
"Apa!"
Deg! Deg! Deg!
Aku langsung menatap ke arah gedung universitas itu dan jarakku dengan kampus itu sangat tidak jauh, tapi aku sangat kesal kenapa aku tak merasakan kehadiran portal itu sehingga orang-orang terdekatku mengalami kecelakaan seperti ini, aku tak ingin kejadian sama terulang lagi!
"Sial..!!" Dengan wajah marah.
Set!
Wush...!
Aku langsung berlari sekuat dan secepat mungkin ke sana dan meninggalkan gadis itu barusan tanpa berbalik sedikit pun.
"Ya Dewa... semoga Susan baik-baik saja di dalam sana," mohon Hana.
Sesaat sampai di depan gerbang utama, aku langsung masuk begitu saja karena tak ada yang menjaganya.
Wush...!
"Tekanan Mana ini...!"
Sesaat memasuki kampus ini, tiba-tiba aku bisa merasakan Mana kuat ini seketika, dan anehnya lagi... kenapa aku tak merasakan Mana sekuat ini tepat di depan gerbang itu? Padahal aku sudah sangat dekat.
Karena tak ingin memikirkannya, aku langsung berlari ke arah portal itu. Sesaat sampai di sana, aku melihat ada banyak orang berkumpul di dekat portal itu. Tampak mereka sangat ketakutan karena Mana yang dipancarkan portal ini sangat berbahaya, dan lagi retakannya semakin jelas.
Aku langsung berjalan ke arah portal itu, sesaat mau ke sana, tiba-tiba seseorang menahanku dari belakang.
"Tunggu, kamu mau ke mana? Tempat ini sangat berbahaya, kita harus bersiap diposisi sembari menunggu pihak guild dan asosiasi datang."
Karena sudah terbiasa dengan hal ini, aku marah tapi mau bagaimana lagi, ini sudah kewajiban menjaga tempat bahaya seperti ini dari siapa pun.
Aku langsung berbalik dan menatap pria itu, ia orang yang salah satu anggota geng pria brengsek itu, yang memukul dosen itu dan Susan.
"Bukankah dia orang yang berhasil mengalahkan Ketua?" Pikirnya dan tangannya tiba-tiba ia turunkan dari bahuku dan menunjukkan sedikit wajah pucat.
"Apa sekarang aku boleh ke sana?"
Pria itu hanya mengangguk saja dan mengatakan maaf padaku, sesaat berjalan beberapa langkah ke depan, aku sudah merasakan energi Mana yang mengerikan dari portal itu.
Deg!! Wush..!!
Sesaat meletakkan tanganku ke arah portal itu, tiba-tiba tekanan sihir yang sangat kuat ini membuat tubuhku sedikit menggigil.
"Tekanan Mana ini jauh lebih kuat daripada di portal yang tiba-tiba muncul di Universitas Sanjaya."
Saat meletakkan tanganku ke portal itu, aku merasakan adanya penolakan dari dalam dungeon lalu aku berbalik ke arah belakang dan melihat mereka semua.
"Jadi ini alasan mereka terjebak di dalam sana dan tidak bisa masuk juga dari luar."
Aku langsung memaksakan diri masuk dan penolakan dari portal itu semakin melawan, tapi aku terkejut karena portal ini tiba-tiba menghentikan perlawanannya dan membiarkan aku langsung masuk dengan mulus.
[Kamu telah memasuki dungeon.]
Sesaat pria itu sudah masuk ke sana, orang-orang yang melihatnya masuk hanya tercengang saja. Mereka tak menyangka jika orang sehebat itu dengan santainya masuk ke portal itu, padahal sebelumnya mereka sudah mencoba untuk masuk tapi mereka langsung terpental jauh karena tekanan sihir kuat dari portal itu.
"Syukurlah, orang sehebat itu datang ke sini dengan cepat. Tapi, aku penasaran dia rank apa?"
"Aku tidak tahu dia rank apa, tapi yang jelas rank-nya pasti tinggi, dan kuharap mereka semua yang di dalam sana selamat."
