
Shut! Piuh! Piuh!
Boom!!
Tembakan bertubi-tubi dari atas dan tampak itu sebuah panah yang panas dan membakar semua yang mengenai semuanya.
"Apa-apaan dia itu! Kenapa dia melakukan ini?!"
Aku sangat marah melihat Arjuna menembakkan terus anak panahnya ke orang-orang itu. Semuanya kacau dan menjadi abu serta korban pun bertambah banyak.
Terlihat Arjuna telah memasuki mode Heredis-nya dan senjata utamanya sebuah panah cukup besar berwarna hitam.
"Sadu!"
Sadu hanya terdiam dan tidak menanggapi amarahku ini. Tapi aku tak bisa diam saja melihat kejadian ini.
"Hei jawab! Apa maksud semua ini? Kenapa yang seharusnya dia melindungi dunia kenapa menjadi seperti ini. Ini tidak ada bedanya dia dengan 'Mereka'!"
Sadu masih terdiam dan memandangi terus pemandangan mengerikan ini.
Shut! Piuh! Piuh!
Boom!! Burn...
Aku hanya bisa terdiam marah dengan tangan mengepal kuat dan rasanya ingin memukul Pendahuluku ini.
"Aku tahu kamu pasti marah..."
Akhirnya dia buka suara setelah terdiam cukup lama dan melanjutkan lagi ucapannya.
"Seperti yang kubilang kan, ada syarat tertentu untuk menjadi 'manusia' yang diinginkan oleh sang Dewa. Kamu, Arjuna serta para Pendahulu-mu terdahulu, apa kalian sudah memenuhi syarat menjadi 'manusia'?"
Sadu menatapku dan aku seketika terdiam dan amarahku perlahan-lahan memudar.
"Tidak," lanjut Sadu. "Kalian tidak akan pernah menjadi 'manusia' yang diinginkan Dewa. Karena kalian sedari awal bukan lagi orang yang ikut ujian untuk mendapatkan gelar 'manusia'. Apa kamu tahu alasannya kenapa?"
"Aku tahu..." sembari menunjukkan energi hitam melalui tanganku. "Karena kekuatan ini kan."
"Itu benar. Tapi bukan itu intinya."
Aku terkejut mendengarnya dan Sadu melanjutkannya lagi :
"Alasan kalian sudah bukan bagian dari 'manusia' itu karena kalian terlahir dari jiwa... bukan, mungkin lebih tepatnya jiwa kalian tercipta serpihan harapan dari 'Dia'."
Aku tak tak tahu harus bereaksi apa dan baru kali ini aku mendengar info ini dan apalagi mengenai "Dia", dewa yang menjaga dan menciptakan tempat ini.
"Jadi itu alasan kami bisa menggunakan kekuatan-"Nya"."
Sadu mengangguk dan mengatakan tidak tahu kenapa harus orang seperti kalian terpilih. Tapi satu hal yang pasti, cuma "Dia" yang tahu dan membuat keputusan itu.
"Aku akan memberitahukanmu mengenai tentang "Dia" sedikit saja. Karena aku pun tertahan saat memberikan informasi, tapi mengenai hal ini kurasa tidak apa-apa untuk kamu ketahui..."
Sadu mengatakan semua yang bisa diberikan kepadaku. Katanya, bahwa seluruh jiwa-jiwa hidup ini berasal dari energi kehidupan dari "Dia". Setiap "Mereka" datang dan berhasil sampai ke sini, "Mereka" hanya datang bertujuan merebut kekuatan "Dia" sekaligus memancingnya keluar dengan cara memusnahkan semua ciptaannya dan menyerap energi kehidupan ciptaannya secara perlahan.
Aku cukup terkejut mendengarnya dan tak menyangka proses sulit harus dilalui "Dia" sembari menjaga semua ciptaannya dan menyembunyikan dirinya.
"Jadi itu alasan kenapa ada 'Heredis'. Tapi... bukankah ini sama saja bagi 'Dia' menyerahkan dirinya secara perlahan pada 'Mereka'. Mengingat kekuatannya tidak sebanding dengan kami."
