
Sesaat di dalam dunia Purgatory...
"Jadi seperti ini pemandangan neraka sesungguhnya...."
Pemandangan yang hanya dominan berwarna jingga kekuningan dan disertai suhu panas yang sangat tinggi. Batu, tanah, serta lautnya hanya dipenuhi api dan bahkan lautnya tidak bisa dibilang air biasa melainkan air mendidih yang sangat panas.
"Aku tak bisa membayangkan neraka sesungguhnya, tapi tempat ini sudah menggambarkan semua bayanganku."
[Kamu telah berada di zona persiapan. Kamu hanya boleh melewatinya jika sudah memakai mode Heredis.]
"Jika aku memasuki mode itu lagi, maka hanya rasa sakit yang sangat hebat aku rasakan nanti."
Aku berdiam sejenak dan berpikir bahwa sistem ini bertujuan menjadikanku pewaris yang sangat kuat, maka seluruh rasa sakit dan penderitaan yang aku rasakan tidak akan berpengaruh di medan pertempuran yang sesungguhnya.
"Mungkin memasuki dungeon yang disuruh sistem bertujuan meningkatkan kemahiranku terhadap mode ini."
[Kamu ingin memasuki dari mode Heredis?]
[Yes/No]
"Ya...."
Tanpa pikir panjang aku langsung memasuki mode ini.
Deg!
Tapi, tiba-tiba aku merasa ada yang aneh terjadi pada tubuhku, dingin di dalam yang kurasakan dan membuatku tidak berhenti merinding. Ini sangat berbeda waktu dunia Hades sebelumnya saat memasuki mode ini.
Bush...!
Tiba-tiba sekumpulan aura hitam mengelilingi tubuhku dan aku merasa itu kulit keduaku, sebab aku merasa tubuhku tertempel sesuatu yang erat.
"Ini kedua kalinya aku memasuki mode ini, tapi aku merasakan ada yang sangat berbeda dari pada sebelumnya."
[Kamu telah memasuki mode Heredis, sekarang kamu bisa memasuki dunia Purgatory.]
"Sebelum masuk, sebaiknya aku menggunakan SP-ku untuk meningkatkan stats-ku."
Aku langsung memunculkan jendela status.
[Nama : Arkha Peteng
Job : Heredis of Death (Ruler of Soul : Tingkat 1)
Umur : 20 tahun
Level : 65
Gender : laki-laki
STR : 426 (+25%) INT : 311 (+25%)
AGI : 326 (+25%) DEX : 285 (+25%)
VIT : 390 (+25%) LUK : 283 (+25%)
HP : 21900/21900 (+25%)
MP : 3110/3110 (+25%)
SP : 12.]
"Hmm... karena aku sudah banyak pasukan yang bisa menjagaku, maka sebaiknya aku fokus ke INT karena aku butuh pemulihan Mana secepat mungkin untuk regenerasi mereka."
STR : 426 > 428 (+25%) INT : 311 > 321 (+25%)
MP : 3110/3110 > 3210/3210 (+25%)
Aku memfokuskan semua status poin ke INT dan sisanya memberikan ke STR, karena aku juga harus turun tangan dalam pertempuran jika mereka menghadapi musuh yang sangat kuat.
"Oh iya, aku belum mengecek status Norum. Karena level dia dan denganku beda level sepuluh, tapi stats kami sangat jauh berbeda."
Aku langsung memunculkan status Norum dan melihat peningkatan dia.
[Nama : Norum
Evolusi : Blaowolf
Level : 75
Jenis kelamin : Jantan
STR : 507 INT : 402
AGI : 415 DEX : 355
VIT : 448 LUK : 372
HP : 33700/ 33700
MP : 4120/ 4120.]
"Wow, tak kusangka Norum sekuat ini. Kalau dia berhadapan satu lawan satu dengan Cerberus waktu itu, mungkin Norum akan kalah karena status dia waktu itu rendah, kalau sekarang dia mungkin bisa mengalahkan setiap penjaga lantai dengan mudah."
Karena sudah mengecek kemampuan masing-masing, akhirnya aku langsung melangkahkan kakiku keluar dari zona persiapan ini.
