
Ketegangan dua kubu telah mencapai puncaknya. Masing-masing yang dua kubu yang memimpin perang, menunjukkan kekuatan hebat nan dahsyat. Semua terperangah dan terkejut akan kehebatan dua makhluk ini.
Mata tajam saling terlempar, monster itu hanya menyeringai di atas sana dan sedangkan aku masih berada di bawah yang memandanginya.
Sekarang aku telah memasuki mode Heredis, hanya saja aku hanya bisa menggunakan 50% kekuatannya, walau sistem telah meningkatkan batasannya menjadi 75%, tapi tetap saja aku menggunakan kurang dari batasan itu, aku masih tak ingin merasakan rasa sakit itu lagi.
"Hm, lebih baik menggunakan set perlengkapan pakaiannya. Jaga-jaga untuk melindungi diri sendiri dari serangannya."
Saat ini aku memfokuskan kekuatan Heredis pada tubuhku dan memunculkan pakaian Heredis milikku tanpa senjatanya. Seperti sebelumnya, aku hanya bisa memunculkan sabitnya saja tanpa perlengkapan senjatanya. Satu hal istimewa lagi, sistem ini memperbolehkan aku menggunakan perlengkapan lain di luar mode ini.
Bring!
Seketika aku memunculkan Excalibur.
"Begini jauh lebih menenangkan, daripada sebelumnya."
Aku bisa mengetahuinya--sebab sistem memberitahukan semua peningkatanku, saat aku menuju ke sini bersama Unicorn.
Sesaat aku langsung terbang menggunakan "Pemilik sejati" dan sejajar dengannya. Tampak dia hanya bisa tersenyum, dan memuakkan untuk dipandang.
Sedangkan orang-orang di bawah sana hanya bisa menganga dan terkejut akan melihat dua kekuatan ini akan saling beradu.
"Di-dia juga bisa terbang...!"
Wush...!!!
Udara yang berada di atmosfer ini meniup semakin kencang dan dua makhluk ini hanya bisa saling melemparkan tatapannya tajamnya masing-masing.
"!?"
Bos monster itu mengeluarkan sebilah pedang yang bercahaya emas dari lengan kirinya. Tampak pedang itu sudah seperti bagian dari tubuhnya, hanya saja wujud pedang itu tidak menyerupai apa yang seharusnya terbuat dari tubuh monster itu, tampak seperti sebilah logam emas yang dimurnikan menjadi pedang.
Wush...!!!
Set!
Set!
Tring!!! Dum!!!
Seketika adu kekuatan dimulai, benturan energi mereka membuat sekitarnya bergetar hebat dan membuat semuanya takjub sekaligus merinding akan dilihatnya.
Tring!!! Tring!!!
Serangan demi serangan dilancarkan secara bersamaan dan ditambah lagi ini dilakukan di atas udara.
Set!
Dengan cepat aku mundur dan melemparkan beberapa serangan sihir es dan api kepadanya.
Bish...!!!
Semua itu dia tepis dengan mudah dan langsung maju menghadapiku dengan hantaman pedang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Tring!!! Tring!!!
Orang-orang yang memandang dari bawah sana, melihatnya seperti hanya dua bilah cahaya saling berbenturan satu sama lain dengan cepat. Yah, gerakan mereka sangat cepat, sampai-sampai udara sekitarnya terkikis dengan cepat dan tak ruang sedikit pun menembus area bertarung mereka.
"Dia sangat kuat!" Pikirku.
Bing!!!
Aku langsung menghempaskan gelombang kejut Mana ini dari Excalibur dan menciptakan cahaya menyilaukan serta meledakkan target di depannya.
"Serangan semacam ini, mungkinkah..." setelah gumpalan asap itu menghilang, muncul sosok bos monster itu yang masih baik-baik saja. "Sudah kuduga tak mempan!"
Set! Chin!
Dengan cepat dia langsung berada di sampingku dan menyerang aku dengan sekuat tenaga.
Piuh!!! Bur...!!!
"Akh...!"
Terlempar cukup jauh ke bawah. Saat ini pertarungan mereka hampir berada pertengahan laut Bali. Kapal-kapal tempur berada di sana menjauh dengan segera. Hampir ada di antara mereka nyaris menyerang monster itu.
Tapi dengan instruksi cepat dari salah seorang Rank-S berasal dari Cina yang saat ini dia berada di salah satu kapal itu. Meminta untuk jangan memprovokasi monster itu selagi perhatian monster itu tak tertuju pada mereka.
