Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 59


__ADS_3

Di dalam dunia Purgatory, lantai 2....


[Boss


Gluttony - The seven deadly sins


Level : ???]


Hooaaah..!!


"Cepat menjauh dari sana!"


Set! Set! Set!


Semua The Arcana yang menyerang dari dekat penjaga itu langsung mundur dengan cepat, sebelum penjaga itu meledakkan tubuhnya lagi.


Bom...!


Dia berhasil meledakkan tubuhnya dan asam beracun yang berada di tubuhnya berhamburan di mana-mana, dan membuat meleleh dalam sekejap jika ada menyentuhnya.


"Trik yang sama tidak akan berguna lagi, kamu bersembunyi di sana, kan?"


Aku langsung mengambil ancang-ancang dan siap mengayunkan sabit ini sekuat mungkin.


Shut! Swoosh...!


Aku langsung mengayunkan sabit itu ke arah sebuah batu raksasa yang berada jauh di sebelah kiriku dan tercipta gelombang kejut yang sangat kuat.


Buush...!


Ledakan angin yang sangat kuat, sehingga membuat api yang ada di sekitarnya padam seketika.


Dun....


Tiba-tiba gerbang itu terbuka dengan sendirinya, yang berarti penjaga lantai ini telah berhasil dikalahkan.


Aku menatap gerbang yang terbuka lebar-lebar itu.


"Perjalananku masih panjang...."


Aku merenungi diriku yang sudah jauh mana aku sudah berkembang, apa kekuatanku yang sekarang sudah berada di tingkat S?


"Aku harus menjadi sekuat mungkin lagi." Sembari menatap tanganku yang mengepal.


Setelah berdiam sejenak, akhirnya aku melanjutkan perjalanan ini dan memasuki gerbang itu.


...•••...


...•••...


...•••...


Las Vegas, Amerika Serikat.


Di suatu tempat di hotel mewah....


Terlihat seorang pria dengan tubuh telanjang kekarnya dan hanya ada handuk menutupi bagian bawahnya.


Pin....


"Hm? Kayaknya itu mereka...."


Tiba-tiba gadget miliknya berbunyi dan dia langsung mengeceknya. Setelah beberapa saat membaca informasi yang dikirim melalui Handphone-nya itu, seketika dia tersenyum dengan wajah yang tidak nyaman dilihat.


"Hehe! Ternyata takdir berpihak padaku. Aku tak menyangka si kembar itu ternyata anak-anak pasangan brengsek itu, dan lagi...." Sembari melihat Handphone-nya wajah tersenyum yang haus akan darah. "Bocah itu...! Ternyata mereka keluarga! Haha..!!"


Tawanya menggelegar di ruangan mewah ini dan hanya dirinya saja berada di ruangan ini.


Tok... Tok... Tok....


"Masuk!"


Klek... Ngek....


Terlihat seorang wanita dengan rok mini dan pakaian sedikit ketat memasuki ruangan ini, dia adalah sekretaris pribadi dari pria kekar ini namanya adalah Ningti.


"Tuan Himar, dari tadi klien menghubungiku. Katanya kenapa Anda belum datang ke sana?"


"Katakan pada mereka, bahwa besok aku akan ke sana."


"Baik." Sembari mengangguk.


Seketika suasana kembali hening lagi, pria kekar itu sibuk memperhatikan Handphone miliknya dan wanita seksi ini hanya melihat dia sibuk dengan Handphone-nya.


"Kenapa kamu belum pergi?"


"Belakangan ini Anda terlalu sibuk. Apa tidak ada waktu sedikit ya?"


Mendengar itu membuat pria setengah telanjang itu tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu.


"Kenapa...." Sembari memegang wajah kecil mulus sekretarisnya dengan tangan besarnya. "Apa kamu merasa jenuh?"


"Hmm," jawab Ningti sembari mengangguk.


Mendapatkan respon seperti itu, membuat suasana mulai sedikit memanas antar dua lawan jenis ini.


Plak...!


"Ah~~."


Tangan besar pria itu merayap ke bagian belakang tubuh sekretarisnya dan semakin turun ke arah bagian bawah.


"Ah~, Tuan...." Sembari menunjukkan wajah yang terlihat memelas.


Melihat itu membuat pria kekar ini semakin menikmatinya, tangannya mulai merayap di mana-mana sampai menyentuh ke seluruh daerah sensitifnya.


"Malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama."


"Tuan...."


Pria besar itu langsung mengangkat tubuh wanitanya itu dan membawanya ke arah kasur.


"Seperti biasa, kamu benar-benar sangat menggoda."


"Eh~~."


Ucapan manis keluar dari mulutnya, suara kenikmatan di antara mereka berdua hanya terdengar di ruangan ini.


...•••...

__ADS_1


...•••...


Di sisi lain....


Washinton, Amerika serikat.


Di sebuah gedung besar....


Terdapat banyak orang-orang dengan pakaian mewah dan juga sangat kuat. Mereka semua memancarkan Mana yang sangat kuat, tampak perkumpulan ini tak biasa.


"Jadi, bagaimana? Apa kita melakukannya sekarang?"


"Tidak usah terburu-buru, lagian kita juga belum berkumpul semua."


"Si Himar itu, katanya dia akan ke sini besok, dasar si cabul seenaknya saja!"


"Walaupun dia datang cepat, rapat ini tidak akan berubah sebelum 'Mereka' datang ke sini."


"Yang kamu katakan itu benar, kita masih punya banyak waktu menunggu."


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 3....


[Boss


Greed - The seven deadly sins


Level : ???]


Haaaghh...!


Seketika seluruh lantai ini bergetar karena penjaga lantai ini berteriak sekencang mungkin.


Bur...!


Tampak muncul sesuatu dari balik peti mati raksasa yang dibawa oleh penjaga lantai itu, dan yang keluar itu semacam roh spirit tapi sangat suram.


"Energi Mana yang dipancarkan olehnya sangat kuat...."


Aku merasakan Mana yang meluap-luap darinya, apalagi jumlah roh yang dia keluarkan sangat banyak mungkin ada ratusan lebih.


Bur..! Bur...!


Tiba-tiba roh yang berkeliaran itu masuk ke dalam tanah dan memunculkan banyak sekali makhluk hidup dengan bentuk aneh dan menjijikan.


"Memanggil para tentaranya ya. Tapi pasukan dia jauh sangat berbeda dibanding pasukan penjaga lantai sebelumnya."


Aku merasakan Mana yang sangat kuat tiap pasukan miliknya, entah kenapa aku melihat penjaga lantai ini seperti Hades sang penguasa dunia bawah atau kematian, tampak roh-roh berkeliaran itu seperti jiwa yang sudah diserap olehnya dan mengendalikannya sesuka hati seperti membangkitkan yang sudah mati.


"Hehe. Aku tak menyangka bisa ketemu lawan yang memiliki kemampuan sama sepertiku...."


Aku mengeluarkan Norum dan para The Arcana dari tubuhku, tampak mereka sangat sudah siap bertempur lagi.


"Ini pertarungan antar komandan kan. Kalau begitu, tentara siapa yang paling kuat."


Aku mengangkat satu tanganku dan mereka semua langsung maju menyerbu musuh yang ada di depannya.


Set!


Swoosh..! Crak..! Burn...!


Terjadi pertarungan sengit di tengah-tengah medan lantai ini, tampak seluruh pasukan milikku bertarung dengan agresif. Memotong, dibakar, dihancurkan dan berbagai serangan dilontarkan para The Arcana dan Norum untuk membasmi semua pasukan penjaga lantai itu.


..!!


Pemimpin mereka sangat terkejut apa yang dilihatnya, seluruh pasukannya telah berhasil dibantai separuhnya.


"Kamu pasti sangat terkejut dengan kekuatan pasukanku, kan?"


Penjaga lantai itu terkejut dan langsung berbalik, tiba-tiba di belakang dia ada seseorang muncul dengan keberadaan yang sangat kuat.


"Kamu pasti tidak menduga semua ini kan. Walaupun kamu menang jumlah, bukan berarti kamu kuat."


Seketika tubuh penjaga lantai itu gemetar dan mundur secara perlahan, apa dia takut? Aku tidak tahu bahwa monster bisa merasakan takut juga.


Bur...!


Aku langsung menggunakan skill "Pemilik sejati" untuk memunculkan tangan hitam tak terlihatku, dan seketika tangan-tangan tak terlihat itu menghimpit tubuh penjaga lantai itu ke tanah dan itu membuatnya sulit bergerak.


"Kamu mau ke mana? Ini belum selesai...."


