
Saat ini aku sedang di perjalanan menuju rumah dan tanpa sadar mataku mulai tertutup, mungkin aku sangat lelah dan ingin tidur sebentar.
Tapi, tiba-tiba mobil berhenti....
"Ada apa, pak?" Tanyaku.
"Maaf, mas, saat ini jalan terlihat ditutup."
"Ditutup?"
Aku langsung menegakkan badanku dan melihat ke arah depan. Tampak ada sebuah penghalang jalan yang dipasang, lalu di sana juga ada beberapa orang sedang berdiri sembari menggendong senjata apinya, tampak terlihat bahwa mereka adalah tentara.
Salah satu dari mereka maju dan mengetok jendela kaca mobil.
"Maaf, mengganggu perjalanan anda," katanya sembari memberikan hormat. "Sebaiknya Bapak berputar kembali dan cari jalan lain."
"Sebenarnya, ada apa ya, Pak?" Tanya bapak taksi itu.
"Saat ini ada sebuah portal muncul secara tiba-tiba, dan portal itu memunculkan banyak monster di jalan. Jadi kami diminta untuk menutup setiap jalan yang mengarah ke sini."
"Aduh... kita harus balik nih, Mas."
"Tidak apa-apa, Pak," kataku. "Tapi, sebelum itu... aku ingin melihat keadaannya sebentar di depan sana, apa Bapak tidak keberatan menungguku sebentar?"
"Oh, baiklah, sudah sewajibnya orang seperti Mas harus menangani hal ini. Jangan khawatir, aku akan menunggu Mas di sini," jawab bapak taksi.
"Terima kasih, Pak."
Aku pun langsung turun dari mobil.
"Maaf Pak, Anda harus..."
Tiba-tiba tentara itu langsung memerhatikan penampilanku yang terlihat compang-camping, akibat pertarunganku sebelumnya di dungeon.
"Jadi Anda orang yang Terbangkitkan juga, syukurlah kalau begitu. Tolong, ikut saya."
Aku mengikutinya dari belakang dan melewati pembatasan, kami memasuki area yang sudah dijajah oleh monster dan terlihat jalanan, lampu jalan serta pohon-pohon di sini semuanya rusak.
"Tak kusangka akan separah ini, apa ada korban jiwa?"
"Kalau korban dari warga sipil tidak ada sama sekali, kalau orang seperti Anda saya tidak tahu, sebab mereka ada di depan sana menghadapi para monster."
Begitu ya, jadi sudah ada orang yang sudah menangani hal ini. Aku langsung menggunakan "Penglihatan batin" dan terlihat dari jarak setengah kilometer lebih, terlihat ada beberapa orang sedang kewalahan menghadapi monster yang besar.
"Penglihatan batin" sudah terlanjur aktif maka aku melihat sekitar, apakah ada sesuatu tidak beres di sini.
"Tuan, kenapa kamu berhenti?"
Aku tiba-tiba berhenti karena ada sesuatu mendekat ke arah kami dari balik pohon-pohon itu, sosoknya tampak seperti anjing atau serigala dan ada titik merah di dahinya.
Grrrhh...!
"Ah..!! Monster!!"
Seketika tentara itu mengangkat senjata apinya dan menodongkan ke monster itu.
"Tenanglah Pak, biar aku yang tangani."
Aku langsung maju menghadapi monster itu, monster menyerupai serigala dengan bulu merah.
[Wolflame
Level : 10.]
"Jika dibandingkan dengan partnerku yang seukuran singa, monster di hadapanku ini hanya seukuran dengan serigala biasa pada umumnya."
Grrhh... Hargh!
Serigala itu langsung maju menghadapiku dan langsung melompat ke arahku dengan dua cakar yang sangat tajam di depan.
Aku berhasil menghindari setiap serangannya.
Hargh!
Dan kali ini aku mengepalkan tinjuku sekuat mungkin dan langsung meninju serigala itu.
