
...03-11-2030...
Dua minggu telah berlalu semenjak insiden dungeon Rank-S itu. Masih banyak duka yang belum sembuh atas kejadian itu, kehilangan orang-orang yang terlibat dalam insiden itu, sulit untuk dilupakan.
Karena hal inilah membuat pemerintah melakukan pemeriksaan serta penjagaan ketat mulai sekarang, guna mulai melacak kemunculan dungeon, terutama Hidden Dungeon. Dengan bantuan asosiasi biro keamanan, mempercepat rencana tersebut.
Kejadian itu juga tak luput dari media dan masih hangat diperbincangkan warga media di mana pun.
[By the way, aku masih penasaran dengan Pilar Negara baru kita, namanya Arkha Peteng kan.]
[Dia masih muda, kalau diperhatikan dia cukup manis juga {*^^*}.]
[Dia termuda dalam sejarah ini.]
[Tapi, kata bapak aku, orang-orang dari '4 Pilar Bumi' rata-rata sangat muda hampir sepantaran dengannya, apa dia salah satu dari mereka?]
[Kenapa dia baru muncul saat semuanya sudah kacau sekali, mau berlagak sebagai Hero kesiangan, hah!]
[Lah iya, kalau dia memang yang menyelesaikan dungeon bencana tersebut. Kenapa dia datang terlambat?]
[Kata asosiasi....]
Berbagai perbincangan di internet mengenai pemuda ini. Yah, semua hal ini tidak dihindari dari perhatian mereka, sebab insiden ini akan tercatat dalam sejarah memori mereka.
Walau menjadikan ini misi perdananya setelah dirinya diumumkan sebagai Pilar Negara yang baru, tapi masih banyak opini tidak mengenakan mengenai dirinya, mengingat dirinya yang masih muda sehingga meragukan di mata publik. Tidak sedikit juga yang mendukung dirinya bahwa negara ini akan semakin kuat dengan kehadiran pemuda sepertinya, dan ada kemungkinan akan ada pemuda jauh lebih muda darinya akan jadi Pilar Negara baru.
...•••...
Pukul 10.09
"Waw, Kakak benar-benar terkenal sekarang," ucap anak laki-laki itu.
"Iya, kata Rara, kalau orang semakin terkenal uang mereka juga banyak," ucap anak perempuan itu.
"Masa? Berarti kita kaya sekarang dong!" Ucap anak laki-laki itu dengan semangat.
"Udah pasti dong. Kan Kakak sudah jadi artis," ucap anak perempuan itu dengan bangga.
Sepasang anak kembar sedang terus mengintip jendela kamar mereka. Saat ini rumah mereka berhasil di renovasi dan ada banyak orang-orang asosiasi menjaga rumah mereka, serta tak luput para wartawan dan orang-orang dari guild berkumpul di halaman rumah mereka sekarang.
Klak... Ngek...
Tampak seorang pemuda berusia 20 tahun ini memasuki kamar si kembar sembari membawakan makan siang juga.
"Kak, apa Kakak sudah jadi artis?" Tanya Reno.
"Artis?"
"Iya! Kata teman Rena, Kakak sekarang sudah terkenal, berarti Kakak sudah jadi artis dong," ucap Rena yang semangat.
Melihat kedua Adikku begitu semangat, aku hanya bisa tersenyum dan nyaris tertawa melihat tingkah polos mereka.
"Yah, bisa dibilang begitu."
"Berarti Kakak sudah punya banyak uang dong!" Ucap Reno yang semangat.
"Ya, kita sekarang banyak uang," balasku sembari tersenyum.
"Hore! Kita sekarang orang kaya!"
Melihat mereka kegirangan begini, membuatku semakin semangat juga, dan di sisi lain aku pun berharap kebahagiaan ini bertahan selamanya. Walau hal itu terdengar mustahil, tapi hal itulah yang akan aku perjuangkan.
"Baiklah, kalian makan dulu. Kakak mau ke bawah sebentar mengurus beberapa hal."
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu keluarga itu, aku segera menuju ruang tamu. Karena ada seseorang yang menunggu sedari tadi, entah sudah berapa lama dia sudah berada di luar sana menungguku mempersilahkan dia masuk. Mengingat banyak orang di luar sana, membuatku sulit untuk menerima tamu untuk masuk ke rumahku.
"Kuharap Anda sekalian tidak bosan akan dekorasi rumah sederhana ini."
