Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 49


__ADS_3

Pukul 10.23


Di suatu tempat di bandara Indonesia....


"Suasananya sangat berbeda...."


Tampak seorang pria dengan jas putih mewahnya sedang berdiri dengan santai di luar bandara, tampak dia sedang menunggu seseorang.


"Sudah lama aku tak kembali ke negara tercintaku ini, aku datang ke Indonesia lebih cepat dari perkiraanku."


"Tuan Himar, kenapa Anda masih di sini, mobil sudah siap untuk Anda."


Tampak seorang wanita muncul dari belakang pria ini dan membawa sebuah berkas di tangannya.


"Aku lagi sedang menunggu seseorang, kamu pulang duluan saja tunggu aku di sana."


Wanita itu mengangguk dan tetap berdiri di samping pria itu, pikirnya dia wajib tetap berada di samping tuannya sampai orang dimaksud datang ke sini.


"Maaf membuatmu menunggu."


Seorang pria dengan pakaian jas hitam beserta kacamata hitamnya yang dikenakan, dia menghampiri pria yang menunggunya itu.


"Oh... lihat siapa ini, sudah lama tidak berjumpa, ketua divisi pengawasan dari asosiasi biro keamanan, Adam Buana."


"Aku dengar Anda ingin bertemu dengan Master kami, maka dari itu aku sendiri yang akan menjemput Anda untuk bertemu Master kami."


Pria jas putih itu tersenyum dan maju ke arah pria divisi pengawasan itu, dan langsung menepuk bahunya lalu berkata:


"Aku tak menyangka kamu masih bekerja sebagai tangan kanan pak tua itu, kalau aku jadi kamu mungkin lebih baik aku keluar dari pekerjaan itu dan bergabung dengan guild besar dengan bayaran tinggi juga."


Pria jas hitam itu sedikit tertegun dan mengarahkan terus pandangannya ke arah bawah, dia tahu bahwa pria yang ada di hadapannya ini jauh lebih buruk dari monster-monster yang selama ini dia hadapi.


"Aku dengar bisnis Anda sangat padat sampai-sampai tak punya waktu untuk pulang ke sini. Apa berarti urusan Anda sudah selesai di luar sana?"


Mendengar itu pria jas putih itu menurunkan tangannya dari bahu pria di depannya itu dan berkata:


"Aku tidak akan menetap lama di sini, sebab aku bolos dalam sebuah rapat penting di sana dan para klien kami sangat marah kepadaku karena tindakanku ini."


"Anda buru-buru datang ke sini apa perihal sudah mengetahui siapa yang membunuh adikmu? Lalu apa itu menyangkut anak-anak mudah rank rendah itu juga?"


"Sesuai perkiraanku terhadap ketua divisi pengawasan, menanyakan sesuatu yang dia telah tahu. Apa kamu akan berusaha menghentikanku jika sudah bertemu mereka?" Sembari berbalik dengan senyum mengerikannya. "Aku tanya lagi, kamu akan menghentikanku?"


Deg!


Terasa hawa membunuh yang terpancar dari pria besar itu dan membuat udara sedikit sesak bagi yang merasakannya.


"Kali ini tidak ada siapa pun yang bisa menghentikan keinginan Tuan Himar untuk menyelesaikan urusannya secara pribadi," pikir Ningti.


Kening pria jas hitam itu sedikit basah karena merasakan sangat dekat ancaman yang besar itu, yang kapan-kapan bisa meledak jika sulit ditangani.


"Aku hanya melakukan sesuai apa yang diwajibkan pekerjaanku."


Mendengar itu membuat pria jas putih itu tersenyum dan tertawa cukup kencang, lalu berkata:


"Bagus! Itu yang aku suka darimu..., bagaimana bila kamu jadi bawahanku saja? Aku akan memperlakukanmu jauh lebih baik dari pada pak tua itu."