[Kamu telah memasuki dunia Purgatory, seluruh sistem akan dinonaktifkan kecuali sistem penyimpanan item.]
[Peringatan!
Kamu bisa keluar dari dunia Purgatory jika berhasil menaklukkan 10 lantai dari dunia ini, dan kamu bisa keluar dari dunia ini jika HP milikmu di bawah 10%, kamu akan diberikan pilihan untuk melanjutkan atau keluar dari sini. Jika memilih menyerah maka kamu tak akan bisa memasuki dunia ini lagi dan sudah dianggap gagal.]
"Aturannya masih sama dengan sebelumnya, aku hanya perlu menaklukkan setiap penjaga lantainya dan keluar dari sini."
__ADS_1
Setelah mendapatkan pemberitahuan dari sistem, aku langsung melanjutkan langkahku.
"Ini... tempat yang sangat mengerikan."
Sesaat di perjalanan, aku melihat ada banyak api di mana-mana. Tingkat kepanasannya mungkin tak sebanding dengan api di luar dan aku bisa bertahan karena mode ini.
Aku berjalan menyusuri gunung bebatuan dan hanya ada batu panas setiap sisinya, lalu terlihat di depan sana ada sebuah jalan setapak dan mengikuti arah ke mana jalan itu.
"Huh? Hanya sampai di sini...."
Sesaat berjalan lurus saja, langkahku terhenti karena di depan sana hanya ada sebuah jurang yang di bawahnya ada api membara di mana-mana.
"Bagaimana aku sampai seberang sana?"
Aku berbalik dari arah kanan dan kiri, tampak tidak ada apa pun yang bisa aku gunakan untuk ke seberang sana.
"Tak kusangka ada pengunjung."
Aku terkejut dan langsung berbalik ke arah suara itu.
"Sejak kapan dia ada di belakang, aku tidak merasakannya sama sekali?"
Aku melihat seseorang dengan tinggi dua meter lebih, dengan wajah aneh dan sedikit menyeramkan untuk dilihat.
"Apa kamu jiwa tersesat yang ingin disucikan?" Sembari menatapku dengan seksama. "Kurasa tidak, ternyata kamu seorang 'Libera,' sudah lama aku tak saling sapa dengan sesama 'Libera.'"
Aku terkejut sekali mendengarnya, kenapa aku selalu dipandang sebagai "Libera," kupikir aku ini seorang Heredis tapi... makhluk-makhluk yang dibuat sistem ini selalu menyebutku "Libera."
"Maaf kalau pertemuan pertama kita tidak sopan, tapi aku ingin bertanya sesuatu... sebenarnya 'Libera' itu apa? Aku sudah bertemu dengan orang sepertimu dan menyebutku dengan itu juga."
"Jadi kamu pemula ya, 'Libera' itu orang yang mengantar jiwa-jiwa tersesat menuju kehidupan baru mereka."
Jawaban yang sama diberikan oleh Charon, kenapa aku merasa mereka berdua menyembunyikan sesuatu.
"Berarti kamu juga seorang 'Libera' juga?"
"Iya, tapi itu dulu."
"Dulu? Apa maksudnya dia itu?"
Aku terbelalak mendengar itu dan kenapa dia menjawab pertanyaanku dengan nada sedikit gemetar.
"Wajahnya tidak berekspresi sama sekali, apa itu wajah aslinya?"
"Kau orang yang sangat menarik, ini bukan wajah asliku melainkan sebuah topeng yang aku pasang...."
"...!" Mendengar itu entah kenapa membuatku mundur selangkah dan mulai waspada terhadapnya.
"Oh maaf, membuatmu tidak nyaman. Jangan khawatir, aku tak terlalu menyelami pikiranmu terlalu dalam hanya sepintas saja aku membaca pikiranmu tadi."
"Jadi kamu benar-benar bisa membaca pikiranku?"
"Iya, jangan khawatir, aku tak ingin ikut campur dalam masalahmu itu. Sudah tanggung jawab orang seperti kita punya rahasia besar. Lagian orang seperti kita yang tidak memiliki jiwa dan punya beban seperti ini."
