
Pukul 12.28
Crang!
Seketika muncul retakan dimensi dan seorang pemuda muncul dengan perasaan sedikit berat. Ia menatap sekitarnya, pemandangan yang sangat tidak asing dan baunya pun masih.
"Aku pulang."
Tiba-tiba aku berada di rungan tamu dalam rumahku. Terlihat di luar rumah yang tampak orang-orang asosiasi ini masih menjaga sekitar kediamanku.
"Mereka benar-benar loyal pada tugas mereka."
Tak...
Suara detak jam dinding dan aku menoleh ke arahnya yang menunjukkan sudah melewati setengah dua belas.
"Sebaiknya aku menyiapkan nasi goreng telur untuk si Kembar, sebentar lagi mereka akan pulang dari sekolahnya."
Seperti biasa aku masih melakukan rutinitas biasa dalam rumah dan kali ini aku akan menyiapkan makan siang untuk Rena dan Reno pulang nanti.
Sesaat di luar rumah tampak orang-orang berpakaian serba hitam ini sangat menarik perhatian tetangga dengan sikap tegas waspada mereka.
"Apa yang terjadi? Apa Nak Arkha baik-baik saja di dalam sana, aku melihat dia dibawa oleh orang-orang ini dan sampai sekarang Nak Arkha belum keluar dari rumahnya."
"Mereka berasal dari asosiasi biro keamanan, mungkin Arkha terlibat sesuatu, mengingat anak itu orang yang Terbangkitkan juga. Jadi, sebagai orang biasa kita tidak bisa ikut campur urusan manusia-manusia super ini."
"Kuharap tidak terjadi apa-apa, mengingat orang tuanya sangat baik pada kita semua, jadi aku tak tega melihat anak malang ini terlibat hal bahaya."
"Kuharap begitu, kita hanya bisa mendoakan kebaikan untuknya dan adik-adiknya."
Ibu-ibu yang setetangga denganku tampak khawatir, aku bisa mendengar suara mereka walau dalam rumah sekalipun. Seluruh kekuatan fisik, indra dan Mana serta Aura-ku, semakin tajam dan kuat.
Mungkin ini ada kaitannya dengan "Mereka", Arasyid berhasil menghisap energi kehidupan salah satu dari mereka dan itu membuat diriku merasakan beban yang sangat sakit kala itu, tapi setelahnya tubuhku semakin ringan dan aku merasa bertambah kuat setelah melewati semua ujian yang diberikan sistem.
Bizzz...
"Hei, kau mencium itu?"
"Hm? Cium apa?"
"Apa kamu tidak merasakan bau ini, ini bau... nasi goreng."
Mendengar itu temannya ini segera memfokuskan hidungnya terhadap bau bawang goreng yang menyeruak di udara sekitarnya.
"Kamu benar, dan bau ini berasala dari dalam sana," katanya sembari berbalik ke arah rumah Arkha.
Mereka mendekat ke arah rumah itu dan dugaan mereka benar, bahwa bau bumbu masak ini semakin tajam dan berasal dari dalam rumah itu.
"Apa Tuan Arkha sudah pulang?"
"Aku tidak tahu, padahal aku sudah memasang 'Sensor Barrier' di sekitar sini jika ada penyusup aneh mendekat nanti, tapi aku tidak merasakan adanya gerakan aneh saat melewati sensor-ku ini."
"Berarti Tuan Arkha sudah pulang, mengingat Master meminta kita menjaga ketat dirinya karena ia Pilar Negara yang keenam kita nantinya. Maka menembus sensor-mu mungkin hal mudah baginya."
Pria yang memasang sensor ini hanya bisa menggelengkan kepalanya apa yang dialaminya, padahal kemampuan sensor miliknya terbaik di asosiasi bahkan Rank-S sekalipun menurutnya tidak bisa lepas dari pengawasannya, tapi semua kesombongannya itu terpatahkan oleh anak muda yang usianya jauh 10 tahun lebih muda darinya.
"Kalian siapa?" Suara anak kecil laki-laki.
"Sedang apa kalian di depan rumah kami!" Suara anak kecil perempuan yang tegas.
Sontak mereka berbalik karena tiba-tiba suara anak kecil nan asing tiba-tiba masuk dalam suara mereka. Orang-orang asosiasi ini langsung berbalik dan tampak sepasana anak kecil laki-laki dan perempuan yang tampak wajah mereka sangat mirip, dengan pakaian sekolah dasar mereka.
