
"Loh, kok di sini."
Aku langsung berada di tempat semula yaitu tempat di mana aku harus memilih tangga lantai selanjutnya. Terlihat sudah ada tiga tangga hancur dan yang berarti aku berhasil melewati ujiannya.
"Tidak ada kilas balik masa lalu aku dapatkan, apa mungkin ada hal tertentu yang boleh aku lihat saja."
Selama aku melihat masa lalu setiap pendahuluku, tidak semuanya aku melihat jalan hidup mereka. Ada pun pendahuluku memperlihatkan hampir semua jalan hidupnya seperti Aran Han.
"Selama ini aku terus terpikirkan, untuk apa aku harus melihat semua masa lalu ini?"
Tidak ada penjelasan detail dari sistem untuk memperlihatkan aku semua ini. Tapi satu hal setelah melihat masa lalu ini yaitu aku mendapatkan informasi mengenai alasan aku mendapatkan kekuatan ini, yaitu bersiap menghadapi "Mereka".
"Kalaupun aku diperlihatkan semua masa lalu ini sebelum menerima kekuatan ini, maka aku juga tidak bisa menolak kekuatan sistem ini, karena aku juga harus hidup untuk Adik-Adikku."
Karena terlalu banyak hal yang perlu kuketahui soal hubungan sistem ini dan orang di baliknya serta orang-orang asing yang disebut penjajah itu oleh pendahuluku.
"Baiklah, mari kita lanjutkan ujian ini."
Aku langsung melangkahkan kakiku ke tangga berikutnya dan menaikinya.
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai Tanah Alfheim...
[Selamat datang di reruntuhan Tanah Alfheim.]
"Dari semua tempat cuma di lantai sangat berkesan bagiku..."
Tempat yang selalu di sinari cahaya matahari yang hangat, rumput-rumput yang lembut jika terinjak oleh kaki yang telanjang, serta angin musim semi yang sangat menyejukkan ditambah lagi suara-suara dedaunan pohon-pohon yang ditiup oleh angin tersebut.
"Tempat ini seperti dalam dongeng yang sering aku dengar."
Aku menyusuri tempat ini dan hanya melihat pemandangan yang sangat indah setiap sisinya. Sesaat aku fokus mencari sesuatu seperti jebakan dan makhluk-makhluk yang tinggal di sini.
"Hm?"
Tap... Tap... Tap...
Terdengar langkah yang sangat ringan bak angin menerpa lembut kulit, aku merasakan kehadiran seseorang dari balik pohon besar itu dan waspada jika orang itu akan menyerang.
Sesaat makhluk itu menunjukkan diri, aku dibuat terkejut akan sosoknya.
"Peri!"
Dengan tubuh yang anggun disertai telinga panjangnya, dan dua sayap yang transparan di punggungnya lalu rambutnya yang berwarna putih seperti cahaya rembulan.
[Ljósálfar
Level : ???]
"Quies u tka penr fcins xamn ik? (Apa kamu datang untuk melaksanakan ujian ini?)"
"Apa?"
Aku terkejut mendengar ia berbicara kepadaku dan lebih mengejutkannya lagi, aku mengerti bahasa yang ia ucapkan. Ini mengingatkan tulisan yang ada pada batu itu yang memiliki bahasa seperti ini lalu setiap pendahuluku saat ingin menggunakan sihirnya selalu menggunakan bahasa aneh ini.
"Si a yis. (Iya.)" Jawabku sembari mengangguk secara perlahan. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa menggunakan bahasa ini, tapi satu hal yang pasti sistem sudah mengaturnya untukku."
Mendengar jawaban itu, peri itu berbalik dengan wajah tak ekspresinya dan berkata :
"Sequmak e. (Ikuti aku.)"
Ia langsung berjalan ke depan dan aku mengikutinya dari belakang. Saat berjalan kami melewati barisan pepohonan rindang dan ada sebuah pohon yang sangat berbeda dengan pohon-pohon yang kulewati tersebut.
Peri itu berdiri tepat di depan pohon itu dan mengucapkan sebuah kata asing lagi seperti yang diucapkan para pendahuluku saat menggunakan sihirnya.
"Apdeskak..."
Dur...!
"...?"