"Tak apa, Tuan. Kami juga senang dekorasinya," ucapnya dalam bahasa Melayu.
Yah, mereka perwakilan dari tamu asing Agus. Dan ada pun Adam sebagai perwakilan dari asosiasi untuk mengawasi para tamu asing ini dan sekaligus sebagai penerjemah bagiku, soalnya kedua tamu ini gak ada bisa bahasa Indonesia sepenuhnya.
"Maaf mengganggu waktu santai Anda, Tuan. Perkenalkan nama saya Grace Halena," ucapnya dalam bahasa Inggris. "Kedatangan kami sini ingin menawarkan sesuatu pada Anda." Sembari menyodorkan sebuah surat dan aku meminta Adam membacanya untukku karena ini menggunakan bahasa Inggris, tapi tampak Adam sangat terkejut melihat isi kertas itu.
"Dasar mereka ini...!"
Sebelum membacakannya perwakilan satunya lagi memperkenalkan dirinya padaku.
"Perkenalkan juga, namaku Adiputera Aqsad," ucapnya dalam bahasa Melayu. "Aku rasa tujuan terlihat jelas datang ke sini. Jadi... kami tak akan memperlambat hal ini, kumohon bacalah." Sembari memberikan kertas yang sama sebelumnya.
Adam menerima kertas dan membuat dirinya semakin terkejut saat membacanya, aku hanya bisa bingung melihat dirinya terpaku pada kedua kertas itu.
"Apa isinya?" tanyaku.
"Inti poin kedua kertas ini adalah... mereka ingin merekrut dirimu bergabung dalam guild mereka," jawab Adam.
Mendengar itu membuatku cukup terkejut, aku tak menyangka kedua orang asing ini berani mengambil suatu hal dari negara orang lain. Tapi melihat ketenangan mereka, tampaknya hal ini sudah terencana baik, dasar permainan politik.
"Ditambah mereka memberikan penawaran fantastis, dengan berbagai kebutuhanmu akan langsung terpenuhi selama kamu memintanya. Intinya mereka menawarkan hadiah luar biasa untukmu," lanjut Adam.
Aku hanya bisa mengangguk mendengar itu dan bisa kubayangkan seperti apa hadiah mereka berikan kepada.
"Apa tidak masalah mengambil Rank-S milik negara lain? Itukan akan menimbulkan konflik."
"Sebenarnya Tuan, hal itu tidak akan jadi masalah besar," ucap Grace dalam bahasa Indonesia dan itu membuatku sedikit terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Yang dikatakan Nona Halena benar, Tuan," ucap Aqsad dalam bahasa Melayu.
"Ada peraturan tak tertulis... mungkin lebih tepatnya suatu kebebasan bagi individu tersebut. Setiap Pilar Negara yang tak terikat suatu organisasi, mau itu guild dan asosiasi, mereka bebas memilih ke mana pun mereka pergi. Dengan syarat mereka tetap memegang teguh kewarganegaraan mereka, ini salah satu bentuk pemerintahan menjaga 'kepemilikan' mereka dari negara lain," jelas Adam.
"Apa jadinya jika mereka pindah kewarganegaraan?"
"Pemerintah tak bisa berbuat banyak dan mengalami kerugian besar, sebab 'harta' berharga mereka telah berhasil direbut dan negara yang berhasil merebut 'harta' dari suatu negara lain, berhak menebus suatu denda sangat besar dan itulah yang disepakati asosiasi dan pemerintah seluruh dunia," lanjut Adam.
Sekarang aku mengerti kenapa para Rank-S diperlakukan selayaknya anak emas. Dan inilah alasan kenapa tindakan ilegal mereka juga jarang terekspos dari dunia luar, hanya karena mereka berharga bagi negara tersebut.
"Jika ada suatu Pilar Negara pindah kewarganegaraan, itu membuktikan--bahwa layanan negara tersebut terhadap 'pahlawan' mereka sangatlah buruk," ucap Grace.
Mendengar itu sudah membuktikan keserakahan mereka. Sekarang posisiku saat ini tak lebih hanya sebatas bongkahan berlian siap digunakan kapan pun.
"Tapi ada pun juga sampai tak perlu mengganti kewarganegaraannya," ucap Aqsa. "Biasanya mereka sering melakukan hal ini, atau biasa disebut hubungan kontrak."
"Hubungan kontrak?"
