Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 96


__ADS_3

Binar-binar cahaya kehidupan menghujani wajah seorang pria yang tampa garang ini, dia perlahan-perlahan menerangi kegelapan yang menutupi matanya dan segera membiasakan cahaya itu masuk ke matanya secara perlahan.


"Sayang, bangun... sarapannya sudah siap."


Suara lembut seperti kicauan burung pagi, suara itu yang selalu membangunkan dirinya beserta merawat dirinya yang sedikit malas ini.


"Hoamm..."


Bangkit dari surga empuknya dan mengeraskan setiap saraf otot-ototnya yang tegang itu. Pria itu memandangi sekitarnya yang tampak sama dan damai seperti biasa.


"Tampaknya kamu bermimpu buruk, dari tadi kamu terus mengingau."


"Memangnya aku ngigau apa saat tidur?"


"Hmm, saat tidur kamu bilang 'semuanya milikku! Tak ada siapa pun bisa mengambilnya dariku bahkan takdir sekali pun!' Begitu."


"Begitu ya."


Walau terdengar aneh, tapi tampaknya sang istri sudah terbiasa dengan sikap suaminya yang keras ini. Dia sangat keras dan tegas setiap orang ditemuinya terkecuali sang istri tercinta yang selalu ia jaga dan lembuti, jika marah pada istrinya ia memutuskan hanya diam selama satu hari tanpa berbicara sama sekali.


"Baiklah, cepat bangun. Makannya sudah mau dingin."


Pria ini langsung bangkit dan memandangi sang istri telah menggendong seorang bayi perempuab sembari memberikan ASI-nya.


Pria ini tersenyum melihatnya dan menghampiri kedua malaikatnya dan memeluk tubuh sang istri dari belakang dengan lembut--dengan tubuh besar dan kekarnya itu.


"Bukannya kamu ada tugas untuk memimpin doa di kuil."


"Malas ah. Kenapa harus aku yang selalu memimpinnya, kan di sana sudah ada pendeta."


"Tidak boleh begitu, bagaimanapun kamu ini seorang raja dan kamu juga sudah mendapatkan berkah dari 'God of Har Megido'. Jadi jangan kecewakan Dewa kita hanya karena kamu tak mau datang ke kuilnya."


"Baik, baik." Sembari melepas pelukannya dan mencubit lembut pipi sang istri dan tak lupa mengelus secara lembut pipi tembem bayinya.


Pria ini langsung bergegas ke meja makan dan menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Setelah itu, ia bersiap-siap setelah membersihkan diri dan memakai pakaian prajuritnya, ini dilakukan untuk menghadiri upacara kuil dewa.


"Baiklah, aku pergi. Jaga diri kalian baik-baik."


Cup!


Sebelum pergi ia tak lupa memberikan ciuman hangat kepada kedua malaikatnya itu dan setelah meninggalkan kediaman mewahnya dan nyaman.


Di depan sudah ada banyak prajurit berbaris menunggu sang raja keluar.


"Panjang umur Yang Mulia Raja Ares! Makmurlah Kerajaan Sparklos!"


Teriakan para prajurit yang mendoakan pemimpin mereka sekaligus tanah air tercinta. Sang raja senang mendengar itu dan memuji semua prajurit-prajuritnya yang setia.


Setelah itu, sang raja menaiki sebuah kuda memimpin parade menuju ke kuil, ia disambut hangat rakyat-rakyatnya dan melewati mereka semua dengan kepala tegak dan tegasnya.


Sesaat sampai di depan kuil, ia disambut beberapa orang dengan pakaian imam mereka dan terlihat dari lagaknya sepertinya mereka para pendeta yang dimaksud sang raja.


"Panjang umur penguasa agung Sparklos," ucapnya sembari menunduk sejenak dan memberikan hormat.


Sang raja turun dari tungganganya dan menghampiri pendeta itu.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Sudah Yang Mulia, tinggal Anda melakukan ritual doanya."


