Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 101


__ADS_3

Pukul 12.55


Di sebuah ruangan tampak seorang pria tua dan seorang pria berasal dari barat sedang mendiskusikan sesuatu.


"Jadi, apa hanya itu saja alasanmu datang ke sini?"


"Yap, aku datang kepadamu hanya sebuah alibi saja untuk menghindari perhatian banyak orang. Semua orang tahu, jika ada orang Terbangkitkan berasal dari luar, pasti harus melalui prosedur asosiasi setempat demi keamanan."


Tampak Agus berusaha memikirkan alasan kedatangan orang berkebangsaan barat ini, karena John salah satu orang Terbangkitkan terbaik di Amerika dan guild-nya pun demikian salah satu terbesar di sana juga.


Tapi, alasan kedatangan pria asing ini tak sesuai apa yang diperkirakan oleh Agus itu sendiri.


"Apa tujuan dia untuk mendatangi PT. Hanjar?" Tanya dalam hati Agus yang berusaha mencari tahu tujuan kedatangan pria ini. "Belakangan ini, perusahaan itu sering kedatangan orang-orang terbaik dari berbagai negara, dengan alasan ingin mengambil atau membeli barang berkualitasnya, tapi menurut pandanganku, ada sesuatu hal yang mereka tutupi dari mata asosiasi. Tampaknya aku harus menunggu hasil pengamatan sang 'Penyelamat' yang telah masuk ke sana."


Agus beserta seluruh anggota asosiasinya sudah menyelidiki perusahaan itu, tapi tak ada satu pun mereka temui selain barang-barang hasil jarahan dungeon yang dijual. Ditambah lagi, perusahaan ini memiliki dukungan pemerintahan dengan alasan--salah satu perusahaan terbaik yang telah membantu negara.


Tapi hal itu belum cukup menutupi kecurigaan asosiasi biro keamanan, dan penyelidikan demi penyelidikan dilakukan namun tidak membuahkan hasil sedikit pun. Hanya saja, perusahaan itu sering mengundang profesor dan dokter yang belum terkenal atau masih baru dalam bidangnya untuk masuk ke dalam perusahaan itu.


Tapi tindakan hal ini sudah wajar bagi setiap perusahaan jarahan dungeon seperti PT. Hanjar, demi keamanan medis dan berbagai pencegahan serta solusi setiap kejadian mengerikan seperti penyakit misterius dari monster. Hanya saja... mereka selalu mengundang banyak orang berjas putih perkiraan ada lebih 20 orang, yang mana rata-rata setiap data yang diterima setiap perusahaan di asosiasi, rata-rata hanya 3 sampai 7 orang saja dan itu pun hanya sedikit melampaui dari itu dan tidak sebanyak PT. Hanjar yang memerlukan orang-orang sebanyak itu hampir setiap harinya.


"Kalau kedatangannya bukan untuk artifak itu, berarti di PT. Hanjar memang ada sesuatu yang sangat besar disembunyikan di sana."


Selagi memikirkannya dan sedangkan di seberangnya ada pria barat yang bernama John Marques sedang duduk dengan tenang menunggu keputusan dari Agus, atas bahwa dirinya telah diizinkan masuk ke negara ini dengan tujuan jelas yang sudah diberitahukan barusan.


Agus hanya bisa menghela napasnya yang penuh keraguan itu dan berkata :


"Baiklah, kau bisa memulai urusanmu itu. Tapi, sampai kapan kau akan berada di sini?"


"Hmm... rencananya mau dua hari saja, tapi melihat situasinya yang menyulitkan kalian, mungkin saya akan berada di sini sampai dungeon itu berhasil ditutup. Jaga-jaga saja, kalau kalian tiba-tiba datang meminta bantuanku ketika sudah mulai kesulitan mengahadapi dungeon itu--selagi diriku masih menetap di sini, dan tentu saja bayarannya juga tidak murah."


Seketika kening Agus mengerut mendengar ungkapan penuh kesombongan itu. Tapi semua yang dikatakan pria barat ini tidak salah juga, karena dia sudah membuktikan semua kemampuannya dan membuat semua orang mengetahui kekuatannya yang sangat luar biasa.


