Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 68


__ADS_3

Sebelum itu....


Pria itu sudah pergi jauh dan punggungnya tak kelihatan lagi.


"Aku tak menyangka pacarmu sekuat itu."


Tiba-tiba seorang wanita berambut ekor kuda langsung berbicara di belakang wanita bernama Susan ini, dan ini membuat ia sangat terkejut.


"Bikin kaget saja, Arkha bukan pacarku tapi kami ini sudah lama berteman sejak dari kecil."


"Yakin, dia bukan pacarmu?"


"Bukan!" Tampak sedikit kekesalan dari wajahnya dan temannya melihat itu langsung mengerti apa yang di pikirkan Susan.


"Perasaanmu terlalu menonjol, cantik," pikirnya sembari menghela napas. "Aku akan kembali ke kelas. Oh iya, sebelum kamu kembali ke kelas, tolong belikan aku roti di kantin ya."


"Heh, Kenapa tidak sekalian kamu saja yang pergi, karena kamu mau ke kelas juga."


"Malas, itu sangat menguras tenagaku, lagian kamu ini orang Terbangkitkan pasti banyak tenaga, dong. Baiklah aku pergi sekarang, tolong ya rotinya."


Wanita berambut ekor kuda itu langsung pergi meninggalkan temannya ini dan tidak berbalik sedikit pun.


"Dasar seenaknya saja suruh-suruh," gumam Susan. "Bicara soal kelas, Mana yang dipancarkan Arkha tadi rasanya sangat dingin dan membuat tubuhku gemetar saat melihatnya. Perasaan ini sama waktu 'Insiden itu,' dan sampai sekarang aku sulit melupakannya. Tapi Arkha dia...."


Ia melihat tangan kanannya yang gemetaran tanpa henti dan langsung dihentikan oleh tangan kirinya.


"Dia semakin kuat dan tampaknya 'Insiden itu' tidak mengganggunya sama sekali, bahkan Zara dan Pak Adrian masih terus maju dan cuma aku saja masih terpuruk dalam trauma ini."


Diam tak bersuara sedikit pun dari gadis ini, dia menatap kedua tangannya yang saling memegang. Terlihat wajahnya sangat sedih akan dirinya yang tidak berubah sama sekali. Sedangkan orang-orang yang bersama dirinya melewati mimpi buruk itu masih bisa terus melangkah ke depan, dan melawan semua rasa takut yang menghantui mereka sepanjang waktu.


Brak...!


"Hah?"


Keheningannya itu tiba-tiba pecah sesaat sesuatu tiba-tiba muncul di tengah-tengah universitas.


"Itu kan... portal!"


Muncul sebuah portal besar dan energi Mana yang dipancarkannya sangat kuat, sehingga membuat seluruh penghuni kampus berbondong-bondong keluar dari kelas dan berangkat menuju ke arah portal itu.


"Wah... portal ini sangat besar."


"Baru kali ini aku melihat portal sebesar ini dari dekat."


"Kira-kira rank dari portal sebesar ini apa ya? Rank-B?"


Semua mahasiswa dan mahasiswi mengambil gambar dari portal itu, tampak keamanan mereka terancam kapan saja jika tidak segera menjauh dari portal itu.


Tapi mereka semua tidak menghiraukan hal itu dan malah lebih sibuk mendapatkan viewers yang banyak. Karena hal ini sangat berbahaya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi membuat sebuah benteng manusia agar orang-orang biasa ini tidak terlibat dalam bahaya.


"Portal..! Kenapa muncul di sini?"


Susan melihat portal itu seketika trauma mimpi buruk itu langsung melintas dipikirannya dan itu langsung membuat dirinya gemetar ketakutan dan mundur secara perlahan.


Bak....


Karena ia mundur terus sembari menatap portal itu dengan tatapan ketakutan, dan tanpa sadar ia mundur tanpa memperhatikan di belakangnya.


"Maaf! Aku tak sengaja...!"