Mendengar itu sang raja langsung berjalan ke arah pintu kuil, saat masuk ia disambut banyak umat dan menunduk seraya memberi hormat pada pemimpin mereka.


Sesaat sang raja berdiri tepat di atas altar dan sekeliling altar itu ada banyak api. Ia berdiri dengan kepala di atas sembari mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa :


...E culm kang sampyn...


...E dedonem kang sampyn...


...O vi prea kang sampyn...


...O qod dedumwa Har Megido...


...(Aku menyembah kepadamu)...


...(Aku pasrah kepadamu)...


...(Kuserahkan kepadamu)...


...(Wahai 'God of Har Magido' )...


Wush...!


Sesaat berdoa, tiba-tiba hembusan angin kencang bertiup di dalam kuil. Orang-orang yang ikut berdoa semakin memanjakkan doa mereka karena sang dewa telah menerima pengabdian mereka.


Setelah beberapa saat, angin berhenti bertiup dan sang raja masih diam mematung di atas altar.


"Yang Mulia..."


"Yang Mulia telah mendapatkan berkah."


Sudah hal biasa dilihat tapi selalu mengejutkan untuk disaksikan lagi, di saat sang raja mendiami altar cukup lama. Para pengikut percaya bahwa saat ini sang raja telah berkomunikasi dengan dewa.


Setelah cukup lama berdiri, akhirnya sang raja sadar dan berbalik menatap semua pengikutnya.


"Panjang umur Yang Mulia Raja Ares! Makmurlah Kerajaan Sparklos! Berkah 'God of Har Megido'!"


Semua pujian dilontarkan dan sang raja masih tenang sembari berjalan menuju keluar kuil. Sesaat di luar, ia sudah melihat para prajurit siap dengan peralatan tempur mereka.


"Bersiaplah wahai prajuritku! Kita akan pergi ke Kerajaan Vagnus dan taklukkan, inilah petunjuk dari Dewa kita!"


"Panjang umur Yang Mulia Raja Ares! Makmurlah Kerajaan Sparklos! Berkah 'God of Har Megido'!"


Setelah memberi perintah, sang raja langsung bergegas menaiki kudanya dan membawa sang kuda menuju medan penuh darah nantinya, diikuti suara tepakan kuda lainnya di belakang. Terlihat ini sudah menjadi kebiasaan mereka dan tak ada satu pun rasa takut melainkan kesenangan yang ada di mata mereka.


...•••...


Beberapa saat kemudian...


Shut! Piuh! Piuh!


"Lari!!!"


Piuh! Crak!


"Aaahhh!!!"


Hujan panah api telah membakar habis semua rumah dan penduduk Kerajaan Vagnus. Semua warga di sana dibabak habis oleh prajurit Sparklos. Semuanya dijarah dan para wanita ditangkap untuk dijadikan budak.


Kerajaan Sparklos dikenal sebagai kerajaan akan kekejaman dan kekuatan militer mereka yang kuat. Dan letak kerajaan ini berada di sebuah gunung di seberang barat laut Yunani. Gemar berperang dan menjajah, seolah-olah kerajaan ini hanya ada untuk menghapus semua peradaban kerajaan yang ada.


"Bu!!! Ibu...!!!"


Seorang anak kecil perempuan menangis melihat ibunya telah bersimbah darah. Walau kenyataan sudah jelas di depan mata, tapi gadis kecil ini berusaha membangunkan sang ibu.


Ares berjalan dengan tenang di tengah kekacauan ini, ia sudah terbiasa akan pemandangan ini. Tapi... entah kenapa kali ini ia merasakan hal aneh di hatinya.


Ia melihat seorang gadis kecil yang menangis tanpa henti atas kematian ibunya.


"Yang Mulia..."


Seorang prajurit menghampiri dirinya dan menyadarkan dia dari perasaan yang membuatnya merasa aneh ini.


"Laporkan."


"Baik! Semuanya telah selesai, tapi kita apakan sisanya?"


