Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 27


__ADS_3

"Huh! Di mana aku?"


Tiba-tiba aku berada di sebuah tempat yang sangat gelap, mencoba menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa sama sekali.


"Ergh..! kepalaku...!"


Seketika kepalaku rasanya mau pecah dan muncul berbagai ingatan asing melintas di pikiranku.


"Apa ini!"


Aku melihat ingatan seseorang yang berada dalam sebuah ruangan yang penuh peralatan medis.


"Sayang, kamu kok belum tidur."


Tampak seorang wanita cantik yang memanggil dirinya.


"Aku belum mengantuk, Sayang. Kamu tidur duluan saja."


"Kamu tidak perlu terlalu memaksakan dirimu," ucap wanita itu sembari menghampiri suaminya dan memegang pundaknya.


"Tidak apa-apa, aku masih belum capek," sembari mengelus tangan istrinya dan menciumnya. "Aku tak bisa mengabaikan penyakit misterius yang melanda kota kita ini dan tak ingin ada korban berjatuhan banyak lagi, aku tak ingin lagi anak-anak yang polos berakhir begitu saja seperti Putri kita."


Seketika wanita itu meneteskan air matanya.


"Maaf, membuatmu sedih lagi."


"Hm," balas wanita cantik itu sembari menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya. "Aku tak menangis kok, aku hanya senang saja bahwa Putri kita pernah bilang, dia sangat ingin melihat Ayahnya menjadi pahlawan yang menyelamatkan banyak orang."


"Begitu ya...."


Pria ini menundukkan pandangannya ke bawah, dia tak ingin menunjukkan ekspresi sedihnya itu kepada wanita dicintainya, tapi wanita ini tahu bahwa suaminya merasa sedih juga dan dia hanya memeluknya dengan lembut dari belakang.


"Siapa mereka? Dan kenapa aku melihat semua ingatan ini... ergh...!"


Sakit kepala itu terus berlanjut hingga aku melihat gambaran asing lagi dari pikiranku.


Terlihat sebuah kota hancur dan porak-poranda di mana-mana.


"Kenapa ini? Apa yang terjadi?"


Aku terus memutar pandanganku ke kiri dan kanan, seketika muncul cahaya menyilaukan di depan sana.


Bom!


"Akh...!"


Aku menutup mataku dari cahaya ledakan yang menyilaukan itu.


"Apa itu?"


Mataku terbelalak melihat lima orang melayang di udara dan satu orang yang terlihat sangat kelelahan di bawah sana.


"Sudah cukup, menyerahlah wahai 'Sang Palsu.'"


"Tidak!! Aku tak akan menyerah begitu saja... hop...!"


"Heh~, kamu terluka begitu loh..., bagaimana kalau kamu bergabung dengan kami saja. Tidak ada ruginya kan~."


"Heh! kamu pikir semudah itu aku akan berpaling, sudah banyak jiwa-jiwa orang yang sudah mempercayakan harapannya kepadaku, aku tak akan mengkhianati mereka!!"


"Dasar keras kepala! Kamu hanya dibebani sebuah harapan yang penuh kekosongan, alangkah baiknya kamu bergabung dengan kami dan sayang, potensimu itu sia-sia untuk melindungi makhluk-makhluk lemah itu."


"Lemah... iya mereka memang lemah jika sendiri, mereka lemah jika tidak ada yang mengharapkan mereka, tapi... mereka keras dan kokoh jika mereka bersatu. Maka dari itulah terciptanya aku di sini, karena harapan mereka bersatu, jiwa mereka bersatu... untuk menyingkirkan makhluk-makhluk menjijikan seperti kalian!! Novus!"


Tiba-tiba muncul makhluk hitam berbentuk gagak dengan dua tangan bercakar tajam dan kaki berdiri lurus bak manusia, serta dua sayap besar berwarna hitam di punggungnya.


Set! Wosh...!


Dengan cepat gagak besar itu terbang dan menghampiri mereka untuk menyerang.


"Cih! Menjijikan!"


Salah satu dari mereka mengangkat tangannya, seketika muncul cahaya dari langit.


Syut! Piuh!


"Aak...!"


"Tidak!! Novus..! Hoek...!"


Gagak itu terkena serangan yang sangat cepat dari cahaya itu hingga dia terjatuh ke tanah.


Bur...!


Sedangkan pria itu semakin kesakitan, dia meremas dadanya sekuat mungkin dan darah terus keluar dari mulutnya.


"Kami beri kamu kesempatan terakhir untuk bergabung dengan kami, lihat... kamu tak memiliki banyak kekuatan lagi dan seluruh pasukanmu telah musnah."


Pria ini melirik ke arah belakangnya dan tampak banyak makhluk-makhluk aneh dengan bentuk aneh juga, mereka semua adalah bawahan setia dari pria ini dan sayang, mereka harus berakhir mengenaskan.