"Kayaknya mereka adik-adik dari Tuan Arkha," pikir salah satu dari mereka dan menatap ke arah jauh belakang, dan nampak seseorang berpakaian seperti mereka memberikan isyarat dan pria ini mengerti bahwa tugas menjaga si kembar telah aman.
"Begini... Paman-Paman ini hanya ingin menemui kakak kalian."
Tampak anak kecil perempuan menampakkan wajah ketegasan sedangkan sang laki-laki hanya bisa berlindung dengan takut di belakang saudarinya.
"Kalau soal itu, kamu bisa menemui Kakak di dungeon kan. Jam segini biasanya Kakak masih di sana dan jarang pulang jam siang kecuali ia libur," ucap gadis kecil itu.
Medengar itu mereka tak bisa memikirkan alasan lain di depan gadis kecil ini. Yah... mana ada orang asing yang mengintai rumah kalian secara diam-diam jika kalian tak ada, dan itu yang sedang gadis kecil ini lakukan.
Ia sudah diamanhkan kakaknya setiap hari untuk selalu menjaga rumah, dan jika ada orang tak dikenal maka lebih baik salah satunya itu yaitu menunjukkan sikap tegas agar mereka tak bisa bermacam denganmu sementara. Lalu yang kedua meminta tolong ke tetangga dengan cara berteriak jika memungkinkan keadaannya tidak pasti.
"Jadi... apa kalian bisa pergi dari sini sekarang? Kalian semakin mencurigakan jika terus berdiri di sini, kami akan berteriak jika kalian tidak pergi."
Gadis kecil ini semakin mendesak pria-pria dewasa ini dan orang-orang asosiasi tidak bisa membeberkan informasi kepada anak kecil yang tidak tahu apa-apa mengenai masalah hidup mati ini.
"Nona muda tenang dulu..."
Seketika gadis kecil bersiap berteriak sembari menarik napasnya dalam-dalam.
Tapi...
Klek... Ngek...
"Ah, akhirnya kalian sudah pulang..."
Seketika suasana tegang itu redam sesaat orang dalam rumah itu menujukkan diri.
"Kakak! Kenapa cepat sekali pulang?"
Anak kembar ini tampak bingung tapi wajah senangnya yang dulu menghiasi terlebih dahulu.
"Kakak baru pulang barusan, kakak tidak jadi pergi ke dungeon dan memutuskan libur saja."
Aku tak mengatakan apa pun tentang hal ini, setelah mengantar mereka sekolah biasanya aku langsung ke dungeon dan hal itu si kembar sudah tahu betul aktivitas sehari-hariku.
"Begitu ya, tapi Kak... orang-orang ini mencurigakan. Apa kita harus melaporkan hal ini ke polisi atas tindakannya yang mencurigakan, karena menatap terus rumah kita," ucap Rena.
Tampak orang-orang asosiasi mulai sedikit khawatir dan mata kami saling tatap sementara, tampak mereka mengisyaratkan padaku untuk mengurus hal ini sementara karena hal ini akan mengundang perhatian masyarakat atas tindakan asosiasi yang tidak benar, jika sebuah berita tak benar muncul lagi.
Memahami itu aku hanya bisa tersenyum ke arah si Kembar dan menepuk kepalanya Rena dengan lembut.
"Jangan khawatir, mereka bukan orang-orang jahat kok. Mereka datang karena punya urusan dengan kakak."
"Kalau Kakak bilang begitu maka semuanya baik-baik saja sekarang," ucap Rena.
Seketika aku merasakan kekhawatiran dan takut dari si Kembar. Hal ini membuatku semakin tak nyaman melihatnya, sebab belum lama ini aku melihat si Kembar sekhawatir ini.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyaku.
Sontak mata si Kembar terbelalak dan menatap satu sama lain dan akhirnya Reno membuka suaranya setelah terdiam cukup lama.
"Begini Kak... saat Kakak pergi bekerja dan setiap kami pulang sekolah, kami melihat seseorang terus mengawasi kami dan mengikuti kami ke mana pun berada."
Mendengar itu membuat jantungku mulai berdetak kencang dan aku langsung menatap ke arah belakang dan tampak orang-orang asosiasi itu melakukan tugasnya semestinya. Lalu siapa yang mengikuti Rena dan Reno?
