
Bomm!!
Durr..!!
Ledakan dari serangan itu membuat dungeon ini bergetar sangat hebat dan hampir membuat tempat ini runtuh juga.
"Kyaa!!!"
"Serangan sekuat itu bisa membuat dungeon ini runtuh!"
Para manusia itu sangat terkejut akan ledakan yang disebabkan serangan yang dilancarkan pemuda di atas sana.
Tapi, para The Arcana milikku berhasil melindungi mereka semua termasuk para pria yang masih di dalam jeruji besi itu.
Syuussh...!
Satu tebasan terkuat dari Excalibur membuat tempat ini hampir runtuh. Aku mencoba untuk bisa menahan diri agar mereka tak terkena imbas dari serangan ini.
Aku melihat mayat Goblin pemilik dua pisau besar itu telah tertidur dengan tanah yang sudah hancur di bawahnya.
"Sudah berakhir..."
Tap!
Aku langsung turun setelah melayang di udara dengan skill "Pemilik sejati"-ku. Aku mendekat dan melihat dari dekat tubuh Goblin itu, tubuhnya benar-benar mengalami banyak luka goresan walau serangan sekuat ini tidak menghancurkan tubuhnya sama sekali.
Aku berbalik dan melihat segala arah, semua Goblin yang ada di sini berhasil dibasmi semuanya dan aku melihat Sparta membebaskan para pria dari jeruji besi itu.
"Akhirnya selesai juga."
Aku langsung berjalan ke arah Susan yang masih tak sadarkan diri.
"Sekarang kita bisa keluar dari si---"
Deng!
Tiba-tiba aku merasakan perasaan buruk dan aku langsung berbalik ke arah mayat Goblin yang aku bunuh barusan.
"Tuan, ada apa?"
Salah satu dari mereka mengajukan pertanyaan, mereka semua langsung kebingungan saat aku tiba-tiba terdiam saat berbicara.
Aku berbalik lagi dan melihat mereka semua sudah berkumpul semua.
"Sial! Ini belum berakhir...!" Pikirku sembari menatap mereka semuanya. "Semuanya! Cepat keluar dari sini!"
Mereka semua terkejut karena aku langsung menyuruh mereka pergi dari sini cepat dengan ekspresi sedikit panik.
"Tuan, apa terjadi sesuatu?" Tanya wanita penyihir itu. "Kenapa kamu terlihat panik begitu?"
Tampak semuanya semakin bingung dan aku terus memandangi Goblin itu dengan sedikit sinis.
"Sebaiknya kalian keluar dari sini cepat karena penguasa tempat ini akan keluar."
Saat mendengar itu mereka semua terkejut.
"Penguasa... berarti bos?"
"Ya."
Seketika mereka semua mulai semakin ketakutan lagi, tapi... dengan arahan cepat dari pria besar itu, pria yang pernah memukul Susan kini dia sendiri yang membawa Susan keluar dari sini.
"Bang, kenapa kamu hanya diam saja?" Tanya pria besar itu.
"Kalian duluan saja, aku akan menahan bos itu karena portal di luar sana sudah retak dari tadi," ucapku sembari menatap dirinya yang menggendong Susan seperti tuan putri. "Kalau kalian ingin membantu setidaknya saat kalian keluar, suruh beberapa Venandi dan Protector Rank-B ke atas untuk datang ke sini. Dan satu hal lagi... tolong langsung bawa Susan ke rumah sakit saat kalian keluar."
Pria besar itu hanya diam sejenak dengan mulut sedikit menganga dan tatapan akan kagum dengan orang yang dilihatnya. Dia hanya mengangguk saja dan langsung pergi sembari membawa Susan, ia juga berpesan kepadaku untuk bertahan sampai bantuan datang.
Durr...!
Bush...!
Seketika dungeon bergetar hebat dan ada banyak Mana berkumpul pada satu tempat.
"Akhirnya keluar juga... bos tempat ini."
Bussh..!!
"Hahahah..!!"
Tiba-tiba ia tertawa dan suara tawanya ini menggema di sini dan itu cukup mencekik pendengaranku.
"Hahahah!!! Akhirnya... aku... bebas!!"
Busss..!!!
"Hm? Semua Goblin itu..."
Pancaran Mana-nya semakin pekat dan bukan hanya itu, semua jasad Goblin-Goblin ini semuanya menghilang dan hancur sekecil mungkin, terlihat mereka semua telah menyatu dengan Mana yang terbang di langit-langit itu.
Busssh..!!!
Mana-nya semakin mencekam dan bos kali ini sangat berbeda dengan para The Arcana saat aku melawan mereka dulu.
"Tak kusangka... bahwa kau penguasa tempat ini."
__ADS_1
Goblin itu bangkit dari lubang besar itu dan tampak ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari sebelumnya. Penguasa tempat atau bos tempat ini adalah Goblin yang pemilik dua pisau besar itu, yang sudah bertarung denganku barusan.
"Hahahah!! Tak kusangka aku akan bertarung dengan wujud asliku!"
