
Sesaat aku disuruh bersemedi oleh Sadu, seketika aku terbawa ke suatu tempat aneh.
Di sini dingin dan gelap, tapi samar-samar aku bisa merasakan hal sesuatu. Aku masih bisa menggerakkan tubuhku sebebasnya, tidak seperti waktu-waktu sebelumnya sesaat aku berada dalam kegelapan ini aku tak merasakan apa pun.
"Apa itu?"
Tiba-tiba muncul gambar dan menerangi kegelapan ini. Aku langsung berada di suatu tempat asing. Tapi anehnya apakah ini di bumi?
Aku memperhatikan sekitar dan hanya ada sebuah pohon raksasa yang sangat besar. Di sekitar pohon itu terbentang lautan luas serta langit malam yang dipenuhi cahaya bintang-bintang.
"Ini di mana?"
Aku maju dan mendekati pohon itu, tapi anehnya aku tak bisa mendekatinya seolah-olah aku dilarang untuk memasuki wilayah pohon ini.
"...?"
Tapi setangkai daun pohon itu terbang ke arahku dan aku menangkapnya.
Bing!!
"Heh...!?"
Tiba-tiba daun itu bercahaya dan membawaku ke suatu tempat lain lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku berjalan menyusuri tempat ini dan hanya ada puing-puing bangunan yang sulit dikenali dan sangat kuno.
"Tempat ini seperti telah melewati bencana hebat."
Tak sengaja aku melihat sebuah tulisan pada salah satu batu itu.
"Libera." Aku terkejut saat membacanya, sebab panggilan ini selalu digunakan oleh para penjaga itu.
Dur...!!!
Grrrrgh....!!!
Sesaat memikirkan asal muasal nama ini, tampak ada sesuatu menghalangi dari arah belakang. Aku pun berbalik dan sangat terkejut melihat sosok mengerikan itu.
"!!!"
Aku pun langsung berlari sekuat mungkin, entah kenapa aku langsung memutuskan berlari saja bukan melawannya. Tapi ini berdasarkan naluriku sebagai orang yang ingin hidup.
"Sial!!! Makhluk apa itu!"
Makhluk itu terus mengejar dan sampai titik dan detik waktuku berjalan ia masih mengejar.
Dan pada akhirnya...
Slab!!
"Hmm...!!!"
Aku tertangkap olehnya.
"Aaakhhh...!!!"
Tentakel, tangannya, berduri dan sebagainya bersatu pada makhluk ini. Ia menangkap dan mengoyak setiap inci tubuhku.
Aku kesakitan dan tak berdaya.
Sedikit demi sedikit cahaya tatapan pemuda ini memudar. Tapi muncul suara aneh dan asing menggema di kepalanya, seolah-olah suara itu ada untuk menyadarkannya.
...Apa hanya sebatas ini mimpimu? Mimpi yang telah kau bangun dengan susah payah, apa hanya sampai sini saja?...
...Kamu telah berdiri lagi di antara persimpangan jalan. Kamu telah memasuki ke enam jalan dan sisa satu jalan bagimu agar semuanya jelas....
...Kamu telah mempercayakan dirimu kepada jiwa-jiwa yang malang. Kamu sepenuhnya menerima jiwa-jiwa malang itu. Apa hanya sampai sini saja kepercayaan mereka kau bawa?...
...Bangunlah. Kami selalu percaya kepadamu yang telah menyaksikan semua peristiwa yang ada, dan terlahir kembali sebagai jiwa yang lemah yang berusaha bangkit lagi....
"Aaakhhh...!!!"
Seketika pemuda itu memberontak dan berhasil meloloskan diri dari makhluk mengerikan itu.
Tapi dirinya terbawa lagi ke suatu tempat aneh dalam keadaan setengah sadar.
Setelah beberapa lama, akhirnya dia sadar sepenuhnya.
"Hah!!!"
Tapi kejutannya belum cukup baginya, segerombolan makhluk mengerikan dan besar mengelilingi dirinya.
Takut, frustasi, cemas dan berbagai perasaan kegelapan mulai menyelimutinya. Ditambah makhluk-makhluk mengerikan mengatakan sesuatu terus menerus secara berulang.
"O Demes... (Oh Dewaku...)"