Setelah perbincangan itu, John langsung mengangkat dirinya dari sofa empuk itu dan permisi kepada master asosiasi ini untuk memulai bisnisnya.


Klak...


Suara pintu terdengar menutup itu menandakan semua urusan telah usai dan kini Agus hanya bisa menetap di ruangan tamu, sembari menatap arah depannya dengan tatapan kosong.


"*Huff*..."


Menghela napasnya yang beratnya karena pusing memikirkan semua hal ini, dirinya harus tetap menjalankan amanahnya dari master dan saudara-saudaranya dan sedangkan di sisi lain, dirinya juga harus menjalankan tugasnya sebagai salah satu pelindung negara dan seluruh warga negaranya di kepemimpinannya.


"Apa yang dilakukan sang 'Penyelamat' sekarang?"


Agus hanya bisa memikirkan nasib umat manusia di tangan seorang pemuda yang rapuh, tapi dia tetap mempercayakan semua takdir padanya dan berharap anak itu kelak yang akan membebaskan semua yang ada.


"Harapan..."


Mulutnya tanpa sadar melontarkan kata itu dan menatap langit-langit ruangan ini dengan tatapan kosong dan pikiran dipenuhi banyak hal.


"Ya, hanya harapan yang bisa kami berikan. Kamulah satu-satunya harapan yang dikelilingi semua kekacauan yang ada."


Setelah itu Agus hanya bisa tersenyum, ini pertama kalinya dirinya bisa santai dalam kesulitan ini.


Kring...!


Tiba-tiba ponsel miliknya bergetar dan Agus mengambil ponsel itu dan melihat layar yang seseorang telah menghubunginya. Agus hanya bisa tersenyum karena orang berharga telah menghubunginya.


"Ya halo, Nak. Ada apa?"


"Paman, apa Paman punya waktu malam ini?"


"Waktuku selalu luang saat malam, jadi ada apa?"


"Baguslah, Ibu dan Ayah memintaku menghubungi Paman untuk makan malam bersama, untuk ngerayain hamilnya 8 bulan Ibu..."


Mendengar itu, Agus tersenyum dan sangat senang dalam hati. Ia tak menyangka jika adiknya akan segera melahirkan keponakan keduanya. Agus yang menghabiskan kesendirian seumur hidupnya hingga sekarang tanpa pasangan hidup seperti orang pada umumnya, ada alasan mengapa dia melakukan hal itu--bahwa ia tak ingin menambah beban hatinya jika suatu saat hal jauh lebih buruk telah terjadi, dan hal itu akan terjadi di masa akan datang.


"Baiklah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan pulang cepat."


"Janji ya, awas loh tidak datang. Aku akan marah nih."


Agus hanya bisa tersenyum selama percakapan itu dan telepon pun putus dan Agus kembali pada dirinya yang dulu.


"Melindungi orang-orang tersayang saja sudah seberat ini. Tapi, bagaimana perasaan sang 'Penyelamat' yang harus dituntut untuk melindungi kita semua?"


...•••...

__ADS_1


Keesokan harinya di kantor pusat asosiasi biro keamanan...


Pukul 10.09


Tampak dua orang hebat dalam satu ruangan dan satunya seorang pria tua lalu satu hanya anak muda.


"Raid-nya akan dimulai besok. Kita semua akan pergi ke Bali dan menyingkirkan semua monster yang berkeliaran serta menutup dungeon itu juga. Tapi semua itu akan berjalan sangat lancar jika kamu ikut. Apakah kamu bersedia membantu kami?"


Sesaat mendengarnya, aku hanya bisa diam sementara memikirkannya. Bukan karena akan menyulitkan, tapi aku belum siap tampil di publik karena kekuatan milikku, sebab... "Mereka" bisa saja muncul kapan pun setelah merasakan energi milikku. Karena pada dasarnya, kami ini sesama Heredis.


"Aku bisa saja ikut. Tapi kamu yakin, 'Mereka' bisa saja langsung muncul saat itu--di hadapanku karena merasakan energi milikku yang sama dengan 'Mereka' juga. Aku belum cukup kuat untuk menghadapi 'Mereka', karena aku masih dalam tahap 'ujian' untuk mengembangkan diriku."