Mendengar itu dan baru kali ini Ares berpikir panjang untuk memberikan perintah ini lagi. Padahal sudah banyak tempat ia taklukkan dan perintah pembasmian dilancarkan tanpa keraguan sedikit pun.


"Lakukan seperti biasa."


"Baik!"


Prajurit itu langsung maju ke arah gadis kecil yang menangisi ibunya.


"Hiks! Uwaaah...!!!"


Crak!!!


Sebuah bilah panjang diangkat ke atas dan berhasil membunuh nyawa yang polos dan tak bersalah. Ares melihat itu hanya bisa terbelalak dan baru kali ini ia menampakkan wajah terkejut akan pemandangan ini. Padahal sudah banyak pembantaian ia lewati, tapi kenapa sekarang dia baru mulai menunjukkan kemanusiaan dalam dirinya?


"*Huff...*"


Dirinya berusaha menenangkan diri melihat pemandangan mengerikan itu dan mengatur napasnya hingga tenang. Setelah itu ia langsung meninggalkan lokasi dan memerintahkan seluruh pasukannya kembali sembari membawa hasil jarahan mereka.


...•••...


Setelah kembali...


"Hore..."


"Hidup Yang Mulia!!!"


Sorakan kemeriahan dari para rakyat dan di belakang mereka ada banyak jarahan serta budak-budak dibawa ke kerajaan.


"Yang Mulia." Seorang prajurit maju sembari membawa kudanya ke samping kuda sang raja. "Apa semua budak ini kita bawa ke kuil lagi?"

__ADS_1


"Untuk kali ini, lakukan mereka seperti tawanan kerajaan."


"Apa?" Baru kali ini mendengar jawaban berbeda dari tuannya, padahal biasanya dia langsung diperintahkan oleh tuannya untuk dibawa ke kuil setelah ini. "Baik! Siap laksanakan!"


Sang prajurit mundur lagi ke belakang dan sang raja langsung kembali ke istana. Dengan beban pikiran aneh terus menghujaninya saat penjajahan itu.


"Ada apa Sayang? Kamu lagi kayak banyak pikiran."


Kepulangannya disambut hangat oleh sang istri tercinta yang sembari menggendong putri tercintanya.


"Tidak ada apa-apa, belakangan ini kepalaku pusing saja."


Setelah mengatakan itu, ia langsung mengambil purtinya dengan lembut dan menggendongnya dengan cinta yang besar.


Tapi saat melihat putrinya itu, dia tiba-tiba teringat gadis kecil yang menangis itu dan sesaat jantungnya sedikit berdebar kencang.


"Baiklah, putri manisku. Ayah ingin istarahat dulu," ucapnya sembari mengembalikannya ke istrinya.


"Mandilah dulu agar kepala dan tubuh bisa segar kembali."


"Baik."


Cup!


Sebelum pergi, ia tak lupa memberikan ciuman saat pulang. Tapi sang istri sedikit khawatir melihat keadaan suaminya yang tak biasanya pulang dengan wajah seperti itu.


"Apa kamu sudah sadar? Kuharap semuanya belum terlambat, karena kamu sudah berada dalam 'kesendirian' cukup lama."


Mengucapkan yang dia saja yang pahami, sang istri mendoakan terus kebaikan atas suami dan keluarganya ini.


Di sisi lain, Ares menikamati waktu santainya yang ditemani anggur kualitas baik.


"Kenapa ini terus menghantuiku?"


Dia terus teringat akan sosok gadis kecil itu dan tiba-tiba sosok gadis kecil itu dan ibunya, berubah menjadi bayangan sosok putrinya dan istrinya.


Bleng...!


Tanpa sadar segelas anggur merah digenggamannya jatuh dan napasnya sedikit sesak karena terlintas pikiran semengerikan itu di kepalanya.


"Tidak mungkin! Itu tidak akan menimpa keluargaku! Lagian kami punya Dewa yang selalu mendukung kami!"


Setelah memikirkan semua itu cukup lama, Ares memutuskan kembali ke kuil dan meminta para prajuritnya membawa para budak ke dalam kuil.