"Mau bagaimana lagi, cuma ini satu-satunya yang bisa 'Dia' lakukan dan mempercayakan semuanya pada anak-anaknya. Tapi aku yakin, akan ada waktunya bagi kita dan 'Dia' menemukan kebebasan lagi."
Aku ingin bertanya lebih jauh lagi mengenai hubungan terdalam "Dia" dan "Mereka", tapi kata Sadu informasinya terbatas dan ia tak bisa memberitahukan lebih dari ini.
"Begitu ya. Tapi, membuatku penasaran selama ini, kenapa aku dan para penjaga yang kutemui menyebut diri mereka 'Libera' dan mereka juga memanggilku seperti itu."
"Itu karena karena kita ini jiwa-jiwa yang diberi kebebasan penuh serta pembawa jiwa-jiwa sesat."
Aku masih bingung dengan jawabannya itu, tapi kata Sadu bahwa aku akan mengerti suatu saat. Kami akhirnya terfokus pada tindakan Arjuna yang masih sibuk melakukan kekacauan ini dan tentu saja aku masih kesal melihat ini.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan?"
"Penyucian."
"Hah? Penyucian?"
"Iya, Arjuna melakukan penyucian jiwa-jiwa. Dan kamu akan terkejut melihat setelahnya."
Aku tetap mengamati dan tampak seseorang berlari ke arah berlawanan dan mencoba menghampiri Arjuna yang melayang di udara.
"Arjuna!!!"
Teriak seseorang dari bawa dan seketika serangan Arjuna dihentikan. Tampak pria yang memanggilnya orang yang sangar berarti baginya.
"Indra..."
Arjuna hanya bisa menatap sahabatnya itu, tampak tatapan Indra terkejut dan bingung. Anehnya tak ada sedikit pun perasaan marah dalamnya yang harus ditujukan ke Arjuna, melihat semua kekacauan ini.
Indra melihat sekelilingnya yang ada hanya mayat, rumah terbakar dan berbagai ternak dan panen makanan ikut juga terbakar.
Indra merapatkan giginya dan mulai menunjukkan sedikit kekesalannya.
"Apa maksud semua ini... Arjuna!!!"
Arjuna masih terdiam dan menatap sahabatnya itu dengan arti.
"Dari sini seharusnya kamu segera mengambil keputusan dan berpikir, serta merasakan semua tindakanku ini."
Mendengar ini membuat Indra terkejut karena baginya masih sulit untuknya mengerti sahabatnya sepenuhnya.
"Tapi... kenapa harus dengan cara mengorbankan banyak orang! Bukannya ada jalan untuk hal ini!"
Melihat Indra yang belum paham maksud Arjuna dan begitu pun bagiku juga.
"Apa maksud Arjuna membuat Indra harus segera mengambil keputusan dan memikirkan, serta merasakan semua tindakannya?"
"Itu karena Arjuna memberikan jalan 'manusia' terakhir bagi Indra. Selama perjalanan mencari Pencerahan, Arjuna sudah melihat 'manusia' sesungguhnya dalam diri Indra. Dan Arjuna harus mengambil keputusan berarti untuk sahabatnya, apakah jalan 'manusia' Indra akan ternodai hanya karena memiliki sebuah Perasaan mendalam dengan Arjuna atau tidak."
Aku mengangguk dan mengerti maksudnya, saat ini apakah Indra akan tetap berada di posisinya saat ini sebagai "manusia" atau meninggalkannya karena sebuah Perasaan berarti bersama sahabatnya.
Indra masih terdiam dengan tangan mengepal erat hingga berdarah. Setelah beberapa saat, dia mengambil sebuah panah yang jatuh di tanah serta busurnya dan mengangkat arah busurnya ke atas.
Arjuna terbelalak dan tersenyum melihat tindakan sahabatnya.
"Turun sini kau!!!"
Shut! Piuh!!
Sebuah anak panah melesat dengan cepat ke udara dan Arjuna menangkap anak panah itu dengan mudah dan menghancurkannya. Ia turun dan menyamakan posisinya dengan sang lawan.
Slang!
Indra menarik pedangnya dan mengarahkannya ke arah depan.