Saat ini, pemuda terjatuh ke dalam lautan dan tak muncul segera. Bos monster itu masih menunggu kehadirannya untuk menghiburnya lagi.
Sedangkan di sisi lain, pemuda itu tenggelam ke dalam pikirannya. Sedalam lautan yang menelannya ini.
Blup..!! Blup...!!
Udara gelembung yang keluar dari mulut, tak henti-hentinya mencekik leher pemuda ini.
"Sial! Apa yang terjadi padaku?" Dia berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya." Aku tak bisa bergerak. Dan lagi... ini sangat gelap!"
Pemuda itu teringat akan kejadian itu. Tempat gelap dan dingin, dan hanya ada monster-monster mengerikan yang datang mendekatinya.
"Kasihan sekali dirimu, Nak..."
"Siapa itu?"
Tiba-tiba dan entah dari mana suara asing ini muncul, dia terus berbicara kepadanya.
"Untuk apa kamu terus berjuang yang sudah hal yang pasti..."
Pemuda itu terus memberontak dan berusaha keluar dari dalamnya lautan yang penuh kegelapan dan kedinginan ini.
"Untuk apa kamu terus berjuang? Untuk apa kamu terus berjuang? Untuk apa...!!!?"
"Diam!!!"
Aku tahu suara apa ini. Yah, mereka sama seperti monster-monster yang ada dalam kegelapan itu. Aku teringat kata wanita bahwa kekuatan "Kematian" ini berusaha terus mengambil alih diriku.
Terus dan terus berusaha keluar dari kegelapan, tapi tubuhnya terus terbawa ke dalam lautan gelap ini.
"Sial!!! Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?"
Dia mencoba memanggil sistem, tapi sistem tak muncul sama sekali.
"Kamu keras kepala sekali, Nak. Tubuhmu sangat lemah dan jiwa bahkan jauh lebih lemah dari tubuhmu. Tak ada kesempatan bagimu bisa menang melawan 'Mereka'."
Perlahan-lahan pemuda itu mulai tenang dan merespon tanggapan suara asing ini.
"Yah, aku tahu. Aku memang paling lemah dan aku memang tak ada kesempatan menang. Tapi..." pemuda itu memejamkan matanya dan mengingat sesuatu hal yang sangat berharga baginya, "apakah aku harus menyerah karena ketidakmampuanku? Jawabannya tidak."
Sesaat seketika menjadi hening dan beberapa suara asing lain datang menghujani dirinya.
"Buka matamu! Buka matamu lebar-lebar! Tak ada apa pun yang berharga lagi, semuanya akan lenyap! Seberusaha apa pun kau berjuang, namun pada akhirnya akan musnah juga!"
Aku kesal mendengar itu, berbalik membantahnya dan berkata:
"Ya aku tahu! Aku tahu hal itu akan terjadi! Tapi apa aku harus berhenti atas pengorbanan sia-sia mereka?"
"Kau merasakan rasa sakit tanpa henti, itu tandanya kau telah berjuang. Lihatlah kenyataan, Nak, dan buka lebar matamu. Tidak ada yang berjalan sesuai apa yang kamu perjuangkan. Semakin lama kamu hidup maka kau akan semakin menyadarinya. Kesia-siaan, kesedihan, dan penderitaan hanya menghampiri diri ini, namun pada akhirnya itulah perjuanganmu yang tak berarti lagi."
Mendengar itu membuatku menurunkan rasa penjagaan hatiku. Makin hari makin sulit bagiku menghadapi segala hal walau bantuan orang sekalipun.
"Sampai kapan kamu terus membohongi dirimu sendiri. Sampai kapan kamu bisa membohongi orang-orang terdekatmu, bahwa kamu bukan bagian dari mereka lagi."
Deg!
Mendengar itu membuat pemuda ini sangat terkejut dan bertanya :
"Apa maksudmu?"
"Kamu bukan lagi... seorang manusia." Seketika jantungnya berdetak kencang mendengar itu. "Kamu bukan lagi manusia semenjak menerima 'kami'. Akan hanya ada kehancuran menghampirimu, setelah kekuatan ini kamu kuasai sepenuhnya, maka orang-orang akan memandangmu hanya sebagai monster mengerikan."
Diam sejenak dan hanya amarah membendung pemuda ini.
