
30 menit telah berlalu....
Di dalam dunia Hades, lantai 7....
"Tempat ini... sangat hampa."
Aku melihat medan tempat ini kosong dan hanya ada kegelapan di sekitarnya, lalu pijakan di bawah terlihat sebuah lantai batu dengan kotak-kotak warna hitam dan putih. Kotak-kotak itu tersusun dengan rapi.
Aku berjalan ke depan tanpa menggunakan "Mata Dewa" sekali pun, aku bisa melihat dua penjaga gerbang di sana dan di belakangnya ada sebuah gerbang besar.
[Boss
The Bishop 1 - The Damned Six
Level : ???]
[Boss
The Bishop 2 - The Damned Six
Level : ???]
Aku melihat dua penjaga itu memegang sebuah tongkat dengan bola berwarna hijau di ujungnya, dan mereka memakai jubah putih serta kaki mereka tidak kelihatan sebab tertutupi jubah panjangnya itu.
Sesaat sudah berada di depan mereka, aku langsung mengeluarkan sabitku dan siap menghadapi mereka.
Tapi....
"...?"
Aku terkejut sekaligus bingung, tiba-tiba salah satu dari mereka mengangkat satu tangannya.
Dur....
Tiba-tiba lantai kotak-kotak ini bergetar dan muncul sesuatu dari bawah, terlihat yang muncul itu dua buah kursi dan satu meja serta di atas meja itu sebuah papan permainan.
"Catur?"
Salah satu dari mereka maju dan duduk di salah satu kursi itu, dia memanggilku untuk duduk di kursi satunya.
Karena tidak merasakan adanya bahaya dari mereka aku pun maju dan duduk di sebelahnya.
"Eh?"
Tiba-tiba muncul jendela sistem setelah sekian lamanya tidak melihatnya.
[Kalahkan kedua penjaga ini dalam permainan catur.
Jumlah yang harus dikalahkan :
- The Bishop 1 : 0/3
- The Bishop 2 : 0/3
Batas kamu hanya dikalahkan : 0/3
Peringatan!
Jika kamu gagal dalam permainan ini kamu akan dikeluarkan dari dunia ini dan sudah dianggap gagal.]
"Catur ya, jadi nostalgia rasanya, aku sering main catur dengan Ayah jika dia ada waktu luang."
Mengingat itu membuatku sedih, tapi itu sudah berlalu dan aku akan berjuang keras untuk hidup ini serta adik-adikku.
Tak....
Penjaga itu sudah melangkah duluan dengan bidak pion.
"Tidak ada salahnya untuk santai sedikit."
Aku mengambil satu bidak dan memindahkannya ke depan.
Tak....
...•••...
...•••...
1 jam 29 menit telah berlalu....
Di dalam dunia Hades, lantai 8....
"Tak kusangka bisa menang melawan mereka dan aku nyaris gagal sudah dua kali aku kalah oleh mereka, tampak mereka sangat kesal dikalahkan tapi mereka terlihat menikmati permainan ini."
Aku berhasil lolos dari tantangan lantai 7 dan mereka berdua juga memberikan aku sebuah item sebelum memasuki gerbang itu.
Sekarang aku sudah berada di lantai 8, terlihat tempat ini mengingatkanku akan dungeon Rank-E yang aku masuki bersama Santia.
Terlihat ada jaring laba-laba di mana-mana dan medannya sama persis dengan lokasi boss monster Centipider, tempatnya tertutup dan hanya ada dinding batu di sekitarnya.
Aku maju ke depan menuju ke arah gerbangnya.
Deg!
"Tekanan Mana yang sangat kuat..!"
Aku langsung melirik ke arah atas gerbang itu, tampak sekumpulan jaring laba-laba yang menyerupai sebuah sarang.
Krek....
Terlihat sebuah tangan dengan kuku tajam membuka jaring itu dari dalam, tangan itu membuka lebar-lebar sarang jaring itu dan sesuatu keluar dari sana lalu merayap ke dinding untuk turun ke bawah.
"Kenapa dia sangat berbeda dengan penjaga yang lainnya?"
Tekanan Mana yang dikeluarkan olehnya membuatku sedikit gemetar.
[Boss
The Queen - The Damned Six
Level : ???]
Tampak wujud penjaga lantai kali ini seorang wanita dengan tubuh yang sangat seksi, dengan enam kaki laba-laba berada di belakang punggungnya serta di kepalanya ada dua tanduk menjulang ke bawah seperti tanduk domba.