"Venandi Rank-S, Gading Himar. Adiknya yaitu Gilang Himar telah dicurigai melakukan tindakan kriminal di dalam dungeon, dan sudah ada banyak saksi dan bukti mengarah padanya. Tapi, alasan kami sulit menyeret adiknya itu ke pihak hukum adalah karena kakaknya ini, kata Master bahwa si Gading Himar ini adalah salah satu kunci penghubung kenegaraan terhadap orang-orang kuat di luar sana. Mereka berdua bersaudara dan kejahatan tak berperasaan sulit dijatuhkan, mereka berdua benar-benar sampah menyebalkan," pikir Adam. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tidak bisa."


"Yah..., sayang sekali, padahal aku sangat berharap kamu mau ikut denganku."


Setelah mereka berdua ngobrol cukup lama, akhirnya si Gading Himar ini ikut dengan pria ketua divisi pengawasan itu, dan meminta sekretarisnya itu untuk pulang duluan dan menunggunya di sana setelah urusannya selesai.


...•••...


...•••...


Pukul 10.30


Di sebuah universitas milik guild Si jago merah....


"Cepat evakuasi semua orang! Seluruh anggota yang tersisa ikut aku masuk ke dungeon itu!" Perintah Arjuna.


Brak..! Wush...!


"Ketua, lihat! Portalnya menyusut dan... tekanan sihirnya makin kuat!"

__ADS_1


"Apa! Jangan bilang... portalnya terdistorsi...!"


"Arjuna, apa yang sebenarnya terjadi lagi?"


"Akhirnya kamu datang, Rian. Apa kamu sudah menghubungi Master?"


"Sudah, katanya dia akan datang sebentar lagi ke sini dan..., apa-apaan tekanan Mana dari portal kecil itu!"


"Portalnya mengalami distorsi."


"Apa! Berarti kita tidak bisa masuk ke dalam sana sampai bos dungeon dikalahkan, sial!"


Distorsi dungeon adalah merupakan suatu kondisi yang tidak efisien, terjadi penyimpangan, dan terjadi gangguan di dalam dungeon itu sendiri, sehingga pihak luar yang ingin memasuki dungeon yang terdistorsi tidak akan bisa sampai penguasa atau bos yang menguasai dungeon tersebut dikalahkan. Tapi, distorsi ini akan berhenti dengan sendirinya jika orang-orang yang terhisap dan terjebak oleh portal itu mati semua.


"Aku berharap mereka semua bisa mengalahkan bosnya, meskipun kemungkinannya kecil," ucap Arjuna.


"Orang-orang yang terhisap ke dalam sana rata-rata tingkat apa?" Tanya Rian.


"Aku sudah menganalisa semua pengunjung dari orang biasa sampai yang telah Terbangkitkan, tapi... semua yang terhisap ke dalam sana rata-rata Rank-C ke bawah."


"Berarti..., Tuan Peteng...," pikir Rian sembari mengarahkan pandangannya berbagai arah. "Dia tidak ada di sini, berarti dia ada di dalam sana juga."


"Rian, kamu terlihat sedikit cemas, ada apa?" Tanya Arjuna.


"Tidak, tidak ada apa-apa, tapi orang yang aku undang datang ke sini tidak ada di sini juga, berarti dia ada di dalam portal itu juga, kuharap dia baik-baik saja."


Arjuna hanya diam mendengar itu tapi dia juga sangat berharap orang-orang di dalam sana ada yang selamat, walaupun kemungkinannya sangat kecil untuk bisa selamat.


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam dungeon, di sebuah hutan luas yang berkabut....


"Di mana ini?!"


"Apa ini benar-benar dungeon? Aku tak pernah memasuki dungeon seluas ini!"


Sesaat kami terhisap oleh portal itu, semua orang yang masuk ke dalam sini tampak kaget dan ketakutan terhadap situasi ini, karena ini pertama kali mereka memasuki dungeon dengan medan luas seperti ini.


Aku memutar pandanganku berbagai arah dan mencari keganjalan tempat aneh ini.


