannya diberitahukan.
"Arkha Peteng dan dia juga memiliki jumlah Mana yang sangat banyak, apa dia seorang Mage?" Tanya Bindi.
"Dalam tes kami saat itu, dia memang memiliki Mana yang sangat melimpah, tapi dia juga memiliki kemampuan fisik setara Rank-A," ucap Agus.
Mendengar itu jawaban itu, mereka berusaha memikirkan sosok pemuda ini dan seberapa kuat dia dibandingkan orang-orang di ruangan ini. Karena kemampuannya sepenuhnya belum terungkap, mereka belum bisa mengkonfirmasi apakah orang ini cocok ikut dalam Raid ini atau tidak.
"Maaf kalau saya lancang, kami belum bisa menerima Rank-S baru ini, selain dia kuat, kami belum bisa mengetahui kemampuannya. Walau dia ikut, mungkin itu akan mengacaukan formasi kita nantinya karena kemampuannya yang belum diketahui," ucap Faisal.
Mendengar itu membuat semua tamu asing ini setuju dan Agus mendengar itu tak bisa membantah, yang dikatakan mereka semua benar, karena khawatir akan keselamatan diri masing-masing.
"Tapi kita tidak bisa juga menolak kekuatan tambahan dalam penaklukan ini," ucap Chloe.
Mendengar itu, mereka menarik kembali kesimpulan mereka dan itu masuk akal jika, dan akan rugi jika kekuatan tambahan tidak diikut sertakan dalam penaklukan ini.
"Bagaimana kalau tes..."
"Tes?"
"Iya, kita harus melihat seperti dirinya dan posisinya yang tepat nanti dalam Raid ini. Kuharap Anda tidak keberatan, Master."
Usulan dari Bindi yang sangat memungkinkan, membuat mereka mengambil keputusan itu dan menatap Agus sebagai keputusan akhir.
"Baiklah, aku--"
Deg!!!
Seketika perasaan yang sangat kuat terpancarkan di luar asosiasi, selain orang-orang di ruangan ini yang merasakannya, bahkan orang-orang biasa pun ikut merasakannya juga.
"Energi macam apa ini! Rasanya tubuhku gemetar seketika!" Ucap Rasthin.
Semua orang di ruangan ini merasa sedikit sesak akan energi Mana besar, tapi tidak halnya bagi Agus yang masih tenang dibawa sedikit tekanan ini.
"Apakah 'Mereka' akhirnya menemukan lokasiku, atau... apa itu kamu sang 'Penyelamat'?"
Agus tak berhenti berpikir dan meminta Adam untuk mengecek lokasi energi besar tersebut yang letaknya tidak jauh dari asosiasi.
"Kurasa kita akhiri pertemuan ini, soal tesnya aku akan hubungi orangnya secara langsung. Lalu soal energi besar ini, kuharap kalian tidak perlu khawatir, mungkin sekitar ini ada Hidden Dungeon dan tim kami sedang mengatasinya sekarang," ucap Agus.
Walau mendengar itu, semua tamu asing masih tak bisa melupakan perasaan ini dan mereka tak percaya, bahwa kali pertamanya mereka merasakan kekuatan sebesar ini dalam hidupnya.
Setelah pertemuan itu dan para tamu diantar ke tempat aman dan untuk mereka menginap beberapa hari, Agus terdiam di ruangan itu dan menatap arah luar.
"Energi dan tekanan ini, mengingatkanku pada saat itu..."
Agus teringat akan saudara-saudara dan masternya telah dibunuh oleh salah satu dari "Mereka". Agus tak pernah lupa akan amarahnya saat itu, bertekad akan membalas semua hal itu demi umatnya.
"Kalau 'Mereka' berhasil menemukanku, kali ini aku tak akan lari lagi. Karena tugasku sudah selesai untuk bertemu dengan sang 'Penyelamat'."
Dengan mata penuh tekadnya, ia sudah bersiap menyerahkan nyawa pada sabit sang dewa kematian jika waktunya sudah tiba.
...•••...
Sedangkan di sisi lain...
Di sebuah ruangan ada seorang barat yang kekar sedang bersantai sembari menikmati kopinya. Ia menatap ke arah luar dan dengan tatapan berarti.
"Energi kuat tadi, 'Mereka' yang berasal dari luar sana apa sudah berhasil masuk ke sini?"
Pria itu meletakkan secangkir kopinya di meja dan menyamankan dirinya di sofa lembut itu.
"Lagian itu bukan urusanku jika 'Mereka' dari luar sana datang, aku hanya melakukan apa saja yang kumau dan diperintahkan sebagai salah satu 'Apostle'-nya juga."
Pria itu kembali mengambil cangkir berisikan kopi itu dan menikmatinya.
"Di sisi lain aku tak menyukai 'Mereka', tapi aku menyukai hadiah yang 'Mereka' berikan kepadaku."
Pria itu tersenyum dan menahan tawanya, ia hanya cekikikan untuk melampiaskan kesenangannya itu.
__ADS_1