"Maaf, aku lupa memperkenalkan diri, kamu bisa memanggilku Malik."
"Namaku Arkha Peteng."
Dur....
Tiba-tiba tempat ini bergetar dan aku melihat ada banyak Mana berkumpul di seberang sana, dan membentuk sebuah tali panjang yang menghubungkan tempat pijakku dengan seberang.
"Kamu sekarang bisa melewati jurang ini...."
Aku melihat tali sangat tipis ini, setipis satu helai rambut. Aku ragu-ragu untuk melangkahkan kakiku, apa benar ini sebuah jembatan?
"Jangan khawatir, karena kamu seorang 'Libera' maka jembatan ini bukan apa-apa bagimu. Ini jembatan khusus jiwa-jiwa yang sudah disucikan, tapi jika dia jatuh maka terulang lagi masa penyuciannya."
"Jadi, tempat ini penghubung menuju kehidupan baru, misalnya mereka yang berhasil melewati jembatan ini apa akan langsung dikirim ke surga?"
Malik hanya diam sejenak mendengar pertanyaanku itu.
"Hmm..., aku tidak tahu nama tempat yang disebut surga itu ada atau tidak ada. Tapi, aku sudah berada di tempat ini semenjak tempat ini diciptakan."
"Sudah ada dari dulu ya...."
Jawaban dia sama persis dengan Charon dan entah kenapa aku merasa sistem ini selalu menggiringku ketempat baru, dan memaksaku menggunakan seluruh kekuatan Heredis. Aku tahu itu bertujuan membuatku menjadi sangat kuat, tapi apa yang terjadi padaku jika mati? Apa akan ada pewaris baru?
"Baiklah, terima kasih sudah membantuku."
Dia hanya mengangguk saja dan aku langsung menuju ke jembatan tipis itu.
"Karena dia bilang begitu, maka aku akan baik-baik saja...."
Aku langsung melangkahkan langkah pertama menginjak tali tipis ini.
"Heh? Aku benar-benar bisa berdiri di atas tali tipis, bahkan aku bisa berjalan normal."
Tap... Tap... Tap....
Aku melihat ke arah bawah dan membuatku merinding melihatnya.
Aaaa...!!!
Di bawah kakiku ini ada banyak orang yang tersiksa dan merasakan sakit yang amat hebat.
"Kalau ini neraka, maka aku bisa mencari kedua orang tuaku. Tapi, kayaknya itu mustahil, bahkan dia saja tidak tahu namanya neraka dan surga." Langsung berbalik dan melihat ke arah Malik.
Tampak dia berdiri dengan santai menatapku dan aku merasa dia melakukan sesuatu yang diperintahkan saja.
"Kenapa kamu hanya diam saja di sana, jembatan ini tidak akan bertahan lama," telepati Malik.
Aku cukup terkejut mendengar suaranya yang ada di kepalaku, aku tak tahu orang seperti mereka punya kemampuan hebat bahkan kalau bertarung denganku, mungkin aku akan kalah telak.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa yang menciptakan tempat ini?"
"Aku tahu namanya adalah ■■■■■■, dialah yang memberikan kepadaku untuk menjaga tempat ini."
Sekali nama dari pencipta ini di sensor dan tampaknya sistem ini tak ingin membuatku berurusan lebih dalam mengenai kemampuan ini.
Aku langsung melanjutkan lagi perjalananku, diiringi suara teriakan penyiksaan dan panasnya tempat ini membuat siapa pun tak sanggup bertahan.
Sambil berjalan, pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. Siapa "Mereka" dan apa tujuannya? Apa benar kemampuanku ini berasal dari Dewa? Kenapa orang itu mengatakan aku tak memiliki jiwa, ini tidak bedanya dengan para Dark Elf itu yang menjual jiwanya demi kekuatan.
"Apa aku benar-benar bisa memenuhi keinginan para pendahuluku?"
Aku berjalan terus dengan pandangan di bawah, dan pandanganku semakin kabur serta menghitam. Apa aku benar-benar orang terpilih? Kenapa harus aku yang dibebankan hal ini? Anak lemah yang tidak bisa apa-apa selain menerima luka terus dan dibantu terus oleh seorang wanita.
