
...17-04-2030...
Pukul 08.11
BERITA TV
"Saat ini pihak asosiasi biro keamanan melakukan penutupan hutan Alas purwo, alasan ditutupnya karena ada seorang pria tua melaporkan anaknya yang hilang berhari-hari di hutan itu. Katanya dia mendapatkan tas milik anaknya dari seorang yang Terbangkitkan, dan orang itu meminta bapak ini melaporkan kejadian ini sebab ada monster yang keluar dari dungeon dan berkeliaran di hutan ini"
"Akhirnya mereka mau mendengarkan suara bapak itu, syukurlah kalau begitu."
Setelah mengantar Rena dan Reno ke sekolah, kali ini aku memutuskan pulang ke rumah. Biasanya aku langsung menuju dungeon setelah mengantarnya ke sekolah, tapi aku memutuskan menyelesaikan quest harian dan memahami situasi sekarang.
"Fiuh*, akhirnya selesai semua...."
[Quest harian:
- Push-up (100/100)
- Sit-up (100/100)
- Squat (100/100)
- Berlari sejauh 10 kilometer (10 Km)
- Bermeditasi selama 1 jam (1,00,00)
...Batas waktu...
...03.43.54...
PERINGATAN!
Akan ada hukuman sebagai balasannya jika seluruh quest belum terselesaikan hingga waktu habis.]
"Sekarang apa ya? Oh iya..."
Aku langsung membuka jendela informasi dan melihat semua status dan item yang kudapatkan.
"Item-item ini aku apa kan, ya? Kalau aku langsung jual seperti menjual Krimon, maka orang-orang mempertanyakan mengenai diriku yang dari mana mendapatkan semua item berkualitas tinggi ini."
Aku memikirkan bagaimana caranya dan langsung teringat sesuatu.
"Biasanya kan dalam game ada... shop!"
Seketika muncul jendela informasi.
[Peringatan!
Kamu belum memenuhi syarat untuk membeli barang-barang di sini.]
"Eh, pakai syarat, tapi syaratnya apa?"
Aku mencoba mencarinya dan tidak menemukan apa pun syaratnya dan aku akhirnya menyerah.
"Baiklah, saatnya mengecek partner, keluarlah kawan!"
Seketika sesuatu yang hitam keluar dari tubuhku dan membentuk serigala.
"Grrh... guk... he, he..."
"Baiklah, kita cek statusmu Kawan."
[Nama : ... (Belum diberi nama)
Evolusi : .... (Belum berevolusi)
Level : 31
Jenis kelamin : Jantan
STR : 255 INT : 142
AGI : 165 DEX : 127
VIT : 198 LUK : 122
HP : 26000/ 26000
MP : 1430/ 1430.
Skill Partner:
- Ikatan Jiwa (Pasif)
Kemampuan untuk memberikan EXP dua kali lipat untuk sang partner. Partner akan tetap dapat EXP walau tidak dipanggil.
- Kesetiaan (Aktif)
Sang partner mengorbankan HP dan MP nya, untuk memulihkan seluruh HP dan MP mu. Kamu bisa menolak pemberiannya, kemampuan ini akan aktif secara otomatis jika HP-mu dibawa 30% dan MP-mu dibawa 10%.]
"Untuk evolusi... aku bisa membayangkan dia jadi seperti apa dan untuk nama..., nama apa ya bagus untukmu?"
Aku melihat partnerku ini dengan seksama.
"Seluruh tubuh ditutupi warna hitam bak malam, serta rambut kepala yang lebat dengan warna merah tua, dan bola mata warna merah darah dengan pupil tajam..."
Tiba-tiba aku teringat dengan dua kata yang memiliki arti malam dan merah, jika dua kata itu disatukan dalam sebuah kalimat maka artinya adalah "Malam yang merah."
"Norum, mulai sekarang namamu adalah Norum."
__ADS_1
"Grrh.. guk... he... he..."
[Nama partner telah dikonfirmasi.]
[Mulai sekarang nama partner adalah Norum.]
"Baiklah, nama sudah diberikan, sekarang aku ingin mengetes sejauh mana kita bisa terhubung. Kalau begitu larilah Kawan, larilah sejauh mungkin dariku!"
"Grrh.. guk...!"
Dengan cepat dia langsung berlari.
"Wow, cepat sekali..."
Aku melakukan ini untuk mengukur seberapa jauh dua jiwa yang terbagi bisa berpisah sejauh mungkin.