"Acipi lum ni kar kow, o Demes... (Bawalah kami bersamamu, oh Dewaku...)"
"Acipi lum ni... (Bawalah kami...)"
Pemuda itu tak berhenti gemetar dan baru kali pertama perasaannya seperti ini. Padahal dirinya telah menerima kekuatan hebat tapi perasaan takut ini tak berhenti sama sekali.
Makhluk-makhluk mengerikan itu mendekat dan dia hanya bisa pasrah saja.
Tapi...
"Ternyata kamu belum siap, Nak."
Tlak!
Seketika seluruh makhluk menyeramkan itu menghilang dan di saat bersamaan dirinya juga berhenti gemetar.
Dia berbalik ke arah sumber suara itu dan sangat terkejut melihat sosok wanita pakaian jubah hitam yang sudah usang dan sobek.
Mata dan rambutnya benar-benar gelap sekali. Baru kali ini baginya melihat orang seperti itu.
"Kamu..."
Napasnya sedikit sesak, mungkin karena efek rasa takut itu yang masih menyelimutinya.
"Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan. Tapi kita tidak punya banyak waktu, jadi aku langsung ke intinya saja..."
Wanita itu mengatakan semuanya bahwa dirinya bukanlah salah satu pendahulunya atau pun "Dia".
"Lalu kamu siapa sebenarnya?"
"Aku sama sepertimu yaitu anak-anak 'Dia' juga."
Pemuda ini semakin kebingungan, sebab sosok misterius ini muncul begitu saja dan katanya bukan salah satu pendahulunya, yang berarti dia tak ada kaitannya dengan sistem Heredis ini.
Aku mencoba mengeluarkan sistem tapi tidak bisa sama sekali. Dan wanita itu hanya tersenyum dan berkata:
"Itu tidak akan muncul. Sebab 'sistem' yang kalian sebut itu bisa ada karena keterikatan antara kalian, kalau tidak salah Heredis kan sebutannya."
"Apa maksudmu?"
"Semua yang kamu lihat ini adalah kekuatan sesungguhnya dari 'kematian'."
Aku terkejut mengetahui itu dan tak menyangka aku menanggung beban sebesar itu saat melihatnya secara langsung.
"Dan kekuatan 'kematian' ini tadi berusaha menelan dirimu, dan seharusnya kamu sudah merasakannya beberapa waktu lalu kan?"
Aku mencoba mengingatnya dan saat aku pernah mengatakan pernah kehilangan kesadaran akan atas diriku dan tubuhku bertindak sendiri seolah kesurupan. Aran yang mendengar itu spontan marah dan tak menyangka baginya.
Tentu saja aku bingung melihatnya bersikap seperti itu. Tapi dia berusaha membuatku tak khawatir dan mengatakan biar semua ini menjadi urusan mereka (Pendahulu).
"Iya itu benar. Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat itu?"
"Saat itu dirimu telah dilahap oleh kekuatan 'kematian' secara perlahan..."
Aku terkejut mendengar itu, pantas kenapa Dami begitu ketakutan saat melihatku waktu itu.
"Tapi kamu beruntung," lanjut wanita itu. "Saat itu aku masih bersemayam di dalam jiwamu, tapi sekarang tidak lagi."
"Apa maksudmu berkata begitu?"
Wanita itu tersenyum dengan lembut dan berkata:
__ADS_1
"Ini pertama sekaligus terakhir bagi kita bertemu lagi dengan dirimu yang berbeda sekarang, dari sekian lamanya waktu berlalu aku hanya bisa mengenali dirimu yang dulu, yang masih polos." Wanita itu tersenyum saat mengatakan semua itu. "Aku sudah melihat semuanya dan alasan kenapa dirimu yang menjadi Heredis of Death yang terakhir."
"Terakhir!"
Aku terkejut mendengar itu, apa maksud dia berkata begitu dan lagi ini sangat membingungkan bagiku saat mengetahui semua fakta mengenai kekuatan ini ditambah hal-hal semuanya yang kulihat barusan.
"Tapi sayang, kamu hanya menerima salah satu kepingan kekuatanku dan sisanya ada pada 'Ibu' kita."