"Tidak ada jawaban ya, kalau begitu... kami anggap kamu tidak setuju." Dia langsung mengangkat satu tangannya dan muncul bola cahaya yang sangat besar.


Seketika orang itu melempar bola besarnya ke pria berjubah hitam itu, pria ini hanya tersenyum dan menggumamkan sebuah kalimat:


"Paschimmu Destum...."


Seketika muncul cahaya menyilaukan dari pria ini.


"Apa yang dilakukan si brengsek itu?!"


Bom!

__ADS_1


Setelah bola cahaya itu menyentuh tanah dan mengubah tanah menjadi lautan api, hingga membakar semuanya yang ada di sekitarnya.


"Tampaknya dia berhasil lolos."


"Kalau begitu! Kita harus mengejarnya!"


"Tidak perlu, dia tidak akan bertahan lama, kita harus melanjutkan rencana kita dan mencari pewaris selanjutnya untuk mengawasi tempat ini, kita tidak bisa terlalu lama di sini."


Setelah melihat pertarungan dahsyat itu, seketika memori ingatan ini berhenti dan sakit kepalaku menghilang begitu saja.


"Apa itu tadi, dan... siapa orang-orang itu?"


Pertanyaan terus terlintas di benakku dan tiba-tiba muncul sebuah cahaya kecil, dan cahaya itu semakin membesar hingga menutupi seluruh pandanganku.


"Egh...!"


...•••...


...•••...


...•••...


Sekilas cahaya masuk secara perlahan dalam kegelapan dan cahaya itu semakin besar sehingga menerangi semua pandangan sehingga terlihat kabur, ia pun mengedipkan beberapa kali matanya agar semuanya terlihat jelas.


"Ha... ha... hah..., aku masih hidup?"


Sesaat terbangun aku dikejutkan batu raksasa itu masih mengangkat kakinya tepat di atasku.


"Berhenti?"


Tiba-tiba aku teringat saat pertama kali menerima sistem ini, seketika semuanya terhenti dan tidak bergerak sedikit pun.


[Apa kamu tetap ingin melanjutkan ujian ini?]


[Kalau kamu memutuskan tak ingin melanjutkan ujian ini, maka seluruh hak warisan diberikan kepadamu akan diambil kembali, dan kamu bukan lagi sang pewaris dari warisan ini.]


[Jika kamu tetap ingin melanjutkan ujian ini, maka waktu akan berjalan kembali dan ujian dijalankan kembali hingga kamu berhasil menyelesaikan ujian ini.]


[Kamu punya waktu 10 detik untuk memutuskan pilihan dan jika waktu habis, maka sudah dianggap tak ingin melanjutkan ujian ini.]


"Jika aku menolak ujian ini, maka... aku tak akan memiliki sistem ini lagi dan tak ada cara untuk menjadi kuat secepat mungkin selain cara sistem ini. Kalau begitu... lanjut!"


[Memulai proses menjalankan ujian.]


[Bersiaplah....]


[3]


[2]


[1]


Seketika waktu berjalan kembali dan golem raksasa itu langsung menghantamkan kaki besarnya ke bawah.


Set!


Bur...!


Belati itu langsung melayang dan dengan cepat terbang ke arahku.


Hap!


Setelah mendapatkannya, aku langsung berlari ke arah dalang dari Golem besar ini yaitu penyihir hitam di sana, tampak dia hanya berdiam diri di sana tanpa bergerak sedikit pun.


Boom! Boom!


Sebelum mendekati penyihir itu, Golem raksasa ini tak membiarkanku begitu saja dan dia berlari ke arahku.


Bur...!


Setelah hantaman keras itu hingga menyebabkan kabut asap yang sangat tebal.


"Itu dia...."


Syut!


Aku langsung melempar belatiku ke arah penyihir itu.


Ting!


"Ditangkis lagi...!"


Dur....


Golem besar ini bangkit dan langsung melayangkan tinju besarnya kepadaku.


Bur...!


Aku berhasil menghindar dan mengambil pistol milikku dengan skill ini lagi dan dengan cepat terbang ke arahku, aku langsung mengarahkannya ke raksasa itu.


Dor! Dor! Dor!


"Tidak bergeming sedikit pun ya."


Aku berlari lagi dan melihat pedang panjang milik kesatria hitam itu, aku berlari ke arahnya dan berhasil mendapatkannya.


Set!


Sesaat mendapatkannya, aku langsung berlari menuju arah golem raksasa itu.


"Bagaimana kalau dengan yang ini!"

__ADS_1


Swoosh..! Bur...!


Seketika satu kaki Golem besar itu hancur dan dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh.


