Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 86


__ADS_3

...15-10-2030...


Terjadi peristiwa menggemparkan di negara seribu pulau ini. Tiba-tiba muncul portal dungeon dengan kapasitas Mana yang sangat tinggi di pulau Bali. Para turis serta warga setempat di Bali harus mengungsi di luar pulau, sebab ukuran dari portal ini sangatlah besar dan takutnya akan terjadi retakan sangat cepat.


Asosiasi biro keamanan sudah mengkofirmasi tingkatan dari portal ini dan tingkatnya adalah Bencana atau biasa disebut Rank-S. Sudah ada beberapa orang-orang Terbangkitkan di atas Rank-C dikirim di sana untuk mengawasi apakah dungeon telah mengalami retakan sehingga bisa dicegah sementara sampai bala bantuan datang.


Ada lima Pilar Negara atau Rank-S di Indonesia dan tiga di antaranya telah mendirikan guild besar masing-masing. Pati Bagenas ia adalah master dari guild "Si Jago Merah" dan seorang pilar negara juga dengan kemampuan khususnya yang ahli dalam sihir api serta tranformasinya menjadi iblis api.


Nurhalisa ia adalah master dari guild "Malam Suro" dan satu-satunya wanita Rank-S di negara ini. Dengan kemampuannya yang sangat hebat dalam memanipulasi cairan dan mampu membekukan apa pun yang disentuhnya.


Ardhafa Drio ia adalah master dari guild "Pulau Jaya" dan juga salah satu Rank-S terkuat dan tercepat di negara ini. Dengan kemampuannya lihai mengendalikan petir dan dijuluki sebagai "Si kilat hitam" dengan perpaduan kulitnya yang coklat kehitaman serta kecepatannya bagai petir itu sendiri.


Lalu berikutnya ada Agus Supriyadi seorang Rank-S dan master dari asosiasi biro keamanan yang bertugas mengawasi seluruh orang yang Terbangkitkan di negara ini. Serta yang terakhir yaitu Gading Himar seorang Rank-S juga dan independen, ia satu-satunya pilar negara yang tidak memiliki guild atau organisasi mana pun, ia tidak terikat dengan apa pun dan hanya fokus sebagai seorang Bussinesman, sekarang ia berada di luar negeri dan jarang kembali ke negaranya. Tidak ada yang tahu kemampuan kedua orang ini, tapi satu hal yang diketehui bahwa cara bertarung mereka yaitu mengandalkan fisik dan petarung jarak dekat juga.


Saat ini seluruh orang-orang Terbangkitkan yang terbaik telah dikumpulkan oleh asosiasi di setiap cabangnya di penjuru Indonesia, untuk bersiap mengambil tindakan cepat dan bersiap menghadapi retakan jika tak berhasil diselesaikan.


Ketiga guild besar dan masternya harus pergi ke pusat asosiasi yang terletak di Jakarta untuk mendiskusikan hal ini. Ketiga guild ini berkuasa masing-masing atas wilayah Indonesia. "Malam Suro" bagian Indonesia barat dan pusat markas berada di Semarang, "Si Jago Merah" bagian Indonesia tengah dan pusat markas berada di Makassar, lalu yang terakhir "Pulau Jaya" bagian Indonesia timur dan pusat markas berada di Jayapura. Setiap guild sudah memiliki cabang di seluruh penjuru Indonesia untuk membesarkan reputasi dan menjaga keamanan negara.


"Baguslah kalian semua datang," ucap pria tua itu sembari duduk di kursinya.


Tampak ada beberapa orang-orang kuat telah berkumpul di ruangan ini dan siapa pun melihat ini adalah suatu pandangan mengejutkan bagi mereka.


"Sudah sewajarnya kami datang ke sini. Karena sesuatu hal sebesar itu aku tak bisa mengabaikannya," ucap Lisa.


"Dengan respon kalian secepat ini, aku sangat senang. Tapi dengan kekuatan kalian bertiga yang berdiri di garda terdepan belum cukup untuk menghentikan dungeon tingkat Bencana ini."


"Lalu kita harus bagaimana, Master?" Tanya Pati.