"Tak kusangka, Saudaraku tersesat sejauh ini. Betapa bodohnya aku tidak menyadarinya. Aku bisa melihat kegelapan yang sangat dalam di dalam dirimu. Aku akan membebaskanmu dari jeratan kegelapan itu!"
Set!
Indra seketika maju dan menghadapi Arjuna.
__ADS_1
Slash! Slash! Slash!
Tring!
Dengan santai Arjuna berhasil menghindarinya dengan mudah. Dan tampak kekesalan di wajah Indra, tapi matanya menunjukkan tekad yang tenang. Itu membuat Arjuna tersenyum lagi.
"Apa yang kau tertawa kan hah!"
Slash! Slash! Slash!
Punch!
"Hok..!!!"
Serangan besi tajam itu terus mengarah ke Arjuna, tapi tampak Arjuna tidak tinggal diam dan segera melayangkan tinjunya ke arah perut lawannya dan membuat Indra tersungkur sesaat karena sedikit sesak napas.
"Apa hanya segini keputusan yang bisa kau ambil? Apa hanya ini cuma yang kau pikirkan?" Arjuna berbalik dan berjalan meninggalkan Indra. "Kau belum merasakan apa pun dari tindakan yang kau ambil ini. Sehingga membuat dirimu sedikit kacau hanya karena melihat hal berharga bagimu ternodai."
Arjuna terus berjalan membelakangi Indra yang kesakitan.
"Arjuna... kenapa..."
Indra terus memikirkan semua hal, kenangan, kebersamaan serta kehangatan hubungan yang dilalui bersama Arjuna. Dia terus memikirkan perubahan drastis yang menyebabkan kawannya ini berubah.
Seketika mata terbelalak dan baru teringat sesuatu.
"Mungkinkah...!"
Indra segera bangkit dan dibantu oleh pedangnya yang ia tancapkan di sampingnya.
"Tunggu!"
Langkah Arjuna terhenti dan berbalik melihat Indra yang kesusahan berdiri.
"Sekarang aku mengerti. Aku sudah Melihat dan Mendengar semuanya dengan jelas apa yang ada dunia ini, serta aku bisa Merasakan segala hal sekarang. Semuanya hidup, walau tubuhnya hancur tapi mereka masih hidup. Tapi kamu... aku tidak merasakan apa pun darimu, ternyata kamu sudah lama tiada. Dan kali ini akau akan..." Indra bersiap untuk melawan lagi sembari memasang kuda-kuda siap tempur. "Membebaskanmu!"
Bush!!!
Arjuna terkejut melihat apa yang dipancarkan dari tubuh Indra, dan begitu pun denganku yang melihatnya juga.
"Apa itu?"
"Puncak pencerahan. Inilah kekuatan sesungguhnya dari 'manusia'."
Aku masih kagum apa yang kulihat ini dan ini tampak seperti pengguna Aura, hanya saja... perasaan ini jauh sangat berbeda.
"Tampak dia seperti pengguna Aura. Tapi... ini berbeda sekali."
"Jika Aura yang kamu katakan kekuatannya berasal dari energi kehidupan jiwa seseorang. Yang kamu lihat di hadapanmu ini bukan berasal dari energi kehidupan jiwanya, tapi melainkan di sekitarnya. Alam telah memberkahi jiwanya yang murni itu dan berusaha melindungi jiwa itu dari apa pun agar tak ternodai sedikit pun, maka alam tak segan meminjamkan kekuatannya demi terjaganya jiwa murni itu. Inilah 'manusia' yang diinginkan Dewa, orang yang telah memahami semua yang ada dan merasakan semua yang ada, sehingga bisa saling menjaga satu sama lain."
Mendengar itu membuatku semakin kagum. Ternyata masih ada kekuatan bagi umat kita untuk bangkit melawan "Mereka". Tapi hanya saja, hal ini mungkin sangat sulit dicapai.
"Semua orang bisa mendapatkan Puncak pencerahan, sekalipun dosanya setinggi gunung. Dan hal itu rata-rata mereka dapatkan jika dirinya sudah berada diujung jurang kematian."
"Dan untuk mendapatkan Puncak Pencerahan itu, apa mereka menghadapi maut dulu?"
