Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 39


__ADS_3

[Boss


The Rook 1 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Rook 2 - The Damned Six


Level : ???]


Ora..!!


Era..!!


Seketika dua raksasa ini melayangkan secara bersamaan tinju mereka ke arahku.


"Haarrghh..!!"


"Aaahh..!!"


Der... Pak!


Dengan cepat Bongsor dan Frankenstein maju ke depan lalu menahan kedua monster itu sekuat tenaga.


Ora..!!


Era..!!


Terlihat kedua tangan mereka yang tersisa masih bergerak bebas dan siap memukul kedua The Arcana-ku yang memiliki celah besar untuk dipukul.


"Jangan harap! Dami!"


Dengan cepat Dami mengaktifkan sihir tanahnya dan memunculkan tangan-tangan batu dari bawah, dan menahan kedua tangan yang masih bergerak bebas.


"Sekarang..!!"


Set!


Set!


Set!


Aku, Norum dan Dani langsung maju menghadapi kedua penjaga monster itu. Aku dan Norum berlari ke sisi kanan lalu Dani ke sisi kiri, aku mengeluarkan sabitku.


Set!


Norum langsung melompat ke arah monster itu lalu aku dan Dani siap-siap mengayunkan senjata panjang kami masing-masing dari belakang kedua monster itu.


Swoosh..!!


Swoosh..!!


"Hoarrghh..!!"


Syat!


Tring..! Tring..! Tring...!


"Apa?!"


Tiba-tiba tubuh kedua monster itu memantulkan serangan kami bertiga, seperti kami memukul baja super tebal.


Ora..!!


Era..!!


Seketika monster itu memancarkan cahaya dari tubuhnya.


"Ini terlihat berbahaya, semuanya menjauh dari sini, cepat!"


Set! Set! Set!


Aku beserta Norum dan Dani berhasil menjauh dari kedua monster itu dan tampak Dami juga berhasil menjauh juga.


Krak!


Krak!


Tampak Bongsor dan Frankenstein tidak bisa melepas tangan mereka yang dicengkeram kuat oleh kedua penjaga gerbang itu.


"Sial! Mereka berdua tidak bisa lepas, kembalilah!"


Aku memerintahkan Bongsor dan Frankenstein kembali padaku, tapi sesuatu yang aneh terjadi.


"Eh? Kenapa mereka belum kembali?"


Aku memperhatikan cahaya yang mengelilingi kedua monster itu, tampak cahaya itulah yang memblokir skill-ku karena mereka telah menggenggam erat tangan Bongsor dan Frankenstein.


"Kayaknya mereka berdua memiliki skill seperti penjaga gerbang sebelum-sebelumnya, maka tidak ada jalan lain, Dami!"


Dami langsung mengeluarkan bola api besarnya dan langsung mengarahkannya ke mereka berempat.


Ora..!!


Era..!!


Kedua penjaga gerbang itu tiba-tiba terlihat sangat kuat, Bongsor dan Frankenstein terlihat kewalahan.


Bur...!


"Tangan batunya...!"


Seketika kedua penjaga gerbang itu melepas paksa tangannya dari genggaman tangan batu, dan langsung mengarahkan kedua tangan sisanya ke Bongsor dan Frankenstein.


Crak!


Crak!


"Haarrgh..!!"


"Aahhh..!!"


Tiba-tiba kedua tangan Bongsor dan Frankenstein diputuskan oleh kedua penjaga gerbang itu.


Punch!


Punch!


Dengan cepat pukulan melayang ke wajah Bongsor dan Frankenstein hingga membuat mereka berdua terhempas cukup jauh.


Ora..!!


Era..!!


Tiba-tiba kedua penjaga gerbang itu mengarahkan keempat tangannya ke depan, tampak mereka ingin menahan sihir api besar itu.

__ADS_1


"Hah!"


Tampak ada sesuatu bola merah menempel di telapak tangannya masing-masing, dan bola api besar itu tiba-tiba terhisap ke telapak tangannya itu.


"Apa-apaan itu tadi?"


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa," tapi aku merasakan Mana-ku mulai berkurang drastis.


"Hm? Mana-ku... habis?"


Aku merasa MP-ku habis dan tidak bisa menggunakan skill yang mengandalkan Mana.


"Kenapa tiba-tiba habis?"


Brak... Klotak!


Aku langsung berbalik ke arah Bongsor dan Frankenstein yang terlempar jauh.


"Tangannya...."


Aku terkejut melihatnya, sebab kedua tangan mereka yang seharusnya putus tiba-tiba pulih kembali secara utuh.


"Jadi begitu ya, aku mengerti sekarang."


Sekarang aku tahu fungsi sistem yang diberikan lagi kepadaku, yaitu memulihkan The Arcana yang terluka dengan mengorbankan MP-ku, dan itu tergantung seberapa besar kerusakan mereka terima maka sebanyak itu juga MP-ku terkuras untuk memulihkan mereka.


Aku langsung mengeluarkan potion MP 20% dan langsung meminumnya.


Ora..!!


Era..!!