Aku langsung melihat ke arah medan pertempuran itu, terlihat seluruh pasukan miliknya telah berhasil dimusnahkan.


"Yah, kurasa semua itu tidak penting juga."


Aku mengeluarkan sabitku, seperti seorang algojo yang siap mengeksekusi seorang kriminal.


Slash! Crak...!


Dengan tebasan cepat dari sabit ini, membuat kepala dari penjaga lantai itu lepas dari tubuhnya.


Dun....


Seketika gerbangnya terbuka dan pertanda bahwa sang penguasa lantai telah dikalahkan.


"Hmm?"


Aku melihat dua buah item telah dijatuhkan dari tubuh penjaga lantai itu, terlihat item-item ini sangat baru bagiku, terutama sebuah item berbentuk batu dengan tulisan kuno yang hanya bisa dibaca oleh para Mage, dan lagi sebuah item misterius seperti item sebelum-sebelumnya dari penjaga lantai.


"Aku tidak tahu batu apa ini, tapi aku merasakan Mana yang sangat kuat yang dipancarkan olehnya."


Aku memasukkan semua item itu ke inventori. Sesaat semuanya kembali hening seketika, tapi itu menurutku, dengan suara kobaran api dan panasnya tempat ini bukanlah sebuah keheningan.


Memandangi gerbang yang sangat besar di depanku itu membuatku terpikir-pikir, tiap lantai yang diciptakan oleh sistem ini aku merasakan dunia yang sangat berbeda-beda setiap memasukinya.


Monster yang menjaga setiap lantainya sangatlah kuat-kuat, terlihat mereka sangat memegang teguh sebuah tugas diberikan kepada mereka dan itu sudah terbukti saat aku memasuki dunia Hades, berapa lama mereka ada di sana? Itu tak terhitung lagi, sebab dunia misterius ini saja seperti tak mengenal namanya waktu.


Jika memang setiap lantainya adalah dunia sangat berbeda, jika ada 10 lantai di sini maka ada sepuluh dunia. Ini seperti sebuah akuarium yang di dalamnya ada bongkahan pasir, dan di dalam akuarium itu ada sebuah koloni semut yang menciptakan setiap jalan yang sangat berbeda, dan terciptalah banyak ruang di dalam pasir tersebut.


"Untuk memasuki lantai selanjutnya hanya tinggal mengalahkan penjaganya saja, mereka seperti sebuah kunci berjalan. Tapi...."


Aku berbalik dan memandangi sekitar, terlihat hanya ada kobaran api di mana-mana dan bongkahan batu panas.


"Apa dunia yang diciptakan sistem ini berdasarkan replikasi dari dunia luar?"

__ADS_1


Aku merasakan perbedaan yang sangat mencolok dari dungeon yang dibuat sistem dengan dungeon pada umumnya. Dungeon pada umumnya memiliki kemiripan dengan dunia luar, mau itu berdasarkan geografis dan makhluk hidupnya. Sedangkan dungeon buatan sistem sangatlah di luar akal sehat manusia, bisa dibilang dunia imajinasi yang hanya muncul dalam cerita-cerita legenda maupun dongeng.


"Kurasa tidak. Kata Aristoteles bahwa kekuatan Heredis ini berasal dari Dewa, mungkin alasan itu dunia ini bisa dibuat sesuka hatinya dan aku bisa menganggap orang yang dibalik sistem ini adalah seorang Dewa. Hanya saja...."


Seketika sebuah pemikiran terlintas di benakku lagi, kalau sistem bisa membuat sebuah dungeon, maka dungeon yang sering muncul di luar sana siapa yang melakukannya?


"Apa ini ada kaitannya dengan 'Mereka?'"


Sekumpulan entitas yang mengaku dirinya adalah "Dewa," tapi apa alasan kemunculan sebuah dungeon ini? Dan manusia sekarang sudah memiliki kemampuan bisa dibilang melawan dewa itu sendiri.


"Waktu bencana besar sembilan belas tahun lalu, katanya muncul seseorang yang dikatakannya adalah seorang Dewa dan dialah berhasil menyelamatkan dunia ini dari kehancuran. Tapi, apa benar dia adalah Dewa atau... seorang Heredis? Dan setelah insiden itu, tiba-tiba muncul sebuah portal dan di saat bersamaan juga manusia memiliki kemampuan super."


Aku mengangkat kepalaku sejenak ke atas dan memandangi langit yang hitam dan kosong, dan menghela napas.


