
Push!! Punch! Punc!
Push!! Punch! Punc!
Mereka berdua maju sembari memberikan serangannya masing-masing.
"Egh...!!"
Tampak keduanya seimbang, karena saling memberikan pukulan dan tendangan disertai hindaran yang sangat cepat.
Hanya saja...
Punch!! Buk!!!
Satu pukulan keras telah berhasil dilancarkan oleh Arkha dan Rasthin terpental sedikit sembari menahan pukulan itu dengan kedua tangannya.
"Apa-apaan tenaganya ini!"
Tampak semua tamu asing ini sangat terkejut akan kekuatan pemuda ini.
"Wow, anak ini benar-benar hebat juga," kata Chloe.
"Kekuatan fisiknya emang kuat seperti yang dikatakan Master Agus. Tapi, bagaimana dengan sihirnya, jangan bilang dia tidak memiliki bakat dalam menggunakan sihir walau memiliki banyak Mana melimpah. Itu akan terlihat sangat sia-sia," ucap Faisal.
"Iya juga sih, tapi tidak semua Mage dan Support harus memiliki Mana untuk bisa melakukan sihir kan. Contohnya Master guild kita seorang Tanker dengan Mana melimpah, dia tak bisa menggunakan sihir juga," ucap Maisa.
Faisal mendengar itu tak bisa membantahnya, memang tidak semua orang yang memiliki Mana melimpah harus jadi Mage atau Support, sebab kedua kelas ini sangat mengandalkan sihir, dengan kata lain juga sangat membutuhkan banyak Mana untuk melakukannya.
"Apa aku terlalu kuat memukulnya?" Tanya Arkha dalam hatinya.
Tapi terlihat sang lawan tidak masalah atas pukulan itu dan dia kembali tegar lagi. Tampak Arkha sangat lega dalam hatinya karena lawannya ini sangat kuat.
Rasthin mencoba tenang dan tampak tatapannya berubah terhadap pemuda jadi lawannya.
"Pukulan barusan..." sembari menatap kedua tangannya dan tertinggal bekas pukulan yang sangat kuat di kulit kasarnya itu. "Dia tidak melapisi pukulannya dengan Mana dan Aura. Berarti ini pukulan murni, kekuatan manusia sesungguhnya."
Rasthin yang terus memikirkannya membuat darahnya mendidih, dan seketika dia tersenyum. Senyuman yang menikmati yang selama ini telah hilang dari hidupnya, kini muncul lagi dihadapannya.
Kedua rekannya melihat terkejut, mereka sudah menduga jika Rasthin menunjukkan ekspresi itu berarti ia telah menemukan sesuatu yang diinginkannya.
"Yah... kebiasaannya kambuh lagi," kata Chloe.
Bukan hanya mereka berdua, tetapi semua orang melihat ini juga terkejut dan termasuk lawannya.
"Nak, kuharap kamu tidak mengecewakanku kali ini!" Kata Rasthin dalam bahasa Inggris.
Walau Arkha tidak mengerti apa yang diucapnya, tapi ia merasa harus sangat waspada sekarang. Karena lawan dihadapannya kini telah menunjukkan tarinnya sekarang.
Bush...!!!
Mana Rasthin menggejolak keluar dari tubuhnya dan memenuhi ruangan ini. Karena semua orang yang berkumpul di ruangan ini bukan orang biasa, maka Mana dengan tekanan kuat ini tidak mengganggu mereka.
Push..!! Chin!!
"!!!"
Tanpa berkedip sedikit pun gerakan yang bagai angin itu telah menghilangkan jejak pria itu. Dan langsung muncul di belakang pemuda itu.
"Sial! Di belakang...!"
Punch!!!
Punch!!!
Bukh...!!!
Sudah menjadi kebiasaan atau instingnya emang sangat kuat, dia berhasil menahan pukulan kejutan itu dengan pukulan juga.
Set!!!
Rasthin langsung menjauh darinya dan menjaga jarak sementara. Dan sangat terkejut, baru kali ini dalam kecepatan penuh disertai pukulan terkuatnya berhasil dihalau secara bersamaan oleh pemuda baru menginjakkan kakinya dalam hal dunia kedewasaan. Tampaknya bukan hanya Rasthin saja, tapi semua tamu asing ini juga terkejut akan hal itu. Mereka tak percaya, akan reaksi cepat pemuda itu dalam hal mengatasi bahaya yang mendekatinya.