Tiba-tiba pohon itu terbelah menjadi dua dan muncul sebuah gerbang yang bisa sangat mewah yang di dominasi warna emas dan putih berlian.
"Pintu apa ini?"
Peri itu membuka pintu itu dan tampak ruangan yang sangat luas di dalamnya, padahal di belakang pohon tidak ada apa-apa dan lagi pohon ini seukuran orang dewasa.
"E ofcim nmi gati hc ar, lyan manr u fcins u ofcim. (Tugasku hanya sampai sini saja, sisanya tinggal kamu melaksanakan tugasmu.)"
Aku hanya mengangguk saja dan melangkahkan kakiku ke dalam sana.
Dun!
Sesaat masuk pintu itu tertutup dan menghilang, aku terus mengamati sekitarku dan aku merasa ujian kali ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, mungkin.
Tap...
Piuh! Shut!
"...!!"
Set!
Tiba-tiba muncul sesuatu yang sangat cepat dan terbang ke arahku dan tak terlihat.
"Apa itu?!"
Tapi aku beruntung karena berhasil menghindarinya, berkat memakai Aura-ku sebelum masuk ke sini untuk mempertajam seluruh indraku.
"Kayaknya ujiannya bakalan tambah sulit dari sebelumnya..."
Bergerak sedikit akan memicu kematian, itulah ujian kali ini yang mana hanya jebakan super yang di luar kemampuan manusia Terbangkitkan pada umumnya, dan kali ini porsi ujiannya bakalan ditingkatkan berkali-lipat dari sebelumnya.
"Baiklah! Aku maju!"
Set!!
Dengan cepat aku maju dan menghadapi semua jebakan itu.
...•••...
12 menit kemudian...
"Hah... *Huff*..."
Melewati semua jebakan ini benar menguras seluruh Mana dan Aura-ku, ditambah lagi aturan dari lantai sebelumnya masih berlaku di lantai kali ini sehingga menyulitkanku memulihkan Mana-ku dengan potion.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita ambil hadiahnya..."
Aku maju ke arah altar itu dan di atas ada kepingan harta warisan leluhur, tapi aku ragu-ragu untuk menggapainya akan terulang hal sama jika tidak hati-hati di lantai sebelumnya.
"Hehe, hal inilah membuatku tak menyuakainya..."
Aku mengambil sebongkah batu dan melemparnya sembari melapisi Mana-ku di batu tersebut.
Shut! Piuh!
Bom!!!
Sesaat batu menyentuh altar itu tiba-tiba muncul cahaya kuning yang melayang dan meledak secara bertubi-tubi.
Melihat itu entah kenapa perasaanku pada sistem mulai tak menyukainya lagi.
"Sistem brengsek! Apa dia berniat membantuku atau membunuhku!"
Karena kesal dan sudah tak ada bahaya lagi, aku langsung maju ke altar itu dan mengambil hadiahnya dan tentu saja rasa kesalku pada sistem masih ada.
Bing!
Sesaat cahaya muncul dan membawa keluar dari tempat ini.
...•••...
...•••...
"Kayaknya lantai itu belum memunculkan masa lalunya."
Aku kembali ke tempat memilih tangga lantai lagi dan kalli ini sudah ada empat tangga hancur dan langsung memilih tangga selanjutnya untuk melanjutkan ujiannya.
"Kali ini jangan memberikan ujian seperti itu lagi!" Ucapku yang sangat kesal pada sistem itu.
...•••...
...•••...
Sesaat di lantai kerajaan Cantre'r Gwaelod...
[Selamat datang di reruntuhan kerajaan Cantre'r Gwaelod.]
Medan dengan batua-batuan yang berserakan di mana-mana dan di atas langitnya seperti lautan yang bergerak.
"Jadi ini kerajaan tenggelam ya."
Ada banyak pilar-pilar kerajaan hancur dan tidak sedikit yang masih berdiri kokoh, di sini lain ada teks kuno yang sulit dimengerti, mungkin ini bahasa dari kerajaan ini zaman dulu.
"Lukisannya... sangat indah."
Aku melihat lukisan-lukisan di dinding reruntuhan ini sangatlah indah, selain warna ada pun karakter-karakter umum seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Tapi satu hal membuatku bingung yaitu lukisan yang menggambarkan sosok aneh dan tidak jelas di seberangnya.