"Kita ambil saja contoh Pilar Negara kita yaitu... Gading Himar," ucap Adam.
Mendengar nama itu entah kenapa membuatku sedikit kesal, padahal aku tak pernah bertemu dengannya, atau mungkin aku malah teringat dengan adiknya.
"Dia sudah menjalin hubungan kontrak dengan beberapa guild berbagai negara dan termasuk guild mereka," lanjut Adam sembari menatap Aqsad. "Hubungan kontrak ini, kamu hanya sebatas 'anak tiri' di guild tersebut, tapi diperlakukan secara istimewa. Kamu akan menjadi anggota guild tersebut selama kontrak berjalan."
"Berarti orang tersebut harus tinggal di negara itu selama kontraknya habis?" tanyaku.
Dan Adam hanya mengangguk. Aku hanya bisa memikirkannya, dan meminta Adam memberitahukan semua hadiah fantastis dari mereka.
Tapi tampak Adam sedikit ragu dan gelisah sesaat memberitahukan semua isi surat tersebut.
"Apa dia akan menerima tawaran mereka?" pikir Adam yang sedikit cemas."Itu bisa saja dia terima sih. Mengingat pelayanan mereka jauh lebih baik daripada kami."
Aku bisa merasakan sedikit kegelisahan dari Adam dan aku masih memikirkan semua tawaran menggiurkan mereka.
"Jujur saja, ini sangat menguntungkan. Hanya saja...." Sembari menutup mata dan mengingat Ayah yang memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. "Aku pun tak akan melakukan hal ini saat mengetahui Ayah yang memiliki sikap seperti itu."
Setelah berpikir sejenak, aku sudah memutuskan untuk tak menerima tawaran mereka dan tentu itu membuat pihak penawar terkejut, dan di sisi lain Adam sangat lega terlihatnya.
"Apa ada yang tidak memuaskan dari tawaran kami?" tanya Grace. "Kalau memang begitu masalahnya, saya bisa langsung menghubungi ketua guild kami untuk memberikan tambahan pada tawaran tersebut."
__ADS_1
"Bukan begitu, aku masih memiliki beberapa hal harus diurus dan aku tak punya waktu untuk pergi ke tempat lain, apalagi keluar negeri."
Grace dan Aqsad saling memandang, mereka gagal mendapatkan hubungan kontrak dengan Rank-S di negara ini. Mengingat kekuatan pemuda ini di luar perkiraan banyak orang selagi umurnya masih muda, dan masing-masing ketua pihak guild mengirim perwakilan untuk mendapatkan hubungan terdekat dengan pemuda ini.
"Kalau ada masalah yang membuat Anda kesulitan, kami bisa membantu kapan pun," lanjut Grace.
Aku masih menolak tawaran mereka dan menurutku ini bukanlah masalah yang harus melibatkan orang-orang seperti mereka. Karena aku pun tahu seperti apa yang harus kulakukan sekarang.
Tampak Aqsad memperhatikan pemuda ini dengan seksama dan dia hanya bisa tersenyum dalam hatinya, dan terlihat dia sudah mempunyai solusi hal ini.
"Aku rasa terpaksa menggunakan informasi ini," pikir Aqsad. "Apa ini karena orang tuamu?"
"!!"
Adam dan Grace sangat terkejut, dan terutama Adam yang sudah melihat seperti apa sikap pemuda ini jika menyinggung mengenai kedua orang tuanya yang telah hilang.
["Kehadiran kematian" telah di gunakan.]
"Apa maksudmu?!"
Pertanyaan yang mengintimidasi dari pemuda dan membuat semua orang di ruangan ini merasa gemetaran seketika.
"Ke... kenapa tubuhku tiba-tiba tak hentinya gemetar?" tanya dalam hati Grace.
Adam spontan memegang lehernya dan merasakan sensasi yang sama saat di ruang interogasi saat itu.
"Waw, benar-benar kehadiran yang mencekam sekali."
Tapi beda halnya dengan dengan Aqsad, tampak dia sangat tenang di bawah tekanan ini dan itu membuatku sedikit terkejut melihatnya.
"Tampaknya dia memiliki kemampuan untuk melindungi pikirannya. Kalau memang begitu...."
Seketika suasana sangat dingin, terutama Aqsad yang merasakannya terlebih dahulu.
"!!!"