Krak!
"Hehe... apa-apaan reaksi cepatnya itu!" Ucap Faisal yang meremas erat besi penghalang hingga bengkok.
Maisa melihat rekannya ini tampak bersemangat. Karena wajar saja, kecepatan seperti itu sulit dihindari, tapi semua itu telah dipatahkan oleh pemuda yang lagi menunjukkan kebolehannya.
"Baru kali ini aku melihat Rasthin merasa terpojok seperti itu. Bagaimana menurutmu Wakil ketua... hm?" Tanya Chloe yang heran melihat wakil ketuanya tampak hanya diam dengan tatapan membantu. "Wakil ketua..." sembari memegang pundaknya.
"Ah! Eh... iya, ada apa?"
Tampak Bindi sangat terkejut, terlihat dia tenggelam dalam dunianya sendiri dan itu membuat Chloe khawatir akan kondisi atasannya.
"Anda terlihat sangat lelah, sebaiknya Anda istirahat saja dulu. Kami tak ingin kondisi kurang prima ini Anda akan bawa saat raid nanti."
Bindi melihat rekannya khawatir pada dirinya, membuat dirinya merasa bersalah karena menunjukkan sikap sebagai perwakilan yang tidak seharusnya.
"Aku baik-baik saja. Aku sangat terkejut melihat kekuatan pemuda itu, aku tak menyangka dia telah melebihi ekspektasiku."
"Begitu ya."
Mendengar itu belum membuat Chloe merasa tenang akan kondisi wakil ketuanya ini. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang membuat Bindi terkejut seperti itu.
"Tadi barusan apa itu..."
Bindi berusaha mengingat sensasi itu lagi, sesaat Rasthin menunjukkan kecepatan penuhnya, tatapan Arkha langsung berubah arah kebelakang. Seolah-olah dia sudah mengetahui di mana posisi yang akan dirinya diserang, dan itu membuat Bindi terkejut sementara.
Tapi kejutannya bukan hanya sampai disitu, sesaat mata Arkha berbalik dan menatap Bindi dan di saat bersamaan membuat tubuh Bindi gemetar hebat ditatap oleh pemuda itu.
"Barusan saat mata kami bertatapan, aku merasa diseret ke suatu tempat. Tapi tempat apa itu?"
Bindi masih mengingat apa yang dilihatnya dalam sekejap itu, dalam pandangannya ia melihat seorang wanita cantik dengan gaun hitam indahnya berdiri sendirian di tengah medan hancur yang dipenuhi puing-puing bangunan hancur, api berkobar di mana-mana, serta mayat manusia tak terhitung jumlahnya.
Lalu wanita itu berbalik menatap ke arahnya dan tersenyum, tampak senyumannya sangat tulus dan indah, dan dia juga mengatakan sesuatu.
"Ligravadas..."
"Hm?"
Tanpa sadar Bindi mengatakan itu dan membuat Chloe penasaran akan kata itu.
Tapi...
"Akh...! Ah...!!"
Tampak seseorang merasakan kesakitan pada dadanya dan dia meremasnya dengan erat. Sontak membuat semua orang terkejut dan khawatir, Agus melihat ini ingin segera mengakhiri tes ini. Tapi dicegat oleh Arkha bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Hei Nak, kamu yakin baik-baik saja?" Tanya Rasthin dalam bahasa Inggris.
"Don't worry, I'm fine," balas Arkha.
__ADS_1
Mendengar itu membuat Rasthin tak enak hati, ia tak ingin melawan orang yang kondisinya belum stabil seberapa kuat pun dirinya. Tapi karena ini tes, makanya dirinya sebagai penguji harus memastikan apakah pemuda ini layak atau tidak.
"Ok, bersiaplah."
Tampak kedua pesaing ini masih melanjutkan tesnya, walau tadi terjadi sesuatu kurang mengenakkan.
Bush...!!!
Bush...!!!
Kali ini kedua pihak menunjukkan keseriusannya kali ini, mereka berdua menampakkan masing-masing pancaran energi kuatnya.
Rasthin menampakkan Mana kuatnya sekujur tubuhnya, sedangkan Arkha hanya bisa menampakkan Aura-nya.
"Aura? Jadi anak pengguna Aura ya," ucap dalam hati Rasthin.