Mereka semua hanya bisa berharap saja di situasi ini dan bersiap kemungkinan besar juga jika monster dari portal itu keluar dari portal itu.
...•••...
Sesaat di dalam dungeon....
"Tak kusangka mereka sekuat ini."
Aku sedikit terkejut melihat pemandangan mengerikan ini, terlihat ada banyak mayat Goblin dan Hob Goblin berserakan di mana-mana.
"Jika mereka sekuat ini melawan bosnya mungkin..., hm?"
Wush...!
Tiba-tiba aku merasakan Mana mengerikan ini lagi dan asalnya mungkin berada di ruang bosnya.
"Tidak, tidak mungkin mereka sekuat itu menghadapi dungeon mengerikan ini."
Set!
Aku langsung berlari secepat mungkin ke arah sumber Mana mengerikan ini. Sesaat sampai di sana, aku dibuat terkejut dengan pemandangan mengerikan.
"Sial..!! Berani-beraninya kalian!"
Set!
...•••...
...•••...
Beberapa waktu yang lalu....
Enam belas orang telah berhasil memasuki dungeon ini, sebuah dungeon tertutup dan sempit seperti biasanya. 1 Rank-A dan 3 Rank-C lalu sisanya mereka semua Rank-D.
Tim yang bisa dibilang cukup kuat kalau mereka melakukan Raid di dungeon Rank-C ke bawah, tapi dungeon mereka masuki adalah dungeon dengan kapasitas Mana yang tinggi yang berarti dungeon rank tinggi.
"Semuanya bersiaplah diposisi masing-masing, kita akan memasuki lebih dalam dungeon ini."
Orang yang berteriak itu adalah ketua tim ini yaitu Bambang, ia pria besar dengan tubuh kekarnya. Ia bertugas di garda terdepan dengan kata lain sebagai Tanker di tim ini.
Semua anggotanya mengikuti perintahnya dan satu orang Support handal tim mereka dan berada paling di belakang, karena sudah bagi tim bertanggung jawab melindungi seorang Support jika ingin menang dalam pertempuran.
"Setelah sekian lama akhirnya aku kembali ke dungeon...."
Wanita muda cantik ini memandangi sekitar dan merasakan perasaan tidak nyaman di dalam sini.
"Aku harus kuat, mungkin menyelesaikan dungeon ini bisa membuatku tenang lagi."
Susan itulah namanya, ia mencoba setenang mungkin agar dirinya tidak menghambat yang lainnya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mereka memasuki dungeon ini, suasananya sangatlah sepi dan hanya ada suara langkah dan napas mereka menggema di sekitar.
"Ketua, Kita sudah terlalu dalam memasukinya, apa tidak sebaiknya kita harus berhenti di sini, takutnya di depan sana hanya ada jebakan yang akan menghabisi kita semua."
Salah satu dari mereka mengajukan saran ke ketua mereka yang memimpin di depan. Sejenak langkah mereka semua terhenti dan menunggu keputusan dari pemimpinnya.
Di saat Ketua Bambang memikirkan saran itu, di sisi lain para anggota tampak cukup khawatir dan kening mereka basah karena sedikit takut. Takut akan hal kematian yang sudah menunggu di depan sana, dan semua keputusan nasibnya ada di tangan ketua mereka.
"Sebenarnya aku tak ingin masuk lebih dalam lagi. Tapi, jika kita berhenti di sini--mungkin monster-monster di dungeon ini akan keluar." Bambang menatap ke arah depan dan tampak hanya ada lorong gelap yang menakutkan, dan di sini lain ia melihat semua anggotanya tampak khawatir akan bahaya di depan sana.
Ia menatap lagi ke arah depan dan melihat kegelapan yang dingin itu sekali lagi. Tiba-tiba ia menghela napas dan mencoba menenangkan diri.
"Baiklah, kita kembali."
Seketika tampak wajah lega dari mereka semua dan sang pemimpin di dalam hatinya; menurutnya tak perlu membawa nyawa mereka secara percuma di dalam kegelapan itu.