"Tidak juga, untuk mendapatkan Puncak Pencerahan sangat sulit, ada yang mendapatkannya secara tidak sengaja dan ada pun harus melewati banyak rintangan. Tapi semua itu kembali pada dirimu sendiri, seperti apa 'kebenaran' dalam dirimu. Dan 'kebenaran' dalam diri Indra yang kamu lihat ini adalah Indra yang berusaha untuk membebaskan sahabatnya yang telah lama menderita. Lalu seperti apa 'kebenaran' dalam dirimu, itu yang kamu tentukan."
Aku masih terus memikirkan seperti apa "kebenaran" dalam diriku, jika kukatakan untuk membalas dendam maka itu hanya tujuan penuh dengan emosional. Jika untuk menempuh tanggung jawabku sebagai Heredis, maka itu hanya sebuah perasaan beban yang terpaksa aku alami.
Aku masih belum menemukan "kebenaran" sesungguhnya dalam diriku. Mungkin hal itu juga bisa mengungkapkan keinginan terdalamku yang belum aku ketahui nantinya.
"Rasanya sangat sulit untuk mengetahuinya."
Sadu hanya terdiam mendengar itu dan dia paham apa yang aku rasakan dari ucapanku barusan.
Sesaat fokus kami kembali tertuju pertarungan Arjuna dan Indra, aku terkejut melihat hal ini, terlihat pedang Arjuna berhasil menembus zirah hitam Arjuna dan menembus dadanya.
Clek... Clek...
Darah Arjuna terus menetes ke bawa dan tampak air mata terus mengalir dari kedua mata Indra.
"Kuharap kali ini kamu bebas Saudaraku."
Arjuna masih memegang pedang yang menancap di dadanya itu, tapi ia tersenyum dan berkata :
"Terima ...kasih, Saudaraku... yang merepotkan."
Duk...
Seketika tubuh Arjuna terjatuh ke tanah kotor itu dan Indra dengan berat hati menghampiri sahabatnya dan tangisan sulit dibendung baginya.
"Aaaahhh....!!!"
Tangisannya pecah, sehingga membuat alam ikut bersedih baginya.
Pip... Pip... Pip...
Tiba-tiba hujan turun, seolah-olah alam ikut menangis. Tangisan alam telah berhasil memadamkan semua api berkobar memakan korban itu.
Tapi di sisi lain, Indra yang masih terus meratapi atas kematian sahabatnya ini. Dan tak percaya jika ia tidak menyadarinya sedari dulu jika sahabatnya ini telah lama menderita.
Dia terus menyalahkan dirinya atas semuanya, dia terus mengutuk dirinya.
Tapi...
Bing!!!
Tiba-tiba tubuh Arjuna memancarkan cahaya, muncul bola cahaya berwarna kuning dan terbang ke langit. Terlihat Indra hanya bisa menganga dan dia bisa melihat serta mendengar jelas, bahwa bola cahaya berwarna kuning itu ternyata Arjuna yang telah bebas.
"Syukurlah, terima kasih Ya Dewa."
Sesaat hujan reda dan cahaya hangat langit menyinari bumi lagi.
Tlak!
Bing!!!
Tiba-tiba cahaya menyilaukan itu muncul lagi dan membawa kami ke tempat baru lagi.
"...?"
Aku berbalik ke berbagai arah dan Sadu berjalan ke suatu arah. Tampak kami berada di atas gunung dan banyak pohon-pohon rindang, sesaat berjalan cukup jauh. Aku melihat ladang rumput yang luas dan bergoyang ditiup angin.
Sadu berjalan ke arah sesuatu dan terlihat di sana ada seseorang sedang duduk di depan sebuah batu, dan tampak itu seperti batu pemakaman.
"Apakah orang itu..."
"Ya."
Terlihat orang itu menaburi bunga berbagai macam bunga dan berdoa.
"Kuharap kamu bisa bahagia di sana... Arjuna."
Pria itu memberikan sebuah kalung, tampak kalung itu terbuat berbagai kayu yang keras dan dihaluskan serta berbagai batu kecil sebagai penghiasnya.