"Kita harus mendapatkan bantuan dari '4 Pilar Bumi', tapi sayang... mereka mengatakan bahwa dungeon ini tidak masuk dalam kategori merusak Bumi."


Mendengar itu membuat mereka sedikit geram terutama bagi si Drio yang sangat kesal.


"Kurang ajar! Bisa-bisanya mereka menyepelekan hal ini! Padahal dengan Mana sebanyak dan sekuat ini, mana mungkin bukan bencana!"


"Aku sangat heran, sudah dua tahun terakhir ini '4 Pilar Bumi' tidak turun sama sekali semenjak kemunculan dungeon Rank-S di negara mana pun?" Tanya Lisa.


Mendengar itu membuat kedua pria master guild ini bertanya-tanya, apa yang sebenarnya yang terjadi dengan organisasi yang dijuluki pelindung bumi ini. Agus mendengar ini sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada organisasi itu dan memilih menutup mulut, karena orang-orang ini bukanlah orang biasa yang bisa ditangani dengan kekuatan jumlah saja seperti guild besar.


"Kita tak perlu memikirkan tindakan mereka, yang penting saat ini kita harus memikirkan cara mengatasi dungeon ini," ucap Agus.


"Apa Master sudah memikirkan bantuan lain?" Tanya Pati.


"Sudah, ada beberapa negara mau membantu kita..."


Mendengar itu membuat mereka sedikit lega dan berharap dengan bantuan ini mampu mengatasi bencana ini juga.


"Malaysia mengirim dua Rank-S mereka dan Australia mengirim tiga Rank-S mereka juga ke sini. Serta ada Cina mengirim satu Rank-S-nya juga dan beberapa armada laut untuk mencegah terjadinya retakan jika monster-monster bermunculan dan menyebar di laut, mereka hanya menyuruh pilar negaranya hanya ikut membantu bagian luar dungeon saja dan tidak ikut membantu mengatasi dungeon itu. Dan yang terakhir ada Belanda yang mengirim beberapa armada lautnya untuk membantu juga."


Agus juga mengatakan bahwa bantuan-bantuan Rank-S negara lain ini akan membawa beberapa anggota guild terbaiknya juga, guna mengurangi resiko di dalam dungeon.


"Dengan bantuan sebanyak ini, mungkin kita bisa mengatasi dungeon ini dengan cepat," ucap Lisa dengan sedikit semangat.


Mendengar itu membuat Agus sedikit khawatir dan berkata :


"Soal itu aku sangat khawatir..."


Mereka bertiga sontak menengok ke arah Agus dengan wajah keheranan.


"Dengan bantuan sebanyak itu maka akan ada imbalan besar yang diinginkan juga."


"Yang dikatakan Master ada benarnya. Mereka tak akan segan melakukan diplomasi dengan pemerintahan kita, dan mungkin ada sesuatu yang berharga mereka ingin capai dari kita?" Tanya Pati.


"Mungkin mereka menginginkan sumber daya Kristal Mana kita yang terletak di Maluku. Aku sudah membangun cabang guild-ku di sana karena dungeon itu hanya Rank-E, tapi selalu menghasilkan Kristal Mana kualitas Rank-B ke bawah. Untuk retakan jarang terjadi, jadi hal ini sudah berlangsung selama tiga tahun tanpa hambatan," jawab Drio.


"Kalau soal Kristal Mana... kurasa mereka juga ada banyak sumber daya. Tapi aku merasa mereka menginginkan lebih dari hal itu, sehingga harus berunding dengan pemerintahan negara," ucap Lisa.


"Negara kita memiliki tiga hal yang sangat berharga dan kemungkinan menjadi kekuatan hebat jika digunakan dengan benar. Tapi sayang, belum ada orang yang mampu mengendalikan ketiga hal itu," ucap Pati.


Mereka semua mendengar itu tahu apa yang dimaksud Pati. Ada tiga hal yang menjadi aset penting telah dijaga ketat oleh asosiasi biro keamanan, yaitu artifak langka yang baru ditemukan di dungeon Rank-A satu tahun lalu dan artifak itu memiliki kemampuan langkah untuk menyembuhkan luka dan penyakit mana pun bahkan mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang hampir sekarat.