Bambang yang melihat semuanya membuat dirinya sedikit senang, karena keputusannya ini tidak ada satu pun dari mereka menolaknya. Karena godaan akan harta jarahan membuat siapa pun akan lupa diri dan siap mengorbankan apa pun, ditambah lagi pemuda sepertinya yang memiliki semangat membara akan siap melakukan apa pun untuk menaklukkan dungeon ini.
"Ini pertama kalinya aku merasa ketakutan memasuki dungeon, apa karena dungeon ini rank tinggi?" Pikir Bambang lalu melirik ke arah wanita yang berada paling di belakang. "Karena aku yang bertanggung jawab memimpin mereka, maka aku harus membawa semuanya keluar dengan selamat."
Mereka semua langsung berbalik arah dan berjalan menuju ke arah masuk mereka sebelumnya.
Akan tetapi....
Dur....
Sesaat lima langkah dari lokasi mereka, tiba-tiba dungeon ini bergetar dan puing-puing kecil dari langit dungeon ini mulai berjatuhan.
"Semuanya! Cepat berkumpul!!"
Sang ketua langsung melayangkan perintah pertamanya dan semua anggota langsung membentuk formasi melingkar, lalu Mage dan Support berada di tengah formasi itu karena di Raid ini hanya ada 4 Mage tingkat dasar dan 1 Support Rank-A. Sisanya tipe kekuatan dan pertahanan akan selalu di depan memperhatikan sekitar.
Dur....
Getaran itu semakin kuat dan tiba-tiba muncul sebuah dinding batu yang menutup jalan keluar mereka.
"Ketua..! Jalan keluarnya!"
Sontak semuanya mulai panik. Tapi, sang ketua berhasil membuat mereka tenang dan menyuruh mereka bersiap bertempur karena bahaya sudah datang.
Shut! Piuh! Tring...!
Satu serangan dadakan tiba-tiba muncul dari depan dan berhasil ditahan oleh Bambang dengan perisai miliknya.
Set! Chin!
"Apa itu?"
Semuanya bingung dan suasana semakin mencekam. Sang ketua yang memiliki insting kuat, merasakan adanya bahaya menghmpirinya dengan langkah tak bersuara. Tak ada satu pun dari mereka menyadari ini selain dirinya.
"Sial! Di mana? Gerakannya sangat cepat."
Set!
Deg!
Jantung berdetak tak karuan dan membuat semuanya semakin tak tenang. Suara langkah angin itu tak terasa lagi, tapi bukan berarti semuanya berakhir begitu saja karena "Kesunyian tidak selamanya berarti ketiadaan." Bambang yang merasa ketenangan ini suatu ancaman besar dan langsung melihat berbagai arah.
"..!!" Bambang langsung mengarahkan kepalanya ke atas dan sangat terkejut melihatnya. "Di atas!!"
Teriakannya membuat semua anggotanya sontak menengok ke atas dan tampak dua makhluk kerdil dengan warna tubuh hijau tua. Dua makhluk kerdil itu langsung menyeringai saat ditatap oleh semua manusia itu.
Shut! Crak!
"Aaaah...!!!"
Tiba-tiba satu lemparan pisau kecil dari dari monster kecil itu dan berhasil melukai salah satu Mage mereka.
"Lindungi mereka..!!"
Dengan cepat para Damage Dealer melakukan serangannya ke arah atas. Tapi, semua serangan itu tak berarti apa-apa pada makhluk kecil warna hijau tua itu. Dengan gerakannya yang sangat cepat bagai angin, kedua monster itu telah menjauh dari mereka dan berdiri tepat di depan lorong kegelapan itu dengan wajah seramnya.
Kikikik....
Cekikikan kedua monster itu membuat kelompok manusia itu merinding melihat kedua makhluk dungeon itu.
"Goblin...!"
Semua orang terkejut melihat sosok makhluk itu setelah terkena cahaya api sihir mereka. Dua Goblin dengan tinggi seukuran anak berusia tujuh tahun, dengan dua buah pisau di tangan mereka.
"Itu... Goblin! Ketua, kita harus bagaimana, Goblin ini sangat berbeda dengan Goblin yang selama ini kita temui."