"Kurasa dia benar-benar jauh ya..., eh? Apa ini?"
Seketika muncul sebuah rantai hitam pekat dari dadaku.
[Peringatan!
Jarak kamu dengan partner terlalu jauh, jika kamu dan partner berada sejauh mungkin, maka kalian akan dipaksa bersatu lagi.]
"Begitu ya, sebentar lagi Norum akan kembali."
Aku melihat rantai yang tertarik cukup tegang kini mulai renggang, yang berarti partnerku ini segera kembali.
Terlihat sesuatu yang hitam berlari sangat cepat ke arahku.
"Akhirnya datang juga."
"Grrh... guk... he, he..."
"Kerja bagus, Kawan," pujiku sembari mengelus kepalanya.
Tanpa sadar aku melihat semua ingatan Norum ketika berjauhan denganku, saat aku menyentuhnya. Jarak batas aku dan Norum hanya sejauh seribu meter.
"Berarti aku dan Norum bisa saling menghubungkan pikiran juga, menarik, menarik... bagaimana kalau seluruh indra kita terhubung, apa bisa?"
Aku menjauh sebentar darinya dan menutup mataku, mencoba menghubungkan penglihatanku dengannya.
Dan....
"Heh, itu kan aku, kenapa sangat jauh ya?"
Aku langsung terkejut, ternyata aku bisa menghubungkan penglihatanku dengan Norum. Aku pun meminta Norum mendekat ke diriku, dan aku melihat diriku menutup matanya seolah-olah buta. Tapi, aku masih bisa dengan bebas menggerakkan tubuhku walau penglihatanku ada di Norum.
Aku mengembalikan lagi penglihatanku ke tubuhku lagi.
"Hebat! Jadi pendengaran, penciuman, dan bahkan suara pun mungkin juga bisa?"
"Kerja bagus, Kawan," pujiku sembari mengelus kepalanya lagi.
"guk... he.. he..."
"Baiklah, sudah waktunya aku bekerja, kamu sudah siap kan, kawan."
"Grrh... guk...!"
Karena sudah memahami semuanya aku langsung memutuskan pergi ke dungeon Rank-F lagi. Ya... ini kulakukan untuk mencari uang, dan penangkapanku kali ini mungkin bisa menghasilkan banyak Krimon, sebab aku bukan orang yang dulu lagi.
Tapi, kalau aku tiba-tiba dapat banyak Krimon, maka orang-orang akan mencurigaiku dan menyelidiki mengenai diriku. Setelah mengetahui diriku yang memiliki sistem leveling yang membuat orang kuat secara instan, maka semuanya akan iri padaku dan lebih terburuknya lagi aku akan langsung dibunuh atau dijadikan bahan penelitian.
...•••...
Saat berjalan menuju dungeon Rank-F yang sering aku datangi, kini tiba-tiba ramai orang kumpul di sana. Aku bingung kenapa mereka tiba-tiba ada banyak di sini, apa karena dungeon ini distorsi lagi?
Aku pun maju ke portal itu, tapi... seseorang tiba-tiba menghalangiku.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ingin masuk ke sana."
"Kamu Arkha Peteng kan, Venandi Rank-F?"
Dari mana dia tahu namaku? Mungkin dia dengar dari rumor mengenai diriku yang sering masuk ke dungeon Rank-F ini.
"Iya, itu saya sendiri. Tapi, kenapa di sini sangat ramai ya?"
"Sebenarnya ini bukan lagi dungeon Rank-F, tapi sudah menjadi Rank-E setelah mengalami distorsi."
"Oh, begitu ya...."
Sebenarnya aku ingin masuk sih dan mencoba dungeon rank lain selain F, tapi aku tak ingin menonjolkan kemampuanku saat ini. Jadi, aku memutuskan berbalik.
Tapi...
"Kamu yang di sana! Tunggu...!"
Seseorang memanggilku dari keramaian itu dan berlari ke arahku.
"Tunggu dulu, apa kamu Arkha Peteng, Venandi Rank-F yang berulang kali menjelajahi dungeon ini, kan?"
"Iya, itu saya, ada apa ya?"
"Begini, apa kamu mau membantu kami?"
Perasaan ini kok merasa dejavu ya.
__ADS_1
"Bantu apa?"
"Aku ingin kamu membantu kami sebagai... pemandu."
Sudah kuduga.
"Pemandu? Untuk apa aku jadi pemandu kalian untuk dungeon yang sudah terdistorsi menjadi Rank-E."