Aqsad sangat terkejut dalam diam dan mengeluarkan keringat dingin di keningnya. Membuatnya sulit untuk bergerak beberapa saat ini.
"Grrrgh...!"
Tap... Tap... Tap...
Yah, itu disebabkan hadirnya serigala hitam yang besar ini, dan dia berjalan dalam kegelapan. Keberadaan dirinya hanya diketahui olehnya dan memandang Grace dan Adam, tampak mereka tidak merasakan kehadiran makhluk buas ini dan memandang pemuda itu setelahnya.
"Grrrgh...!!"
Serigala hitam ini semakin dekat dan tampak taring tajamnya siap menerkam kepalanya. Aqsad sudah tidak tahan akhirnya buka suara.
"Kumohon hentikan, Tuan," pintanya.
Ush...
Seketika kegelapan itu menghilang di sekitarnya. Yah, aku meminta Norum untuk mengancam pria di hadapannya, dan Norum bisa melakukan itu berkat "Hukum" yang aku gunakan padanya.
"Dari mana kau tahu informasi itu, padahal informasi ini hanya asosiasi yang tahu."
"Aku minta maaf telah menyinggung hal ini, kami bisa dapat informasi tersebut setelah melakukan beberapa penyuapan, pada anggota asosiasi."
Adam mendengar itu tak menyangka jika informasi mengenai Pilar Negara mereka semudah itu bocor hanya karena beberapa suapan.
Adam memandangku langsung minta maaf dan katanya akan memberikan pelajaran pada beberapa anggotanya ini dan memecatnya juga.
Aku hanya bisa memakluminya, karena hal ini bisa saja terjadi kapan pun.
"Sampai mana kau tahu informasi ini?" tanyaku.
"Saya mengetahuinya sampai di mana kedua orang tua Anda mengalami kecelakaan dan hubungan keluargamu juga, sisa saya tidak tahu latar belakang orang tuamu dan masa lalunya."
Mendengar jawaban itu, tampaknya dia sangat jujur. Dan itu cukup membuatku lega sesaat, sebab informasi kecelakaan orang tuaku sangat tertutup oleh media dan bahkan bekas kecelakaan mereka sangat bersih, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu di sana. Dulu aku sudah melaporkan hal ini ke pemerintah dan asosiasi waktu itu, tapi semua itu tak digubris dan seolah ditutupi begitu saja tanpa perkara.
Setelah mengetahuinya sekarang, ternyata orang tuaku ini memiliki hubungan yang cukup "dalam" dengan PT. Hanjar dan bisa saja semua berita kematian mereka ditutupi atas permintaan perusahaan ini.
Menghela napas dan pusing memikirkan hal ini, itulah situasiku saat ini. Aku masih merindukan kehadiran mereka walau hanya jasadnya ditemukan, tapi setidaknya aku dan kedua Adikku bisa berziarah pada makam yang ada isinya. Bukan pada makam bohongan yang aku sewa sampai sekarang.
"Sejujurnya Tuan, kedatangan kami ke sini bukan untuk menjalin hubungan kontrak dengan Anda," ucap Aqsad. "Kami ingin merekrut Anda dalam guild kami dan, tentunya sangat mengharapkan Anda pindah kewarganegaraan."
"!!" Adam geram dalam hatinya dan tak menyangka orang ini atau lebih tepatnya guild mereka, terang-terangan ingin 'menculik' Pilar Negara di wilayah pesaingnya.
"Kamu tahukan, jawabanku akan tetap sama."
"Kami sudah menduga hal itu, dan ketua kami sangat menginginkan Anda. Dia meninggalkan pesan pada kami, katanya 'kau memiliki kekuatan yang sama denganku, bagaimana kalau kau bergabung denganku dan bersama mencapai tujuan kita'."
Mendengar itu membuatku membuat terkejut, apa maksudnya ketua dia aku sama seperti dirinya. Tapi satu hal pasti, orang itu mungkin salah satu dari "Mereka" atau ini jebakan bagiku, sebab yang bisa mengetahui energi ini cuma "Mereka".
"Untuk saat ini, aku belum bisa menemuinya, nanti aku sendiri yang mendatanginya jika sudah tepat bagiku situasi ini."
"Baiklah, kami nantikan kunjungan Anda."
Setelah lama obrolan ini, aku tetap memutuskan untuk tidak menandatangi hubungan kontrak mereka. Walau terlihat sedikit kecewa, mereka tidak mempermasalahkan hal ini, sebab ini hal biasa terjadi.
sisi lain Adam sangat lega, tampaknya hal ini berat baginya. Sebab salah satu aset penting negara akhirnya tak berhasil direbut.