Lalu ada telur monster Rank-S yang belum menetas. Gading mendapatkan telur ini saat munculnya dungeon Rank-S di Rusia tiga tahun lalu. Ia berhasil mendapatkannya setelah berunding beberapa hal dengan pemerintahan Rusia dan berhasil mendapatkannya. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Agus sebagai aset berharga negara.


"Aku tidak tahu apa alasan si Mesum itu memberikan barang sepenting itu tanpa imbalan sama sekali?"


"Aku tidak tahu apa alasannya. Tapi menurutku itu sudah tindakan tepat dilakukannya, mengingat dia orangnya bebas dan tak ingin hal bahaya selalu menimpanya hanya karena telur itu," jawab Agus.


"Lalu yang terakhir... yang 'itu', kan," kata Drio.


"Ya... Guardian Spirit. Kekuatan ini sangatlah dahsyat dan mampu menandingi kekuatan para Inkarnasi," ucap Pati.


"Jadi kekuatan itu masih ada, kan?" Tanya Drio.


Mereka bertiga langsung melirik ke arah Agus dan Agus mengerti apa yang mereka inginkan.


"Kalian jangan khawatir, kekuatan itu sekarang berada di tempat aman dan sudah jatuh di tangan orang ketiga..."


Mendengar itu mereka bertiga sangat terkejut. Menurutnya kekuatan hebat ini sangat tertutup dari perhatian publik, tapi pemerintahan serta orang-orang Tebangkitkan yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan mengetahui hal ini juga.


"Dan orang itu belum tahu jika kekuatan sebesar itu sudah jatuh di tangannya," lanjut Agus.


"Lalu siapa orang itu, Master?" Tanya Lisa.


"Oh iya, aku lupa, aku ingin membahas hal ini juga mengenai anak itu dengan kalian. Ia akan menjadi bantuan besar kita dalam menghadapi dungeon ini."


"Jadi maksud Master... Anda ingin ia menggunakan Guardian Spirit untuk membantu kita?" Tanya Drio. "Bukankah itu sama saja mengekspos keberadaannya juga."


"Kalian tidak perlu khawatir. Anak ini tidak akan menggunakan kekuatan itu, sebab anak ini adalah seorang Inkarnasi juga dan memiliki kekuatan jauh lebih hebat daripada Guardian Spirit."


Mereka bertiga sangat terkejut dan tak percaya jika ada seseorang yang sehebat itu di sekitar mereka.


"Aku pernah mendengar mengenai orang ini dari Arya, kalau gak salah ia lah yang menyelesaikan dungeon Rank-B seorang diri," ucap Lisa.


"Jadi maksud Master, apa anak itu bernama... Arkha Peteng?" Tanya Pati yang terkejut dan Agus hanya mengangguk saja. "Tak kusangka anak itu sudah berkembang secepat itu, padahal aku melihat dia waktu itu hanya masih berada di bawahku, dan aku tak menyangka jika ia sudah melebihiku sekarang."


Drio kebingungan karenan ia satu-satunya orang yang belum tahu orang bernama Arkha Peteng ini.


"Tapi sayang, anak ini mengalami masalah batin dan akan mempengaruhi keputusannya untuk ikut atau tidak. Sebab di matanya, asosiasi sudah sangat busuk dan kami berusaha membantu keinginannya sebisa mungkin. Lusa ia akan dievaluasi dan mengumumkan dirinya sebagai pilar negara baru."


Mereka bertiga tak sabar ingin bertemu pilar negara baru ini dan berencana merekrutnya jika bertemu.


"Oh iya, Arya bilang kita masih punya utang budi yang belum dibayar ke anak ini. Mungkin ini akan jadi kesempatan bagus jika aku mampu menyelesaikan masalahnya itu," pikir Lisa yang sangat senang dalam hati. "Kalau Master tak keberatan, masalah apa yang menimpa pemuda ini sampai-sampai membenci asosiasi?"