"Kapan kalian diikuti?" Tanyaku lagi.
"Itu kami merasa diikuti semenjak Kakak pergi selama seminggu penuh," jawab Rena.
Aku cukup terkejut mendengar dan berpikir :
"Seminggu? Berarti semenjak aku berada di Purgatory. Sial!"
Aku sangat kesal dengan diriku, karena hal bahaya mulai mengintai Adik-Adikku. Dan aku sudah bersumpah untuk selalu menjauhkan mereka dari bahaya apa pun.
Aku menghela napas dan mencoba menenangkan diriku, karena untuk saat ini keluarga kecilku ini baik-baik saja, dan lagi ada bantuan dari asosiasi untuk mengawasi Rena dan Reno selagi aku pergi.
"Baiklah, mulai sekarang jika kalian pulang sekolah dan pergi ke mana pun, Kakak akan selalu menemani kalian."
"Eh, bagaimana dengan pekerjaan Kakak?" Tanya Reno.
"Jangan khawatir, saat ini Kakak mulai mengurangi waktu di dalam dungeon dan istirahat cukup. Masuklah, Kakak sudah siapkan nask goreng untuk kalian."
"Nasi goreng!"
Seketika Reno berlari ke dalam semangat dan disusul Rena, untung saja selam aku pergi ini mereka baik-baik saja. Tapi mendengar barusan membuatku semakin khawatir jika meninggalkan mereka.
"Jika bahaya terus mengincar mereka, maka tak sulit bagiku menjalankan tugasku sebagai Heredis. Karena aku juga harus bertambah kuat untuk siap melawan semua makhluk asing itu."
Dilema mulai membebani kepalaku, jika aku berada di sisi orang-orang kucintai maka mereka akan selalu aman, tapi dunia ini akan dalam bahaya jika tak ada yang bisa menanganinya karena tak seorang pun tahu semua asal-usul dunia ini selain sang Heredis.
Tapi jika diriku fokus tugasku pada Heredis dan mengabaikan bahaya yang mengincar keluargaku, maka hanya mendatang penyesalan seumur hidup bagiku karena merekalah satu-satunya membuat diriku punya tujuan hidup.
Di saat pikiran sedih membebani kepala pemuda ini, seseorang dari asosiasi mulai membuka suaranya :
"Tuan, kamu tidak perlu khawatir. Kami akan selalu menjaga keluargamu."
Mendengar itu membuatku sedikit semangat.
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih, kami hanya menjalankan perintah dari Master kami. Master meminta kami untuk selalu membantumu jika dalam bahaya."
"Master?" Tanyaku sedikit bingung. "Kalau diingat-ingat, aku belum pernah bertemu dengan pemimpin asosiasi biro keamanan, tapi kenapa dia mau membantuku sejauh ini? Apa karena waktu interogasi itu?"
Karena tak tahu alasannya maka satu hal kemungkinan bahwa ini akan jadi bantuan berharga bagiku selagi aku fokus menaikkan level-ku.
"Apa aku boleh meminta tolong sesuatu?" Tanyaku.
"Katakan, apa yang bisa kami bantu."
"Aku ingin kalian mencarikan informasi mengenai orang yang selama ini menguntit Adik-Adikku."
Mereka menerima permintaanku dan segera menghubungi pusat, katanya ia dan timnya segera mencari orang itu melalui semua jejak rekaman CCTV rumah maupun jalanan, yang sering dilalui si Kembar juga.
"Sudah ketemu? Baiklah, kirim gambar orang itu kepadaku."
__ADS_1
Salah satu dari mereka segera mengecek tablet canggih miliknya dan memilah semua informasi yang di dapatnya.
"Ketemu, ini orangnya..." menunjukkan gambar itu kepadku. "Wajahnya tertutupi dengan baik, tapi saat diperhatikan ia memakai sesuatu di lengannya."
Kami mulai memperhatikan gelang orang asing itu pakai tampak sekilas itu gelang biasa, tapi dari rekaman ini memancarkan Mana tapi sangat kecil.
"Itu senjata sihir," kataku.
"Apa..."
Mereka terkejut, selama ini senjata sihir memiliki pancara magis yang kuat mengingat senjata seperti ini terbuat dar Kristal Mana terbaik. Walau Kristal Mana tersebut buruk dan digunakan dalam senjata sihir, tapi pancaran energinya tak akan sekecil ini.