"Ya, aku tahu," jawab Bambang. "Entah apa yang terjadi selama ini. Monster sekarang memiliki kecerdasan?"
Bambang bingung melihat apa yang terjadi di depannya. Menurutnya, monster tidak memiliki keakuratan dalam mengatur strategi, apalagi gerakan yang barusan merupakan cara seorang Assassin profesional yang mana mengincar posisi paling lemah di suatu kelompok musuhnya, yaitu menyerang Mage dan Support mereka.
Susan sedang menyembuhkan salah satu Mage yang terluka. Di sisi lain, suatu yang jauh lebih buruk telah mendatangi mereka dari balik kegelapan itu.
Dur... Dur....
"..!!!"
Kikikik....
Langkah berat terdengar sangat jelas dari balik lorong gelap itu, dan kedua Goblin itu menampakkan senyuman yang menyeramkan.
"Tidak... mungkin...!"
"Ibu... aku... minta maaf...!"
Seketika wajah semua manusia ini berubah drastis dan keputusasaan telah menguasai mereka. Dengan napas berat dan kaki mulai lemas melihat maut sudah menghampiri mereka dengan langkah beratnya.
Sosok balik dari bayang semakin jelas menampakkan dirinya. Dan jumlah mereka ada lebih tiga puluh, jumlah dua kali lipat dari mereka. Ditambah tekanan sihir yang dipancarkannya membuat manusia-manusia itu semakin ketakutan.
"Apa-apaan tekanan energi sihir ini!" Pikir Bambang.
Makhluk dengan warna kulit hijau tua, dengan tinggi bermacam-macam dimulai dari seukuran anak kecil dan bahkan ada yang lebih dua meter lebih. Dengan tampang yang menyeramkan ditambah di tubuh mereka dilapisi berbagai kain dan besi sebagi penutup tubuh mereka.
Salah satu dari Goblin itu ada yang membawa sebuah tongkat aneh dengan diujungnya digantung sebuah kepala tenkorak dan di kepalanya pun dia memakai sebuah tengkorak raksasa sebagai pelindung kepalanya.
__ADS_1
"Bukan hanya Goblin saja yang ada, bahkan Hob Goblin pun juga ada!"
Semua manusia itu semakin putus asa dan di matanya mulai tak ada harapan lagi. Para Goblin itu semakin senang akan ekspresi mangsanya ini.
Garr..!! Arr...!
Goblin yang membawa tongkat itu berteriak dan memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang semua manusia itu.
Hooaaarrrh..!!
Dur....
Semua Goblin itu langsung maju dengan semangat membara yang siap memangsa korbannya.
"Semuanya..! Bersiap untuk berte---"
Suaranya langsung terhenti sesaat melihat semua anggotanya sangat ketakutan. Dan dirinya pun tangannya semakin gemetaran, dan pikirnya ia tak bisa membantu mereka semua dan menyalahkan semua masalah ini pada dirinya karena tak becus memimpin mereka.
"Hanya sampai di sinikah? Ya Dewa...."
Sang ketua pun mulai menurunkan senjatanya, dengan perasaan berat dan bahaya sudah di depan mata. Ia tak tahu harus berbuat apa-apa lagi.
Set!
Kikikik....
Salah satu Goblin tiba-tiba muncul dari samping Bambang yang sudah putus asa, dan sebuah pisau kecil dan tajam sudah siap diarahkan ke lehernya.
Set! Slash... Crak!
"Heh?"
Tiba-tiba Goblin yang ingin menyerang Bambang seketika terbunuh oleh sebuah pedang yang dilapisi sebuah cahaya putih yang bersih.
"Tugas seorang Support itu selalu membantu tim dari belakang. Tapi, jika ketua timnya sudah tak memiliki semangat lagi, maka...." Sembari mengangkat pedang itu dan bersiap tempur. "Tugasku sebagai seorang Support sudah tidak jelas lagi, aku harus ada di belakang atau di depan untuk membantu tim ini. Hei, aku pinjam pedangnya."
Wanita itu maju sembari membawa pedang sedikit berat itu di tangan mulusnya. Tampak sebuah cahaya putih mengelilingi dirinya dan semua orang yang melihatnya sangat terkejut.