"Aku tidak peduli atas pandangan mereka! Aku tidak peduli akan semua hal itu, aku akan menggunakan kekuatan ini untuk membasmi 'Mereka' dan melindungi orang-orang berharga bagiku."
Terasa sesuatu seperti ada yang menyeringai di balik kegelapan ini. Seolah-olah dia telah menemukan sesuatu hal dalam diri pemuda ini.
"Melindungi? Dengan kekuatan ini? Heh, pada akhirnya kamu setuju dengan 'kami'." Pemuda hanya terdiam dan sinis memandang kegelapan ini. "Semua yang hidup dalam keterikatan dan bergantung sesuatu hal. Tapi persepsinya lah yang membuat semuanya jadi terputus dan itulah membuatnya--bahwa yang semua dilihatnya itu adalah kenyataan."
Setelah terdiam cukup lama akhirnya pemuda ini angkat bicara:
"Kelahiran, kematian, pendengaran, pandangan dan perasaan semua itu masih aku berusaha pahami. Tapi semua persepsi itu masih samar bagiku, dan bisa saja semua kenyataan yang kulihat saat ini hanyalah sebuah kebohongan yang tak berarti."
Suara asing itu tertawa menggelegar dan berkata :
"Semuanya hanya hidup dalam sebuah asumsinya saja. Dan tidak ada yang satu pun sempurna di antaranya, itulah sebabnya akan selalu ada namanya sisi lain yang melawan dirimu dan tak akan pernah bersatu untuk selamanya. Dan itulah posisimu saat ini, 'kami' sudah melihat dalam dirimu seperti apa dan ada banyak sisi berlawan dalam dirimu, tak ada satu pun darinya bersatu membantumu."
Sesaat aku teringat apa yang dikatakan Sadu kepadaku bahwa "Kebenaran", hanya boleh ditemukan pada dirimu sendiri. Dan aku tahu apa yang harus kuperbuat saat ini sekarang.
"Yah, akan selalu ada sisi berlawanan, tapi pada akhirnya mereka hanyalah sosok yang sama. Tidak perlu bersatu untuk menyamakan kesetaraan, cukup mereka berdiri berdampingan dan bekerja sama, maka perjuangan akan selalu membuahkan hasil. Maka dari itu..." seketika tangan pemuda ini bergerak dan mengarahkan ke atas, seolah-olah mengajak seseorang bersalaman, "aku butuh bantuan 'kalian'... Morspate (Kematian)."
Suara tawa menggelegar dan semakin keras, hanya saja pemuda ini masih tenang dan berusaha tenang. Walau suara tawa ini semakin kencang dan membuat dirinya mulai kesakitan.
"Akhirnya kamu tak bisa lepas dari 'kami', hah!"
"Bukannya dari awal 'kalian' sudah berada dalam tubuhku?"
"Iya itu benar. Tapi karena 'wanita' menyebalkan itu dan para pewarisnya terus menghalangiku."
Sekarang aku mengerti dibalik alasan marahnya Aran saat mengetahui aku tak sadarkan diri, ternyata ini penyebabnya. Tapi... wanita itu juga ternyata membantuku selama ini, dia bilang bukan salah satu pendahuluku. Walau begitu aku berterima kasih padanya telah menjagaku selama ini.
"Jadi apa alasanmu ingin mengambil alih tubuhku?"
"Bukankah itu jelas, karena 'kami' ingin bebas. Ditambah lagi 'saudara-saudaraku' ditahan oleh-'Nya'."
"Saudara?" Aku langsung teringat kata wanita itu bahwa aku hanya mendapatkan salah satu kepingan kekuatannya. "Berarti masih ada kekuatan lain setara dirimu?"
__ADS_1
"Iya, tapi untuk saat ini 'kami' semakin lemah karena terbagi terus."
Bing! Dun!
Sesaat satu persatu sosok mengerikan muncul di sekitarku. Aku hanya bisa menahan diri dan menelan ludahku. Aku tak menyangka bisa merasakan perasaan mengerikan ini lagi.
"Sekarang apa kamu menerima 'kami'?"
Beberapa saat terdiam aku hanya merinding melihat mereka.
Tapi...
"Eh?"
Saat tanganku bersentuhan dengannya entah aku merasakan perasaan familiar. Sebuah perasaan yang baru-baru ini aku rasakan waktu itu.