"Nak, angkat kepalamu, banyak orang yang mengharapkanmu di luar sana dan berarti kamu adalah orang yang sangat istimewa."
"Istimewa...."
Aku langsung berbalik, dan melihat dia seolah-olah tersenyum tulus kepadaku di balik topeng seramnya itu.
Lalu aku sudah sampai diujung tali ini dan membuatku tersadar dari tenggelamnya aku dalam pikiranku.
Aku tersenyum dan menghela napas untuk menenangkan kembali pikiranku.
"Belakangan ini aku selalu dinasehati orang dan di balik topeng jelekmu itu, pasti hanya kakek-kakek tua yang pemalu."
Setelah berkata begitu, aku langsung berjalan mengikuti jalan setapak ini dan aku merasa sedikit lega bahwa ada banyak orang-orang yang sudah mengakuiku, walaupun melalui kekuatan pinjaman ini.
"Walaupun aku terbantu oleh sistem ini, tapi tetap saja kekuatan ini akan menjadi milikku seutuhnya!"
Sejauh mata memandang dan aku sudah menjauh dari pandangan Malik. Tampak dia hanya berdiam diri di seberang sana dan tidak melakukan apa pun.
"Hehe..., hahaha...!!!"
Tawanya menggelegar dan suaranya cukup keras, siapa pun mendengarnya akan merinding ketakutan.
"Hehe...." Sembari memegang topengnya dan melepaskan topeng itu dari wajahnya. "Aku tak menyangka anak muda zaman sekarang sangat menarik, tatapan dan wajah yang dia tampakkan sebelumnya sangat menyedihkan, tapi dia bisa mengatasi kelemahannya itu dengan cepat."
Malik langsung mengangkat kedua tangannya.
Dur....
Tiba-tiba tali tipis itu menghilang dan tidak apa pun lagi sebagai alat menyeberang.
"Tunjukkan kebolehanmu, Nak! Dan ambil semuanya yang ada di sini! Sudah seharusnya semangat muda harus seperti itu!"
Dia menampakkan seringai menakutkan dari wajah aslinya itu dan matanya menampakkan semangat seorang prajurit sejati.
...•••...
Di sisi lain....
"Sudah lama aku berjalan dan tidak menemukan sama sekali gerbangnya...."
Setelah beberapa langkah, akhirnya aku melihat ada dua buah patung raksasa dan itu terlihat dari kejauhan.
"Apa yang di atas patung itu?"
Aku menggunakan "Mata Dewa" dan tampak seseorang dengan tubuh besar serta berotot.
Tapi....
"Hah?! Kepala mereka ada di mana?"
Aku sangat terkejut melihatnya, sebab kepala mereka tidak ada sama sekali dan salah satu tangan mereka ada sebuah pedang panjang, pedang itu melengkung sedikit.
Karena sudah mengetahui letak gerbangnya, aku langsung bergegas menuju ke sana.
Sesaat sampai di depan gerbang...
"Gerbang ini... sangat mengerikan...!"
Aku terbelalak melihat gerbang itu, tampak yang menempel di gerbang ini ada banyak tengkorak, lalu terlihat sesuatu merah muda yang bergerak tampak itu daging. Bukan hanya itu saja, ada juga manusia-manusia tertempel di sana yang menggeliat seperti cacing.
Glek!
"Dilihat bagaimanapun, ini sangat mengerikan!"
Bur...!
Bur...!
Kedua penjaganya langsung melompat dari atas patung itu dan pertanda pertarungan sudah dimulai.
"Kawan, keluarlah!"
Seketika tubuhku mengeluarkan aura hitam dan itu membentuk seekor serigala.
"Grrrgh... Auuuu..!!"
Tleng!
Mereka berdua juga langsung menyiapkan diri melawan kami dan senjata sudah dihunuskan masing-masing ke lawan.
"Karena ini pertarungan sesama partner, maka...." Sembari memunculkan sabit milikku. "Akan menjadi pertarungan penuh kekompakan."
"Grrrgh... Hoarrrgg..!!"
Set! Set!
Set! Set!
Kami langsung maju dan menghadapi mereka.
__ADS_1