"Susan, kenapa kamu mundur tanpa melihat ke belakang?"


"Hah..., Hana, itu...."


Wanita yang ia tabrak adalah sahabatnya sendiri dengan ciri-ciri rambut hitam panjang yang sudah diikat seperti ekor kuda.


"Tubuhnya gemetaran...." Hana yang melihat keadaan sahabatnya ini yang sangat ketakutan membuat dirinya tak tega. Ia langsung memandang portal besar itu dan langsung mengerti apa yang terjadi, karena Susan sudah menceritakan rasa takutnya pada sahabatnya ini mengenai dungeon yang ia masuki bersama anggota guild-nya. "Dia pernah menceritakan mengenai dungeon itu, tapi dia sendiri saja tidak mengingat apa yang dilawannya di dalam sana sehingga membuat dirinya seperti ini sekarang."


Hana melihat keadaan sahabatnya ini sangat menyedihkan, ia langsung memeluknya dari samping dan mencoba menenangkannya.


"Kita kembali ke kelas sekarang dan langsung pulang. Lagian kelas kita sudah berakhir setengah jam yang lalu."


"Hm," balas Susan sembari mengangguk.


Mereka berdua segera pergi dari tempat itu dan segera berangkat menuju ke kelasnya. Tapi, langkah mereka terhenti sesaat mendengar suara kepanikan dari perkumpulan mahasiswa dan mahasiswi di portal itu.


"Semuanya cepat menjauh dari sini! Portalnya mengalami retakan!"


"Hubungi pihak guild dan asosiasi datang ke sini, cepat!!"

__ADS_1


Brak...!


Seketika kepanikan melanda kampus ini dan seluruh penghuni kampus langsung keluar dari sini dan meninggalkan seluruh barang mereka di dalam ruangan-ruangan kampus ini.


Brak..!!


Retakan dari portal itu semakin jelas dan tinggal menunggu waktu hingga seluruh monster dari dalam sana keluar.


"Kita harus segera keluar dari sini!" Kata Hana.


Kedua wanita muda ini langsung berlari menuju ke arah gerbang utama. Sesaat sampai di sana, tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh dua orang di depan sana.


"Berhenti! Kamu mau ke mana?"


"Tentu saja kami ingin keluar dari sini!" Jawab Hana yang sangat kesal.


"Kalau kamu bisa keluar, tapi dia tidak bisa."


"Apa maksudmu? Apa kalian tidak lihat sahabatku ini sangat ketakutan!"


"Aku minta maaf kalau soal itu. Tapi kami terpaksa melakukan hal ini, karena kita kekurangan orang dan lagian wanita ini orang Terbangkitkan juga."


Hana sangat kesal mendengar itu dan tidak bisa berbuat apa-apa sebagai orang biasa pada portal itu. Dan orang-orang yang tersisa di dalam universitas ini tinggal orang-orang Terbangkitkan. Ia tak tega meninggalkan sahabatnya ini dalam terburuk begini.


"Cih...!" Hana hanya bisa menahan diri akan hal ini dan tak bisa berbuat apa-apa.


Di sisi lain, orang-orang dari fakultas pemburu sedang mengumpulkan semua mahasiswa dan mahasiswi yang tersisa.


"Apa guild terdekat dan asosiasi biro keamanan belum sampai?"


"Belum."


"Cih! Sudah kuduga, mengingat sejauh 300 meter lebih dari sini tidak ada satu pun guild dan cabang kantor asosiasi juga bulan depan akan dibangun di sekitar sini. Ini hanya memperburuk situasi, karena di sekitar wilayah sini banyak perumahan penduduk biasa."


"Aku sudah meminta Romi dan yang lainnya untuk mengevakuasi warga sekitar agar mereka tak kena dampak dari retakan ini."


"Bagus," kata pria besar itu lalu menatap portal besar itu. "Kalau kita akan menunggu mereka datang maka retakan portal ini akan selesai dan perkiraan mungkin tinggal 20 menit lagi akan terjadi."