"Masih banyak hal yang harus aku ketahui."


Karena masih banyak misteri yang tersembunyi, dan yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti arahan sistem ini dan menjadi sekuat mungkin.


Aku langsung berjalan ke arah gerbang itu dan memasukinya.


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 4....


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 5....


...•••...


Di dalam dunia Purgatory, lantai 6....


Kali ini medan tempat ini sangatlah berbeda dari sebelumnya biasanya lantai sebelum-sebelumnya berisikan api yang sangat panas, tapi kali ini dikelilingi es yang sangat dingin.


"Cuma lantai ini yang sangat berbeda dari lantai sebelumnya...."


[Boss


Envy - The seven deadly sins


Level : ???]


Aku melihat penjaga dari lantai ini, dia sedang duduk dengan santai di singgasananya dan memegang sebuah tombak es.


"Jika ada dungeon sedingin ini di luar sana, maka 100% kemungkinan jatuhnya korban."


Suhu yang sangat rendah dan ketika pertama kali menginjakkan kaki pertama kali di tempat seperti ini, maka seluruh tubuhnya akan membekukan aliran darah, tulang dan seluruh bagian tubuh akan mengeras dengan cepat.


Bur....


Tiba-tiba lantai ini bergetar dan aku melihat seluruh bongkahan es itu menyatu dan membentuk Golem es yang bisa bergerak leluasa.


"Kalian semua keluarlah!"


Seketika tubuhku memancarkan aura yang gelap dan muncul sesuatu dan membentuk makhluk aneh.


"Bereskan mereka semua!"


Set! Set!


"Hoarrgh...!"


Dengan cepat mereka langsung maju dan menghadang mereka semua.


Swoosh..! Slash! Dur...!


Serangan sihir elemen yang sangat kuat dilancarkan dan berhasil menghancurkan separuh Golem es itu. Sisanya berhasil menyerang dengan kekuatan hebat dan menghancurkan sisa Golem es itu.


"Seiring berjalannya waktu dan melewati banyak pertempuran level mereka semua sudah naik drastis. Aku tidak tahu sudah berapa level mereka meningkat, aku merasakan kekuatan mereka sudah meningkat dengan hebat."


Aku melirik ke arah pemimpinnya dan tampak dia tidak bergerak sedikit pun.


"Kayaknya menyelesaikan lantai akan sangat mud---"


Chin!


Dur...!


"Apa?! Gerakan macam apa itu?"


Tiba-tiba penjaga lantai itu menerjang di tengah pertarungan antar pasukan.


Swoosh...!


Serangan tombaknya berhasil melukai The Arcana-ku dan tampak mereka kewalahan melawan penjaganya.


"Seiring naik lantai maka penjaganya semakin kuat, dan lagi... itu tadi adalah teleportasi."


Entah kenapa aku merasa sangat kesal melihat penjaga lantai itu menghajar habis-habisan pasukanku.


Chin!


Aku langsung menggunakan skill "Pengikat jiwa" dan langsung bertukar tempat dengan Norum yang hampir diserang oleh penjaga lantai itu dengan tombaknya.


...?


Aku langsung berada tepat di depannya sebelum dia melancarkan serangannya dengan tombaknya.


"Sudah cukup bajingan!"


Punch!


Aku mengepalkan tanganku sekuat mungkin dan meninju dirinya sehingga dia terlempar cukup jauh dari posisi dia berdiri sebelumnya.


Bur..! Klotak....


Penjaga lantai itu menghantam dinding es dingin itu dengan sangat keras dan membuat lantai ini bergetar sementara akibat benturan keras darinya.


"Kayaknya belum berakhir...."


Penjaga lantai itu bangkit dan tiba-tiba suhu sekitar lantai ini semakin dingin, aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Aku terkejut saat melihat penjaga lantai itu, dia memancarkan Mana yang sangat kuat dan membuat dirinya terlihat semakin kuat.


"Sudah saatnya serius ya."


Aku langsung mengeluarkan sabitku dan bersiap menghadapi makhluk terkuat di lantai ini.


Haaaahh...!!!

__ADS_1


Teriakan dari penjaga lantai itu membuat suasana dingin ini semakin dingin dan mencekam, pertanda bahwa yang terkuat di sini telah serius di medan pertempuran.


"Langkah selanjutnya yang membuatku bisa berkembang lagi."


__ADS_2