"Perasaan ini, sama persis saat mendengar 'wanita' itu bernyanyi." Setelah cukup lama tenggelam dalam kehangatan ini akhirnya aku kembali memandang mereka. "Quso ator ew (mohon bantuan kalian)."
Seketika mereka semua menunduk kepadaku dan serentak berkata :
"Bumap! Demes! (Baik! Dewaku!)"
Bing!!!
Sesaat tubuhku dipenuhi energi melimpah, sekarang aku mengerti keinginan kekuatan ini. Kekuatan ini hanya butuh pengakuan dariku, memang selama ini aku takut akan kekuatan ini bahwa sewaktu-waktu, tubuhku akan diambil alih oleh kekuatan ini. Tapi nyatanya kekuatan ini hanya butuh "kebebasan" yaitu pengakuan sepenuh dari penggunanya.
Blup!!! Blup!!! Blup!!!
Gelembung terus keluar dari mulut dan sesaat mata terbuka dengan lebar. Tampak sosok mata kuning bercahaya di kegelapan dan pemuda itu bangkit, serta memperagakan sesuatu.
"Masalembo..."
Wursh...!!!
Sontak semua orang yang di atas sana sangat terkejut, sebab lautan Bali tiba-tiba ada pusaran air besar dan seluruh kapal perang menjauh sesaat demi tak diseret dalam pusaran itu.
Wush...!!!
Tiupan angin makin kencang dan tampak sosok hitam di tengah pusaran itu dengan tatapan matanya berwarna kuning yang tajam.
Set!!! Piuh!!! Wursh...!!!
Sesaat sosok hitam itu maju melesat dan menghampiri sosok monster itu yang melayang di atas sana.
Tring!!!
"Hah!?"
Monster itu terkejut melihat perubahan musuhnya ini dan ditambah lagi tatapan matanya yang kuning itu membuat tubuhnya merinding sesaat.
"Menjauh dariku!!!"
Slash!!! Tring!!!
Dia tiba-tiba mengayunkan pedangnya dengan kuat dan membuat jaga jarak dari musuhnya.
"A, apa-apaan kekuatannya itu?" Pikirnya yang mulai merasakan ketakutan lagi.
"U... Intronibal (Kamu... Kembalilah)." Sembari mengulur tangan ke depan seolah-olah meminta datang kepadanya.
Crak!!!
Bos monster mendengar itu semakin bergidik dan berteriak dengan keras, dan langsung menusuk dadanya.
Bing!!!
Muncul sesuatu cahaya dan digenggam oleh tangannya, ternyata itu sebuah koin emas dan memancarkan energi begitu kuat.
Agus yang merasakan energi itu semakin jelas, dia menangis dan tak percaya jika benda berharga itu ada di depan matanya sekarang.
"Master..."
Pemuda itu menatap ke arah bawah dan bergumam :
"Agus..."
Lalu menatap koin yang bersinar itu. Tampak monster itu siap menyerang dengan serangan terkuatnya.
"Rasakan ini...!!!"
Bing!!!
Cahaya koin itu semakin bersinar dan seperti matahari kecil datang ke bumi. Cahayanya semakin terang dan berhenti sesaat.
"?"
Tapi di balik awan hitam tebal ini seketika terbelah dan muncul sebongkah batu raksasa yang panas yang turun ke bawah.
"Meteor!!"
Tapi pemuda ini tampak tenang dan memandang koin di pegang monster itu energinya melemah.
"Jadi begitu," pikirannya lalu menatap langit yang semakin panas akibat meteor ini. "Excalibur."
Tak... Bing!
Seketika wujud pedangnya berubah, seperti saat milik Arthur. Dan pemuda ini mempersiapkan diri untuk mengayunkan pedangnya ke atas sana.
Bing!!! Bur...
Pedangnya bercahaya dan Mana melimpah dari pedang itu. Semua orang melihat itu takjub akan cahayanya yang putih itu.
"Perdistruakak..."
Syut..!!! Slash!!! Bom!!!
Satu tebasan hebat dan dahsyat berhasil menghancurkan batu panas itu menjadi berkeping-keping. Bos monster itu terkejut dan tak percaya jurus terkuatnya hancur begitu itu saja.
"Semuanya lari cepat!!"
Mendengar teriakan di bawah sana membuktikan bahwa masalahnya belum selesai. Serpihan kecil meteor ini masih jatuh ke mana-mana dan siap menghantam daratan bumi.