Tiba-tiba aku merasakan tekanan Mana yang sangat kuat dari kedua penjaga gerbang itu, dan Mana itu mengelilingi tubuh mereka.


"Itu kan... sihir Dami."


Sihir yang mereka hisap menjadikan Mana sihir api milik Dami menjadi sebuah armor api yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Dilihat dari kekuatan pukulannya yang sangat kuat, kecepatannya pun jauh melebihi prediksi skill sensor, serta tubuhnya bisa mengeras dan tidak bisa ditembus dengan sabit milikku, ini mengingatkanku saat pertama kali melawan Dani."


Didukung medan yang tertutup sepeti gua, ini seperti dungeon pada umumnya yang aku masuki. Medan lantai-lantai sebelumnya sangat luas seperti gurun pasir, tapi kali ini medannya sedikit luas tapi tertutup.


Aku melihat cengkeraman tangannya kuat dari dinding batu itu, tampak sangat berbekas di sana ditambah kakinya yang melayang itu membuatnya bisa melangkah sangat cepat dari tempat lain.


"Yang membuatku kerepotan hanya skill yang membuat tubuhnya itu bercahaya, skill itu seperti penjaga lantai sebelumnya. Aku tidak tahu berapa lama skill ini bertahan, skill itu tidak bisa memblokir serangan sihir seperti bola api barusan. Jadi, skill ini hanya bisa memblokir sesuatu berkaitan dengan serangan fisik secara langsung."


Karena skill "Pemilik sejati" ini seperti tangan tambahan bagiku, jadi sudah termasuk bagian fisikku secara tidak langsung.


"Melawan dengan jumlah akan menguntungkan bagiku tapi jika The Arcana mengalami kerusakan, MP-ku akan berkurang drastis mengingat sisa MP-ku sangat sedikit. Tapi, kalau aku hanya bertarung berdua dengan Norum saja, itu bisa menghemat MP-ku dan leluasa menggunakan skill juga."


Chin!


"..!!"


Dalam sekejap kedua penjaga gerbang itu sudah berada di depanku, sungguh gerakan yang sangat cepat.


Punch!


Punch!


Satu pukulan masing-masing langsung mengarah kepadaku.


Bring...!


Dani langsung berada di depanku dan berhasil menahan kedua pukulan itu dengan panjangnya.


Tampak pedang Dani mengeluarkan asap saat menahan tinju kedua monster itu, sebab tubuh kedua penjaga gerbang itu melapisi dirinya dengan sihir api.


Ora..!!


Era..!!


Kedua penjaga gerbang itu langsung melayangkan tinju berikutnya ke arah Dani yang masih menahan satu tinju mereka.


Chin!


Aku langsung berada di belakang mereka dalam keadaan melompat, dan siap menebas kepala mereka dengan sabitku yang sudah aku lapisi dengan Mana.


Ting! Crak!


Ting! Crak!


Dengan kedua penjaga gerbang itu langsung berbalik dan menahan tebasan sabitku ini dengan keempat tangannya itu.


"Sudah kuduga, skill mereka ini masih sama dengan penjaga gerbang sebelumnya. Cahaya putih transparan itu yang menjadi armor pemblokir memiliki kelemahan, selain tidak bisa menahan serangan sihir tapi tidak bisa menahan serangan fisik yang dilapisi Mana juga."


Set!


Set!


Dengan cepat kedua penjaga gerbang itu menjauh dari kami dan mereka melompat sangat tinggi di udara.


"Sekarang!"


"Aaaahh..!!"


Sut! Swush...!


Bongsor langsung melempar kedua kapak raksasanya itu ke udara dan menargetkan kedua penjaga gerbang itu.


Burn..! Burn...!


Dami juga langsung mengeluarkan sihir tanah dan api secara bersamaan, lalu melempar semuanya secara bertubi-tubi ke udara.


"Apa yang dilakukannya?"


Aku terkejut dan bingung, tiba-tiba kedua penjaga gerbang itu mengambil gaya aneh saat masih di udara.


Ora..!!


Era..!!


Seketika udara di sekitar medan ini terlihat terhisap, saat kedua penjaga gerbang itu memutar tubuhnya sekencang mungkin.


Wussh...!


Putaran mereka semakin cepat dan seluruh batu-batuan yang ada di sini terhisap, tiba-tiba dua buah ****** beliung tercipta karena memutar tubuh mereka.


"Sial! Eh...?"


"Grrrgh...!"


Aku melihat Norum yang kesulitan menahan dirinya agar tak terhisap, serta The Arcana lainnya juga harus berjuang agar tak terhisap juga.


Ting! Ting!


Bom! Bom!

__ADS_1


Serangan dari Bongsor dan Dami berhasil ditahan.


Wussh...!


Anginnya semakin kencang, Dani langsung berlari ke arahku dan langsung melindungi dengan menutupi diriku dengan jubahnya, lalu menancapkan pedang panjangnya itu sekuat mungkin di tanah agar dia tidak terhisap oleh pusaran angin itu.


"Hing...!"