"Kalau begitu, apa yang kita harus lakukan, ketua?"


"Aku benci mengatakan ini tapi... kita harus menutup portal ini."


Orang-orang yang mendengar itu sangat terkejut dan pikirnya tak mungkin bagi mereka yang masih pemula bisa menyelesaikan dungeon rank tinggi ini.


"Yah... aku tahu," ucap pria besar itu lalu mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan terlihat wajah sudah pasrah darinya.


Keheningan dan putus asa mulai menjerat mereka dan tidak tahu harus berbuat apa di situasi seperti ini.


"Ketua, bagaimana kalau kita menghubungi Pak Arya untuk datang ke sini."


"Kalaupun bisa dihubungi, tapi itu sudah terlambat karena Pak Arya sudah lama pergi dari sini, sekarang mungkin dia sudah berada di pusat guild-nya," ucap Ketua.


Mereka semua mulai memikirkan berbagai cara untuk menangani dungeon ini. Sampai salah satu dari mereka mengangkat tangannya dan mengajukan sebuah saran:


"Ketua, di kampus kita ada satu orang Prtotector Rank-A, dia spesialis Support Heal dan Buff."


Mendengar itu seketika di mata semuanya mulai tampak harapan dan tak menyangka jika orang sehebat itu kuliah di sini.


"Siapa orang itu dan fakultas mana dia?" Tanya ketua.


"Dia berasal dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, dan namanya Susanti."


"Susanti...."


Semua orang yang ada di sini sangat terkejut dan tak menyangka jika wanita yang dikiranya sangat lemah ternyata orang yang sangat hebat. Seketika raut wajah dari sang ketua sangat sedih dan tampak ia sangat menyesal melakukan hal buruk padanya.


Orang yang ada di samping sang ketua langsung mengajukan pertanyaan:


"Apa di sini ada Susanti atau di antara kalian ada yang melihatnya?"


Mereka semua saling memandang dan bertanya, hingga salah satu dari mereka ada yang mengangkat tangannya.


"Iya, kamu?"


"Aku melihat dia tadi berlari bersama temannya menuju ke arah gerbang utama."


"Bagaimana ini Ketua, kita sangat membutuhkan dia untuk menyelesaikan dungeon ini."


Sang ketua menarik napasnya sedalam mungkin dan mengeluarkanya lagi lalu berkata:

__ADS_1


"Aku akan mengejarnya. Deni, tolong pimpin mereka sementara, aku akan meminta bantuan darinya dan sekaligus minta maaf sekali lagi kepadanya."


Deni hanya mengangguk saja dan ketua mereka langsung berlari meninggalkan tempat dan segera menuju ke arah gerbang utama.


Sesaat berlari, perasaan bersalah terus membebani pikiran sang ketua dan pikirnya, bahwa Susan akan menolak menolong mereka.


"Kumohon, kuharap dia belum keluar dari sini...!"


Tepat di depan sana sudah terlihat gerbangnya, dan di sana ada dua orang pria berdebat dengan seorang wanita.


"Itu dia!"


DIi sisi lain, Hana sangat marah karena masih tak membiarkan sahabatnya ikut keluar bersamanya.


"Kumohon tenanglah, Nona. Kami juga terpaksa melakukan ini karena ini perintah dari Ketua kami."


Pria yang berada di sebelah kiri melihat ke arah depan dan cukup terkejut melihat seseorang berlari ke arah sini.


"Bukankah itu Ketua?"


"Hah?"


Sontak ketiga orang itu langsung berbalik dan melihat pria besar berlari ke arah kami. Sesaat sampai, pria besar itu terengah-engah dan berkata:


"Syukurlah... kamu masih ada di sini."


"Ketua Bambang...!"


Sang ketua Bambang menegakkan badannya dan menatap wanita yang sangat cintai.


"Susan... kumohon tolong bantu kami...."


Susan hanya diam saja dan Hana sangat mengerti situasi ini dan kali ini ia tak ikut campur sementara. Bambang langsung berlutut dengan pandangan di bawah.