Sekali lagi dia mengatakan hal membingungkan lagi dan kali ini aku hanya bisa terdiam mendengarnya. Tampaknya wanita ini mengerti dan terus melanjutkan semua informasi mengejutkan itu.
"Kamu pasti bingung. Aku akan memberi tahukan semuanya." Wanita itu menghela napasnya. "Semua ini, semua jalan takdir yang kamu terima, semua kekuatan yang kamu terima itu karena atas permintaanmu sendiri."
"Apa maksudmu? Aku tak pernah mengharapkan takdir semacam ini!"
Tanpa sadar emosiku sedikit meluap. Yah, yang dikatakannya sangat berbanding terbalik dengan yang kuinginkan sejak dulu. Siapa yang mau menjalani hidup menyedihkan ini, yang kuharapkan dari dulu adalah bisa hidup bahagia dengan orang tuaku dan Adik-Adikku dan berhasil menggapai cita-cita yang selama ini aku impikan.
Aku hanya bisa marah dan wanita itu hanya terdiam melihat ini sampai akhirnya emosi ini reda sesaat aku menatap matanya yang serius kepadaku.
"Maaf. Tolong jelaskan semuanya."
Wanita itu mengangguk dan melanjutkan perkataannya:
"Seperti yang sebelumnya kukatakan ini atas kemauanmu sendiri. Itu dikarenakan kamu telah melihat kedua orang tuamu tewas di tangan 'Mereka' saat pertama kali melihat dunia."
Aku hanya bisa tertawa kecil karena tak percaya akan semua itu. Orang tuaku memang sudah mati, tapi untuk orang tua kandungku mereka tewas tertimpa reruntuhan bangunan saat berusaha melindungi diriku yang masih bayi, sedangkan orang tua angkatku meninggal dalam kecelakaan tunggal.
Tak satu pun di antara orang tuaku ini meninggal akibat ulah "Mereka". Apalagi katanya aku melihat mereka tewas saat pertama kali menatap dunia, yang berarti saat aku bayi.
"Semua yang kamu katakan itu sungguh tak masuk akal bagiku."
"Aku tahu kamu tak akan percaya. Tapi semuanya akan terungkap nantinya. Kamu menangis saat melihat semua itu, di saat itu juga kamu telah bersumpah akan membalas yang telah menyakitimu dan orang yang kamu sayangi. 'Ibu' yang melihatmu berkata seperti itu tak ingin membiarkan jiwa kecil sepertimu terlalu cepat menanggung semuanya. Tapi, kamu tetap pada pendirianmu dan 'Ibu' sudah tak bisa menghalangimu lagi karena kamu telah menulis jalan takdirmu sendiri, seperti apa dirimu dan itulah yang terjadi sekarang. Jadi... kami bertaruh penuh padamu dan berharap besar pada jiwa kecil sepertimu. Jujur saja, di antara semua Heredis yang kulihat, cuma kamulah yang terlemah dan tak ada tanda-tanda akan kamu bisa menang melawan 'Mereka'..."
Mendengar itu aku hanya bisa terdiam tertunduk akan diriku ini. Itu memang benar, aku hanya orang yang payah dan kenapa pula diriku ini dipercayakan semuanya. Aku masih bingung akan semua cerita ia berikan dan tatapan matanya itu seolah-olah sudah sangat mengenal diriku.
"Tapi..." Wanita itu tersenyum dan berkata:
"Semua yang omongan besar yang kamu katakan dulu setidaknya bukanlah bualan semata. Kamu telah membuktikan semuanya, aku sudah memperhatikan semuanya dan sudah saatnya bagiku membiarkanmu berjuang sendiri lagi."
"!!"
Seketika tubuhnya memudar secara perlahan dan sedikit demi sedikit cahaya muncul dari tubuhnya.
"Aku tak akan pernah melupakan semuanya. Aku masih mengingat saat aku pertama kali menggendong dirimu dan membawamu ke berbagai tempat. Tapi karena naluri seorang ibu dalam diriku yang harus membuat impianmu tertunda cukup lama. Itu kulakukan hanya agar kamu bisa merasakan kehangatan keluarga sekali lagi, aku belum sanggup melihatmu membawa beban seberat itu saat dirimu baru ada di dunia ini. Jadi..."