"Gambar apa ini? Gambarnya seperti anak TK saat baru menggambar."
Dur...!
Tiba-tiba tempat ini bergetar dan tampaknya ujiannya sudah dimulai.
Bing! Bing! Bing!
Muncul lingkaran sihir yang besar dan memunculkan ratusan makhluk menyerupai manusia dan sama persis seperti pada lukisan aneh itu.
Tap... Tap... Tap...
Grrrg...! Harrrhh...!!
[The King ... (???)
Level : ???]
Melihat status namanya membuatku terkejut, baru kali ini aku melihat status nama monster yang diberitahukan sistem tidak diketahui selain levelnya.
"Hm?"
Tiba-tiba muncul pemberitahuan dari sistem.
[Kamu punya waktu 3 menit untuk menyiapkan 25 legion-mu.]
[Peringatan!
Kamu (Komander) tidak diperbolehkan ikut campur dalam pertempuran antar prajurit, satu-satunya yang bisa kamu lakukan untuk para prajuritmu adalah dengan memerintah mereka dan memberikan bantuan dari belakang (Support/Buff). Kamu akan dianggap kalah jika turun tangan ikut campur dalam pertempuran prajurit.]
Melihat ini aku tidak terkejut, tapi tetap saja sangat mengesalkan untuk dilihat.
"Aku hanya dibatasi memanggil 25 The Arcana, sedangkan pihak musuh punya 100 lebih pasukan!"
Aku hanya bisa menghela napas dan memulai memilih prajurit terbaikku.
"Baiklah, semuanya sudah disiapkan dan kayaknya aku akan melewati tiga ronde saja."
Terlihat dua makhlul aneh lagi di belakang "The King ..." itu dan tampaknya mereka mengeluarkan prajurit-prajuritnya juga, dengan legion yang memiliki sinergi lengkap.
Grrrg...! Harrrh...!!
Mereka memulai duluan dengan mengerahkan separuh legion-nya.
"Sudah mulai... Dami!"
"Hn..."
Bing! Bing! Bing!
Dengan cepat Dami mengaktifkan mantra sihirnya dan energi Mana meluap-luap di sekitarnya.
Bing!! Cring! Cring!
Dengan cepat sihir Dami berhasil membekukan separuh dari mereka.
"Setelah evolusi selain Mana-nya yang meningkat, tapi kemampuannya pun ikut naik level juga..."
[Master Element (Pasif) (Level 2)
Seorang penyihir dengan kejeniusan yang telah memahami setiap fondasi alam semesta ini.
Element yang bisa dikendalikan olehnya :
(Fondasi 1) (Fondasi 2)
- Pyro - Electro
__ADS_1
- Aqua - Cryo
- Aero - Chloro
- Terra - Lava
- Metal.]
Dengan kemampuan baru Dami, sangat mengungguli pertempuran ini setelah ia berevolusi.
"Kenapa orang kembar selalu terlihat spesial ya," kataku sembari melirik ke arah Dani yang menebas semua prajurit musuh tanpa menyentuhnya.
Slash! Slash! Slas!
Crak! Crak! Aaaah...!
Setelah berevolusi Dani mendapatkan kemampuan baru yang memungkinkan sangat berguna baginya, mengingat ia tipe petarung tanpa sihir tapi sekarang ia bisa menggunakan sihir yang tidak jauh dengan profesi kesatrianya.
[Pedang Suci (Aktif) (Level 1)
Pengguna memunculkan sejumlah pedang suci yang dilapisi energi, sehingga membentuk seperti pedang asli pada umumnya. Jumlah pedang suci bisa dibuat hanyalah 20.
Cool down : 1 menit.]
Melihat pertempuran ini sangat memuaskan bagiku, mengingat pasukanku sudah sangat berkembang.
"Kita akhiri ini, semuanya serang mereka!"
Dengan cepat para The Arcana maju dan menyerang musuh secara agresif dan strategi.
...•••...
26 menit kemudian...
Seluruh pasukan musuh telah rata dan tak menyisakan sedikit pun untuk berdiri. Di sisi lain komandan mereka telah menjadi abu dan terbang di bawa angin.