Bussh...!!
Energi sihir miliknya benar-benar kuat, tanpa skill "Mata Dewa" pun aku bisa melihat jelas Mana miliknya sangat melimpah.
Krek!
Piuh!
"...?"
Tiba-tiba dia mengangkat kedua tangannya dan seluruh benda yang digunakan saudara-saudaranya itu tiba-tiba terbang ke arahnya. Orb, tongkat sihir, tombak dan perisai, lalu yang terakhir lusinan pisau kecil terbang mengelilinginya. Di kedua tangannya itu dia genggam dua pisau besar itu.
"Mari kita lanjutkan lagi pertarungan ini!"
Melihat bajingan ini semakin ganas membuatku sedikit kesal kepadanya, tapi... aku merasakan sedikit senang karena aku bisa menguji beberapa hal mengenai kekuatan yang diberikan oleh sistem ini.
"Kalian semua kembalilah..."
"Tuanku, maaf hamba lancang, Anda tak perlu melawan hama itu lagi biar aku dan saudara-saudaraku menghadapinya," ucap Lucifer sembari membungkukkan sejenak tubuhnya dan mewakili keinginan The Arcana lainnya.
Aku melihat mereka semua sedang memohon padaku, lalu aku melihat Goblin besar itu sedang menyeringai padaku. Tampaknya ia mengerti apa yang kuinginkan dari pertarungan ini.
"Menarik," kataku sembari tersenyum.
Lucifer yang menyadari itu langsung melihat wajahku yang menampakkan sebuah senyuman penuh arti dan tatapan akan semangat.
"Tuan..."
Tanpa aku beri mereka perintah lagi, mereka semua langsung kembali ke dalam diriku terkecuali Norum yang masih berdiri di sampingku.
"Baiklah Kawan, saatnya kita serius kali ini."
"Grrrgh...!"
"Sudah saatnya aku mencoba ini di luar dungeon buatan sistem... mode Heredis!"
...•••...
...•••...
Satu setengah jam yang lalu...
Sesaat di luar dungeon...
Tampak banyak wajah kekhawatiran di luar dungeon ini.
Keraguan masih melanda mereka dan masih banyak berharap agar semuanya selamat.
"Apa yang terjadi di sini?"
Tiba-tiba muncul suara asing dari belakang mereka dan sontak itu membuatnya semua sedikit terkejut dan berbalik ke arah suara itu.
"Pak Arya!"
Seketika wajah mahsiswa dan mahasiswi sangat senang karena pembimbing mereka telah datang.
"Aku baru di tengah perjalan menuju guild, tapi kalian semua tiba-tiba menghubungiku dan sangat panik."
"Syukurlah, Bapak datang."
Semua murid pria itu langsung menghampiri dirinya dan orang yang dipanggil Arya ini langsung memandangi portal besar itu yang berada tepat di hadapannya.
"Tak kusangka akan muncul portal sebesar ini pasti peringkatnya berada di C atau B ke atas, mengingat energi sihinya yang sangat besar dan lagi...," ucap Arya sembari menatap portal itu. "Sudah mengalami retakan, apa ada yang terluka?"
Semua muridnya menggelengkan kepalanya dan salah satu muridnya langsung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat pembimbingnya ini pergi.
"Begitu ya, Bambang dan yang lainnya masuk ke portal itu untuk menutupinya, dan lebih mengejutkan lagi... ada Protector Rank-A di antara mereka, dan lagi dia juga kuliah di sini. Aku tak menyadari keberadaan dirinya sama sekali sejak satu bulan ini."
Setelah mendengar semuanya, Arya langsung maju menuju portal itu dan mencoba untuk masuk.
Tapi...
"Hmm, begitu ya... portal ini menolakku masuk."
Saat mendengar itu semua muridnya sangat terkejut, bahkan Venandi Rank-A terkuat di guild-nya tidak bisa menembus portal itu.
"Bapak yakin tidak bisa masuk?" Tanya Deni yang mewakili kepemimpinan Bambang.
"Iya, aku tak bisa masuk dan baru kali ini aku melihat dungeon menolak orang Terbangkitkan masuk selain orang biasa."
"Sebenarnya Pak, ada orang kuat masuk ke dalam portal itu dan tidak mengalami penolakan sama sekali."
Saat mendengar itu membuat Arya sangat terkejut dan penasaran akan sosok hebat ini.
"Dia dari guild mana dan rank apa dia?"
"Sebenarnya kami tidak tahu sama sekali identitasnya dan yang pasti dia kenalan dari wanita Protector Rank-A itu, Pak."
Setelah mendengar itu membuat Arya sedikit lega, tapi di sisi lain dia sangat khawatir akan murid-muridnya yang di dalam sana, sekaligus penasaran sosok orang hebat ini yang bisa menembus portal yang menolaknya ini untuk masuk.
"Apa kalian sudah menghubungi asosiasi biro keamanan?"
__ADS_1
"Sudah Pak, katanya mereka segera menuju ke sini."