Heheh~~
Dia tersenyum menatapku dengan mata tajamnya itu, lalu dia mengangkat satu tangannya ke depan secara perlahan.
Dur....
"..?!"
Tanah yang aku pijak tiba-tiba bergetar.
Cring!
Seketika sesuatu muncul dari bawah dan itu adalah beberapa benda tajam menjulang keluar dari bawah tanah.
"Egh!"
Set!
Aku berhasil menghindarinya dan langsung lompat mundur ke belakang.
Cring! Set!
Cring! Set!
Setiap aku menginjak tanah ini tiba-tiba selalu muncul benda-benda tajam itu yang bisa membunuhku kapan saja.
"Sial!"
Hap!
__ADS_1
Aku langsung menggunakan "Pemilik sejati" dan memunculkan tangan hitam tak terlihatku, lalu mengarahkan tangan-tangan itu ke dinding batu dan menarik diriku untuk menggantung sebentar dari atas.
"Mengeluarkan Norum dan The Arcana akan hanya melukai mereka saat menginjak tanah di bawah sana." Aku langsung melirik ke arah penjaga gerbang itu. "Apa yang harus aku lakukan?"
Aku terbelalak melihat monster wanita itu, tiba-tiba tangan yang dia gantung di langit tadi seketika jari-jemarinya bergoyang seolah-olah bermain menggunakan musik.
Dur....
Tiba-tiba medan tempat ini bergetar dan tampak dinding batu yang aku gunakan menggantung bergetar sangat hebat.
Bur...!
Cyanh..!!
"Apa!"
Seekor serangga besar berbentuk kelabang tiba-tiba muncul dari dinding itu, tampak terlihat dari dekat wujud mereka sangat menyeramkan dengan ada banyak gigi-gigi tajam di mulutnya.
Cyanh..!!
Serangga itu langsung menyerangku dan siap memangsaku kapan saja.
Slash! Slash! Crak!
Aku langsung mengeluarkan sabitku dan berhasil membunuh serangga besar itu.
"Aku sudah muak melawan serangga lagi!"
Cyanh..! Chyanh..!
Dua ekor serangga tiba-tiba muncul dari dinding itu lagi.
Slash! Slash! Slash! Crak!
Serangga itu terus bermunculan dari dinding itu dan aku harus terus membunuh mereka juga.
"Egh! Sial!"
Aku langsung melirik sang penjaganya, tampak dia hanya melihatku saja dengan wajah tersenyum.
"Cih! Pengikat jiwa!"
Chin!
Aku langsung muncul tepat di belakang dalam keadaan masih di udara sembari mengangkat sabit untuk siap menyerang.
Swoosh..!
Ting!
"Hah?!"
Dia berhasil menahan seranganku dengan salah satu kaki serangganya itu.
Slash!
Hap!
Penjaga lantai itu langsung mengerahkan satu kaki serangganya untuk menyerangku, tapi aku berhasil menjauh darinya dengan menggunakan tangan hitam tak terlihatku, dan harus menggantung pada dinding itu lagi.
Cyanh..! Cyanh..! Cyanh..!
"Sial! Kalau begini terus aku yang akan kalah duluan."
Bermacam serangga bermunculan dari dinding itu lagi dan kali ini serangga tipe terbang paling merepotkan bagiku.
Slash! Slash! Crak!
"Aku harus turun ke bawah... Dami!"
Dami langsung keluar dari tubuhku.
"Hah? Aa...."
Hap!
Aku langsung menangkapnya dengan tangan ketiga tak terlihatku ini.
"Gunakan sihir airmu untuk membuat tempat ini banjir!"
Dami hanya mengangguk saja dan dia langsung merapal kan sihirnya.
Cyanh..!
Para serangga terbang itu langsung menyerang ke arah Dami.
"Jangan harap bisa kalian menyentuhnya!"
Slash! Slash! Crak!
Aku membuat sabitku berukuran sedang agar bisa mengayun senjata ini jauh lebih mudah.
Srup!
"..!"
Aku langsung menarik Dami yang bergelantungan dengan tangan hitam tak terlihatku ini, karena tiba-tiba sang penjaga itu menyemburkan lendir beracunnya itu ke arah Dami.
"Aaa... aaaa...."
Srup! Srup!
Cyanh...! Cyanh..!
