
Seluruh anggota guild Si jago merah telah sampai di tempat tujuan.
"Apa benar ini lokasinya?" Tanya ketua Rian Kasim.
"Iya ketua, di sinilah lokasinya yang dimaksud detektor kita yang tidak bisa mengukur jumlah Mana-nya," jawab wakil ketua Harun.
Mereka telah sampai di area hutan bagian barat, sesaat ingin memasukinya langkah mereka langsung terhenti, sebab ada beberapa orang berjas hitam menghampiri mereka.
"Bukankah ini ketua divisi pengawasan dari asosiasi biro keamanan, Adam Buana," ucap Rian.
"Sudah kuduga, kalian pasti yang akan datang duluan ke sini," balas Adam.
"Tentu saja, kami datang ke sini karena merasakan adanya kejanggalan di sini, apa kamu juga datang karena itu juga?"
"Sebenarnya kami datang ke sini atas permintaan 'Master' kami untuk memeriksa hutan ini, memang aneh rasanya karena 'Master' tiba-tiba meminta kami melakukan pemeriksaan di sini. Memangnya apa ada sesuatu di sini?"
"Detektor kami mendeteksi jumlah Mana yang tak terukur berasal dari dalam hutan ini."
".!!" Langsung menatap ke arah hutan.
"Tampaknya kamu cukup terkejut mengetahuinya," sambung Rian sembari menatap ke arah hutan juga.
"Iya, kalau begitu kita harus segera menginvestigasi hutan ini, takutnya ada dungeon ini rank tinggi yang yang mungkin mengalami retakan."
"Kamu benar, takutnya dungeon ini mungkin... Rank-S!"
"!!!"
Semuanya terkejut mendengar itu.
"Ketua kamu yakin bahwa itu Rank-S?" Tanya Harun.
"Kamu pikir bukan, kalau Mana sebanyak itu tak mungkin kalau bukan Rank-S. Ada kasus serupa yang terjadi di Rusia, yang mana muncul dungeon dengan kapasitas Mana tak terukur dengan alat detektor terbaik mereka, beberapa Venandi dan Protector mereka yang Rank-S memasuki dungeon itu."
"Lalu apa yang terjadi pada mereka, ketua?" Tanya Harun.
"Mereka semua mati...."
"!!"
Semuanya terkejut mendengar itu dan Kasim melanjutkan ceritanya.
"Itu hanya pernyataan umum yang dilontarkan berita yang ada, tapi kenyataannya ada lima orang selamat dari insiden itu dan berhasil menyelesaikan dungeon itu, lalu ada salah satu orang dari mereka adalah anggota dari 'Empat Pilar Bumi' yaitu 'Pilar Pedang.'"
"Pilar...! Pilar yang itu kan?!"
"Iya."
"Empat Pilar Bumi" mereka adalah orang-orang yang pertama kali mendapatkan atau lebih tepatnya berhasil membangkitkan Beneficia dalam diri mereka, yang sekarang biasa disebut sebagai orang telah "Terbangkitkan."
Awalnya hanya ada empat orang dari "Empat Pilar Bumi" sebelum para anggotanya bertambah seiring waktunya. Keempat orang ini adalah mereka yang telah menyaksikan, anugerah sekaligus bencana yang terjadi 19 tahun lalu atau biasa disebut insiden "Terbukanya Gerbang Neraka."
Keempat orang inilah yang telah mendapatkan anugerah atau berkah secara langsung dari dewa mereka. Di mana keempat orang ini telah mendapatkan sebuah benda dari dewa mereka secara langsung, mereka menyebut benda itu "Artifak Sakral."
Benda-benda itu terdiri dari Pedang, Tongkat, Koin dan Cawan. Masing-masing dari mereka menerima benda itu dan dewa berpesan kepada mereka berempat, bahwa mereka harus mencari 13 orang untuk menjadi pengikutnya agar sama-sama bisa menampung kekuatan dari "Artifak Sakral," setelah itu sang dewa menghilang secara langsung tepat di depan mata mereka.
"Tak kusangka, orang seperti mereka mau datang secara langsung mengatasi dungeon itu," ucap Adam.
"Bukankah itu sudah jelas, mereka sudah mengumumkannya secara langsung bahwa mereka akan turun tangan secara langsung jika Bumi dalam bahaya," jelas Rian.
Setelah obrolan itu, Adam langsung memerintahkan seluruh anggotanya untuk melakukan penutupan jalan menuju hutan ini, guna mencegah orang-orang memasukinya agar tak ada korban jiwa.
"Kalau begitu aku duluan masuk memeriksanya."
"Iya."
Sesaat Rian ingin masuk tiba-tiba dia berhenti sejenak.
"Kalau boleh tahu... kamu lagi sedang apa di sini?"
"Sebenarnya aku ke sini untuk melihat-lihat rumah sakit kami, apa ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja...." Sembari melihat dari atas sampai ke bawah. "Apa kamu ketemu seseorang?"
"Seseorang? Apa maksudmu, aku tak pernah janjian ketemu dengan siapa pun."