Sesaat kuda-kuda dipersiapkan oleh Arkha dan dia bergumam sesuatu.
"Seni bela diri Síwáng, gerakan kedua..."
...LANGKAH KUCING HITAM...
Set! Chin!
Dalam sekejap pemuda menghilang dari pijakannya dan muncul tepat di hadapan Rasthin. Tapi hal itu tidak membuat Rasthin lengah, ia segera melakukan tindakan pencegahan.
"Aegis!!"
Punch! Buk...!
"Hehe... kamu hebat juga, Nak."
Pukulan Arkha berhasil ditahan dengan sihir pertahanan. Tapi, tinju pemuda ini masih menempel pada dinding sihir ini dan kuda-kuda telah disiapkan oleh pemuda ini sembari bergumam.
"Eh? Tunggu Perasaan ini..."
Rasthin merasakan sesuatu yang sangat bahaya akan pukulan pemuda datang.
"Sial! Pukulannya..."
"Seni bela diri Síwáng, gerakan kelima..."
...CAKAR ELANG HITAM...
Dengan cepat Rasthin berusaha menjauh dari dinding sihir keamanannya itu. Dan pemuda itu sudah melancarkan serangannya di saat bersamaan juga.
Buk...!! Krak!! Crang...!!!
Seketika dinding sihir itu pecah dalam sekejap, semuanya terkejut melihat itu. Mereka tak menyangka bahwa Aura bisa melakukan hal seperti itu, menurut pandangan umum bahwa Aura biasanya tidak sekuat itu, karena menggunakan jauh lebih beresiko dibandingkan Mana.
"Tak kusangka anak itu menggunakan teknik terkuat dari Fa Jin," ucap Maisa.
"Fa Jin?" Tanya Faisal.
"Itu teknik dalam bela diri Kung Fu. Dan Fa Jin terbagi dalam tiga teknik berdasarkan terlemah hingga terkuat. Dan anak ini menggunakan teknik terakhir dari Fa Jin."
"Berarti orang ini..."
"...Iya, anak ini menggunakan teknik terakhir Fa Jin dengan kata lain teknik ketiga. Teknik ketiga ini pukulan tanpa jarak, dan memberikan kerusakan besar mau itu di luar tubuh atau di dalamnya. Orang yang terkena pukulan ini akan mengalami kelumpuhan dalam sekejap dan tak tahu kapan pulihnya. Itu cuma cerita dalam buka yang kubaca belum tentu..." sesaat ucapan Maisa dia hentikan melihat rekannya semakin semangat menatap pemuda ini. "Dasar! Percuma juga menjelaskannya."
Set! Set!
Punch! Piuh!
"Tak ada cara lain lagi ya."
Bing...!
"?"
Tampak Cahaya muncul dari kedua tangannya dan membentuk bara api yang sangat panas.
Piuh! Piuh! Shut!
Beberapa serangan bola api sihir dilancarkan dari kedua tangannya dan mengarah ke arah pemuda itu.
"Sudah lama aku tak melihat dia menggunakan sihirnya, selama ini ia hanya bertarung secara dekat. Seperti yang diharapkan dari 'Magic Warrior' kita," ucap Chloe.
Sesaat seluruh bola sihir mengarah padanya, pemuda ini hanya diam di tempatnya dan membuat semuanya heran.
"Time distortion..."
"!!"
Seketika seluruh bola api yang melayang di udara itu tiba-tiba menghilang di udara secara perlahan, seolah-olah waktu bola api ini kembali ke keadaan awalnya, yaitu saat baru diciptakan.
"Apa! Itukan Time distortion...!" Tampak Faisal sangat terkejut melihatnya.
"Tak kusangka sihir sekuat itu bisa dia gunakan dengan enteng tanpa rapalan sedikit pun," ucap Bindi.
Semuanya masih terkejut apa yang dilihatnya. Sedangkan di sisi lain, pemuda ini sibuk menatap udara di hadapannya.
[Skill berhasil digunakan, sekarang skill ini telah hilang dalam catatan "Buku ilmuwan sejati".]
"Sekarang sihir terkuat aku sudah gunakan, sisanya hanya sihir dasar yang aku bisa gunakan. Soalnya tidak banyak orang mau menggunakan sihir tingkat tinggi karena resikonya. Jadi sulit mencarinya untuk di copy."