Aku terus berpindah tempat sembari membasmi serangga-serangga ini, dan berusaha menghindari serangan racun dari bawah.
"Dami tidak akan selesai merapal sihirnya jika aku terus menggoyangkan dia."
Aku mengumpulkan separuh Mana-ku ke sabit ini dan tampak bola sabit ini bercahaya pertanda Mana telah berhasil dihisap oleh sabit ini.
Swoosh...!
Dengan cepat dan kuat, aku langsung mengayunkan sabit ini dan terciptalah gelombang kejut yang menghempaskan udara di sekitarnya.
Bom!
Gelombang kejut itu berhasil mengenai penjaga lantai itu, tapi apa serangan berefek padanya?
"Dami, lakukan cepat!"
Dami menggelengkan kepalanya untuk membuat pikirannya tidak pusing, setelah beberapa saat tiba-tiba muncul bola air raksasa tepat di atas kami.
Burmp...!
Bola air raksasa itu langsung jatuh ke bawah dan menciptakan genangan air besar yang memenuhi ruangan ini.
"Karena tempat ini sempit dan tertutup, maka membuat tempat ini penuh dengan air pilihan yang tepat."
Dami melanjutkan dengan mengeluarkan sebuah batu tanah menjulang keluar dari air itu, untuk kami pijak dengan aman.
Tap!
Aku dan Dami berhasil turun ke tanah yang dibuat Dami, dan tampak tanah ini tidak terpengaruh oleh sihir penjaga itu.
"Di mana dia, tidak semudah itu kan dia kalah?"
Aku mencari keberadaannya dan saat menoleh ke atas membuatku terkejut, sebab dia sudah ada di atas sarangnya dan duduk dengan santai di sana.
Heheh~~
"Sejak kapan dia ada di sana?"
Aku cukup terkejut, sebab saat aku mengerahkan serangan gelombang kejut dan aku melihat dia terkena.
__ADS_1
"Hm?" Sembari melihat sabitku. "Perasaan sabitku berlumuran darah dari para serangga itu, tapi kenapa tiba-tiba hilang?"
Aku memperhatikan sabitku ini, sebab darah kental dari para serangga yang aku tebas tertempel jelas di sabit ini menghilang, apa hilangnya darah di sabit ini saat aku mengerahkan gelombang kejut itu?
"Tunggu dulu, mungkinkah.." Aku mencoba menginjak air banjir ini dan aku merasa menginjak sesuatu keras dari air itu. "Ini kan tanah, yang berarti sihir Dami tidak memenuhi ruangan ini, atau lebih tepatnya ini hanya sebatas pandangan biasa saja sebab ini hanyalah... ilusi!"
Aku langsung melirik ke arah penjaga itu dan tampak dia semakin tersenyum.
Heheh~~
"Berani-beraninya si ****** itu mempermainkan aku!"
Set!
Karena kesal aku langsung maju begitu saja ke arah sarangnya dan siap menebas dia dengan sabit besar ini.
Tapi....
Tlak....
Tiba-tiba aku berada di tempat lain dan tampak tempat ini hutan yang sangat luas.
"Dari awal aku sudah masuk perangkapnya dan medan itu menjadi senjata terkuat dia."
Aku berbalik segala arah dan hanya menemukan pohon-pohon saja.
"Jika aku berpencar dengan Norum dan The Arcana akan hanya memperburuk situasi, sebab rencana licik apa yang dia lakukan kepada kami kali ini."
Aku berusaha mencari ide untuk mengalahkan penjaga lantai ini.
"Hng... Hng...."
Dami menarik lengan jubahku dan tampak dia ingin memberitahukan aku sesuatu.
"Kamu bilang bisa melacak dia?"
"Hng.. Hng...," jawab Dami sembari mengangguk.
"Baiklah, tolong ya."
Dami langsung menyiapkan sihirnya dan tampak lingkaran sihir terbentuk tepat di bawah kakinya.
Tiba-tiba Mana di sekitar sini terkumpul dan membentuk sesuatu. Dami menambahkan sihirnya pada Mana berbentuk makhluk hidup ini, yaitu sihir Api dan Angin lalu juga menambahkan setetes lendir hijau di dalamnya.
"Jadi itu skill kedua miliknya, tapi sejak kapan tongkatnya itu bisa menyerap sesuatu, aku baru tahu."
Mungkin tongkat sihir Dami ini barang langkah hingga bisa menyerap Mana di mana pun, dan racun itu juga diproduksi melalui campur tangan Mana juga.