"Kalau begitu kami permisi," pamit Adam.
Adam mengantar tamu-tamu penting ini ke hotel mereka yang sudah disediakan asosiasi.
"Sudah hampir tengah hari." Sembari menatap jam dinding. "Sebaiknya aku mengunjungi pak tua itu... 'Pengikat jiwa'."
****Chin****!
Seketika pemuda itu menghilang dan menuju tempat yang ia tuju.
...•••...
Pukul 11.46
Di suatu tempat kantor asosiasi biro keamanan....
Chin!
"'Penyelamat'!"
Agus yang terkejut atas kehadiran tiba-tiba diriku.
"Apa aku datang waktu tidak tepat?"
"TIdak juga, kebetulan aku ingin menghubungimu tadi."
Walau dia berkata begitu, tampak setumpuk berkas di atas mejanya tidak berbohong--bahwa dirinya sangat sibuk. Tapi dia masih menyempatkan waktu buatku.
"Baiklah, aku langsung ke intinya saja. Kamu sudah mendengar para perwakilan asing ini datang ke rumahku kan."
"Ya, aku sudah mendengar semuanya dari Adam. Aku tak menyangka kamu menolak tawaran menggiurkan mereka."
"Saat ini, hal itu bukan hal penting bagiku lagi."
Agus hanya tersenyum seolah-olah doanya telah dikabulkan oleh sang Dewa.
"Jadi... apa kamu ingin mengetahui mengenai ketua guild dari Malaysia itu?"
Aku hanya mengangguk dan Agus mulai menjelaskan semuanya yang ia ketahui.
Ini bermula 4 tahun lalu, saat itu terjadi munculnya dungeon Rank-S yang berhasil muncul di tengah-tengah pusat kota. Ajaibnya, tak ada korban sama sekali dari insiden itu, mau itu dari orang Terbangkitkan atau warga sipil.
Saat itu muncul cahaya hijau menyilaukan yang berhasil melindungi melindungi semua orang di sana. Saat situasi menegangkan itu, dia muncul dan membawa harapan dan berhasil menghalau serangan monster, yang keluar dari portal dungeon.
"Mungkin saat itu banyak orang percaya bahwa dia menyelesaikan insiden itu sendirian. Bagiku itu tidaklah demikian."
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Soalnya kejadiannya sangat kebetulan sekali. Bukan hanya kejadian dungeon bencana di Malaysia, tapi beberapa negara pun mengalami hal serupa dan diselesaikan oleh satu orang saja. Seolah-olah kemunculan heroik mereka sudah direncanakan."
"Jadi maksudmu...."
"Ya," jawab Agus sambil mengangguk. "Aku sangat yakin 'Mereka' ada dibalik aksi heroik orang-orang ini. Semenjak kemunculan orang-orang kuat ini, keberadaan '4 Pliar Bumi' telah perlahan memudar dan terlupakan. Walau nyatanya organisasi kami hancur, tapi seharusnya tak semudah itu terlupakan."
"Mungkin keberadaan orang-orang ini memang direncanakan untuk menghilangkan reputasi organisasi kalian."
"Iya itu memang benar, pergerakan organisasi kami sudah berhenti sejak lima tahun lalu."
"Tunggu dulu. Bukannya kamu bilang bahwa, '4 Pilar Bumi' sudah bubar 10 tahun lalu, sejak penyerangan oleh 'Mereka'?"
Agus memahaminya dan mengatakan bahwa itu memang benar. "4 Pilar Bumi" sudah bubar sejak saat itu, atau mungkin lebih tepatnya dihancurkan oleh "Mereka". Tapi, orang-orang yang berhasil dikirim termasuk Agus juga, untuk menemukan sang "Penyelamat" dimaksud.
Beberapa dari mereka tetap melaksanakan tugas mereka sebagai bagian dari organisasi"4 Pilar Bumi" yang bertugas untuk melindungi bumi ini, hanya saja keberadaannya sedang dicari oleh "Mereka" buat dimusnahkan dan, sisa-sisa saudara organisasi Agus terpaksa menjalankan cara lain sebagai "orang misterius" yang dikenal banyak guild di dunia. "Orang misterius" terus memberikan arahan dan ramalan mengenai munculnya dungeon dan bencana akan datang menimpa umat manusia di masa akan datang, dan ada banyak guild tidak mempercayai "orang-orang misterius" ini dan tidak sedikit juga mempercayainya, dan mengikuti apa yang disampaikannya.