Dia maju ke arahku dan tiba-tiba memelukku. Sungguh ini pelukan yang sangat hangat, entah kenapa ini selalu mengingatkanku akan kedua orang tuaku yang sekarang.
"Kumohon teruslah hidup. Cuma itulah yang selalu kuharapkan darimu." Pelukan dilepas dan memegang wajahku dengan kedua tangannya yang lembut. "Aku hanya ingin kamu bahagia, aku tak sanggup melihatmu selalu menderita seperti ini. Aku minta maaf Anakku, kamu harus berjuang seorang diri lagi."
Seketika itu tubuhnya benar-benar menghilang dan partikel-partikel cahaya itu terbang ke atas dan menghilang secara perlahan.
Sungguh ini membuatku terdiam cukup lama, entah kenapa dadaku rasanya sesak saat wanita itu telah menghilang di hadapanku.
Perasaan inilah yang kurasakan saat orang tuaku yang sekarang belum ditemukan sama sekali. Rasa kehilangan.
"*Fiuh*..."
Aku berusaha menenangkan diri walau akhirnya air mata ini menetes dengan sendirinya tanpa kusadari.
"Terima kasih."
Di saat bersamaan aku merasa senang dan bahwa aku selama ini tidak pernah berjuang sendirian, itulah menurutku. Walaupun akhirnya aku yang akan menjalaninya sendirian lagi.
"Hm?"
Tiba-tiba muncul cahaya dari arah kiri dan membentuk sebuah jembatan. Tanpa pikir panjang aku pun mengikuti arah ke mana ujung jembatan ini.
Sesaat sampai ke ujung, aku cukup terkejut melihatnya.
"Apakah ini di Bumi?"
Air sungai mengalir dengan lembut, matahari menyinari dengan hangat. Angin-angin meniup setiap sela-sela kehidupan dan pohon-pohon serta tanaman yang ada berdiri dengan tenang.
"Suara ini..."
Terdengar suara seseorang, dia bernyanyi dan suara benar-benar indah. Aku pun langsung menghampiri arah sumber suara itu.
"Bukankah dia wanita itu."
...Anakku~~ tersenyumlah~...
...Ibu di sini~ ada untukmu~...
...Anakku~~ tersenyumlah~...
...Ibu di sini~ selalu menjagamu~...
...Anakku~~ bahagialah~...
...Ibu selalu~ mencintaimu~...
Mendengar nyanyiannya membuat diri ini bergetar seketika. Mungkin karena suaranya yang merdu disertai perasaan kasih dan sayangnya yang besar diberikan kepada bayi itu.
Setelah beberapa saat bernyanyi, akhirnya wanita itu berhenti dan terus tersenyum menatap bayi itu.
"Maaf. Aku belum bisa memberikan kepadamu apa yang seharusnya seorang ibu berikan ke bayi mereka. Aku belum bisa memberikan perasaan seorang ibu yang sesungguhnya kepadamu."
Setelah berkata seperti itu, ia pun berdiri dan menatap langit yang indah.
"Sebenarnya aku ingin kamu selalu berada di sini. Tapi ini bukanlah tempat untuk kehidupan kecil sepertimu..."
Sesaat wajah wanita itu tampak sedih.
"Maaf. Ini belum saatnya bagimu mewujudkan impianmu untuk membalas 'Mereka'."
Seketika bayi itu dikelilingi cahaya putih yang indah dan wanita itu masih sempat mencium kening bayi itu dan menghilang bersama cahaya itu.
"Hiduplah... dan bahagialah bersama keluarga barumu. Mereka akan selalu menyayangimu dan mencintai walaupun kamu bukan bagian dari darahnya."
Sesaat cahaya yang membawa bayi itu menghilang sepenuhnya. Wanita itu menghapus air matanya dan memandang kain yang selalu menyelimuti bayi itu dan tersenyum.
Tapi sesaat wajahnya berubah menjadi benci, marah dan berbagai perasaan emosi tak disukai yang menggambarkan tatapan wanita itu.
"Ke-kenapa dia menatap ke arah sini!?"
Tatapan tajamnya itu langsung mengarah kepadaku. Aku sangat yakin bahwa aku tak terlihat sama sekali seperti sebelum-sebelumnya.
Hanya saja tatapannya ini seolah ingin mengoyak jiwaku dan membuatku sulit bergerak.