"Jika itu senjata sihir, tapi aku belum melihat senjata sihir memancarkan energi selemah ini."
Kami masih belum tahu alasan orang ini mengikuti Rena dan Reno, tapi melihat ini membuatku marah karena bisa saja orang ini mencelakai si Kembar kapan pun.
"Terima kasih atas bantuan kalian."
"Bukan masalah, kami akan selalu mengirim beberapa orang untuk terus mengawasi sekitar sini."
Aku semakin terbantu mendengar ini, tapi menurutku ini tindakan berlebihan dan hanya menarik bahaya lebih sering datang.
"Tidak perlu sampai segitunya, kalian hanya perlu mengawasi mereka jika aku tidak ada. Dan tentu juga aku akan meninggalkan pengawal pribadi untuk Rena dan Reno."
"Pengawal pribadi?"
Aku hanya bisa tersenyum kecil dan berkata :
"Keluarlah!"
Bussh...!
Seketika sekumpulan energi dingin menyelimuti diriku dan itu membuat semua orang-orang asosiasi ini sangat terkejut melihatnya. Dengan aura hitam dan mencekam membuat semuanya terpanah pada beberapa sosok, seketika gumpalan energi hitam itu membentuk delapan prajurit perak dan menundukkan dirinya kepada Yang Mulia mereka.
"Mulai sekarang kalian akan terus mengawasi Adikku-Adikku, dan singkirkan semua bahaya yang mengancam mereka, tidak peduli apa pun itu... pergilah!"
Set! Set! Set!
Dengan cepat tubuh mereka terurai bersama asap hitam dan terbang ke arah dalam rumah menuju ke arah si Kembar.
Tampak orang-orang asosiasi ini hanya bisa terdiam dan tercengang melihatnya.
"T-Tuan... apa itu makhluk panggilan Anda?"
"Iya itu benar, dan itu salah satunya yang kupanggil."
"Salah satunya..." masih tak percaya apa yang dilihatnya, apalagi pancara Mana yang hebat itu membuat tubuhnya menggigil. "Jika kemampuan makhluk Summon-nya sekuat ini, bagaimana dengan makhluk panggilan lainnya? Seberapa banyak Mana milik anak muda ini dan energi kuat barusan ia pancarkan... kurasa belum sepenuhnya."
Melihat tatapan mereka membuatku sedikit tidak nyaman, karena kemampuan Heredis ini belum sepenuhnya kutunjukkan ke siapa pun.
"Untung saja aku mendapatkan skill baru dari sistem saat aku memasak nasi goreng..."
[Astral kematian (Aktif)
The Arcana menempelkan tubuh dan Mana mereka di jiwa hidup tertentu, selama jiwa tersebut masih berada di bawah kemampuan The Arcana. Saat The Arcana berhasil mengikat jiwa tertentu dengan Mana-nya, maka akan memasuki mode Lost dan akan selalu berdiri di samping targetnya.
Peringatan!
Saat The Arcana berpisah dengan sang pewaris selama The Arcana terikat dengan target, maka seluruh indra yang dirasakan The Arcana bisa dirasakan oleh sang pewaris, jika sang pewaris menghendaki.]
"Dengan skill ini, aku jadi bisa mengawasi si Kembar dan Susan kapan saja."
Skill yang sangat mirip dengan keadaan yang mirip denganku dan Norum, hanya saja aku dan Norum dibatasi jarak dan skill ini tidak memiliki batasan jarak dengan pengguna dan makhluk panggilannya.
"Baiklah, dengan ini mohon bantuannya."
"Eh? Oh, iya, ya... mohon bantuannya juga Tuan."
Mereka semua kembali ke tugas mereka masing-masing dan sisa waktu sehari ini aku habiskan bersama Adik-Adikku.
...•••...
...•••...
...17-10-2030...
Pukul 09-07
Hari itu pu tiba, di mana diriku akan memperbarui status berburunya.
Tapi...
"Kenapa di sini banyak sekali orang?"
"Kami lupa memberitahu Anda, bahwa saat ini akan dilakukan evaluasi besar-besaran untuk memilih orang-orang dengan Rank-C ke atas."
Melihat ini wajar saja, karena beberapa hari lalu muncul dungeon Rank-S di Bali dan itu menggemparkan media. Mengingat negara ini belum sama sekali kemunculan dungeon Rank-S dan kemunculan dungeon bencana ini akan melenyapkan peradaban manusia jika tak segera ditangani.