"Aku belum sempat memberikan ini sebagai hadiah telah membantuku selama ini."
__ADS_1
Tampang pria ini sudah tua dengan janggut putih yang panjang dan rambut putihnya yang panjang. Pakaiannya sederhana, dia sudah seperti pertapa guru dari Arjuna.
"Mahaguru, ternyata Anda ada di sini."
Terdengar suara asing dari arah belakang. Terlihat seorang pria dengan pakaian mewah serta perhiasan emas yang sedikit mencolok. Pria itu langsung menunduk dan menyentuh kaki Indra.
"Ada apa, Pandu?"
"Begini Mahaguru, kuharap Anda mau membimbing seseorang lagi."
"Kamu tahukan, aku sangat kesulitan untuk membimbing banyak orang untuk mendapatkan Pencerahan. Makanya aku hanya bisa membimbing satu orang saja yaitu kamu saja muridku."
"Kuharap kemurahan hatimu wahai, Mahaguru. Anda tahu kan belakangan ini masalah terus menimpa kerajaan dan itu membuatku mulai gelisah belakangan ini, mengingat sudah ada ketidakberesan dalam istana."
"Setiap masalah akan selalu muncul di mana saja dan itu wajar saja. Apalagi ini berkaitan dengan harta dan tahta, siapa pun akan tergiur akan hal itu."
"Maka dari itu kegelisahan mulai menghujaniku. Aku takut, jika aku sudah tiada maka kedamaian kerajaan akan goyah, itulah firasat yang kurasakan belakangan ini."
Indra menatap muridnya ini dengan seksama. Dia tahu bahwa muridnya telah mencapai kepekaan batin sejak lahir sehingga sangat mudah baginya untuk mendapatkan Puncak Pencerahan, tapi tanggung jawab diberikan kepadanya membuatnya kesulitan mendapatkan Puncak Pencerahan.
Tapi menurut Indra hal itu tidak perlu terburu-buru, semua orang bisa mendapatkan Pencerahan dengan jalannya sendiri dengan asalkan sedikit bimbingan. Seperti itulah dirinya ketika bersama sahabatnya.
"Baiklah, aku terima satu murid lagi. Kali ini siapa yang kamu rekomendasikan?"
Mendengar itu membuat Pandu senang dan berterima kasih pada gurunya.
"Anda ingatkan kelima Putraku?"
"Iya, aku ingat."
"Aku ingin salah satu dari mereka mendapatkan bimbingan Mahaguru."
Indra memikirkan siapa anak yang pantas jadi murid berikutnya. Setelah beberapa saat terdiam dan akhirnya ia membuat keputusan.
"Jujur saja, di antara mereka berlima tak ada satu pun sepertimu. Tapi, salah satu dari mereka aku merasakan perasaan familiar saat pertama kali melihatnya."
"Dan siapa itu Mahaguru?"
"Aku pilih putra ketigamu sebagai muridku selanjutnya."
"Palguna!" Pandu terkejut mendengar itu. "Baiklah, dengan ini aku akan segera membawa Palguna ke sisi Anda, dan mohon bimbing dia selalu menjadi kepribadian yang baik."
Setelah itu Pandu meninggalkan lokasi sembari pamit. Kesendirian kembali lagi menemani Indra dan hanya ada suara alam yang menemaninya.
"Bocah itu benar-benar mirip denganmu," ucapnya sembari menatap makam itu. "Kuharap dia tidak merepotkan sepertimu, haha."
Terhibur mengingat masa lalunya dan aku tiba-tiba merasa ada yang janggal dari masa lalu ini.
"Tunggu dulu. Bukannya kematian Arjuna terlalu... bagaimana ya, tidak seperti para Pendahuluku yang kulihat selama ini."
"Itu karena 'Mereka' belum punya banyak informasi untuk menembus dimensi realita ini. Dan untuk Arjuna, dia tidak mati. Tapi dia pergi keluar dari dimensi realita dan membantu sang Heredis of Gaia melawan 'Mereka' di luar sana untuk melakukan usaha terakhirnya."
Aku hanya mengangguk saja dan paham.
"Baiklah, hanya sampai di sini saja."