"Kamu yakin tak pernah bertemu dengan siapa pun secara pribadi...." Langsung menatap tajam. "Kamu tahu kan, kita sudah berteman lama sejak kecil dan aku tahu kamu lagi sedang berbohong kepadaku."
Adam terbelalak dan langsung menghela napasnya lalu berkata:
"Seperti biasa matamu sangat tajam, kamu benar aku datang ke sini karena punya urusan pribadi. Aku menemui orang itu secara pribadi di rumah sakit dan berbincang beberapa hal dengannya."
"Begitu ya, jadi... siapa orang itu?"
"Hm, kamu tak ingin mengetahui apa yang kami bincang kan di sana?"
"Aku tak tertarik dengan urusanmu dengannya, hanya saja ada orang yang aku cari-cari selama ini, tapi... dia sangat sulit ditemukan."
"Begitu ya, sebenarnya orang yang aku temui itu namanya Arkha Peteng seorang Venandi Rank-F."
"..!"
Rian sedikit terkejut dan mengarahkan pandangannya ke bawah sembari memegang dagunya.
"Apa hanya itu yang kamu tanyakan?"
"Iya, terima kasih atasnya informasinya." Langsung jalan memasuki hutan itu dan meninggalkan temannya.
"Seperti biasa dia orangnya memang aneh."
__ADS_1
Rian berjalan sembari memikirkan sesuatu:
"Arkha Peteng ya..., bisa jadi dia orang yang sama dengan orang yang telah menyelesaikan semua Hidden dungeon waktu itu, sebab aku merasakan dan mengingat jelas Mana orang itu yang tertempel secara samar-samar pada Adam. Aku rasa sudah mengetahui siapa orang itu, aku akan mentraktir dia (Adam) setelah urusan di sini selesai untuk berterima kasih."
...•••...
...•••...
Sesaat di dalam dunia Hades....
"Wah...."
Aku sangat terkejut melihat isi dungeon ini, sebab tidak seperti dungeon pada umumnya yang aku masuki, karena dungeon ini tempatnya cukup terbuka semacam lapangan terbuka tidak seperti dungeon sebelumnya aku masuki tempatnya tertutup.
"Baru kali ini aku memasuki dungeon seperti ini, aku hanya mendengar dari di internet bahwa ada dungeon dengan lapangan terbuka katanya, dan dungeon tipe seperti ini rata-rata Rank-B ke atas menurut mereka yang sudah menjelajahinya."
Aku ingin berjalan ke depan, tapi....
"Eh? Apa ini?"
Tiba-tiba aku melihat semacam penghalang yang menghalangiku untuk maju.
"Apa, Barier?"
Tiba-tiba muncul jendela sistem.
[Kamu telah berada di zona persiapan. Kamu hanya boleh melewatinya jika sudah memakai mode Heredis.]
"Mode Heredis?"
Aku bingung maksud sistem ini dan mencoba memahaminya.
"Karena tidak ada petunjuk sama sekali, maka memasuki mode ini mungkin aku hanya perlu memikirkannya atau mengucapkannya."
Aku berdiam diri sejenak memahami yang dimaksud dari mode ini sembari menutup mata, dan membayangkan wujudnya.
"Mode Heredis...."
Seketika pikiran kosong dan tampak hanya kegelapan dan tiba-tiba muncul sesosok yang sangat asing di hadapanku.
"Topeng... jubah... dan sabit yang panjang digenggam di tangannya..."
Seketika sosok di hadapanku ini menghilang dan berubah menjadi cahaya-cahaya kecil yang terpecah belah, seketika semua cahaya itu terbang ke arahku dan masuk ke dalam tubuhku.
Setelah menutup mata dengan memandang kegelapan cukup lama, aku membuka mataku secara perlahan dan melihat jendela sistem muncul lagi.
[Kamu telah memasuki mode Heredis, sekarang kamu bisa memasuki dunia Hades.]
".?!"
Aku terkejut sekaligus bingung, sebab tiba-tiba aku memakai sesuatu di wajahku dan aku juga memakai pakaian lain.
"Ini kan...."
"Topeng! Dan...."
Aku melihat pakaianku yang tiba-tiba terganti dengan pakaian lain.
"Semua yang kubayangkan tadi ternyata jadi kenyataan, apa ini yang di sebut mode Heredis?"
Tiba-tiba muncul lagi jendela sistem.
[Kamu tidak bisa memakai perlengkapan pertempuran lain saat memasuki mode Heredis.]
"Eh! kalau begitu...."
Aku langsung membuka inventori:
[(- Belati taring putih X1) X
(- Belati taring hitam X1) X
(- Colt Revolver M-1836 X1) X
- Potion HP 20% X4
- Potion MP 20% X3.]
Aku melihat semua senjataku yang tiba-tiba ada silang merah pada ikon gambarnya di inventori.
"Benar semua senjataku tak bisa aku gunakan, kecuali semua potion ini. Apa aku bisa membatalkan mode ini?"
Aku mencoba memikirkannya dan tiba-tiba muncul jendela sistem.
[Kamu ingin keluar dari mode Heredis?]
[Yes/No]
"Jadi begitu ya cara kerjanya, tapi aku tak suka dengan tampilan dari topeng serta jubahnya ini...."