"Itu benar Tuan. Negara kita kekurangan Pilar Negara (Rank-S) dan membutuhkan bantuan pihak luar untuk mengatasinya."
"Daripada meminta bantuan pihak asing, kenapa kalian tak meminta bantuan '4 Pilar Bumi' mengingat organisasi itu sangat hebat dan mereka akan sukarela membantu mengatasi dungeon bencana tanpa imbalan sama sekali."
Pria asosiasi ini terdiam dan tampaknya ini sesuatu yang tidak boleh dibicarakan, mengingat organisasi besar ini sangat berkaitan di mana-mana mau itu pemerintahan atau pun asosiasi biro keamanan.
"Tapi... seharusnya organisasi ini langsung mendatangiku setelah ter-Inkarnasi. Apa terjadi sesuatu di sana?"
"4 Pilar Bumi" dipenuhi orang-orang kuat dan memiliki motto untuk selalu melindungi bumi ini. Tapi belakangan ini, gerakan organisasi ini tak terlihat lagi dan itu malah menimbulkan rasa penasaran dan khawatiran masyarakat, karena salah pelindung terkuat bumi ini telah tertutup tanpa jejak.
Saat aku berada di luar kantor pusat asosiasi dan dikawal seseorang dari asosiasi. Kami tak bisa masuk karena kerumunan ini, biasanya jika ada dungeon bencana maka orang-orang lebih memilih menjauh. Tapi karena ini situasi mendesak, mau tidak mau harus ikut serta dalam penanganan ini dan tentu saja ada imbalan ketika berhasil di atasi.
"Akhirnya mereka datang."
"Hm?"
Seketika muncul sekelompok orang-orang berpakaian serba hitam dan berbaris membentuk benteng manusia dan mengosongkan satu jalan.
"Baiklah Tuan, tolong ikuti aku."
Aku hanya mengangguk saja dan kami berjalan di jalan yang dikosongkan asosiasi. Tampak tatapan heran orang-orang memandangiku.
"Siapa bocah ini? Kenapa dia diperlakukan istimewa."
"Entah, mungkin anak tajir kali."
"Cih, uang selalu menang. Itu makanya aku rela mengambil pekerjaan resiko ini karena bayarannya besar."
Mendengar obrolan mereka membuatku tak nyaman, karena tindakan asosiasi ini berlebihan sekali.
"Ya ampun, tidak bisakah aku mendapatkan perlakukan normal."
"Itu tidak bisa Tuan, berbeda Rank-S sebelumnya yang dilakukan secara rahasia. Karena sekarang tindakan darurat, kami tak punya waktu mempersiapkan tes khusus untukmu. Jadi Master sendiri yang akan mengujimu secara langsung."
Karena dia mengatakan itu maka aku hanya bisa mengikutinya, tapi bertemu master mereka malah salah satu keinginanku dan apa alasannya dia membantuku sejauh ini.
Sesaat masuk di dalam gedung, aku melihat orang-orang mengantri untuk mendaftar dan tentu saja tatapan penasaran menghujaniku.
"Pak, bukannya itu Arkha," kata Zara.
Pak tua itu langsung menoleh ke arah pemuda yang dikawal oleh asosiasi.
"Akhirnya dia mau menunjukkan jati dirinya. Baguslah, aku mendukungmu Nak."
Fokus semua orang langsung tertuju padaku dan tak mempedulikan pendaftaran mereka.
"Persiapkan tingkat pengawasan menjadi tingkat satu dan jauhkan para pendaftar dari ruang tes Pilar Negara!"
Mendengar itu membuat semua orang terkejut dan tak percaya mereka akan menyaksikan kelahiran pilar negara baru. Keamanan semakin diperketat dan jalan menuju ruangan khusus diblokir banyak penjaga.
"Kamu dengar itu, katanya akan ada Pilar Negara baru."
"Wah... tak kusangka aku bisa melihat kelahiran baru Pilar Negara secara langsung di depan mataku."
Aku dibawa ke sebuah ruangan yang jauh dari kerumunan dan saat masuk aku melihat seorang pria tua dan beberapa orang kuat di dalamnya.
"Akhirnya kamu datang, Nak. Perkenalkan aku Agus Supriyadi, Master dari Asosiasi Biro Keamanan."
"Aku Arkha Peteng."