"Jangan khawatir, orang-orang yang sudah masuk ke dalam katanya hanya 30% di dalamnya sudah berubah. Jadi, kami minta bantuanmu untuk memandu menunjukkan jalan yang aman menuju bos monsternya, tanpa harus repot-repot berurusan dengan kroco-kroconya."
Aku memegang daguku dan menundukkan mata ke bawah, aku berpikir apakah sebaiknya aku ikut mereka saja? Sekalian mencari dan seperti apa dungeon Rank-E ini.
"Kami akan membayarmu sebanyak 5 juta RP. Bagaimana, mau?"
Tawaran yang menggiurkan dan terpaksa aku harus menerimanya, sebab aku sangat butuh uang. Krimon yang aku berikan ke Pak Adrian untuk Susan sudah dikembalikan lagi kepadaku oleh Susan, dan uangnya sudah mau habis aku gunakan selain biaya makan, sekolah, tagihan listrik dan air. Aku juga menggunakannya untuk membeli belati kualitas rendah itu dan akhirnya rusak juga.
"Baiklah, aku terima."
"Bagus, tolong ikut aku."
Aku mengikutinya dari belakang, terlihat aku melihat orang-orang langsung menatapku dan yah... ini benar-benar seperti dulu.
"Bos, inilah orang yang aku maksud itu."
Seorang pria kekar dan berotot besar maju dan menghampiriku.
"Jadi kamu ya orangnya, perkenalkan aku adalah Gilang Himar, ketua dari tim ini." Lalu mengulurkan tangannya.
"Arkha Peteng." Lalu membalas uluran tangannya.
Saat salaman seketika aku merasakan hawa tekanan yang kuat darinya, serta Mana yang melimpah darinya. Kemungkinan rank dia adalah C ke atas.
Pria besar ini mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Tuan, tolong tanda tangani, sebagai bukti kalau kita sudah sepakat."
Aku mengambil kertas yang diberikannya dan tertulis di kertas itu, bahwa pembayaran kepada orang telah menandatangani ini telah disetujui, dan uangnya akan segera diberikan setelah syarat tertulis di situ terpenuhi.
Aku mengembalikan kertasnya.
"Baiklah, sudah ditanda tangani, sekarang mari kita--"
"Tunggu..! Tunggu saya...!"
Seketika kami semua berbalik ke belakang, karena mendengar teriakan seseorang.
Dan orang itu bergegas berlari ke arah kami dengan napas terengah-engah.
"Maaf... aku terlambat...."
"Tidak apa-apa, kami juga baru mulai, apa kamu Santia Wati?"
"Iya Pak, itu saya."
"Baiklah, semuanya sudah ada, mari kita masuk."
Sang ketua maju duluan ke depan dan masuk ke portal, aku di belakang menyusulnya.
"Halo, namaku Santia Wati dan kamu?"
"Arkha Peteng."
"Heh... jadi kamu ya, orang yang berulang kali masuk ke dungeon Rank-F ini dulu."
Tak kusangka aku seterkenal itu, ya... kadang posisi paling bawah akan jadi pusat perhatian banyak orang.
"Jangan khawatir, aku akan menjagamu kok," kata Santia.
"Iya, hehe... terima kasih,"
Terlihat dia seperti gadis SMP dengan Crosbow yang dibawanya.
"Apa kamu seorang Venandi Damage Dealer jauh?" Tanyaku.
"Eh, oh ini..., ini hanya untuk perlindungan diri, sebenarnya aku adalah Protenctor Rank-E dan aku hanya punya satu skill Buffer yaitu kecepatan."
Kami pun masuk ke portal itu.
...•••...
Saat di dalam dungeon....
"Jadi, ini dungeon yang terdistorsi," ucap Santia sembari memandangi sekitar.
Deg!
"Tuan Arkha, kamu kenapa?" Tanya Santia yang ada di sampingku
"Eh? Tidak, aku hanya merasa tidak nyaman aja saat memasuki dungeon ini."
"Begitu ya, aku pun juga tidak nyaman ada di sini."
Perasaan yang kurasakan saat pertama kali memasuki dungeon persis seperti dulu, hanya saja perasaan tidak enak ini bukan dari dungeon itu lagi, melainkan dari mereka semua.
Jumlah kami ada tujuh dan lima orang mereka sudah saling kenal, sedangkan aku dan Santia hanya orang asing di kelompok mereka.
Aku menatap mereka dari belakang dengan seksama.
"Jadi begitu ya...."
__ADS_1