Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 36


__ADS_3

[Boss


Cerberus - Gatekeeper of the underworld


Level : ???]


Hoarrgh!!


Cerberus langsung maju dan siap menyantapku.


"Anjing tetaplah anjing ya."


Set!


Aku berhasil menghindarinya dan mengangkat tinggi-tinggi sabitku.


Slash! Crak!


Seketika sayatan berhasil tergores di bagian perut kirinya.


Haarrggh!!


Seketika dia mengeram kesakitan dan langsung melayangkan cakar besarnya itu.


Syut! Bur!


Set!


"Tak kusangka sabit ini memberikan damage yang sangat besar padanya, tapi ukurannya terlalu besar."


Sembari menghindari serangannya, aku membuat sabit ini menjadi kecil.


Hoarrgh!!


Syut!


"Dengan ukuran ini, aku leluasa bergerak."


Slash! Slash! Crak!


Seketika beberapa jari kaki depannya berhasil aku potong.


Haarrggh!!


Cerberus semakin kesakitan dan darah terus keluar dari kakinya itu.


"Aku harus mengakhiri ini dengan cepat."


Set! Slash!


Set! Slash!


Aku terus melakukan gerakan cepat didukung dengan skill "Pengondisian" dan menyerang dia tanpa memberikan dia jeda sedikit pun.


Set! Set!


Slash! Slash!


Hoarrgh!!


Seketika aku terhempas akibat raungan kerasnya itu.


"Ternyata dia sangat gigih!"


Hoarrgh!!


Sesaat aku melihat Mana dia terkumpul di seluruh tubuhnya dan tiba-tiba Mana itu keluar dari tubuhnya, lalu muncul api yang mengelilingi tubuhnya.


"Hm, armor...."


Hoarrgh!!


Duk... Duk... Duk....


Cerberus langsung maju ke arahku dengan tubuhnya yang berapi-api.


Semakin mendekat dan langkahnya terdengar seperti bencana akan datang.


Set!


Aku langsung melompat ke arah kepalanya dan mengarahkan sabit ini kepadanya.


Jleb!


Seranganku berhasil mengenai salah satu kepalanya.


Tapi....


"Apa?!"


Seketika api keluar dari lukanya itu.


Burr..!


"Egh!"


Aku menghalangi api itu dengan kedua tanganku agar tak mengenai wajahku.


Karena lengah aku terlempar dari kepalanya dan melayang di udara.


Hoarrgh!!


Cerberus mengumpulkan jumlah Mana yang sangat banyak di ketiga mulutnya.


"Sial! Jangan bilang...."


Hawa yang sangat panas terasa dari ketiga mulut anjing ini, dan mengeluarkan sebuah cahaya setiap mulutnya.


Berr...!!


Semburan cahaya panas mengarah kepadaku yang lagi di atas.


Bom!!


Kabut tebal bermunculan dari atas sana akibat ledakan Mana yang cukup kuat.


Chin!


Tiba-tiba aku muncul aku muncul di bawah kakinya.


Set! Slash! Crak!


Set! Slash! Crak!


Set! Slash! Crak!


Aku langsung melakukan serangan balasan secara bertubi-tubi.


"Untung aku memiliki skill 'Pengikat Jiwa.'"


Aku terus melakukan gerakan yang sangat cepat dan menebas dia dengan sabit kecil ini sembari menggunakan skill "Jalan bayangan," untuk menghilangkan keberadaanku.


Set! Slash! Crak!


Set! Slash! Crak!


Aku melakukan serangan terus menerus tanpa henti, dan tampak luka sayatan di tubuhnya ada di mana-mana dan darah keluar terus dari luka itu.


Grrrr..!!


Terlihat kaki Cerberus mulai sulit menopang dirinya akibat tenaga terkuras dengan cepat berkat lukanya itu.


"Inilah akhirnya...."


Aku maju dengan cepat dan siap melancarkan serangan terakhir kepadanya.

__ADS_1


Tapi....


Grrrr.!! Hoarrgh..!!


"Apa!"


Tiba-tiba tubuh dia bercahaya dan tampak Mana dalam jumlah yang sangat besar terkumpul ke arahnya.


"Sekarang apa yang dilakukannya?"


Karena tak bisa mendekat akibat tekanan Mana yang sangat kuat berada di sekitarnya, jika semakin dekat maka akan memperburuk situasiku.


Hoarrgh..!!


Seketika aku terkejut dan terbelalak melihat tubuhnya, tampak tiga element sihir berkumpul menjadi satu wadah dan mengerahkan masing-masing ke pengendalinya yaitu kepalanya.


"Tekanan Mana yang sangat luar biasa...."


Aku melihat masing-masing kepalanya mewakili satu element sihir dengan Mana yang sangat besar.


Kepala di kanan mewakili sihir element es, kepala tengah mewakili sihir element Api, dan kepala di kiri mewakili element petir.


"Bakalan merepotkan, nih!"