Tlak!
Bing!!!
Kami dibawa kembali tempat sebelum dan Sadu menyuruhku untuk duduk.
"Kuharap kali ini kamu mendapatkan sedikit Pencerahan."
Aku hanya terdiam saja dan berusaha mengatur napas setenang mungkin.
"Apa menurut Anda, apa aku bisa melakukannya?"
"Ya, aku yakin. Setiap orang bisa melakukannya. Carilah seperti apa 'kebenaran' dalam dirimu."
"Baiklah."
Aku mulai bermeditasi dan mengatur diri ini setenang mungkin.
Waktu berlalu cukup lama dan belum menunjukkan tanda-tanda pada anak muda itu.
"Ini sudah satu jam lebih, apa anak ini telah tenggelam terlalu jauh?" Sadu memperhatikan kondisi anak ini dan terkejut. "Gawat! Ternyata dia sudah terlalu jauh!"
Sesaat Sadu ingin bertindak, tiba-tiba ia terhenti karena sebuah tangan menyentuh pundaknya dan membuat Sadu terkejut.
"Kamu...!"
Tampak sosok tubuh bercahaya dengan siluet berbentuk wanita. Dan cahaya ini mentelepati Sadu dan berkata :
"Kamu tidak perlu melakukannya."
"Tapi dia akan lepas kendali kalau dibiarkan terus seperti ini!" Sadu yang sedikit panik.
"Jangan khawatir, aku percaya pada 'Putriku' yang selalu menjaga jiwa anak ini."
Shush...!!
Sadu terkejut mendengar itu dan bersamaan cahaya putih murni bersinar dari tubuh anak itu.
Bing! Bing! Bing!
Cahaya demi cahaya menghampiri anak ini satu persatu. Sadu sudah melihat hal ini beberapa kali, hanya saja ia masih terkejut apa yang dibelakang anak muda itu.
"Aku tak menyangka jika ada sosok sekuat ini selalu menjaga jiwa anak ini."
Cahaya-cahaya itu terus terserap atas bantuan sosok misterius yang telah bersemayam cukup lama.
"Kalau boleh tahu, dia sebenarnya siapa? Aku belum pernah ketemu dia, apa dia salah satu pewarismu?"
"Dikatakan pewaris iya. Tapi bukan pewaris sesungguhnya dariku."
"Maksud Anda?"
"Dia adalah pewaris pertama secara langsung dari 'Ayah' kalian."
Sadu mengangguk dan mengerti, tapi ini masih mengejutkan baginya bahwasanya energi murni dan gelap telah menyatu utuh ke dalam sosok misterius itu. Seolah-olah kedua sifat ini tak bertentangan sama sekali dan saling menerima satu sama lain.
Bing!!!
Setelah cukup lama, tiba-tiba cahaya yang cukup menyilaukan bersinar sekitar tubuh anak muda itu dan menghilang tanpa jejak.
"Hehe, benar-benar anak yang penuh kejutan." Sadu berbalik dan menatap sosok wanita bercahaya itu. "Jika Anda ada di sini, berarti 'Mereka' menghentikan pergerakannya?"
"Iya itu benar. Semenjak Custos tiada, entah kenapa 'Mereka' tiba-tiba berhenti melakukan pergerakan. Padahal ini kesempatan mereka di saat diriku sudah lemah sekarang."
Sadu pun berpikir demikian, ini sangat aneh dan janggal bahwasanya ini kesempatan "Mereka" melakukan invasinya selagi para Guardian Gaia telah melemah.
"Setidaknya anak termudaku inilah yang jadi harapan terakhirku."
Setelah berkata seperti itu, dia menghilang dibarengi cahaya menyilaukan juga.
Sadu tersenyum saat mengingat kebersamaan singkat dengan anak muda itu.
__ADS_1
"Jangan khawatir 'Ibu'. Karena dia adalah 'Sang cahaya harapan besar' kita. Aku sangat percaya padanya." Sembari menatap langit dan tersenyum. "Berjuang keraslah, Nak. Cuma ini yang bisa kami lakukan untukmu. Sisanya ada di dirimu yang menghadapinya."