Karena pertarungan ini masih berlanjut, maka Arkha menggunakan dua sihir copy-annya sekaligus dan menggabungkannya dengan konsep Yin-Yang, pemahaman bela diri yang dia dapatkan dari pendahulunya.
"Mana sebagai pelurunya, tubuhku sebagai wadahnya dan Aura sebagai pemantiknya..."
Bush...!!!
Seketika Mana di sekitar pemuda ini berkumpul ke arahnya.
"Menyerap Mana dari luar tubuh, lalu Aura menyebar ke dalam tubuh..."
Bush...!!! Bush...!!!
Semuanya hanya bisa diam tercengang melihatnya, baru kali ini mereka melihat Mana sekitar berkumpul di luar tubuh seseorang tanpa masuk ke dalam tubuhnya. Serta Aura tubuhnya yang keluar itu tidak ada bentrokan sama sekali saat menyatu dengan Mana di luar tubuh.
"Menjaga keseimbangan, menjalankan keseimbangan, dan menyatukan keseimbangan..."
Sesaat kedua energi bertentangan ini bersatu menjadi kesatuan, dan kedua sihir barusan yang berhasil disatukan dengan Aura ini kini memancarkan energi besar dari kedua tangan pemuda ini.
"Seni bela diri Shuî, gerakan ketujuh..."
...KESEIMBANGAN DUNIA...
Shut!
"!"
__ADS_1
Set! Dengan cepat Rasthin menghindar saat Arkha melempar bola api miliknya.
Bom!! Freez!!!
Seketika ledakan barusan bukannya terbakar malah membeku. Tentu ini sesuatu hal mengejutkan dipandang dan membuat semuanya menjadi terdiam akan hal ini.
Shut! Piuh!
"Apa...!"
Set!
Bom!! Burn..!!
Kali ini bola es dilemparkan dan hanya memicu ledakan mengakibatkan kebakaran.
Shut! Shut! Piuh! Piuh!
Serangan demi serangan sihir api dan es dilancarkan oleh Arkha dan membuat Rasthin kewalahan mendekatinya.
Akan tetapi...
"Norum...!!"
"Harrrgh...!!!"
Tring!!
Tiba-tiba sebuah serangan seperti setajam pisau hampir melayang ke lehernya dan berhasil dicegat oleh serigala hitam.
"Oh menarik, kamu punya peliharaan juga, hehe."
"Apa-apaan kau ini! Jangan ikut campur!" Ucap Rasthin kesal dalam bahasa Inggris.
"Maaf, soalnya aku tak tahan ingin melawan anak ini. Apalagi dia mengeluarkan makhluk menarik," ucap Faisal dalam bahasa Inggris.
Pemuda ini tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, tapi dia memberikan isyarat kepada mereka berdua dirinya tidak keberatan. Sedangkan Maisa hanya bisa memegang keningnya karena pusing memikirkan tindakan rekannya ini.
"Makhluk itu..."
"Kenapa Wakil ketua?"
"Entah aku merasa familiar dengan makhluk berbulu hitam itu."
"Bukannya itu wajar..."
"Hm?"
"Kan dia serigala, apalagi karena dia binatang sihir, jadi wajar saja kita memiliki perasaan seperti itu. Karena kita menjalani dua kehidupan sekaligus, sebagai orang biasa dan sebagai orang Terbangkitkan juga."
Mendengar ucapan Chloe membuat perasaan Bindi semakin tenang, hanya saja baginya kejanggalan ini belum menghilang.
Durn...!!!
Getaran pertarungan ini semakin intens, hanya saja terlihat kerja sama kedua pihak terlihat jelas. Pemuda dengan partnernya ini mampu mengimbangi kedua Rank-S ini.
"Makhluk ini boleh juga!" Batin Faisal.
"Harrdgh...!!!"
Norum melancarkan cakar berlapis Mana dan di sisi lain Arkha harus menghadapi Rasthin yang kewalahan.
Melihat pertarungan mulai mencapai klimaksnya, Agus segera menghentikan tes ini dan meminta kedua belah pihak segera berhenti.
"Dengan ini aku anggap Arkha Peteng lulus tes kalian. Apa ada yang keberatan?" Tanya Agus pada tamu asingnya.
Rasthin hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dia tahu bahwa pemuda ini lebih dari kartu as yang sesungguhnya.
"Pertahanan, kekuatan, kecepatan serta memiliki berbagai jenis sihir hebat. Apalagi yang disembunyikan anak ini lagi," pikir Maisa.