"Aku tidak merasakan ada bahaya apa pun di sini," pikirku.


"Mohon semuanya tenang!"


Seketika seorang pria dengan sebuah pedang  besar di punggungnya mencoba menenangkan semua orang.


"Aku tidak tahu berapa banyak dari kalian paham situasi ini, tapi... mungkin kita berada di dalam dungeon yang terdistorsi dan kita semua tidak bisa kembali sampai semua dari kita mati atau gerbangnya terbuka kembali ketika bos dungeon dikalahkan."


Semua orang yang mendengar itu sangat terkejut dan panik, mereka tidak tahu apa mereka bisa keluar dari sini dengan selamat tanpa perlengkapan tempurnya.


"Kumohon semuanya tenang, aku tahu situasi kita saat ini genting, tapi kita harus bekerja sama agar bisa keluar dari sini. Perkenalkan aku adalah Rama, Venandi Rank-C dan anggota dari guild Si jago merah, aku ingin semuanya memberitahukan tingkat serta kemampuannya untuk menyesuaikan kekuatan tempur kita."


Semua orang mendengar itu setuju dan memulai memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Dia benar-benar bisa menenangkan semua orang," pikirku.


"Maaf, tinggal anda seorang Tuan, tolong beritahu identitas Anda..."


"Ah, aku, namaku Arkha Peteng, Venandi Rank-F."


Saat mengatakan rank milikku, seketika wajah mereka tidak peduli denganku dan begitu pun dengan si Rama ini. Aku tahu tingkatan ini bisa dibilang beban dan tidak berguna dalam tim.


"Apa-apaan reaksi mereka itu! Padahal mereka belum tahu kemampuan Abang yang sebenarnya!"


Tampak Santia yang berdiri di sampingku sangat kesal, aku tahu mereka mendiskriminasi rank bawah dan lemah tapi... aku tak peduli dengan itu.


Aku melihat adik Zara yaitu Brian menatapku juga dengan seksama, tapi tatapan kali ini bukanlah merendahkanku melainkan tatapan penasaran akan hal sesuatu.


"Apa yang dikatakan Kakak apa itu benar, bahwa orang ini benar-benar sangat kuat?"


Setelah semuanya memperkenalkan diri dan jumlah kami ada lima belas orang termasuk aku juga terdiri dari Rank-C satu orang, Rank-D lima orang, Rank-E delapan orang dan Rank-F satu orang.

__ADS_1


"Baiklah, semuanya sudah diketahui kemampuannya masing-masing dan aku yang akan memimpin kalian keluar dari sini, tapi aku tak bisa bertanggung jawabnya sepenuhnya atas keselamatan kalian, aku tidak tahu berapa lama kita akan di sini sebab waktu dalam dungeon berjalan sangat cepat dibanding dunia luar. Jadi, kalian bertanggung jawab atas nyawa kalian sendiri dengan mengandalkan kemampuan masing-masing."


Mendengar itu membuat semuanya sangat yakin dengan kemampuan Rama ini, sebab cuma dia satu-satunya Rank-C di sini.


"Hm!"


Tiba-tiba entah aku merasakan hal aneh di tempat ini, seolah-olah ada yang mengawasi dari jarak jauh.


"Abang, kamu kenapa?"


"Sebaiknya kamu selalu berdiri di sampingku."


"Eh?" Santia yang kebingungan mendengar itu, tapi langsung menuruti apa yang kukatakan barusan.


"Baiklah, semuanya ikut aku mencari bos dungeon ini."


Kami semua mengikuti langkah Rama yang memimpin semua orang di sini.


...•••...


...•••...


...•••...


Sesaat di luar dungeon....


(Pati Bagenas - Master guild Si jago merah)


"Ini benar-benar menyebalkan! Kenapa hal ini harus terjadi sekarang. Apa kamu sudah menghubungi asosiasi biro keamanan?"


"Sudah Pak, katanya mereka sedang menuju ke sini," jawab Rian.