Muncul lagi jendela sistem.
[Kamu bisa mengubah tampilan dari mode Heredis-mu]
[Apa kamu ingin mengubah tampilannya?]
[Yes/No]
[Peringatan!
__ADS_1
Setiap kamu ingin mengubah tampilan mode ini, maka kamu harus membayar 1 juta Soul Poin.]
"Eh, tak kusangka sistem ini mata duitan juga, tapi... aku memang harus mengubahnya dan untung saja aku masih punya satu juta Soul Poin lebih yang tersisa. Baiklah, kalau begitu... ya!"
[Soul Poin telah berhasil diterima, sekarang kamu bisa mengubah tampilan mode Heredis sesuka hatimu.]
"Baiklah, mari kita pikirkan...."
Aku menutup mataku dan semuanya kembali gelap seketika, tiba-tiba muncul sesosok orang di depanku.
Setelah memikirkannya, aku kembali membuka mataku dan muncul lagi jendela sistem.
[Kamu telah berhasil mengubah tampilan mode Heredis-mu.]
"Nah, begini kan enak dilihatnya."
Topeng putih dengan gambar wajah tengkorak aku mengubahnya menjadi penutup mulut dengan bentuk slayer masker, serta jaket jas jubah lengan panjang dilengkapi juga sarung tangan dan pakaian polos di dalam, celana panjang dan sepatu boot, lalu yang terakhir tudungnya aku ganti jadi topi koboi dengan setiap sisinya meruncing ke atas, dari atas hingga bawah semuanya berwarna hitam
"Oh iya! Lalu aku pakai senjata apa saat bertarung, apa tangan kosong saja?"
Saat berkata begitu, tiba-tiba jendela sistem muncul lagi.
[- Sabit pencabut jiwa
- ???]
"Eh, jadi ini inventori khusus mode Heredis, di sini hanya dua item yang bisa disimpang dan satunya sudah terisi lalu satunya lagi kosong."
Aku mengeluarkan sabit itu dan tampak sabit itu panjang dengan pisau besar melengkung di ujungnya, dan ada bola merah menempel di belakang pisau besar melengkung tersebut.
"Wow, benar-benar senjata yang hebat, hanya saja... kenapa tiba-tiba terlintas di pikiranku mengenai wujud Dewa Kematian atau Malaikat Maut di sana dengan sosoknya, kalau aku tidak berpikir ke situ mungkin aku bisa mendapatkan belati dari mode ini."
Aku menghela napas dan berpikir lebih baik ada dari pada tidak sama sekali.
Aku mengambil posisi siap mengayunkan sabit besar ini dan mengarahkannya ke depan.
Swoosh...!
Seketika gelombang kejut cukup kuat terhempas jauh dan tiba-tiba sabit ini mengeluarkan aura aneh berwarna merah kehitaman, dan bola merah itu menyala saat diayunkan sabit tersebut.
"Wah... tak kusangka akan sehebat ini serangannya, hanya saja mungkin aku jarang menggunakannya sebab ukurannya ini terlalu besar untuk petarung dengan mengandalkan kelincahan sepertiku."
[Peringatan!
Kamu bisa mengubah ukuran senjata mode Heredis sesuka hatimu, tapi kamu tak bisa mengubah penampilannya.]
"Ah, begitu ya...."
Aku mencoba mengubah ukurannya sekecil mungkin hingga sangat pas digenggam satu tangan dengan santai.
"Entah kenapa ukuran seperti ini..., aku terlihat seperti ingin memotong padi di sawah. Oh iya, statusku..."
Aku langsung membuka jendela status:
[Nama : Arkha Peteng
Job : Heredis of Death
Umur : 20 tahun
Level : 44
Jenis kelamin : laki-laki
STR : 300 INT : 167
AGI : 200 DEX : 162
VIT : 264 LUK : 157
HP : 20640/ 20640
MP : 1670/ 1670
SP : 42.]
"Baiklah, aku harus fokus ke mana menaikkannya?"
Aku memperhatikan semuanya dan tampak semua stats-ku ini, semuanya mulai semakin sering dipakai dalam pertempuranku semenjak aku sudah mendapatkan job.
"Karena skill-ku mungkin semakin banyak dan bertambah seiring waktunya pasti menggunakan banyak MP, maka kali ini aku akan fokus menaikkan di INT dulu dan aku akan menggunakan SP yang tersisa ini di stats yang lainnya secara seimbang."
Aku langsung menggunakan semua SP-ku untuk menaikkan semua stats-ku.
STR : 300 > 305 INT : 167 > 187
AGI : 200 > 205 DEX : 162 > 164
VIT : 264 > 269 LUK : 157 > 162
HP : 20640/ 20640 > 20690/20690
MP : 1670/ 1670 > 1870/1870
SP : 0.
Setelah semuanya selesai dan persiapan juga sudah siap semua, serta sudah memahami semuanya tentang mode Heredis ini.
"Saatnya berangkat!"
__ADS_1
Aku langsung maju melewati pembatas itu.
[Kamu telah memasuki dunia Hades, seluruh sistem akan dinonaktifkan kecuali sistem penyimpanan item.]