Pak tua ini mengulurkan tangannya dan ia ingin bersalaman denganku, aku memenuhi keinginannya.
Saat tangan kami bertemu...
"!!!"
Sesaat aku merasakan energi yang sangat kuat dan sangat berbeda dengan manusia biasa yang Terbangkitkan secara umumnya.
"Energi ini... kenapa aku merasa dia bukan manusia."
Tangan kami terlepas dan aku masih sedikit syok merasakannya, tapi pak tua ini terus menatap tangannya yang barus di salaminya.
"Aku tidak merasakan apa pun darinya. Apa ia menyembunyikannya?"
Aku menoleh ke kiri dan kanan, terlihat beberapa wajah tak asing.
"Oh iya, mereka semua ini adalah ketua divisi keamanan di sini dan kamu sudah tahu Adam kan. Dia ketua divisi keamanan tim pertama."
Selain Adam semua orang yang ada di sini sangat tak biasa jumlah mereka ada 12, semuanya memancarkan energi ketegasan dan kuat, terutama pemimpinnya yang tak biasa walau sudah tua.
"Baiklah, mari kita mulai tesnya."
__ADS_1
Pak tua itu langsung memancarkan Mana yang sangat kuat dan meletakkan tangannya di lantai.
Dur...!
Seketika tempat ini mengalami gempa dan muncul lingkaran sihir dari bawah, dan dilingkaran itu muncul sebuah batu yang tinggi yang menjulang 2 meter lebih.
"Sebenarnya kamu harus melewati beberapa tes dulu untuk mengukur seberapa besar kekuatanmu. Karena keadaannya darurat maka tes ini saja yang bisa kamu lakukan."
"Apa kegunaan batu ini?"
"Kamu hanya perlu meletakkan tanganmu di atasnya dan alirkan semua Mana milimu di dalamnya. Batu ini akan mengukur sejauh mana batas kekutanmu. Sebenarnya batu jarang aku gunakan karena metodenya sedikit kejam, ia akan menyerap semua Mana-mu dan menundukkanmu, tapi jika kamu berhasil melewati godaan ilusi mematikannya kamu lulus."
"Apa yang terjadi jika aku gagal?"
"Kamu akan selalu tenggelam dalam ilusimu selama sisa hidupmu. Bagaimana, apa kau sanggup?"
Melihat batu ini dengan seksama dan aku sangat terkejut melihat tulisan apa yang tertulis di batu ini.
"Tulisan ini... sama yang ditulis Arasyid."
"Kenapa Nak? Kayaknya kamu terkejut melihat sesuatu."
"Itu... apa Anda tahu tulisan batu ini?"
"Soal itu... aku tak mengetahuinya. Karena batu ini pemberian Masterku yang sudah turun temurun dan selama ini aku belum tahu arti tulisan itu bahkan pemilik sebelummya belum tahu juga."
Tampaknya ini salah satu tanda "Hukum" yang dimaksud Arasyid itu. Kata pak tua ini bahwa batu ini akan menyerap semua Mana-ku dan memberikan ilusi panjang.
"Keadaannya hampir sama dengan yang Arasyid lakukan dengan memanggil 'Mereka' waktu itu."
Aku berpikir seperti karena saat "Mereka" datang dan katanya "Mereka" merasakan energi melimpah di dalam dirinya. Mungkin itu sebuah trik yang dimainkan Arasyid untuk mengelabui mereka dengan kata lain ilusi abadi.
Aku maju dan meletakkan tanganku di atas batu itu.
Winggg...!
"Hm?"
"Jangan khawatir, fokus saja yang ada di depanmu."
Terlihat para ketua divisi keamanan ini memasang sebuah lingkaran sihir dan membentuk sebuah Barrier yang mengelilingiku, mungkin untuk mencegah jika terjadi sesuatu padaku.
"*Wush*...."
Menghembuskan napas dan...
Wush...!
"!!!"
Pancaran energi kuat yang dipancarkan pemuda itu membuat semua orang syok melihatnya.
"Energi ini..."
Pak tua ini tak percaya yang dilihatnya, sebuah pemandangan mengerikan yang telah lama terkubur kini kembali dalam bayang-bayang.
Batu meresponnya dan menghisap seluruh energi besar itu.
Bing! Bing! Bing!
Cahaya batu itu terus bersinar dan cahayanya semakin menyilakukan.
Wusssh...!!!