"Begitu ya. Aku benar-benar lalai sehingga murid-muridku dalam bahaya. Aku akan meminta Master untuk membangun segera cabang di sekitar sini dan aku sendiri akan memimpin cabang ini, sekalian mengawasi tempat ini."
"Bapak tak perlu merasa terbebani, ini bukan salah Bapak tapi... cuma kami saja yang lemah dan tak bisa mengatasi hal ini."
Mendengar itu membuat Arya sedikit terpukul, dia sangat terharu akan kesadaran diri mereka dan masih tetap ingin membereskan masalah ini.
"Kuharap semuanya selamat," ucap Arya.
Crack!
"...?"
Bisss...!
Tiba-tiba muncul sesuatu dari portal itu.
"Itu... itu mereka! Semuanya selamat!"
Orang-orang yang berada dalam dungeon berhasil keluar dengan selamat dan tangisan haru disambut oleh teman-teman mereka.
"Ketua..."
"Deni! Aku pinjam mobilmu cepat!"
Deni yang kebingungan tiba-tiba barang miliknya dpinjam oleh ketuanya, tapi ia langsung segera memberikan kunci mobilnya dan orang yang dipanggil ketua ini, meminta teman-temannya yang terluka ikut dengannya ke rumah sakit.
"Jadi dia wanita Protector Rank-A."
"Iya Pak, namanya Susan yang berasal dari fakultan keguruan dan pendidikan."
"Muridnya Bu Sanas ya," ucap Arya sembari menatap Susan. "Sayang sekali jika orang sehebat dia tidak masuk ke kelasku, dan mungkin dia juga bisa diterima guild mana pun tanpa melewati proses apa pun."
Arya memperhatikan Susan yang tak sadarkan diri, dan melihat energi sihir dalam diri Susan sedikit melemah dan Arya melihat ini sedikit terkejut.
"Bambang gunakan mobilku untuk membawa mereka," ucap Arya sembari melempar kunci mobilnya.
Bambang mendengar itu langsung berbalik dan menangkap kunci itu, dia sangat terkejut melihat orang yang melemparinya kunci mobil ini.
"Pak Arya! Aku minta maaf karena tak menyadari Bapak ada di sini."
"Tidak apa-apa, cepat bawa teman-temanmu yang terluka sebelum semuanya semakin ga---"
Crack! Crack!
"Pak portalnya!"
Semua orang melihat portal itu sangat terkejut, tiba-tiba portalnya mengalami lonjakan energi sihir yang sangat besar.
"Portalnya... mengalami distorsi!"
Mendengar itu membuat semuanya semakin terkejut dan terlihat portal itu semakin menyusut dengan kata lain portal itu tidak akan bisa dimasuki sampai bosnya dikalahkan atau orang-orang yang masuk di dungeon itu mati.
"Ketua! Orang itu ada di mana?"
Bambang mendengar itu baru menyadarinya dan seketika wajahnya panik.
"Dia masih di dalam sana!"
Mendengar itu membuat semuanya terkejut.
"Dia sedang menahan bos monsternya di dalam sana dan memintaku untuk memanggil bala bantuan setingkat Rank-B ke atas, tapi kalau sudah portalnya mengalami distorsi... bagaimana kita membantu dia?" Lanjut Bambang.
Mendengar itu membuat Arya sedikit kesal, pikirnya ia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu penolong murid-muridnya ini.
"Aku akan menghubungi pusat untuk mendatangkan bantuan segera, jika bos monster di dalam sana berhasil keluar kita bisa langsung menghadapinya walau kita harus mengorbankan dia di dalam sana."
Mendengar itu membuat Bambang sangat terkejut dan memandangi wajah gadis yang dicintainya ini.
"Jika itu benar terjadi, bagaimana aku menjelaskan hal ini padanya?"
Karaguan masih melanda dirinya, tapi dia mengingat pesan orang itu bahwa dia harus segera membawa Susan ke rumah sakit. Dengan cepat Bambang meminta yang terluka untuk mengikutinya dan segera menuju ke arah rumah sakit terdekat.
Di sisi lain Arya meminta murid-muridnya menjauh dari portal itu dan meminta mereka bersiap siaga jika ada monster keluar dari portal itu nanti, jika portalnya mengalami bentuk semula.
Deg! Deg! Deg!
Ketegangan hanya terasa di udara ini dan mereka semua menatap portal kecil itu yang memancarkan energi sihir yang sangat kuat.
Crack!
"Hah?"
Tib-tiba portal itu mengalami bentuk semula yang berarti ada satu hal yang terjadi di dalam sana, yaitu orang yang menghadapi bos monster mati atau sebaliknya bos monster itu mati.
Glup!
Ketegangan semakin terasa dan sesuatu muncul dari portal itu.
"Apa!"
Semua orang terkejut melihat sesuatu yang muncul dari portal itu dan Arya pun sangat terkejut melihat hal ini.
"Ini... sangatlah luar biasa!"
__ADS_1