Agus hanya menanggapi pertanyaan itu untuk tak ikut campur. Sebab katanya ini menyangkut harga dirinya sebagai master asosiasi biro keamanan dan akan menyelamatkan anak muda ini dari masalahnya. Lisa sedikit kesal mendengar itu, tapi ia mengerti bahwa masalah ini tak selalu boleh ia campuri bersama guild-nya.


Rapat ini cukup memakan waktu, Agus mengakhirinya dan meminta mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

__ADS_1


Sesaat mereka meninggalkan ruangan ini sembari memberi hormat pada Agus. Tinggallah Agus seorang diri lagi di ruangannya dan memikirkan banyak hal lagi.


"Aku harus selalu membantu anak itu, cuma dia satu-satunya harapanku. Jika dia masih memandang buruk orang-orang seperti kami, maka ada kemungkinan dia akan bergabung dengan 'Mereka' dan kesempatan menyelamatkan umat manusia telah sirna sepenuhnya."


Agus sangat sedih akan keadaan anak itu dan takdir kejam yang menimpanya juga. Ia sangat berharap bahwa akan ada di mana kehidupan manusia tak perlu diganggu lagi oleh makhlul asing.


...•••...


...•••...


...•••...


...16-10-2030...


Pukul 10.11


Saat ini aku berada di rumahku dan tentu saja aku tak bisa keluar karena orang-orang asosiasi telah mengawasiku dua puluh empat jam. Setelah insiden interogasi itu, Adam mengirim bawahannya untuk memantau diriku setiap jam dan ini dilakukan sampai tes evaluasiku besok. Mereka melakukan ini agar aku tak berbuat macam-macam lagi dengan kekuatanku yang besar itu.


"Aku benar-benar diperlakukan secara VIP ya."


Aku melihat dari jendela atas dan tampak orang-orang asosiasi itu mengawasiku dari luar dan sekitar kediamanku juga. Aku juga meminta ke Adam untuk menaruh beberapa orangnya secara tidak mencolok ke si Kembar agar mereka aman, dan meminta juga untuk selalu mengawasi keadaan Susan yang masih berbaring di rumah sakit.


"Sekarang keadaan Susan sudah mendingan berkat bantuan Pak Adrian..."


Aku sedikit menyesal karena tak mampu memulihkan Aura Susan yang ia keluarkan begitu banyak. Bahwasanya Aura itu berasal dari energi kehidupan dan mampu mengurangi umur seseorang jika digunakan secara berlebihan dan tidak terlatih.


"Padahal aku sudah mendapatkan semua pengetahuan tentang Chi dari Aran, tapi tetap saja aku masih tak berguna untuk menyelamatkan orang-orang yang kusayanginya."


Rasanya dadaku sesak setiap saat melihat orang-orang yang kusayanginya selalu terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Aku sangat takut kehilangan lagi dan tak ingin melihat yang sangat berharga bagiku menghilang lagi di hadapanku.


"Berkat Pak Adrian, sekarang Aura Susan sudah pulih secara perlahan. Tak kusangka Pak Adrian sangat hebat mengendalikan Chi miliknya, ia mengingatkanku pada Aran. Aku harus bertambah kuat lagi agar orang berharga bagiku lagi tak terluka."


Karena sekarang aku tak bisa bebas sampai besok, aku tak bisa pergi ke mana-mana, bahkan pergi ke dungeon rank rendah pun tak diperbolehkan juga. Segala kebutuhan makanan dan sehari-hari kami di tanggung asosiasi selama seminggu ini.


"Biasanya di saat waktu kosong ini aku selalu fokus belajar untuk persiapan masuk kuliah. Sekarang hal itu tidak lagi, karena aku sekarang seorang Heredis."


Karena waktuku sangat luang, aku memutuskan untuk membersihkan rumah lagi dan kali ini aku pergi ke kamar orang tuaku dan membersihkannya. Biasanya aku datang ke kamar ini dua hari sekali hanya untuk membersihkan.


Klek... Ngek...


"Seperti biasa, bau yang sama dan pemandangan yang sama."