Blam!
__ADS_1
Seketika serigala itu terlempar hingga menghantam pohon yang ada di belakangnya.
[Selamat, kamu telah mengalahkan "Wolflame tingkat 1".]
"Eh?" Sembari melihat tanganku. "Aku tak menyangka akan sekuat ini."
"Wow, Tuan, kamu benar-benar kuat."
"Huh, hehe...." Sembari menggaruk kepalaku karena malu. "Oh iya Pak, sampai di sini saja aku diantar, sisanya biar aku yang urus."
"Baiklah, tolong jaga diri anda baik-baik," ucap tentara itu lalu memberi hormat dan pergi.
Saat tentara itu pergi aku pun berjalan ke depan, di mana orang-orang Terbangkitkan melawan monster yang keluar dari dungeon.
"Baiklah, kurasa di sini sudah cukup...."
Aku memunculkan inventori dan terlihat item-item yang aku dapat dari dungeon dalam hutan.
[- Rahan mematikan X 10
- Inti magis kematian X 1
- Asam beracun X 5
- Belati taring putih X 1.]
"Eh, bukannya belatiku rusak ya dan aku meninggalkannya di dungeon itu."
Aku mengeluarkan belati itu dan aku terkejut melihatnya, sebab bentuknya sangat berbeda dari sebelumnya.
[Belati taring putih
Tingkat : ☆☆☆
Belati yang diberkahi oleh sang penjaga kerajaan dengan menggabungkan dua taring miliknya.
STR : +10 DEX : +7 LUK : +5
Pasif :
- Mengarahkan serangan ke musuh sampai sepuluh kali dan serangan selanjutnya akan mengabaikan DEF 20% kepada musuh.
"Wow, belati ini juga memiliki pasif. Baiklah, aku rasa jarak ini bisa menjangkaunya."
Aku mengambil posisi tepat untuk melempar belati ini ke monster yang besar itu. Sembari mengaktifkan "Penglihatan batin," aku bisa melihat jelas nama dan level-nya.
[Boss
Worflame - The mother of flame
Level : 20.]
Posisi sudah tepat dan udara sangat tenang, sekarang waktu yang tepat untuk melemparnya.
Shut!
...•••...
Para Venandi dan Protector sedang bertarung dengan Worflame....
"Argh... Archer sekarang!!"
Seorang pria besar yang membawa kapak dengan armor lengkap bertugas sebagai satu-satunya Tank. Serangan dari Archer tidak menembus kulit merah serigala besar itu.
Ada satu Tank, dua Mage, dua Damage Dealer dekat dan satu Damage Dealer jauh, lalu yang terakhir satu orang Support Healer sekaligus Buffer.
"Support! Aku butuh heal, cepat!"
"Susan, cepat! Kenapa kamu hanya diam saja."
"Ah... ba-baik...!"
Dia langsung segera mengerahkan kemapuan penyembuhannya kepada tank mereka.
"Zara, maaf... a-aku masih takut, tubuhku tidak mau berhenti gemetar."
"Ya aku tahu, aku pun juga masih gemetaran saat mengingat 'Dungeon itu,' padahal kita tidak ingat sama sekali apa yang kita hadapi di sana," ucap Zara yang seorang mage.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf, Susan. Seharusnya kami yang minta maaf, karena memaksamu ikut kami ke sini, padahal kamu memutuskan untuk berhenti," ucap pria ber-armor itu. "Baiklah, sudah cukup, simpan Mana-mu untuk yang lainnya."
Pria berkapak itu langsung maju dan menghadang bos monsternya, dengan skill Agro-nya dia bisa menahan monsternya seorang diri.
"Kapten! Bagaimana ini, semua serangan kita tidak mempan pada monster itu!"
"Ya aku tahu, tapi bertahanlah sampai bantuan datang," ucap pria berkapak itu. "Seandainya Pak Adrian ada di sini, mungkin bisa selesai dengan cepat."