"Akhirnya selesai juga."
Aku meminta The Arcana kembali kepadaku dan mereka pun menghilang lalu masuk kembali ke dalam tubuhku.
Tinggal yang terakhir yaitu mengambil kepingan harta warisan itu, aku berjalan ke arah altar itu dan sesaat sampai aku terdiam sejenak memandangi benda kecil itu.
"Apa kali ini aku akan melihatnya?"
Entah kenapa perasaanku ingin sekali melihat masa lalu ini, apa karena rasa penasaran? Mungkin juga tidak. Tapi aku merasa setiap melihat masa lalu mereka, aku merasakan sesuatu hal aneh pada tubuhku akhir-akhir dan tidak seperti sebelumnya sesaat pertama kali menerima sistem ini.
"Aku terlalu banyak memikirkannya."
Seperti yang dikatakan Aran bahwa segala seluruh kesulitan yang dialami pendahuluku tidak akan terjadi padaku dan hal itu sudah diatasi oleh mereka sebelum mewariskan semua hal ini padaku.
Bing!
Sesaat cahaya itu muncul lagi saat aku menyentuh kepingan harta warisan itu.
...•••...
...•••...
...•••...
"Ini... tenda?"
Aku melihat-lihat sekeliling dan tampak banyak orang-orang pakaian serba penutup seperti pakaian abad pertengahan Persia. Lalu di samping itu ada banyak senjata tajam di pinggan atau setiap genggaman mereka.
"Siapa mereka?"
Aku terus memandangi tempat aneh ini dan membuat tempat ini lebih mencolok yaitu, ada banyak asap berterbangan di mana-mana dan itu dikeluarkan dari mulut mereka sesaat menghisap benda itu.
"Apa ini cara mereka merokok di zaman dulu."
Sesaat mereka lagi asyik merokok seseorang masuk ke tenda ini dan masih memakai penutup mulutnya.
"Ah, Arasyid, akhirnya kamu datang. Mari bergabung sini, masih ada banyak 'Hasyisy' untukmu."
"Tidak, terima kasih, aku tak ingin menyentuh benda memuakkan itu. Mencium baunya saja membuatku pusing apalagi menghisapnya, hal ini bisa mengganggu konsentrasi misiku nanti."
"Ayolah anak muda, kamu terlalu serius. Seharusnya kamu tahu bahwa kita jarang mendapatkan misi karena konflik istana belum terjadi, maka dari itu tidak ada salahnya bersantai sedikit sebelum kekacauan di istana terjadi."
Pemuda bernama Arasyid itu membuka penutup mulutnya dan mulai menyeka belati dingin dengan air dan membersihkannya dengan kain kotor di sampingnya.
"Jadi dia ternyata pendahuluku."
"Sudah lebih 5 hari kita di sini untuk persiapan pembunuhan Khalifa Al- Musta'i, yang telah membunuh ketua kita. Apa kamu tidak sedih setelah melihat penyelamatmu di bunuh begitu saja di depan matamu?"
Arasyid hanya terdiam saja dan sibuk membersihkan belati dinginnya itu, lalu meletakkan secara perlahan dan berkata :
"Aku melakukan ini karena aku mau saja dan tidak sangkut pautnya dengannya."
Mendengar itu hanya membuat semua orang-orang di tenda ini hanya bersenyum kecut sembari menggelengkan kepalanya lalu kembali menghisap "Hasyisy"-nya.
"Kalau tidak salah bukannya di sini awal mula dari kata 'Assassin' dan aku pernah membaca informasi di internet mengenai asal-usul kelas 'Assassin'."
Dulu sekte islamiyyah di Mediterania sampai Levant dan hanya dipimpinan di bawah para imamnya. Di antara para imam tinggi telah membangun sebuah gerakan rahasia bawah tanah dan tugas mereka hanya melakukan hal kotor di balik bayang-bayang masyarakat. Dengan gagasan-gagasan revolusionernya yang bertujuan membangun terobosan baru terhadap ilmiah dan sosial masyarakatnya, termasuk kebebasan beragama. Dibangunlah negara Syiah pertama dan mendirikan sebuah kerajaan Fatimiah berpaham Syiah dan berpusat di kota Kairo, dan menyebar ke seluruh Mediterania dan Levant seiring waktunya.