Pemuda itu mengangkat satu tangannya ke atas dan Mana melimpah berkumpul di telapak tangannya.
"Revwargece-te..."
Bum...
Muncul bola hitam raksasa di atas tangannya dan memecah beberapa bagian kecil dan terbang menuju setiap serpihan batu meteor itu.
Semuanya terkejut dan tak menyangka bisa selamat dari kiamat ini.
"Ki-kita benar-benar selamat."
Setelah urusan batu itu selesai, akhirnya pemuda itu bisa fokus kepada monster itu di hadapannya yang saat dia ketakutan.
"Kenapa? Kenapa dia sekuat ini? Kenapa!?" Dia terus berteriak dalam batinnya dan tak menerima nasibnya ini. "Harusnya aku yang terkuat di sini! Harusnya aku yang jadi penguasa di sini!"
Set!!! Crang!
Dengan cepat monster berlari arah berlawanan, tampaknya ia ingin kabur dan berhasil memecahkan celah dimensi lain dan memasukinya dengan bantuan sisa energi koin itu.
"Revwargece..."
Brack...
Sesaat muncul portal kecil di samping pemuda itu dan dia langsung memasukinya. Terlihat dia berada di suatu tempat lembab dan gelap, ini berada di dalam goa. Serta terlihat bos monster itu kelelahan di ujung goa ini.
Tap... Tap... Tap...
"Hiikk...!!!"
Sangat terkejut karena dia sudah merasakan kehadiran musuhnya. Dan langkahnya yang terasa sangat horor baginya, membuat dirinya mulai kesulitan cari cara kabur lain lagi.
"Fotas E ignor Demez ik (Bisa-bisanya kamu mengabaikan Dewamu ini)."
Bos monster itu semakin ketakutan dan berusaha menjauh.
"Pergi! Kamu bukan Dewaku! Aku adalah Dewa itu sendiri!"
Bing... Crack!
"Apa?"
Sesaat ingin melancarkan sihir dengan koin itu, tiba-tiba koin itu tak berfungsi lagi. Sebab energi misterius dari dalam koin itu hanya "Mereka" serta orang di depannya ini saja yang tahu.
Pemuda itu mengangkat tangannya dan seketika koin itu melayang di tangannya dan membuat bos monster itu terkejut.
"Ligravadas..."
Bing!!!
Sesaat koin itu bersinar di tangan pemuda itu dan melancarkan serangan sihir yang membuat bos monster tak bisa bergerak.
"Tidak! Menjauh dariku...!!!"
Sesaat pemuda itu meletakkan tangannya di atas kepala bos monster itu dan mengucapkan sesuatu :
"Evanispalang..."
Sesaat air mata monster itu menetes dan tubuhnya menghilang menjadi serpihan cahaya kecil. Setelah itu muncul dua bola kuning dan satu bola kuning itu memiliki warna hitam pekat di dalamnya.
Pemuda itu seketika menyerap bola kuning satunya dan bola kuning yang memiliki warna hitam pekat di dalamnya, ia menyerap energi hitam pekat itu dan menyimpan bola kuning itu di suatu tempat khusus di dalam tubuhnya.
"Tis pan an kne, et tera E siur wi sre. Demes (Sampa sini saja, sisanya Anda sudah tahu. Dewaku)."
__ADS_1
"Y, Si a yis, Morspate (Ya, terima kasih, Kematian)."
Sesaat aku berhasil mengambil alih tubuhku lagi, saat Morspate telah bebas. Ia memperingati aku, bahwa kekuatan "Hukum" miliknya berasal dari "Dia" dan bukan sepenuhnya miliknya. Jadi akan banyak celah antara kekuatan miliknya serta "Hukum" dari-"Nya". Tapi berkat "Hukum" itu, membantu memaksimalkan kekuatan Heredis of Death yang tidak sempurna ini.
Hanya saja, kekuatan Morspate sewaktu-waktu akan menguasai diriku jika aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Jika aku tenggelam dalam emosi negatif hal ini memperburuk jiwa dan tubuhku kelak katanya. Morspate hanya mematuhi penggunanya yang memiliki kendali penuh atas dirinya, dan dia memintaku untuk hati-hati menggunakan kekuatan ini lagi terutama saat memasuki mode Heredis. Dan barusan tadi, dia menunjukkan aku cara menggunakan "Hukum Kehidupan" milik "Dia" serta digabungkan dengan kekuatan Heredis of Death. Tapi kedua kekuatan ini telah bersatu secara sendirinya.