Seketika Agus terbelalak dan tak menyangka bahwa hal ini bisa saja membahayakan sang "Penyelamat"-nya. Tapi di sisi lain, ia tak punya pilihan lain, karena dia beserta orang-orang asing itu membutuhkan tenaga tambahan untuk mengatasi dungeon itu.


"Sulit juga ya, padahal kamu kunci kemenangan ini. Haruskah aku meminta bantuan orang lain lagi, tapi jika hal dilakukan maka hanya ada pertentangan dari pemerintah pusat, karena sangat merugikan negara katanya..."


Melihat Agus yang kebingungan itu, yang tak menyangka jika rencananya tidak berjalan lancar. Aku hanya bisa menghembuskan napas sejenak dan berkata :


"Baiklah, setelah dipikir-pikir berkali-kali, seharusnya aku memang harus ikut..."


Agus sedikit terkejut dan berkata :


"...Tapi... bagaimana kalau 'Mereka' benar-benar akan datang di hadapan Anda?"


"Hal itu sudah aku pikirkan, aku tak akan menggunakan kekuatan Heredis-ku. Aku akan bertarung semampunya saja dengan bantuan senjata sihir dan Aura yang baru-baru ini aku pelajari."


Mendengar itu, Agus masih ada sedikit harapan, tapi ia juga menyangkan bahwa para pengguna Aura memang hebat, tapi kemampuan mereka sangat beresiko dan mempercepat kematian datang kepadanya jika tak dapat pertolongan segera dari pengguna Aura yang berpengalaman.


"Itu ide yang bagus, tapi satu hal yang harus kumohon padamu, tolong jangan memaksakan dirimu menggunakan Aura. Memang kekuatan yang dihasilkan Aura sangatlah hebat, tapi bayaran yang harus diterima sangatlah besar juga."


Mengucapkannya seperti itu, terdengar seperti ungkapan orang tua terhadap anaknya atau memang sudah bawaan umurnya, yang tua selalu mengkhawatirkan yang muda. Aku hanya bisa tersenyum tipis saat melontarkan kekhawatirannya itu padaku.


Setelah perbincangan itu, Agus ingin membawaku bertemu para tamu asingnya. Tapi sebelum itu, aku harus menyampaikan investigasiku selama ini saat memasuki PT. Hanjar.


"Sebelum itu, aku ingin menyampaikan mengenai perusahaan itu."


"...Oh iya, soal itu aku juga hampir lupa. Jadi apa yang temukan di sana, kuharap kamu menemukan sesuai informasi yang kamu inginkan."


"Ya... semua informasi itu, sangat aku inginkan...!"


"Kalau tak keberatan, apa kamu bisa memberitahuku apa yang kamu temui di sana. Jika hal ini sangat memberatkan, tidak perlu dikatakan, kami sendiri akan menelusuri informasi di sana."


"Tidak, kita sudah sepakat untuk hal ini dan aku akan memberitahukan semua yang kulihat..."


Aku menceritakan semuanya dan dimulai dari project bernama "Stigma" yang kuberitahu beberapa waktu lalu, aku mengatakan bahwa project itu ternyata sebuah eksperimen keji dan jauh dari moral serta perikemanusiaan.


Agus yang mendengar itu tak menyangka dan sangat marah, ia tak menyangka bahwa selama ini--tindakan kejam itu telah lama beroperasi dan tanpa diketahui olehnya selama ini.


"Ah... sial! Aku benar-benar bodoh!!" Agus yang marah langsung duduk di kursi kantor sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dengan perasaan kecewa atas dirinya sendiri. "Aku sudah berjanji pada Master dan saudara-saudaraku, bahwa aku akan menjaga baik-baik umat kita. Tapi nyatanya, hal seperti ini saja aku tak bisa mengetahuinya, sial!!"


Brak!!


Sesaat tangannya yang besar itu memukul mejanya sendiri dan tampak sedikit kerusakan pada meja itu walau punya kekuatan sebesar itu, ia masih bisa menahan diri dikala emosinya sedikit memuncak.


"Maaf, aku menunjukkan sisi burukku padamu."


"Tidak apa-apa, aku pun juga merasakan hal yang sama saat mengetahui project ini sebenarnya."