Saat masuk ke sini perasaan lama terpendam ini selalu muncul dan sulit untuk melupakannya, mungkin lebih tepatnya aku sendiri yang tak ingin melupakan perasaan sedih ini.


Aku memulai membersihkan kamar ini lagi, setiap debu dan kotoran aku bersihkan. Aku tak pernah menjual semua barang-barang peninggalan orang tuaku ini. Mulai dari barang-barang bekas pakai dan perabot yang ada di sini.


"Tinggal lemari itu..."


Aku menuju ke arah lemari baju itu dan membukanya. Aku melihat semua baju tentara milik Ayah dan jas putih dokter milik Ibu yang digantung di dalam lemari. Tak ada debu dan kotoran sama sekali menempel di setiap baju milik Ayah dan Ibu, sebab aku selalu mencucinya setiap minggunya.


"Sekarang semuanya sudah rapi dan bersih... hm? Apa ini?"


Tanpa sengaja aku menggeser sesuatu dan itu ternyata sebuah laci kecil yang tersembunyi di dalam lemari.


"Aku baru tahu ada laci sekecil ini di dalam lemari ini..."


Aku langsung menarik laci kecil itu dan mencoba melihat apa yang disimpang oleh Ayah dan Ibu di dalamnya.


"Eh, bukankah ini... pistol."


Aku hanya menemukan sebuah pistol yang selalu dibawa oleh Ayah saat pergi bertugas. Melihat ini cukup membuatku rindu pada Ayah dan aku merasa ada alasan kenapa benda sepenting ini ia tinggalkan di sini sebelum pergi.


Tiba-tiba muncul pemberitahuan sistem dan sudah lama aku tak melihat sistem muncul sendiri semenjak insiden Goblin itu.


[Sang Heredis telah menemukan harapannya sendiri dan harapan itu akan selalu menuntun sang Heredis menuju tujuannya.]


"Apa maksudnya ini?"


Aku masih bingung dengan pesan sistem ini, tapi pesan sistem masih muncul lagi.


[Apa kamu ingin menjadikan harapan ini sebagai tujuanmu?]


[Yes/No]


"Aku tidak tahu apa maksudnya ini, tapi harapan..."


Aku berdiam sejenak dan apa harapan yang selama ini aku pendam. Merenung sejenak harapanku yang pertama yaitu telah kujalani yaini menjadi yang terkuat--sekuat mungkin dan mencapai puncak tertinggi yang pernah ada, ini kulakukan agar bisa melindungi orang-orang yang kusayangi. Tapi harapan itu hanya dasar atas diriku untuk menjadi pewarisnya dan harapanku hanya bagian kecil yang terselubung di antara para pendahuluku.


Untuk harapanku yang keduaku... aku tahu apa yang kuinginkan. Ini hanya harapan yang sudah lama terkubur sejak diriku berada di panti asuhan, aku hanya ingin menjadi anak yang bisa selalu membantu orang tuanya dan membanggakannya. Dan sampai sekarang keinginan itu hanya sebatas permen manis yang selalu aku masukkan ke dalam hati.


Aku tak pernah sekalipun mewujudkan keinginan itu, sebab kedua orang tua angkatku ini selalu melakukan semua hal yang bisa dilakukannya. Aku hanya sebagai anak angkat dalam keluarga Pranadipa, hanya bisa membebani mereka. Selama ini aku berusaha keras untuk membantu mereka saat menghadapi masalahnya, tapi mereka lebih memilih menutupnya dariku, mungkin mereka khawatir dan tak mau melibatkan anaknya dalam masalah mereka, orang tua mana mau terlihat susah di hadapannya, itulah pikiran yang selalu tertancap dalam benak orang tua mana pun.


Aku tahu mereka berdua sangat menyanyiku, tapi diriku yang hanya sebatas anak angkat dan tidak bisa apa-apa untuk mereka ketika dalam masalah, sangat sedih akan diriku ini. Maka dari itu... sebagai anaknya, aku tak akan mengecewakannya kali ini dan benar-benar aku akan membawa mereka kembali di hadapan kami bertiga.


"Ya!"


Bing...!