"Susan...."
"A-apa itu... yang mengelilingi dirinya?"
Sekaligus bingung apa yang dilihatnya. Di sisi lain, pihak musuh mulai tampak semakin kesal karena salah satu temannya telah terbunuh oleh wanita itu.
Grrr..!!! Arrr...!!!
Goblin membawa tongkat itu berteriak semakin keras dan seketika seluruh Goblin itu tampak sangat marah dan langsung menargetkan wanita muda itu.
"Kekuatan, pertahanan dan kecepatan. Dengan berkah Dewa, kumohon limpahkan berkatmu padaku."
Wanita itu bergumam sesuatu dan seketika seluruh tubuhnya dikelilingi Mana yang sangat banyak.
Set! Slash..! Slash..! Crak!
Grr..?!
"Apa-apaan kecepatan itu?"
Semuanya terkejut melihatnya, sebab wanita itu yang bernama Susan telah berhasil menumbangkan tiga Goblin sekaligus dengan tekhnik pedang miliknya.
"Untung saja aku sudah belajar cara menggunakan Aura dengan baik dan Pak Adrian juga dengan senang hati juga mau melatihku menggunakan pedang."
Susan telah berhasil membunuh beberapa dari mereka. Tapi, tampak dirinya mulai kewalahan akan jumlah dan kekuatan mereka yang tak sebanding dirinya yang sendirian.
"Inikah kekuatan Rank-A?"
Semua takjub melihat ini dan pikirnya harapan untuk keluar dari sini masih ada.
"Semuanya, kita harus ikut melawan. Kita harus melindungi Susan, karena cuma dia kekuatan besar di tim kita."
Setelah Bambang berkata seperti itu, semua anggota saling memandang satu sama lain. Setelah beberapa saat, mereka semua langsung bangkit dan tampak ada semangat di mata mereka.
Bambang melihat itu sangat senang dan mereka semua langsung maju melawan makhluk hijau tua menjijikan itu.
...•••...
Beberapa menit kemudian....
Semua Goblin itu telah berhasil dikalahkan terkecuali Goblin yang membawa tongkat itu yaitu pemimpinnya.
"Susan, kamu tidak apa-apa?" Tanya Bambang yang khawatir.
"Tidak apa-apa, aku masih bisa bertarung," jawab Susan. "Aku terlalu banyak menggunakan Aura tadi, sehingga membuatku sangat kelelahan."
Terlihat Susan sangat kelelahan membuat sang ketua sangat khawatir. Di sisi lain, mereka siap mau menyerang Goblin itu. Tapi, sebuah perasaan aneh tiba-tiba menghantui mereka, perasaan yang tidak pernah mereka rasakan sama sekali selama ini.
"Apa-apaan monster itu! Kenapa aku ketakutan saat mendekatinya?"
Kikikik....
Goblin itu cekikikan dan membuat suasananya semakin mencekam. Rasa ingin menyerang mereka sontak menurun karena tekanan yang dikeluarkan olehnya sangat kuat.
Dur... Dur... Dur....
Deg!
Tiba-tiba terasa atau terdengar langkah yang sangat berat dan langkah itu semakin banyak. Sontak membuat semua manusia yang merasakannya sangat terkejut dan takut.
"Apa..! Tidak mungkin...!"
Goblin yang membawa tongkat itu menampakkan senyuman mengerikan. Goblin dan Hob Goblin muncul dengan jumlah yang sangat banyak tepat di belakang pemimpin Goblin itu. Dengan jumlah yang sangat banyak dan melebihi jumlah sebelumnya.
Kikikik....
Ancaman lebih buruk telah datang dan kali ini mereka harus melawannya dengan sekuat mungkin.
"Aku harus keluar dari sini...." Susan berdiri dan bersiap melawan mereka lagi dengan sisa tenaga miliknya. "Aku belum siap meninggalkan mereka bertiga!"
Bambang mendengar itu sedikit senang dan sedih, tapi ia kesampingkan perasaan itu dan memerintahkan anggotanya untuk bersiap tempur lagi.
__ADS_1