"Aku tak menyangka jika kekuatan 'Hukum' dan Heredis ternyata berbeda. Jadi selama ini pendahuluku menggunakan dua kekuatan sekaligus saat bertarung."
Aku memandang sekitar dan mencoba menggunakan "Hukum" untuk pertama kalinya.
"Rev..." aku ragu-ragu, takut jika "Hukum" ini bisa menyakitiku dan mengingat kekuatannya yang luar biasa. "Revwargece..."
Crack!
Ternyata berhasil, aku sangat senang dan hanya saja sesaat tubuhku mulai melemas setelah menggunakannya.
"Ternyata menggunakan dua kekuatan yang telah disatukan seberat ini."
Aku langsung memasuki portal itu dan sudah berada di medan perang lagi. Tampak para monster reptil mengamuk tanpa arah, karena pemimpin mereka telah tiada.
"Keluarlah!"
Aku langsung mengeluarkan semua The Arcana dan meminta mereka membasmi sisa monster reptil ini. Terkecuali Prudens dan Norum masih dalam diriku, aku butuh sihir penyembuhan Prudens untuk mereka yang ada di dalam dungeon sana.
"Lihat! Pasukan monster milik orang itu!"
The Arcana langsung menerjang semua monster reptil itu dan aku langsung berlari ke arah dungeon. Karena aku harus segera menyelamatkan mereka.
Sesaat berhasil masuk, aku berlari secepat mungkin di dalam lorong gelap. Tapi hanya saja, perasaan kuat dan penuh tekanan ini berasal dari dalam sana.
"!"
Saat sampai di sana, aku dibuat terkejut apa yang kulihat ini. Seorang wanita dengan pakaian bak pendeta ini serta tudung menutupi kepala sampai seluruh wajahnya, telah melakukan penyembuhan terhadap para Pilar Negara ini.
"Kamu jangan khawatir manis~, mereka masih hidup kok. Aku hanya membantumu saja dan kubuat mereka tertidur juga."
Aku masih waspada terhadapnya, sebab energi besar terpancar darinya.
"Apa kamu salah satu dari 'Mereka'?"
Sesaat wanita berbalik dan menatapku dengan wajah ditutupi kain itu, aku bisa merasakan senyumannya di balik kainnya itu.
"Itu benar manis~."
Bush..!!!
Sesaat aku langsung memancarkan energi Mana-ku dan siap melawannya. Aku tidak yakin apa saat ini bisa melawannya atau tidak tapi setidaknya aku akan berusaha sekuat mungkin.
"Jangan marah begitu~, aku tak ada niatan untuk bertarung, loh~." Walau dia berkata begitu aku belum bisa mempercayainya. "Lebih baik kamu menolong gadis itu deh," sembari menunjuknya, "kamu membawa miliknya kan?"
Sontak aku teringat tujuanku, aku langsung mengeluarkan bola kuning itu dari tubuhku dan ini milik Bindi Alaera.
Aku langsung maju ke arahnya dan mengarahkan bola kuning ini kepadanya dan bergumam :
"Unimanggal..."
Sring!!! Bing!!
Sesaat bercahaya dan bola kuning itu berhasil menyatu ke tubuhnya. Seketika aku bisa merasakan kehidupan darinya.
"Syukurlah," pikirku yang senang.
"Tak kusangka kamu hebat juga ya~."
Aku bangkit lagi dan menatap tajam wanita itu.
"Ayolah, jangan tatap aku seperti itu. Aku ini orangnya mudah malu, loh~."
"Apa maksud semua tindakanmu ini?"
"Hm? Bagaiman mengatakannya ya, aku hanya ingin membalas budi saja."
"Balas budi?"
"Yap, jadi... tolong kembalikan barang milikku ya," sambil menyodorkan tangannya ke depan.
"Barang..." seketika aku teringat dengan koin itu. Kata Agus ini milik masternya, jadi aku tak bisa memberikannya semudah itu.
"Kurasa ini barang harus dikembalikan ke pewarisnya, bukan jatuh ditangan 'perebut'-nya."
Bur...!!!
Mendengar itu membuat wanita itu memancarkan energi Mana yang dahsyat dan itu membuatku sedikit sesak.
"Nak, selagi aku masih baik sebaiknya kamu nurut ya~."