Aku langsung menjawab pesan itu dan tiba-tiba pistol milik Ayah yang kupeganh tadi, berubah bentuk dan tampilannya sangat berbeda dengan pistol zaman modern sekarang.


"Kenapa pistol ini tiba-tiba berubah, dan lagi... bentuknya sangat aneh. Tidak seperti bentuk pistol pada umumnya."


Wujud dari pistol ini yang dominan berwarna hitam ke abu-abu-an. Dengan laras panjang lima centi dan tak memiliki lokasi peluru seperti pistol pada umumnya, melainkan sebuah bola merah tua kecil menempel tepat di bawah gagang pistol itu.


"Bola merah ini sama seperti dengan bola merah yang ada di sabit itu. Apa pistol ini juga bagian dari mode Heredis-ku?"


Tiba-tiba muncul inventori dari mode Heredis dan menunjukkan nama baru yang dipasang di dalam inventori ini.


[- Sabit pencabut jiwa


- Pistol penghancur jiwa.]


"Dulu aku bingung dan bertanya-tanya, slot kosong yang ada di bawah sabitku apa ya. Ternyata ini untuk senjata kedua untuk mode Heredis-ku. Tapi kenapa harus pistol Ayah yang diubah oleh sistem ini?"


Saat memikirkannya kenapa pistol Ayah yang terpilih oleh sistem, mungkin ini ada kaitannya dengan harapanku dan harapanku ini sangat berkaitan dengan keluargaku. Jadi ini alasan sistem memilih pistol Ayah sebagai simbol harapanku, sama seperti sabit itu yang terpikirkan yang pertama kali dalam kepalaku. Mungkin senjata ini menggambarkan harapan terdalam yang ada di dalam diriku tanpa kusadari.


Pistol Ayah langsung menghilang dari genggamanku dan hanya bisa dimunculkan ketika memasuki mode Heredis.


"Hm? Apa lagi?"


Tiba-tiba sistem muncul lagi dengan pemberitahuannya dan kali ini sebuah misi, sudah lama aku tak menerima misi sejak melawan Goblin itu.


[Kamu sekarang bisa memasuki dunia "Ancient Ruins".


...Batas waktu...

__ADS_1


...01.00.00...


PERINGATAN!


Kamu akan dikirim ke dunia ini secara otomatis jika waktu habis.]


[Go/No]


Melihat itu entah kenapa membuatku senang dan ini pertama kalinya aku bisa merasa senang akan sistem ini.


"Muncul di saat yang tepat."


Aku langsung berjalan menuju pintu keluar kamar dan menuju pintu keluar rumah. Saat aku membuka pintu, para orang-orang asosiasi sudah menunggu tepat di depan pintu.


"Anda ingin pergi ke mana?"


"Aku hanya ingin latihan, tubuhku sangat kaku berada di dalam rumah terus."


"Kalau begitu, kami antar Anda ke asosiasi. Di sana ada tempat latihan yang bisa digunakan kapan pun."


Tampaknya aku seperti putri dalam kastil yang selalu diawasi oleh prajurit istana. Aku hanya menghela napas dan berkata :


"Tidak perlu, tempat latihannya dekat dan aku hanya ingin latihan fisik biasa saja."


Aku langsung berjalan saja tanpa menghiraukan keberadaan mereka. Aku menuju ke arah hutan yang tidak jauh dari rumahku, hutan ini jarang dikunjungi orang-orang dan akan ramai jika waktu tertentu seperti hari libur dan hari special lainnya, dan hutan ini juga dekat dengan taman kota.


"Jadi Anda ingin berlatih di sini?"


Aku hanya mengangguk dan melihat sistem yang ada di depanku.


[Gerbang menuju dunia "Ancient Ruins" telah siap, apa kamu ingin memasukinya?"


[Yes/No]


"Ya..."


[Bersiaplah...]


[3]


[2]


[1]


Dur...!


Seketika muncul sebuah gerbang raksasa dan membuat tempat yang kami pijak bergetar. Orang-orang asosiasi itu terkejut dan sedikit panik saat gerbang ini muncul secara tiba-tiba.


"Ge-gerbang apa itu?"