Pancaran energi semakin dari pemuda itu dan membuat semua orang yang ada di luar juga terkejut merasakan energi ini.
"I-inikah... kekuatan Pilar Negara baru itu?"
Walau tak bisa melihatnya secara langsung, tapi pancaran energi kuat ini terus semakin mengejolak hingga di luar gedung.
Wussh...!!!
Brak...!!
"Batunya..."
Pak tua ini terkejur melihat batu yang sudah lama ada dan baru kali ini menunjukkan tanda-tanda kehancuran.
Wussh...!!!
Brak! Brak! Brak!
Bom!!!
"Master...!!!"
Seketika terjadi ledakan energi dahsyat dan membuat tempat ini mengalami gempa dahsyat. Para ketua divisi keamanan segeran mencari master mereka dan tampak master mereka baik-baik saja.
"Master!"
"Tidak apa-apa, bagaimana dengan anak itu."
Karena gumpalan asap ini membuat mereka tak berani mendekat dan pancaran energi kuat masih terasa di sana.
"Master..."
"Kalian tetap di sini, aku akan mengecek anak itu?"
Sang master berjalan ke arah pusat ledakan dan saat sampai di sana...
Buk...
"Tidak mungkin..."
Seketika air matanya keluar yang sudah lama terbendung ini. Seolah-olah gumpalan asap ini adalah dunia kecil yang dibentuk untuk dirinya dan hanya dia dan pemuda itu berada di dalamnya.
"'Penyelamat'... akhirnya... akhirnya kamu muncul juga..."
Tampak pemuda itu berdiri dengan tubuh terdiam dan tatapan kosongnya, tapi wujud yang ia tampakkan berubah dengan jubah hitamnya dan sekeliling pemuda itu ada banyak makhluk aneh sedang menundukkan badan mereka ke arah sosok yang sangat mulia bagi mereka.
Bing!
Wushh...!!
Seketika gumpalan asap itu membentuk pusaran.
"Master...!!!"
Bush...!
Seketika gumpalan asap itu menghilang dan terurai tak tersisa.
"Hm? Apa yang terjadi?"
Tiba-tiba aku tersadar dan sekelilingku telah hancur sepenuhnya dan lagi batu ini hancur tak berkeping-keping.
"Master! Anda kenapa?!"
Aku langsung berbalik karena mendengar seseorang berteriak.
"'Penyelamat'..."
Pak tua ith terus bergumam "Penyelamat" dan air matanya tak henti keluar.
"Ah?"
Pak tua itu akhirnya tersadar dan segera bangkit sembari membersihkan air matanya.
"Maaf, tampaknya aku terkena imbasan ilusi batu itu."
"Anda juga, aku tiba-tiba tak sadarkan diri tadi. Dan aku minta maaf menghancurkan batu berhargamu."
"Tidak apa-apa, batu itu ada hanya untuk yang layak saja dan kamu sudah membuktikannya. Dengan ini kamu lulus tesnya, selamat Nak, kamu sekarang Pilar Negara ke enam di Indonesia."
Sekali lagi ia mengulurkan tangannya dan aku membalas uluran dengan tersenyum, kali ini salaman yang biasa tanpa tekanan energi sedikit pun.
Setelah tes ini, media dikejutkan kelahiran Pilar Negara baru dan banyak berita bermunculan mengenai sosok pemuda ini.
Era baru baginya dan era lama menantinya, segala hal baru akan terus menyakitinya dan segala hal yang lama akan terus menenggelamkannya. Jalan yang ditempuhnya kini menemui awalnya dan hal-hal tertentu akan terus berdatangan mau masa depan, sekarang dan lalu. Semuanya akan jadi keputusan berat baginya di jalan ini.
...•••...
...•••...
...•••...
Di sisi lain...
"!!!"
Terlihat ada empat orang dengan energi Mana dahsyatnya.
"Kalian merasakan itu?" Ucap wanita cantik itu.
"Iya, aku merasakannya," ucap orang berkerudung yang menutupi wajahnya.
"Tidak salah lagi! Tidak salah lagi Itu pasti si Brengsek itu!" Ucap semangat geram pria bermata panda.
"Akhirnya kita menemukannya, kita putus ekornya dulu baru mengincar kepalanya," ucap pria tua bermata merah darah.
__ADS_1
Tatapan mereka semua tertuju pada satu negara yaitu Indonesia.