Dan lebih menyakitkan lagi, bahwa ternyata Ibu dan Ayah selama ini bekerja pada perusahaan itu. Aku tidak tahu alasan mereka melakukan hal itu, tapi satu hal yang bisa kupercaya dari orang tuaku ini bahwa mereka tidak akan melakukan hal ini jika mengetahui hal sebenarnya semenjak pertama kali menerima tawaran ini.


Aku bisa yakin, bahwa orang tuaku selama ini terlibat project mengerikan ini karena terpaksa dan mungkin alasannya demi kami juga yaitu anak-anaknya.


"Kecurigaanku semakin menjadi saat John Marques datang ke sini dan dia punya urusan dengan perusahaan itu."


Aku sedikit tidak asing dengan nama itu, dia salah satu orang terkuat dari Amerika dan mendirikan guild-nya sendiri dan menjadi salah satu terbesar di sana.


"John... ternyata dia orangnya waktu itu ya."


"Kenapa... apa kamu sudah bertemu dengannya?"


"Dikatakan bertemu tidak juga. Sebelum aku ke sini, aku mampir sebentar di PT. Hanjar buat mengambil senjata sihir yang kupesan kemarin, lalu orang itu muncul dari mobilnya dan disambut hormat oleh orang-orang perusahaan. Mata kami sempat berpapasan saat itu dan dia dibawa ke sebuah ruangan khusus seperti diriku kemarin."


"Kalau dia ada hubungan dengan project ini, dia bisa kena pidana hukum nasional mengenai tindakan keji kemanusiaan dan hal ini tidak bisa ditolerir oleh negara mana pun."


"Aku rasa hal itu sia-sia juga, ditambah lagi... hukuman ini hanya dibuat oleh manusia-manusia lemah seperti kita."


"...Jadi maksud Anda, apa ini ada hubungannya dengan 'Mereka' juga?"

__ADS_1


Aku hanya mengangguk saja dan Agus seketika tangan mencengkram dengan hebat dan tak menyangka bahwa hal ini sudah di luar kemampuannya mengatasi hal ini.


Aku juga memberitahukan semua informasi mengenai "Mereka" ada hubungannya dengan project ini ditambah lagi mengenai manusia-manusia jadi bahan eksperimen itu.


"Semua manusia jadi bahan eksperimen itu memiliki energi yang sama sepertimu?"


"Ya, hal itu aku rasakan saat menyusurinya bersama para 'Pelayan'-ku, tapi energi yang dipancarkannya sangat kecil. Hanya saja... orang itu, John Marques. Dia juga memiliki energi yang sama dengan 'Mereka', walau samar-samar, tapi tekanan yang kurasakan saat bertatapan dengannya sangat kuat dibandingkan manusia-manusia eksperimen itu."


Agus hanya bisa mengusap keningnya mendengar semua informasi kejutan ini, ia tak menyangka bahwa selama ini "Mereka" telah melakukan hal secara tak terduga seperti eksperimen keji ini, ditambah lagi dibantu oleh manusia, yang mana seharusnya manusia-manusia ini hanya sekumpulan semut di mata "Mereka" dan kenapa dibantu oleh makhluk dianggap sangat rendah oleh "Mereka"?


Kedua orang ini hanya bisa diam merenung mengingat semua ini, hanya merekalah berdua yang mengetahui kebenaran dunia ini dan hanya merekalah berdua yang berusaha untuk mengatasinya demi orang-orang tersayang dan sebuah harapan besar di hati mereka berdua masing-masing.


"Apa aku sanggup melakukannya?" Pikirku sembari menatap salah satu tanganku dan melihat Agus yang tampak sedikit stres memikirkan semua ini. "Aku pun sangat frustasi akan hal semua tanggung jawab ini, dibandingkan yang semua dilewati Agus sebelum diriku, pasti jauh lebih berat sebelum aku mendapatkan kekuatan ini."


Tok... Tok... Tok...


Sesaat keheningan itu pecah saat seseorang mengetuk pintu.


Klak... Ngek...


Orang itu mendorongnya dan tampak salah satu anggota asosiasi masuk dan memberikan laporannya.


"Pak, mereka semua sudah ada di tempat."