Sebenarnya aku ingin memanggil Norum dan para The Arcana untuk bertarung, tapi aku memutuskan bertarung sendiri untuk menguji seberapa hebat mode Heredis ini.


Hoarrgh..!!


Seketika dua kepalanya melemparkan sihir api dan es miliknya secara bersamaan ke arahku.


Set!


Bom!!


Aku berhasil menghindarinya, tapi....


Shut! Chin!


"..!!"


Tiba-tiba Cerberus muncul dari belakangku, itu berkat sihir petir miliknya yang membantu gerakannya dengan cepat.


Hoarrgh!! Hap! Krack!!


"Aaahh..!!!"


Dia berhasil menggigit tanganku hingga aku mendengar tanganku remuk.


Grrr.!! Hrr...!


Cerberus langsung melemparku dengan sangat kuat hingga membentur batu yang ada di samping dengan sangat keras.


"Aaa!!! Tanganku..!!"


Aku melihat satu tanganku telah hilang dan tangan itu sudah berada di dalam mulut salah satu kepalanya itu.


Crak! Crak!


Darah keluar dengan sangat cepat dari luka fatal ini.


"Sial! Aku tak ingin... mati di sini.!!"


Seketika berbagai macam memori terlintas di pikiranku, memori yang selama ini aku ingin lupakan.


...•••...


"Yaelah! Apa itu patut dibanggakan, sedangkan aku mendapatkan lebih dari itu setelah 'Terbangkitkan'. Sedangkan dia sudah satu tahun 'Terbangkitkan', tapi baru dua pencapaian terbesarnya..., ck ck ck," ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.


"Tapi, dia cukup hebat loh... hanya bermodalkan tekad untuk jadi Venandi dengan kemampuan begitu saja (biasa.)"


"Kalaupun dia jadi Protector, malahan dia dilindungi oleh orang yang seharusnya ia lindungi."


"Bukankah dia orang yang sering mengalami luka di dungeon Rank-F ya?"


"Serius? Kalau dibandingkan denganku yang baru 'Terbangkitkan,' siapa paling kuat?"


"Pertanyaan bodoh! Kamu sudah Rank-E dan tinggal selangkah lagi naik Rank-D, tentu saja jawabannya sudah jelas."


"Begitu ya, hahaha..!!"


"Hahahaha..!!"


"HAHAHAHAHA..!!"


...•••...


Sesaat memori itu terlintas terus di pikiranku, yang mana membuatku muak mendengarnya.


"Kenapa hal yang sangat menyebalkan seperti itu harus muncul sekarang!"


Aku bangkit dan melihat tanganku yang sudah hilang.


"Pemulihan instan!"


Beam! Beam!


Cahaya tiba-tiba muncul dan memulihkan lukaku serta memunculkan kembali tanganku yang sudah terputus itu.


Hoarrgh..!!


Duk... Duk... Duk....


Cerberus langsung maju lagi ke arahku yang tampak hanya berdiam diri saja di sana.


"Ah, benar-benar menyebalkan...."


Aku memandang tajam anjing kepala tiga itu berlari ke arahku.


"Cih!"


Set!


Hah?


Dengan gerakan yang sangat cepat sembari menggunakan skill "Jalan bayangan."


Cerberus kebingungan mencari keberadaanku.


"Aku sudah sangat muak mengingat semua penghinaan itu, maka... jangan membuatku mengingat hal itu lagi!"


Aku muncul tepat di depannya, dan tampak Cerberus terkejut lalu melayangkan cakar besarnya itu kepadaku.


Swoosh..! Slash! Crak!


Klotak!


Hing?!


"Dengan ukuran seperti ini, boleh juga."


Aku berhasil memenggal kepala kanannya dengan sabitku yang berukuran semulanya.


Hing....


Cerberus gemetar melihat pemuda ini dan di matanya, tampak orang di hadapannya ini memancarkan aura yang sangat kuat, ini berkat insting buasnya yang mengetahui siapa yang lemah dan siapa yang terkuat yang harus dia hadapi.


"Kamu mau ke mana?" Sembari mengangkat satu tanganku.


Hing...!


Aku langsung memakai skill "Pemilik sejati" dan memunculkan tangan hitam tak terlihatku ini, tampak aku berhasil memunculkan tangan ketiga yang mana sebelumnya hanya dua saja.


Bur...!


Aku langsung memegang kedua kepalanya dan membantingnya ke bawah tanah.

__ADS_1


Hing... Hing....


Tampak suara rengekan dari anjing penjaga ini, tampak dia memohon dengan mata memelas yang mana mata itu sangat berbeda dengan mata sebelumnya.


Aku langsung maju ke arahnya yang sudah tersungkur.


"Memang benar, Anjing tetaplah anjing!"


Aku mengangkat tinggi sabitku ini dan tampak anjing itu semakin gemetaran ketakutan.


Hing...!


"Selamat tinggal!"


Swoosh..! Slash! Crak!


Klotak! Klotak!