"Dengan tekanan energi sihir sekuat ini maka ini bisa diperkirakan portal ini Rank-B ke atas, bahkan alat sensor energi sihir tidak berfungsi. Apa kamu sudah memastikan alat itu bekerja dengan benar?"


"Sudah Pak, bahkan kami membawa alat terbaik kita miliki tapi tetap saja alat itu tidak bisa mengukur Mana dari portal itu."


"Begitu ya, ada berapa orang terhisap oleh portal itu?"


"Kata Arjuna ada lima belas orang."


"Dan tingkatan mereka?"


"Rank-C satu orang, Rank-D lima orang, Rank-E delapan orang dan Rank-F satu orang. Salah satu anggota kita juga terjebak di dalam sana namanya Rama dia Venandi Rank-C."


"Venandi Rank-C ya, besar kemungkinan dia bisa selamat dan berhasil keluar," pikir Pati. "Jika ini dungeon Rank-B ke atas ada kemungkinan mereka tidak akan selamat semua, dan kalau mereka beruntung hanya satu atau dua orang yang bisa keluar."


"Tapi Pak, di dalam sana ada orang yang ingin aku rekrut dalam guild kita," ucap Rian.


Mendengar itu membuat Pati Bagenas sedikit terkejut dan berharap bahwa orang diincar oleh anggota terkuatnya ini, orang yang sangat kuat juga.


"Tak kusangka ada orang yang menarik perhatianmu, dia siapa dan rank apa dia?" Tanya Pati.


"Dia adalah Arkha Peteng, Venandi Rank-F..."


Pati sedikit terkejut mendengar itu dia tidak percaya bahwa Rian Kasim anggota yang memiliki standar tinggi dalam hal memilih orang yang mau direkrut dalam guild.


"Biasanya Rian tidak setertarik ini pada rank rendah, tapi kenapa dia sekarang mau mati-matian merekrut pemuda Rank-F ini?" Pikir Pati. "Rian, apa pemuda itu...."


"Iya, Master, itu sesuai apa yang Anda pikirkan, sebab aku sendiri sudah menyaksikannya secara langsung."


Pati Bagenas terkejut mendengar jawaban itu dari bawahannya, bahwa perkiraannya tidak salah.


"Rian memiliki firasat tajam dan dia tahu mana orang yang tepat untuk guild kita, berarti pemuda ini adalah benar-benar seorang 'Inkarnasi.'"


Orang yang telah terinkarnasi, akan mendapatkan kekuatan berkali-lipat dari kekuatan sebelumnya atau lebih tepatnya "Power Up." Tidak peduli mereka dari rank bawah, jika mereka telah terinkarnasi akan mengalami peningkatan drastis terhadap Beneficia-nya.


Orang-orang menyebutnya sebagai "Anak Dewa," sebab ada seorang telah terinkarnasi dan mengaku melihat wujud dewa. Maka dari situlah banyak orang menganggap orang yang telah ter-inkarnasi sebagai anak dewa atau utusan dewa.


"Jika dia benar-benar telah ter-nkarnasi maka kita harus merekrut anak itu, sebab hanya sedikit orang di dunia ini telah ter-nkarnasi dan orang-orang seperti itu selalu diambil oleh 4 Pilar Bumi, karena alasannya orang seperti itu tidak tertarik bergabung dengan guild mana pun," pikir Pati lalu menatap portal kecil itu dengan seksama. "Siapkan pasukan penyerang, kita harus bersiap jika mereka gagal di dalam sana maka kita bisa langsung menghadapi terjadinya retakan dungeon."


"Siap!"


Rian kasim sang ketua cabang barat langsung pergi menyiapkan seluruh anggota guild untuk bersiap diri akan adanya retakan dungeon nanti.


"Aku harap mereka semua selamat, walaupun ini terlihat mustahil tapi... aku sangat berharap keajaiban terjadi."

__ADS_1


__ADS_2