"Baru kali ini aku benar-benar sangat membenci akan sesuatu!"
Sesaat ia mengeluarkan suaranya, seketika suasana di sekitar menjadi mencekam dan dingin. Kehidupan yang ada di sekitarnya perlahan-lahan memudar, tanaman, rumput dan pohon pun ikut layu.
Aura permusuhan yang dipancarkan terasa kepadaku juga.
"Apa dia benar-benar melihatku?"
Tapi kejanggalan pada aura permusuhan ini memang tertuju arahku tapi bukan mengenaiku, melainkan sesuatu hal yang ada di belakangku.
Sesaat ingin berbalik dengan tubuh gemetar hebat. Seketika itu juga aku mendengar hal yang sangat mengejutkan dari wanita itu.
"Dari semua kehidupan yang kulihat. Dari semua kehidupan yang aku berjalan bersamanya. Baru kali ini aku benar-benar sangat membenci salah satu kehidupan! Kamu benar-benar ayah yang sangat buruk... Arka!"
"Apa!!"
Bing!!!
Seketika cahaya menyilaukan itu muncul lagi setelah wanita itu mengatakan sesuatu.
...•••...
Pukul 12.10
Sesaat setelah keluar dari Sea of Souls...
Tiba-tiba aku berada di rumah lagi. Tapi aku masih memikirkan mengenai apa yang disampaikan wanita itu. Ditambah apa hubungannya kebencian itu dengan diriku?
"Apa yang sebenarnya maksud semua ini. Lalu, kenapa dia menyebutkan namaku."
Aku merasa nama itu bukan diperuntukkan kepadaku melainkan sesuatu hal yang ada di belakangku saat itu mungkin. Karena aku pun merasakan adanya kehidupan di belakangku saat wanita itu tiba-tiba memancarkan aura permusuhannya.
__ADS_1
"Lupakan saja. Ini masih terlalu berat untuk dicerna satu persatu."
Deg!!
Seketika energi besar tiba-tiba merayap ke tubuhku.
"Arah ini..."
Aku langsung teringat akan penaklukan dungeon Rank-S itu dan memandang jam dinding rumah.
"Sial! Waktunya sudah banyak terbuang!"
Dengan cepat keluar rumah dan segera pergi ke lokasi. Tapi saat ingin menggunakan skill"Pengikat jiwa" tiba-tiba muncul peringatan sistem.
"Hah!?"
[Peringatan!
Anomali energi Mana telah menyelimuti sejauh 500 km. Kemampuan berkaitan dengan ruang dan waktu telah dihalang oleh energi ini.]
Melihat ini sungguh membuatku kesal dan marah, aku harus ke sana dengan cepat untuk membantu yang lainnya.
"Unicorn!"
Sesaat gumpalan asap hitam keluar dari tubuhku dan membentuk seekor kuda hitam dengan tanduk satu di kepalanya.
Aku pun menaikinya dan memintanya menuju arah sumber energi ini.
"Heengah...!"
Set!!!
Bur...! Duk! Duk!
Dengan larinya yang sangat cepatdi udara dan membuat yang berada di sekitarnya tidak merasakan kehadirannya karena saking cepatnya. Karena ini berkat skill barunya :
[Langkah pelangi
Penggunaan melapisi dirinya dengan energi Mana dan meningkatkan kecepatan sebesar 50% dan meningkatkan fisik serta sihir sebesar 10%. Kemampuan ini juga mampu membuat penggunanya tak terlihat selama skill ini aktif.
Penggunaan Mana sebesar 100 poin per-sepuluh detik.
Cool down: 1 jam.]
...•••...
Sesaat di pulau Bali...
Gerombolan monster reptil ini semakin mengganas dan korban pihak perlawanan manusia mulai berkurang sedikit demi sedikit.
"Cepat!!! Hentikan mereka!"
Shut! Piuh! Bom!!!
Berbagai hal dikerahkan demi mempertahankan tanah air dari jajahan makhluk ane ini.
"Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Agus yang kebingungan karena khawatir akan orang-orang yang masuk ke dalam dungeon itu.
"Tenanglah Master, kuyakin mereka akan baik-baik saja."
"Kuharap begitu. Tapi perasaan gelisah ini terus berdatangan tanpa henti."