Gedebur...!


Tak ingin kehilangan kesempatan ini, aku langsung berlari ke penyihir itu, dan tampak penyihir itu mengeluarkan beberapa bola api dan menembakkannya ke arahku.


Piuh! Bom! Bom!


Aku berhasil menghindari semua serangannya, sesaat jarak kami sudah 20 meter, aku langsung menguatkan seluruh otot-ototku dan bersiap melempar pedang panjang ini lagi ke arahnya.


"Aaahh!!!"


Syut! Wosh...!


Dengan kecepatan angin, pedang itu melaju dengan cepat ke arah penyihir itu.


Sesaat pedang itu semakin dekat, penyihir itu lebih memilih menghindarinya dari pada menahannya dengan sihir pelindungnya.


Bur...!


Seketika pedang itu tertancap di dinding lagi dengan kuat.


"Sudah kuduga, pedang itu pasti memiliki pasif yang sangat ditakuti oleh penyihir itu."


Set!


Dengan cepat aku berlari ke arahnya selagi perhatiannya goyah akibat lemparan pedang padang itu.


"Norum!"


"Grrgh..! Hoarrghh...!"


Norum langsung keluar dari tubuhku dan maju dengan cepat mendahuluiku.


"Hoaarrghh...!!"


Seketika penyihir itu tak bisa bergerak sama sekali, ini karena skill pasif milik Norum yaitu "Insting liar."


"Bagus, Kawan!"


Dengan cepat aku mengambil belatiku dengan skill dan langsung menebas dirinya.


Slash! Crak!


Seketika kepala penyihir itu terpotong.


[Kamu berhasil menyelesaikan quest "Perubahan Job."]


"Fiuh*, sudah berakhir ya, bagus Kawan," pujiku sembari mengelus kepala Norum.


"Grrgh... guk... he... he...," balas Norum sembari mengibaskan ekornya.


[Sebuah "Job" akan diberikan kepadamu berdasarkan kelebihanmu.]


"Diberikan ya, jadi aku tidak bisa memilih?"


Aku mencoba memikirkan "Job" macam apa yang kudapatkan dari sistem ini.


"Tapi di sini dikatakan bahwa 'Job' akan diberikan berdasarkan kelebihanmu, kalau dipikir-pikir aku tak memiliki kelebihan apa pun atau bakat menonjol."


Tapi, kalau diperhatikan sekarang berdasarkan status poin-ku yang mana terlalu fokus ke STR, AGI, dan Vit.


"Kalau sekarang... aku terlalu mahir dalam hal pertarungan jarak dekat dengan senjata pisau atau senjata jarak menengah, berarti 'Job'-ku berkaitan dengan assassin. Tapi, apa pun 'Job'-nya setidaknya itu bisa membuatku menjadi lebih kuat."


[Ke mana pun kamu pergi, jiwa-jiwa tersesat akan selalu mengikutimu.]


[Jalanmu akan dipenuhi kehampaan dan perasaanmu akan menjadi taruhan untuk jalanmu ini.]


Aku terkejut melihat tulisan-tulisan ini.


"Apa maksud perkataannya ini, dan kenapa terlihat seperti sebuah pesan kematian."


[Karena kamu memiliki tekad yang kuat dan tak ingin direndahkan oleh siapa pun, menempuh perjalanan panjang untuk menjadi yang terkuat dengan tekadmu itu.]


[Tekadmu itu telah menuntumu dengan kuat untuk sampai ke titik ini, jiwa-jiwa tersesat akan senang jika kamu menuntun mereka ke alam selanjutnya menuju kehidupan baru, uluran tanganmu akan menjadi sebuah berkah bagi jiwa-jiwa tersesat ini dan mereka akan mengikutimu dengan setia, dan perkataanmu akan selalu menjadi hukum dan menuntun mereka ke mana pun.]


["Job"-mu adalah "The Reaper."]


"'The Reaper?' Bukannya itu Malaikat Maut ya, dan Malaikat Maut sangat berkaitan dengan kematian dan Assassin datang bagai Malaikat Maut juga, berarti 'Job' ini semacam Assassin juga."


[Kamu telah menerima "Job"-mu....]


"Heh? Ada lagi?"


[Kamu juga telah menerima sebuah warisan, "Job"-mu dan warisan milikmu akan disatukan.]


"Disatukan?"


[Seluruh skill dan kemampuan dari "Job"-mu serta warisanmu akan disatukan.]


[Memulai proses menyatukan....]


"Jika warisan serta 'Job' disatukan maka...."


[Proses penyatuan selesai.]


[Mulai sekarang Job-mu adalah "Heredis of Death."]


Aku terkejut dan terbelalak melihatnya.

__ADS_1


"Inikah... 'Job'-ku?"


__ADS_2