Merasakan ancaman itu, entah kenapa membuatku tak ada pilihan lain. Aku menatap para Pilar Negara ini dan berkata :
"Baiklah, tolong hentikan."
Sesaat dia berhenti dan aku maju memberikan koin ini padanya.
Hap!
"!!"
Tapi dia tiba-tiba memegang tanganku dan mengelusnya dengan lembut. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, karena dia bukan lawan yang bisa kukalahkan saat ini.
"Ternyata ini benar kamu," katanya setelah itu melepas tanganku. "Baiklah, dengan ini hutangku sudah lunas."
"Kapan aku bertemu denganmu? Aku tak ingat pernah menolong atau membantumu."
Wanita itu tersenyum di balik kain wajahnya itu dan berkata:
"Aku hanya membalas budi terhadap 'ibu'-mu yang telah menyelamatkanku saat itu. Maka dengan ini aku ingin membalasnya melalui 'anak'-nya."
Terkejut dan percaya mendengar itu, aku langsung bertanya lagi padanya maksud ucapannya itu.
"Ibuku? Apa maksudmu?"
"Nanti kamu akan tahu, manis~." Wanita itu memunculkan retakan dimensi dan mulai memasukinya. "Jangan khawatir, aku tak akan memberitahukan yang lain bahwa kamu pewaris 'Dia' selanjutnya. Itupun kalau kamu pandai menyembunyikan dirimu untuk saat ini."
Wanita itu langsung memasuki retakan dimensi dan menghilang.
"Kenapa semuanya semakin rumit."
Karena ada banyak hal untuk di konfirmasi kan, aku langsung membawa para Pilar Negara ini keluar dungeon dan melakukan perawatan segera pada mereka.
Karena insiden dungeon Rank-S selesai dan sisa monster reptil berhasil di bantai. Sekarang hanya ada air mata menghujani beberapa hari kedepan akibat insiden ini.
...•••...
...•••...
...•••...
Di sisi lain yang sangat terdalam dan gelap...
"Ternyata kamu punya sisi menggemaskan juga ya, Morspate."
Sesaat Morspate berbalik dan tampak seorang wanita dengan mata dan rambutnya yang sangat kelam dengan pakaian jubah yang sudah rusak.
"Kukira kamu sudah pergi. Sedang apa kamu ke sini lagi?"
"Apa salahnya ingin bertemu denganmu."
"Bertemu? Lebih tepatnya ingin mengurungku lagi."
Wanita itu tersenyum dan berkata:
"Aku tak akan melakukannya lagi, lagian 'Anak'-ku sudah mengakuimu. Jadi, aku tak bisa menahanmu lagi."
Morspate menyeringai dan berkata:
"Kamu tahukan aku bisa mengambil alih tubuhnya kapan pun."
Sesaat raut wajah senyum wanita itu sirna dan langsung memancarkan aura ancaman yang kuat.
"Untuk pertama tadi aku membiarkannya karena kamu niat ingin mengajarinya. Tapi seterusnya jangan bermacam-macam lagi ingin menguasai dirinya sekalipun dia yang minta!"
Melihat itu hanya membuat Morspate diam sejenak dan berkata:
"Aku takkan melakukannya. Tapi... jika dia sudah kehilangan kendali atas dirinya, aku berhak mengambil alih dirinya sepenuhnya. Asal kau tahu, inilah persyaratan dari dulu kuajukan kepadamu kan?"
Mendengar itu, wanita meredam amarahnya dan kembali sedia kala.
"Tidak biasanya kamu secepat itu mau akrab dengan anak ini. Biasanya aku dan para pewaris lainnya, kamu pun tak mau menawarkan bantuan sebanyak itu."
Morspate terdiam dan dia teringat yang sangat berarti baginya.
"Dia sangat mirip dengan Tuanku."
"Tuan? Maksudmu 'Ayah'?"
Morspate hanya memandang wanita itu dan wanita itu menganggap jawaban itu benar.
"Baguslah, kamu akrab cepat dengannya. Dengan begini ini aku tak perlu khawatir meninggalkan dirinya."
"Kamu yakin pergi begitu saja, Pandora?"
"Alah~, sekian lama aku tak mendengar kau menyebut namaku." Wanita itu berbalik dan berjalan menuju gelapnya kegelapan ini. "Aku mempercayaikan 'Anak'-ku padamu."
Morspate menghela napasnya dan tampak dia sedikit kesal.
"Dasar wanita menyebalkan!"
__ADS_1