"Begitu ya." Agus langsung berdiri dari kursinya dan menatapku. "Untuk semua hal ini kita harus lewatkan sementara dan fokus apa yang di depan kita."


Aku hanya mengangguk dan Agus mengajak ikut dia untuk menemui tamu-tamu asing. Saat di perjalanan kami mengobrol sedikit mengenai tamu-tamu asing ini.


"Kuharap kamu tidak keberatan dengan tes yang mereka berikan kepadamu."


"Jangan khawatir, aku akan berusaha memenuhi semua standar mereka."


Agus tersenyum dan setelah beberapa meter berjalan, kami akhirnya sampai di sebuah tempat yang dalamnya cukup luas, serta setiap dinding tempat ini dilapisi banyak Kristal Mana yang sudah dihaluskan.


"Hm?" Tiba-tiba tekanan sihir yang kuat meliputi diriku saat baru menginjak kakiku di tempat ini. "Energi sihir yang kuat."


Saat berjalan beberapa langkah, tampak para tamu asing telah berada di sana dan melihat kami masuk. Aku melihat mereka satu persatu dan benar-benar sangat kuat, pantas menyandang Rank-S mereka.


Semua tamu asing ini melontarkan kata-kata mereka dengan bahasa negara masing-masing terhadap rekan-rekannya.


"Jadi dia orangnya, dia sangat muda dan ditambah lagi sangat manis."


"Cih, bocah ini akan jadi kartu as mereka?"


Walau mereka berbahasa lain, entah kenapa aku mengerti apa yang diucapkan oleh mereka, mungkin sudah bawaan seorang "Pecundang" yang selalu dapat hinaan di mana-mana. Tapi di sisi lain, aku merasakan tatapan berbeda dari seseorang dan aku berbalik menatap dirinya.


Tampak matanya sangat terkejut menatap mataku.


"Tidak mungkin...!" Gumam Bindi yang gemetaran melihat pemuda di hadapannya. "Energi kuat ini sama seperti waktu itu yang kurasakan! Dan... dia juga memiliki energi seperti John, tapi dia... sangat gelap!"


Wanita itu terus menatapku dengan tatapan terkejut itu dan aku heran kenapa dia terkejut saat melihatku seperti itu.


"Baiklah, dengan ini mari kita mulai demonstrasinya. Apa mau ditunjukkan secara individu atau pengujian kekuatan?"


Agus mengatakan semua itu kepada para tamunya dan salah satu tamu turun, dia seorang pria yang tampak memiliki kepribadian keras.


"Kumohon untuk tak terlalu serius padanya, karena kita butuh kekuatannya," pesan Agus kepadaku sembari memegang pundakku dan pergi menjauh.


Di sisi lain, pria ini terus menatapku dengan tatapan memuakkan sama seperti dengan orang-orang waktu dulu.


"Kuharap kamu tidak mengecewakanku, Nak!" Ucapnya dalam bahasa Inggris.


"Peraturannya sederhana, kalian tak boleh menggunakan senjata apa pun dan sihir diperbolehkan, selama sihir tersebut masih dalam skala tidak membahayakan sekitar dan nyawa."


Mendengar itu tampaknya sedikit merugikanku, sebab aku berjanji tak akan menggunakan kekuatan Heredis ini dan hanya bisa mengandalkan harta warisan leluhur serta Aura dan bela diri dari Aran. Karena sihir diperbolehkan, aku memunculkan semua harta warisan leluhur ini terkecuali Excalibur dan Belati Darah--dan membuatnya memasuki mode tak terlihat.


"Ini tidak curang kan? Kan peraturannya bilang sihir bisa digunakan, karena buku ini sudah menyalin beberapa sihir sebelum datang ke sini. Yah, walau sebenarnya aku punya beberapa skill yang bisa digunakan tanpa bantuan buku ini, tapi untuk sementara ini aku hanya bisa menggunakan beberapa skill sistem yang tak mencolok."


Sesaat kami bersiap-siap di tempat masing-masing, kami saling menatap lawan masing-masing.


"Siap...! Mulai!!"


Push!!


Push!!


Sesaat kedua pihak maju dan bersiap melancarkan serangan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2