"Aku tahu kamu sangat membenciku, tapi kumohon... tolonglah mereka. Aku akan melakukan apa pun agar kamu mau membantu kami, aku akan melindungimu di dalam sana dan siap mengorbankan nyawaku untukmu. Aku rela melakukan itu karena... aku sangat mencintaimu."


Susan yang mendengar itu terbelalak dan seketika ia mengingat orang yang sangat dekat dengan dirinya dan bahkan pernah mengorbankan diri berapa kali untuknya. Ia menatap pria yang berlutut ini di depannya dan bayang-bayang pria sekarat yang bersandar di sebuah batu terlintas begitu saja dipikirannya.


"Arkha...."


Dia menggumam nama pria itu dan meremas erat tangan kanannya yang tak berhenti gemetar dengan tangan kirinya.


"Belakangan ini aku sangat ketakutan dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan memburu ini. Tapi, dia..., Arkha, tidak sekalipun mau menyerah walau sudah tahu kemampuannya sangatlah tidak memungkinkan bertahan hidup sendiri di dalam dungeon. Sekarang dia sudah memperlihatkan semua kemajuannya itu padaku dan bahkan tidak ragu-ragu terluka lagi demi orang-orang disayanginya, seperti waktu itu dia mau terjun langsung menyelamatkan Rena dan Reno...."


Susan mengepalkan tangan kanannya itu sekuat mungkin hingga rasa gemetaran itu mulai berhenti secara perlahan.


"Aku harus berubah! Aku tak ingin membuat Arkha harus mengkhawatirkan aku lagi, mengurus dirinya saja tidak becus, sehingga itu membuatku selalu memarahinya, hehe."


Hana terkejut melihat raut wajah Susan yang perlahan-lahan berubah, dan tampak sebuah senyuman tipis dari wanita itu sembari menatap pria yang berlutut di depannya.


"Baiklah, aku akan ikut...."


Mendengar itu membuat pria yang berlutut senang dan mengatakan terima kasih berkali-kali kepadanya, lalu bangkit dari berlututnya.


"Hana, sebaiknya kamu segera keluar dari sini. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."


Hana hanya diam saja dan tidak tahu harus berkata apa lagi, karena sosok tangguh dari sahabatnya ini mulai muncul secara perlahan. Dia hanya mengangguk saja dan melangkahkan kakinya keluar dari gerbang itu. Sebelum itu, langkahnya terhenti sejenak dan berkata:


"Kumohon, kembalilah dengan selamat."


"Iya."


Setelah itu, Susan dan Bambang pergi ke arah portal. Hana yang berada di luar gerbang masih menampakkan wajah kekhawatiran dan perasaan tidak enak semakin menghantuinya.


"Cih, kenapa aku tidak tenang begini ya? Melihat Susan tersenyum begitu, aku merasa itu senyuman terakhir yang kulihat darinya. Semoga kekhawatiranku ini tidak pernah terjadi."


Brak...!


Sesaat membalikkan badan, tiba-tiba terdengar suara kepanikan di dalam sana dan itu membuat Hana sangat ketakutan jika firasatnya benar-benar akan terjadi.


Dia melihat seseorang berlari dengan panik ke arah dua pria yang menjaga gerbang itu dan mendengar pembicaraan mereka.


"Ada apa?!"


"Portalnya... terdistorsi! Ketua dan yang lainnya terjebak di dalam sana!"


Kedua pria itu sangat terkejut dan langsung meninggalkan post mereka dan segera menyusul ke sana.


"Terjebak..! Tidak! Susan...!"

__ADS_1


Hana langsung berlari sekencang mungkin dan firasatnya benar-benar terjadi, rasa takut mulai menguasainya. Tapi, tiba-tiba ia teringat seseorang yang menurutnya bisa menolong Susan.


"Kuharap dia belum menjauh..., kumohon Ya Dewa lindungilah sahabatku ini!"


__ADS_2