Kedua roh element ini langsung bergerak dengan cepat.
"Hng...."
Dami memintaku mengikuti mereka dan aku memerintahkan dia juga masuk ke dalam tubuhku, mengingat aku sangat cepat soal berlari.
Set!
Wush....
"Mereka benar-benar cepat...."
Mereka selangkah lebih cepat dariku dan tiba-tiba terjadi keributan tepat di depan sana.
Bom! Wush...!
"Pancaran sihir api yang kuat, mungkin mereka sudah menemukannya."
Set!
Aku bergegas menuju ke arah mereka.
Setelah sampai di sana, aku dibuat terkejut oleh pemandangan ini.
"Apa-apaan ini, apa mereka yang melakukan semua ini?"
Aku terkejut melihat ada banyak serangga di sini dan terlihat semua yang ada di sini habis terpotong dan terbakar.
"Si roh api ini yang paling kuat, mungkin itu penyebab Orb Matahari yang aku berikan kepada Dami, orb yang menggandakan sihir tipe api."
Mereka berdua langsung maju ke arah sebuah gua besar dan memasukinya dan aku mengikuti mereka.
Sesaat memasukinya pemandangan sungguh mengejutkan lagi, di sini aku melihat ada banyak telur dan mungkin itu telur serangga.
Mereka berdua terlihat ingin menyerang telur-telur ini.
"Tahan dulu...."
Mereka mendengarkanku dan berhenti, aku langsung maju dan mencoba memahami situasi ini.
Setelah beberapa langkah aku melihat seseorang menggendong satu telur di pangkuannya.
Tap!
"Heh? Kamu, bagaimana bisa ada di sini?"
Aku sangat terkejut, sebab orang itu adalah penjaga lantai barusan dan lebih mengejutkan lagi, dia bisa bicara.
"Kamu bisa bicara?"
"Tentu saja bisa, tapi bagaimana kamu bisa ada di sini, padahal aku sudah memasang tantangan di lantai itu."
"Tunggu dulu, jadi sekarang ini aku bukan berada di lantai 8?"
"Bukan, kamu berada di luar daerah lantai."
Aku semakin bingung sebab selain monster bisa bicara, kenapa aku bisa keluar dari lantai secara tiba-tiba?
"Kenapa kamu mengeluarkan senjatamu?"
"Tentu saja, mengalahkanmu."
Penjaga lantai itu memegang kepalanya dan menggelengkannya lalu berkata:
"Kalaupun kamu mengalahkan aku di sini, kamu tidak akan bisa pergi ke lantai selanjutnya."
"Eh, kenapa bisa begitu?"
"Kalau kamu membunuhku di sini yang tubuh asli, maka tak ada kunci untuk membuka gerbang itu."
"Tubuh asli...."
Tiba-tiba aku teringat semua penjaga lantai yang aku lawan, apa selama ini yang kulawan hanya simulasi dari mereka.
"Tampaknya kamu mengerti, ini...." Langsung melemparkan sesuatu dan itu adalah sebuah item.
"Kenapa kamu memberikan aku ini secara cuma-cuma?"
"Ini bukti bahwa kamu berhasil melewati lantaiku dan ini juga bentuk kecerobohanku karena tak terlalu memperhatikan lantaiku sendiri. Jadi, aku ijinkan kamu bisa melewati gerbang itu."
Dun....
Tiba-tiba muncul sebuah gerbang tepat di depan kami.
"Baiklah, aku menerima item ini, tapi... kami membunuh anak-anakmu, apa kamu tidak keberatan akan hal itu?"
"Hm, mereka bukan anak-anakku walaupun mereka aku anggap anak sendiri, karena mereka hanya tercipta dari Mana-ku."
Aku langsung berjalan ke arah gerbang itu dan para roh Dami juga ikut menghilang.
"Satu hal lagi, mungkin 'Sang pencipta' kami yang mengirimmu ke sini atas kemauannya sendiri, mungkin dia mau memperingatiku karena malas bekerja, hehe."
"Jika ada sesuatu yang dipercayakan kepadamu, kamu harus bersungguh-sungguh mempertahankan kepercayaan itu."
"Hng!" Sembari memalingkan wajahnya dengan tangan di silang di dada. "Terima kasih atas nasihatnya."
__ADS_1
Aku hanya tersenyum saja dan melangkahkan kaki masuk ke gerbang itu.