Mereka semua setuju untuk membawa pemuda ini bersamanya dalam raid kali ini.
"Kamu hebat juga Kawan," ucap Faisal dalam bahasa Melayu sembari menepuk punggung Arkha.
"Cukup Faisal, jangan buat aku malu lagi lebih dari ini!" Ucap Maisa dalam bahasa Melayu.
Bindi terus menatap Arkha dan merasa ditatap, Arkha menatap balik kedua mata mereka bertemu kali ini dalam jarak yang dekat.
"Barusan dia mengucapkan sesuatu yang membuatku sakit di dadaku. Apa itu barusan 'Hukum'?"
Sebagai Heredis, dirinya mengerti betul kata-kata yang diucapkan sebagai "Hukum". Walau dirinya belum sepenuhnya bisa menggunakan "Hukum" dari kekuatannya.
"Aku tidak merasakan energi sama seperti 'Mereka' darinya, ataupun sebagai Heredis dari 'Dia'. Dan barusan itu apa?"
Agus melihat keadaan Arkha kurang prima, ia segera meminta para tamu asing untuk kembali dan istirahat. Hanya saja, Bindi penasaran dengan pemuda ingin segera menyampaikan sesuatu padanya, apa yang dia rasakan saat menatap mata pemuda itu.
Karena waktunya kurang tepat untuk menyampaikan hal itu, jadi mengurungkan niatnya dan segera pergi bersama rekan-rekannya.
Sedangkan di sisi lain, Agus dan Arkha ingin kembali ke kantor Agus lagi untuk membahas apa rencana mereka selanjutnya.
Deg!!
"Egh...!! Hah...! Hah...!"
Tiba-tiba dada Arkha merasa sakit serta sakit kepala yang tiba-tiba juga menghujaninya.
"'Penyelamat'!"
Agus panik melihat itu dan tak tahu harus berbuat apa, tapi perlahan kondisi mulai membaik. Entah apa yang terjadi, tapi tampak pemuda ini tak mengalami sakit lagi, tapi dia menyebutkan sebuah nama.
"Archie..."
"?"
Agus bingung mendengar itu dan menanyakan siapa orang yang disebut barusan.
"Dia pendahuluku. Aku merasakan hal familiar pendahuluku ini dari wanita itu."
"Maksud Anda... apa Bindi Aleara?"
Arkha mengangguk, Agus mengetahuinya sebab dia sudah memperhatikan reaksi Bindi daritadi saat tes barusan. Sebuah ekspresi tak wajar dari orang saat pertama kali bertemu.
Sakit kepala barusan karena terlintas sebuah memori asing lagi dari pendahulunya. Dia melihat pendahulunya berdiri di tengah kekacauan dan kehancuran itu sendirian. Dia hanya bisa terdiam sedih melihat semua umat manusia mulai mencapai akhirnya.
"Sekarang aku mengerti, jadi dia ternyata keturunanmu."
Arkha hanya bisa tersenyum tipis, sebab dalam memori itu dia melihat pendahulunya hanya bisa tersenyum, yang berarti bahwa masih ada harapan kelak baginya. Mau itu keturunannya maupun pewarisnya yang akan meneruskan perjuangan.
"Bindi Aleara... aku dengar, satu tahun lalu katanya dialah orang yang berhasil menahan Hidden dungeon Rank-C di daerah terpencil seorang diri sampai bantuan datang. Karena saat itu katanya dia kebetulan ada di sana untuk melakukan penelitian tanaman dungeon yang tumbuh di sana."
"Itu benar, kalau dia tidak ada di sana, aku yakin semua penduduk di sana hanya tinggal nama saja. Setelah kejadian itu, dia mengalami luka cukup parah, tapi untungnya dia masih bisa selamat. Mungkin Dewa masih membutuhkan orang sepertinya untuk melindungi dunia ini."
__ADS_1
Arkha senang dan mengerti bahwa tidak harus dirinya menjadi pelindung umat manusia, karena masih banyak manusia yang ingin menjadi sosok pelindung sesamanya tanpa peduli imbalannya.
Dengan ini dia memutuskan bahwa dirinya tak boleh ragu lagi apa yang di hadapannya. Dan rasa sakit di dadanya itu mungkin petunjuk dari pendahulunya untuk tak selalu menanggung semuanya seorang diri.