Di saat mereka mulai kelelahan menghadapi monster itu....
Harrhhh...!!
Tiba-tiba monster itu mengeram kesakitan dan langsung tumbang tak bernyawa.
"Kapten, apa yang terjadi dengan monsternya?"
Pria ber-armor itu maju mendekati monster yang sudah mati, dia menunduk dan mengambil sesuatu yang menancap tepat di dahi monster.
"Kapten, apa itu?"
"Ini... belati, tapi siapa yang melemparnya?"
Di saat mereka bingung siapa yang menolong mereka dari jauh.
"Semuanya, lihat!"
Salah satu dari mereka melihat sesuatu dan menunjuknya.
"Bukankah itu orang, apa dia yang melempar belati ini?"
Tampak sosok seseorang dari kejauhan dan hanya samar-samar terlihat karena jaraknya sangat jauh.
Mereka menatap sosok itu hanya diam menatap mereka, dan sosok itu mengangkat satu tangannya.
"Apa yang dilakukannya?"
Seketika belati yang dipegang oleh kapten mereka menghilang dan mereka semua sangat terkejut melihat itu.
"Apa orang itu Venandi atau Protector rank tinggi?"
Mereka bertanya-tanya siapa orang itu.
"Susan, kamu kenapa?" Tanya Zara sembari menepuk pundaknya.
"Eh... hm... itu, entah kenapa aku merasa tidak asing dengan kehadiran orang itu, walaupun jaraknya jauh tapi... aku merasa tidak asing saja."
...•••...
Di sisi lain....
"Eh? Tuan, kenapa anda cepat sekali kembali?" Tanya tentara yang mengantarku masuk sebelumnya.
"Itu... saat aku mau ke sana membantu mereka, ternyata semuanya sudah selesai. Jadi, aku langsung ke sini lagi karena semuanya sudah beres."
"Haha, sayang sekali ya, tidak kebagian peran. Tapi, terima kasih atas perlindungannya tadi."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku duluan ya."
"Ya, hati-hati di jalan," balas tentara lalu memberi hormat.
Aku pun memberi mereka juga hormat dan pergi meninggalkan mereka.
...•••...
Saat di perjalanan....
"Kenapa Mas, kok mukanya lesu begitu?"
"Tidak, aku hanya prihatin saja."
"Prihatin apa, Mas?"
"Seharusnya seluruh perhatian dan apresiasi harusnya ditujukan pada mereka (tentara), bukan orang seperti kami yang seperti 'bayi yang diberikan senjata api,' sedangkan mereka latihan mati-matian untuk menjaga sekitar mereka dan harus mempertaruhkan nyawa mereka meskipun itu monster yang tidak bisa mereka lawan, itu dilakukan demi melindungi orang-orang dari bahaya."
"Aku turut sedih mendengarnya, Mas. Tapi, kenapa Mas sangat perhatian begitu?"
"Karena... Ayahku juga seorang tentara dan Ibuku seorang dokter. Mereka berdua mati-matian menyelamatkan banyak orang, tapi... seluruh usaha mereka tidak diperhatikan dan malahan orang seperti kami (Terbangkitkan) mencuri usaha mereka. Dari situlah aku membenci orang-orang seperti mereka dan bercita-cita seperti orang tuaku. Tapi, takdir berkata lain dan aku jadi seperti orang-orang yang aku benci, dan itu membuatku tidak bisa menggapai cita-citaku lagi karena aku sudah terindikasi sebagai orang yang sudah Terbangkitkan. Hehe, seolah-olah takdir sedang mempermainkan aku."
__ADS_1
Bapak ini hanya diam dan mendengar secara seksama, tampak raut wajah prihatin darinya. Aku tahu cerita ini bisa dibilang menyedihkan bagiku, karena aku tidak tahu apa aku harus bersyukur atau tidak karena telah mendapatkan Beneficia.