"Dan semenjak saat itu, 'orang-orang misterius' telah dicurigai oleh 'Mereka' dan berhasil menemukannya," lanjut Agus dengan wajah sedikit sedih.
Aku mengerti Agus sedih menceritakan hal itu.
"Apa kau bagian dari 'orang misterius' juga?"
"Tidak. Aku bukan bagiannya."
Agus menjelaskan bahwa dirinya tak bisa ikut rencana saudara-saudaranya itu karena permintaan atas dari mereka sendiri. Mereka meminta Agus untuk bertahan hingga sang "Penyelamat" dimaksud ditemukan dan membantunya, biarkan mereka saja melaksanan tugas terakhir sebagai orang-orang "4 Pilar Bumi" yang melindungi bumi dan orang-orang.
"Tapi bagaimana kamu bisa bertahan sampai sekarang dan tidak ditemukan oleh 'Mereka'?"
"Itu karena mantra kuno yang dititipkan Master padaku."
"Mantra kuno? Aku baru mendengar hal semacam itu."
"Itu wajar saja orang-orang gak pernah mendengarnya. Sebab sihir atau mantra itu langsung terikat dengan 'Artifak Sakral', dan sebagai anggota dari organisasi itu, kami terikat dengannya. Walau hanya sedikit kami dapatkan dan hanya Master saja sebagai pewaris sah bisa menggunakan kekuatan 'Artifak Sakral' sepenuhnya."
Sihir aneh dari "Artifak Sakral" sangat berbeda dengan sihir pada umumnya. Sebab, energi aneh dipancarkan keempat benda itu sangat berbeda dengan Mana yang ada di sekeliling. Mana yang dipancarkan artifak seolah-olah bukan berasal dari bumi dan sangat berbeda. Sehingga penggunaan "Artifak Sakral" sangatlah jarang walau pewarisnya sekalipun.
"Tapi, artifak itu ada ditangan 'Mereka'. Bagaimana kamu bisa menggunakan mantra itu?"
"Iya itu benar. Ada cara lain menggunakan mantra itu tanpa 'Artifak Sakral'... aku perlu menggunakan sisa kehidupanku saja."
Aku terkejut mendengar itu. Dan Agus mengatakan mantra ini hanya digunakan untuk menyembunyikan keberadaannya dari "Mereka" dan tidak untuk bertarung.
Agus bangkit dari duduknya dan menunjukkan mantra itu depan mataku.
"Dimurem..."
Bip... Wush...
Angin kecil berhembus sekitarnya dan aku hanya bisa diam memaku pada apa yang dia perlihatkan padaku.
"Ini... bukankah ini 'Hukum'!"
Setelah selesai menunjukkannya, aku masih terdiam apa yang kulihat. Aku tak menyangka bahwa itu adalah "Hukum". Yang dikatakannya juga benar, perlahan-lahan aku merasakan energi kehidupannya mulai meredup.
"Apa kamu menggunakan kemampuan ini setiap waktunya. Bukankah itu sangat berbahaya dan bisa membunuhmu kapan saja."
"Ya aku tahu. Tapi, aku masih bersyukur pada Dewa, sehingga aku diberi umur panjang walau aku sudah menggunakan kemampuan ini selama 10 tahun lebih."
Yah, ini benar-benar perjalanan yang sangat panjang bagi Agus. Aku pun tak akan berpikir untuk melakukan hal seperti ini untuk waktu lama jika berada di posisinya.
Kagum dan salut, hanya itu aku lontarkan dalam pikiranku. Mendengar semua perjuangannya itu, sudah sangat menambah beban pada hatiku dan harus memenuhi semua ekspetasi mereka.
Ya aku tahu, ada alasan kenapa aku yang harus memenuhinya, ada alasan kenapa aku yang terpilih, dan ada alasan kenapa aku harus melakukan semua hal ini.
"Baiklah, terima kasih atas semua informasinya. Aku harus segera pergi."
"Ya, hati-hati."
Aku langsung menggunakan skill "Pengikat jiwa" lagi, walau aku sudah menggunakan skill ini sebelumnya. Tapi berkat skill ini naik level, jadi cool down pada skill ini dipersingkat dan aku bisa menggunakannya lagi sekarang.