Norum tak bisa bertahan lagi dan akhirnya dia terbawa oleh angin kencang itu dan begitu pun dengan The Arcana yang lainnya kecuali Dani, mereka juga terbawa oleh angin kencang juga.


"Kembalilah!"


Norum dan para The Arcana kecuali Dani, semuanya menghilang dan langsung kembali ke dalam tubuhku.


"Egh... apa yang harus kulakukan?"


Ora..!!


Era..!!


Tiba-tiba ****** beliung itu mengeluarkan api hingga membentuk tornado api.


Burn..! Burn...!


Bukan hanya jadi tornado api tapi juga mengeluarkan setiap bola api, dan menembaknya secara membabi buta.


Burn..! Burn...!


"Hngh!"


Terlihat Dani kesulitan juga dan aku harus berpikir keras bagaimana menurunkan mereka berdua dari atas sana.


"Eh...?"


Aku melihat kerikil itu terbawa angin kencang dan berputar-putar di sana.


"Jadi begitu ya...."


Aku mengecilkan sabitku hingga paling kecil, karena aku punya ide untuk situasi ini.


"Aku memasukkan Mana-ku ke dalam sabit ini, karena aku punya kuasa atas senjata ini, mungkin aku bisa mengendalikannya dari jarak jauh."


Aku langsung melempar sabit kecil itu dan berputar-putar seperti baling-baling.


Satu bola api mengarah ke sabit kecil ini.


Syut....


Sabit kecilku ini berhasil menghindarinya berkat kendaliku.


"Ternyata bisa dikendalikan seperti ini, tapi... Mana-ku cukup terkuras untuk mengendalikan sabit ini dari jarak jauh dan untung saja Norum memberikan semua MP-nya kepadaku, sebelum aku memanggilnya kembali."


Swosh..! Syut...!


Sabit ini terus menghindar sembari mendekati kedua penjaga gerbang itu.


Sesaat semakin mendekat....


"Aku harus melakukan ini, karena cuma ini satu-satunya jalan...."


Aku memakai skill "Pengondisian."


"Pengikat jiwa!"


Chin!


Hap!


Aku langsung berada tepat di dekat mereka dan langsung menangkap sabitku ini.


"Sial! Ini sangat panas!"


Mendekati suhu api tertinggi dari dekat membuatku kesulitan bernapas, tapi itu tidak membuatku menyerah.


Aku langsung membesarkan sabit ini dan mengalirkan semua Mana-ku ke sabit ini.


"Cukup putar-putarnya..!!"


Swoosh..! Bom!


Asap tebal langsung berkumpul akibat serangan dadakan tersebut.


Burm...!


Burm...!


Kedua penjaga gerbang ini jatuh tepat di bawahku.


Beam...!


Tiba-tiba kedua penjaga gerbang itu langsung mengarahkan keempat tangannya dari atas, dan masing-masing di telapak tangannya muncul cahaya merah, tampak mereka ingin menembakkan sihir mereka ke arahku.


"Sudah cukup... inilah akhirnya!"


Karena masih berada di udara, aku menggunakan kesempatan terakhir ini untuk menggunakan serangan terkuat dengan mengandalkan gravitasi.


Aku langsung mengangkat sabitku sekuat mungkin, karena Mana dari sabit ini masih ada tersisa aku langsung mengayunkannya sekuat mungkin hingga menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat.


Swoosh...!


Bom!


Asap tanah berkumpul di bawah sana.


Set!


Dani langsung berlari ke arahku dan menangkapku yang sudah terlihat lelah untuk bergerak lagi.


Dun....


"Akhirnya selesai juga...."


Tiba-tiba muncul sebuah gerbang terbuka dari dinding batu itu dan pertanda bahwa sang penjaga telah ditaklukkan.


Aku mengeluarkan potion HP 20% dan langsung meminumnya untuk memulihkan diri akibat luka bakar ini.


"Kalau aku muncul di hadapan mereka secara langsung, mungkin aku sudah mati terbakar dan di bombardir oleh bola apinya. Berkat menggunakan sabit ini sebagai pengalihan, aku bisa mengamati celah yang tepat untuk muncul di hadapan mereka dan melakukan serangan kejutan secara langsung."


Dani datang kepadaku sembari membawa item yang keluar dari kedua monster penjaga itu, aku mengambilnya dan melihat sejenak item itu.


"Aku tidak tahu fungsi dari item-item penjaga ini, tapi aku merasa jawabannya ada di puncak lantai ini maka dari itu aku harus menyelesaikan misi ini segera."


Aku berencana ingin meminum potion MP 20% lagi, tapi aku berpikir itu akan sangat dibutuhkan di lantai paling atasnya nanti.


"Kalau tahu begini, sebaiknya aku membeli MP potion banyak-banyak. Karena tempat ini cukup nyaman, maka sebaiknya aku istirahat dulu."


Aku meminta Dani masuk kembali untuk memulihkan dirinya dan tampak dari kejauhan bahwa di dalam gerbang selanjutnya adalah sebuah tantangan besar bagiku.

__ADS_1


__ADS_2