Seketika dua kepalanya berhasil lepas dari tubuhnya dan tubuhnya mengeluarkan darah yang sangat banyak.


Dun....


Seketika gerbang itu terbuka lebar.


Dun!


"Aku berandai-andai apakah yang aku masuki ini dungeon rank tinggi? C, B, A atau S? Jika memang benar ini dungeon rank tinggi, maka...." Langsung melihat tanganku yang mengepal. "Dengan ini aku bisa melampaui semua orang dengan cepat."


Aku langsung maju ke arah gerbang itu.


Tapi....


"Eh? Apa ini?"


Langkahku terhenti sebab mayat Cerberus mengeluarkan sesuatu yaitu sebuah item.


"Drop item? Aku lupa, sistem juga menyediakan hal seperti ini."


Aku mengambilnya dan langsung menyimpannya di inventori.


"Karena sistem menonaktifkan semua fungsinya kecuali inventori, aku tak bisa mengecek statusnya selain hanya bisa menyimpannya."


Aku langsung maju ke arah gerbang itu dan memasukinya.


...•••...


Sesaat memasukinya....


"Jadi ini isi dalamnya...."


Aku melihat sebuah medan yang sangat luas dengan tanah cukup gersang.


"Hm?"


Di sekitaran ada banyak senjata dan berbagai perlengkapan lainnya.


"Ini mengingatkanku dengan monster armor itu."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan tampak aku melihat dua orang dengan berpakaian tempur kesatria berwarna putih kebiruan.


Terlihat wujudnya yang tampak kepalanya memakai helm yang menutupi seluruh kepalanya dan tanduk helmnya meruncing ke belakang semua.


Lalu kedua tangannya terlihat membawa dua pedang ,tapi kedua pedang itu menyatu dengan lengannya dan terlihat tangannya tidak ada sama sekali mengepal pedang itu.


Serta tampak kedua kakinya tidak menyentuh tanah, mereka melayang beberapa senti dari tanah dan tampak kedua kakinya itu muncul sebuah api dari sana.


[Boss


The Pawn 1 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Pawn 2 - The Damned Six


Level : ???]


"Jadi mereka ya, penjaga gerbang selanjutnya. Apa mereka benar-benar melayang?"


Aku berkata begitu sebab aku melihat jelas, selain kedua kakinya di kelilingi api menyala tampak terlihat kedua kaki mereka buntung, mungkin api itu yang membuat mereka bisa berjalan lagi dengan leluasa.


Dur....


Seketika tempat ini bergetar.


"Kayaknya sudah dimulai...."


Aku melihat ada banyak Mana terkumpul di mana-mana dan terserap ke dalam tanah.


Kraaak! Kraaak!


Tiba-tiba seluruh benda-benda perang ini berkumpul membentuk sebuah prajurit yang isinya hanyalah kosong.


"Tampaknya ini akan sedikit merepotkan, kalian semua keluarlah!"


Seketika Norum dan para "The Arcana" keluar dari tubuhku.


"Kalian... bukakan aku jalan!"


"Hoarrrgh!!!"


Set! Syat!


Dengan cepat Norum maju duluan dan berhasil memotong beberapa armor tak berisi itu.


Lalu disusul yang lainnya.


Slash! Slash!


Kraaak! Klotak!


Tampak Dani berhasil memotong beberapa dari mereka dengan menggunakan belati pemberianku.


Bom! Bom!


Seketika beberapa hujan bola api datang secara bertubi-tubi, orang yang melakukan itu adalah Dami. Dia menggunakan sihir api dalam jumlah yang sangat banyak, ini berkat pemberian Orb Matahari dariku sehingga sihir apinya sangat kuat berkali-lipat, terlihat Orb itu menempel ke tongkat sihirnya.


"Hm?"


"Hahaha!!!"


Aku melihat Bongsor tampak menikmati pertarungannya, terlihat dia sangat agresif mengayunkan kedua kapak besarnya itu.


Bur..! Bur...!


Seketika asap bertebaran muncul di mana-mana, ini karena Frankenstein menghantam kan palu raksasanya itu dengan keras.


"Haarrrgh.!!"


Seketika muncul sesuatu dari tanah saat Frankenstein berteriak.


"Oh, akhirnya aku bisa melihat skill barunya itu."


Tampak muncul 20 Zombie dari tanah dan langsung menyerang para monster armor itu.


"Tidak sia-sia aku memberikan mereka senjata, dan lagi... job ini benar-benar luar bisa."


Aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa, tampak para prajuritku berhasil menghapus setengahnya dari mereka.


"Karena tinggal sedikit, sebaiknya aku juga bertindak dengan cepat."


Aku langsung maju ke arah para penjaga gerbang itu, saat memasuki teritorinya, seketika mereka berdua langsung mengambil posisi siap bertarung denganku.


"Saatnya memulai ronde selanjutnya." Sembari mengeluarkan sabitku.

__ADS_1


__ADS_2