Adam melihat masternya begini, dia pun juga khawatir akan tim yang ke dalam dungeon itu.
"Perasaan ini sama waktu aku meninggalkan Master dan yang lainnya secara terpaksa," pikir Agus yang cemas. "Sekarang kamu ada di mana... 'Penyelamat'."
Melihat pertempuran ini, berbagai senjata militer negara, kekuatan orang Terbangkitkan telah menunjukkan kesatuan yang sulit dipecahkan demi mempertahankan kebanggaan mereka.
Tapi...
Deg!!!
"A... A-apa ini...!!!"
Rasa takut, khawatir, dan cemas bercampur jadi satu setelah tiba-tiba muncul sosok misterius dari dungeon itu dengan energi besarnya.
Keberadaannya mampu membuat medan perang ini hening seketika.
Set! Syut!
Satu persatu monster reptil ini menghampiri pria itu dan bersujud kepadanya.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin...!!"
"Ada apa Master?"
Adam yang panik melihat masternya bertingkah seperti itu. Tatapan masternya akan seperti orang yang takut dan bingung melihat sosok itu.
"Master...," pikir Agus yang sedikit pucat. "Bukan. Itu bukan Master. Tapi keberadaan ini kenapa sangat mirip dengan para Master Koin?"
Agus yang sangat kebingungan akan hal itu membuatnya cukup syok. Tapi di sisi lain sosok misterius itu melihat sekitarnya dan berkata:
"Aku tidak merasakan sedikit pun 'energi' seperti wanita itu."
Ia mengangkat tangannya ke atas dan tiba-tiba muncul cahaya kilat di langit.
"Apa yang dilakukannya?"
Orang-orang di medan perang kebingungan dan para monster reptil belum menunjukkan pergerakan sebelum ada perintah dari pria misterius itu.
Shut! Piuh! Bom!!!
Ledakannya seperti kembang api, tapi perlahan-lahan api yang menyebar di langit itu mulai turun seperti meteor menghujani bumi.
"Itu serang! Buat sihir pelindung cepat!!!"
Bom!!! Bom!!!
Hujan sihir dahsyat itu membuat medan perang seperti lautan api. Agus yang cukup jauh dari medan perang ingin turun segera.
"Sebaiknya Anda, tetap di sini saja," pinta Adam.
"Aku tak bisa tinggal diam melihat ini lagi!"
"Aku tahu, tapi saat ini kami membutuhkan kemimpinan Anda. Aku pun merasa sangat marah, tapi aku rasa juga kekuatan Anda tak bisa melawan monster itu."
Mendengar itu membuat Agus sangat bimbang. Dia hanya bisa pasrah dan pasrah, seperti yang dulu dia lakukan terhadap saudara-saudara dan masternya.
"Apa aku hanya diam dan tak berdaya melihat semua ini?" Pikir Agus.
Agus tahu, bahkan di luar negara ini ada banyak orang Terbangkitkan dengan tingkat Rank-S yang sangat kuat. Mereka tak akan melakukan tindakan sukarela dan hanya mengincar keuntungan saja.
Tapi...
"Excalibur...!!"
Bing!!!
Bum!!! Bum!!!
Tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang di langit dan memecahkan semua serangan sihir itu.
"Energi ini..."
Agus yang merasakan ini sangat senang dan lega, karena orang yang sangat diharapkannya akhirnya muncul.
Semua orang terkejut melihat serangan itu dan tampak seseorang menaiki seekor kuda hitam dan melayang di udara.
Pria dan kudanya turun ke bawah dan sangat terkejut melihat kekacauan.
"Prudens! Keluarlah!"
Seketika dua sosok penyihir putih keluar dan langsung memancarkan energi sihirnya ke sekitar medan perang.
"Hah? Lukaku... sembuh!"
Mereka terkejut dan terharu karena akhirnya mereka masih diberikan kesempatan hidup lagi.
__ADS_1
Di sisi lain, sosok misterius ini tersenyum dan menjulurkan lidahnya yang panjang itu. Sepertinya hidangannya yang utama telah datang.
"Hehehe... 'energi' itu akan jadi milikku semuanya!" sembari menatap pria kesatria penunggang kuda hitam itu.