"Mulai sekarang kalian takkan bisa mengikutiku lagi."


"Apa maksud Anda?"


"Ini gerbang portal menuju dungeon dunia lain, dan aku sendiri yang memunculkannya tadi..."


Mendengar itu membuat mereka sangat terkejut dan tak menyangka jika ada kemampuan yang bisa memunculkan portal seperti ini.


"Aku akan menghabiskan waktu latihanku di dalam sini. Jadi kalian tidak perlu menungguku dan jangan khawatir, aku tak berniat kabur sama sekali dan akan kembali saat malam nanti."


Aku langsung melangkahkan kakiku ke arah gerbang itu dan memasukinya.


"Tuan tunggu du--"


Dur...!


Sesaat tempatnya gemetar lagi dan gerbang itu menghilang bersama cahaya yang menyilaukan itu.


"Dia benar-benar pergi."


"Bagaimana ini? Apa kita harus melaporkan hal ini?"


"Tentu saja kita harus melaporkannya, cepat hubungi pusat mengenai hal ini."


Bawahannya mengangguk dan bersiap mengevakuasi tempat untuk mencegah munculnya dungeon susulan di tempat.


...•••...


Di suatu tempat pusat asosiasi biro keamanan...


Terlihat pria yang sangat tua yang masih melamun akan hal sesuatu.


"Hm! Energi ini lagi!"


Ia langsung berbalik ke arah jendela ruangannya dan sangat tidak asing dengan energi besar asing.


"Apakah kali ini 'Mereka' benar-benar ada di sini? Ini sudah ketiga kalinya dan membuatku semakin khawatir."


Brik...! Brik...!


Suara telepon bunyi di atas mejanya dan ia segera mengangkat telepon.


"Ya, bicaralah."


"Master, ada pesan gawat dari tim pengawas."


"Pesan apa itu?"


"Tim pengawas yang dikirim untuk mengawasi pemuda itu--katanya Arkha Peteng telah menghilang di lokasi."


Mendengar itu membuat Agus sedikit khawatir dan perkiraannya jika "Mereka" sudah datang dan menyadari keberadaan Arkha seperti "Mereka" juga, dan berniat akan mengajaknya ikut bergabung dalam kelompoknya.


"Cepat kirim beberapa tim untuk mencari anak itu!" Ucap Agus yang sangat khawatir.


"Tapi, Master, kata tim yang melapor, pemuda itu menghilang saat memunculkan sebuah portal dungeon dengan kemauannya sendiri."


"Memunculkan portal dungeon sendiri?"


"Iya, kata pemuda itu, ia hanya ingin berlatih di dalam dungeon-nya sendiri dan akan kembali saat malam nanti."


Mendengar itu membuat Agus sangat tercengang dan tak menyangka jika kemampuan anak muda itu telah melebihi ekspetasinya.


"Kalau tak salah juga, 'Mereka' juga memiliki kemampuan untuk membuka portal dan memunculkan monster-monster juga. Apa anak ini bisa memunculkan juga monster di portalnya itu?" Pikir Agus yang tak bisa berkata apa-apa lagi. "Saat aku dan Master beserta saudara-saudaraku melawan 'Mereka', kami kalah karena kekuatan dan kalah jumlah juga. Sebab monster-monstet yang 'Mereka' Summon setingkat Rank-A dan Rank-S semua."


Agus meminta bawahannya untuk mengirim beberapa tim untuk dikirim di sana, guna mengantisipasi munculnya dungeon susulan dan ia segera mengakhiri panggilan ini.

__ADS_1


"Jadi energi besar asing yang kurasakan tiga kali berturut-turut ini, apa dari anak itu? Hehe... aku benar-benar sudah rapuh, kalau energi sebesar itu berasal darinya maka yang bisa kulakukan hanya bisa memberinya bantuan kecil seperti melindungi keluarganya."


Agus kembali menatap ke arah jendela dan tampak wajah senang darinya, ia masih bisa memiliki harapan lagi untuk manusia. Dan ia bersumpah bahwa kali ini akan selalu membantu anak muda itu sampai nyawanya dicabut darinya.


__ADS_2