Chin!
Pemuda itu sudah menghilang dan menyisakan pria tua yang memandang dengan tatapan kosongnya.
"Uhuk...!"
Sesaat mulutnya mengeluarkan darah dan segera membersihkannya, agar tak siapapun melihat kondisinya ini. Tapi dia hanya tersenyum mengetahui keadaannya saat ini.
"Aku rasa waktuku tidak lama lagi. Tapi aku tak menyesal sama sekali."
Walau pandangannya tak seperti dulu lagi untuk memandangi dunia, tapi hati dan harapannya untuk dunia ini masih sama seperti dulu.
...•••...
Pukul 12.08
Di suatu tempat yang sepi tak jauh dari kantor asosiasi biro keamanan...
Chin!
"Hei, berhenti."
"?"
Setelah sekian lama semenjak insiden pertarungan itu. Suara yang selama ini membantuku melawan bos dungeon Rank-S.
"Akhirnya kamu keluar juga. Ada banyak hal ingin kutanyakan padamu."
"Simpan semua rasa penasaranmu itu. 'Kami' tak banyak waktu sekarang!"
Mendengar suaranya kali ini malah membuatku malah kesal. Tapi tampaknya ada hal serius ingin dia bicarakan padaku.
"Jadi? Apa yang kamu inginkan?"
"Tampaknya kamu penasaran dengan kemampuan yang dimiliki pak tua itu."
"Ya itu benar. Aku merasa dia menggunakan semacam 'Hukum'. Tapi... justru aneh bagiku, kenapa kemampuan itu malah merusak dirinya."
"Itu bukan 'Hukum'."
Mendengar itu membuatku terkejut, aku masih percaya apa yang kulihat barusan bahwa itu adalah "Hukum", dan apa maksud Morspect bahwa itu bukan "Hukum".
'Kami' tahu bahwa kau tak percaya dengan hal ini," lanjut Morspect. "Sebab, 'Hukum' milik 'Dia' tak pernah diperuntukkan untuk menyakiti anak-anaknya."
"Bukan 'Hukum'? Lalu yang kulihat barusan itu apa, jelas-jelas itu seperti 'Hukum'."
"Ya, 'Kami' tahu kau akan berpikir seperti itu. Tapi kamu ingat, bahwa 'kami' hanya pecahan kekuatan saja."
Aku baru ingat bahwa Mosrpect pernah berkata bahwa dirinya punya saudara (pecahan) lain dirinya yang saat ini digenggam oleh "Dia".
"Dan kamu juga pernah menggunakan kekuatanku yang hampir menyerupai 'Hukum' milik 'Dia'. Tapi itu bukan 'Hukum', itu murni kekuatan 'kami'," lanjut Mosrpect.
Ya aku baru ingat, saat itu aku menggunakan kekuatan yang kupikir itu adalah "Hukum" saat menggunakannya pertama kali, saat di kamar orang tuaku dan kedua kali menggunakannya saat tak jauh dari kantor asosiasi biro keamanan. Dan ternyata "Hukum" milik "Dia" selama ini disegel oleh Mosrpect sebelum insiden dungeon Rank-S itu, dan aku bisa menggunakannya sekarang sebab aku memahami keinginan Mosrpect.
Dan Mosrpect melanjutkannya bahwa yang kulihat itu adalah salah satu kekuatan dari saudaranya.
"Aku belum tahu apa-apa mengenai semua saudaramu ini, kalian tak keberatan memberi tahuku kan?"
Mosrpect terdiam cukup lama, dan akhirnya dia mengatakan bahwa semua hal ini belum waktunya baginya memberi tahuku semuanya. Sebab, ada perjanjian dirinya dengan "Dia".
"Baiklah, aku mengerti." Sembari menghela napas karena belum menemukan apa yang ingin aku ketahui.
Setelah itu, Mosrpect pergi lagi dalam kegelapan di dalam tubuhku dan terdiam untuk waktu lama lagi.
"*Huff*... Benar-benar menyebalkan!" Sembari menatap langit yang cerah, seolah-olah langit cerah ini menunjukkan bahwa dunia masih baik-baik saja. Tapi siapa sangka bahwa aku... harus menghadapi semua hal ini dari sekarang.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang segera, si Kembar pasti mencariku... 'Pengikat jiwa'!"
Chin!