Pada tahun 1904, ketika Khalifah Fatimiah VIII dan sekaligus pemimpin dari kerajaan Fatimiah telah jatuh sakit, sang Wazir Khalifah yaitu Al-Afdal yang sangat berpengaruh di kerajaan, mengambil kekuasaan negara sementara dan hingga pada akhirnya ia memilih sang anak bungsu sang Khalifah yaitu Al- Musta'i. Setelah sepeninggalan sang Khalifah Fatimiah VIII diangkatlah Al- Musta'i sebagai Khalifah baru, tapi sang kakak yaitu Nizar sang pewaris kekuasaan yang sebenarnya merasa dikhianati oleh saudaranya sendiri yang telah merebut tahta darinya. Nizar meninggalkan istana dan mengumpulkan kekuatan dan dukungan untuk menggulingkan pemerintahan adiknya. Tapi sayang, ia kalah dan sang kakak dibunuh atas perintah adiknya.
Dari sinilah para pengikut Nizar yang biasa dipanggil Kaum Nizaris memutuskan pindah ke timur untuk melanjutkan perjuangan mereka, yang di bawah pimpinan Hassan-i Sabbah. Di bawah kepemimpinan Hassan para Kaum Nizaris mulai semakin menggila dengan arahan Hassan dan sudah banyak benteng-benteng dan wilayah sudah dikuasai oleh Kau Nizaris di bawah kepemimpinannya, setelah menguasai separuh wilayah Mediterania, Hassan membangun sebuah federasi yang hanya dihuni oleh para tentara yang hanya bekerja di balik bayang-bayang yang disebut sebagai "Hasysyasyin" dan kata ini diberikan karena para tentara bayangan ini gemar menghisap "Hasyisy", semacam rumput kering yang dihaluskan lalu dibakar dan akan memberikan efek halusinasi ringan untuk menghindari rasa sakit ketika bertarung nanti.
"Ketua Nizar..."
Sekilas Arasyid bergumam dan menyebut nama penyelamatnya. Ia tenggelam dalam pikirannya dan tampak kesulitan mengambil keputusan.
"Apa jalanku ini sudah benar?" Arasyid memandangi belati dinginnya itu dengan seksama. "Sudah berapa nyawa pisau kecil ini renggut? Aku tidak tahu, selama ini aku tak terlalu memikirkannya. Tapi semenjak aku bermimpi bertemu dengan 'Dia', sesaat perasaan ragu-ragu selalu muncul dalam hatiku dan 'Dia' juga mengatakan bahwa aku telah ditunjuk sebagai 'Heredis', pelindung umat manusia..."
Arasyid terus menyeka belatinya itu dan tiba-tiba ia tersenyum, aku terkejut ia tersenyum tiba-tiba dan ditambah lagi aku mendengar semua suara pikirannya itu.
"Hehe, takdirku benar-benar penuh candaan, dulu semua manusia mengabaikanku dan hampir mati, lalu hanya diperalat. Sekarang aku ditunjuk sebagai pelindung mereka, orang yang tidak ada hati sama sekali saat merennggut nyawa seseorang."
Arasyid menyeka belatinya itu dengan lembut, sesaat tawanya lepas dengan terbahak-bahak. Teman-temannya melihatnya hanya bisa heran dan mengangkat kedua bahu mereka.
"Lucu sekali," kata Arasyid sembari menyarungi belatinya. "Jika itu takdirku selanjutnya, maka aku akan menyelesaikan takdir diriku sebagai manusia biasa dulu sebelum menjadi manusia yang bukan lagi seorang manusia."
Arasyid langsung berjalan dan keluar dari tenda ini sembari tersenyum, dan aku hanya bisa dibuat bingung apa yang kudengar barusan.
"Jadi pendahluku ini sudah bertemu dengan 'Dia' secara langsung, orang yang mewarisi kekuatan 'Heredis of Death' ke orang-orang tertentu dan sekarang kekuatan ini ada padaku sekarang."
Bing!
Sesaat cahaya itu muncul dan membawaku lagi ke tempat lain.
__ADS_1