Sesaat di dalam kuil, semua para budak disimpan di atas sebuah kolam dengan genangan air kecil.


"Lakukan!"


"Baik!"


Burm...


Seketika sebuah obor api diletakkan di atas kolam itu menyebar ke seluruh kolam dan membakar semua orang itu.


"Aaahhh!!!"


Teriakan semua korban perang itu memenuhi ruangan tertutup ini.


"Kumohon... selalu lindungilah kerajaanku dan keluargaku."


Doa dalam hati sang raja, setiap Kerajaan Sparklos melakukan invasi suatu tempat, itu dilakukan atas perintah sang dewa yang terhubung secara langsung oleh sang raja. Sang dewa meminta Area untuk memberikan persembahan manusia dengan kualitas terbaik. Dan kali ini Ares beserta prajuritnya membawa banyak wanita perawan untuk dipersembahkan.


Bing!


Setelah cukup lama api berkobar, tiba-tiba muncul sebuah retakan dimensi lain dan memunculkan seseorang dengan topeng anehnya.


"Oh Dewa...!"


Semua pengikut langsung berlutut dan bersujud pada dewa mereka, Ares hanya bisa menundukkan kepala saja karena seperti sebelum-sebelumnya, hanya dia saja yang boleh mengangkat kepalanya dan menatap sang dewa secara langsung.


"Persembahan kali ini sangat bagus, tapi belum cukup untukku sama sekali."


"Maafkan Hamba jika belum memberikan persembahan terbaik."


"Tidak apa-apa, tapi aku melihat kamu dilanda keraguan saat pulang tadi, sehingga itu mempengaruhi pilihanmu memilih persembahan untukku."


"Maaf, kali ini Hamba akan berjuang untuk memberikan persembahan terbaik."


Sang dewa mendengar itu tampak sedikit kecewa di balik topengnya.


"Kuberikan kesempatan kali ini, jika terulang lagi..."


Wussh...!


"Maka semua yang kamu lindungi ini, akan jadi persembahan untukku."


"!"


Mendengar itu membuat Ares sangat terkejut dan tak menyangka jika perasaan tak enaknya mulai semakin nyata.


Crang!


Sang dewa kembali ke tempat asalnya dan memasuki retakan dimensi lagi.


"Sial!"


Mendengar ancaman itu membuat Ares merasa semakin tertekan.


...•••...


...•••...


20 hari kemudian...


Setelah penaklukkan Kerajaan Vagnus, kali ini Ares memimpin kembali pasukannya menyerang sebuah desa yang dekat dengan gunung di arah timur Yunani.


Crak!


"Aaahh!!!"


Invasi kejam-kejaman ini semakin brutal dan tampak wajah Ares terlihat semakin tak memperlihatkan seorang manusia.


"Aku harus melindungi Carissa dan putriku."


Egonya yang memuncak membuatnya semakin tak mempedulikan sekitarnya lagi, kekuasaannya yang tinggi serta kejayaannya membuatnya semakin sulit dikendalikan lagi.


Setelah invasi itu, para prajurit membawa beberapa gadis perawan lagi dan kali ini Ares meminta prajuritnya bersiap untuk kembali.


...•••...


Sesaat sampai di Kerajaan Sparklos...


"A-apa..."


Burm... Burm...


Si jago merah yang melahap seluruh tempat sekitar kerajaan milik Ares..


"Cepat lindungi rakyat kita!"


Ares langsung memerintahkan para prajurit untuk maju menyelamatkan orang-orangnya.


Tapi...


Piuh! Crak!


Tiba-tiba serangan yang sangt cepat mengarah ke arah semua prajurit dan budak. Mereka semua mati dan hanya menyisakan Ares seorang dengan diam membantu melihat semua ini.


"Kenapa semua hal ini bisa terjadi..." saat mengatakan itu, ia langsung teringat istrinya dan putrinya. "Tidak! Setidaknya aku bisa menyelamatkan mereka..."


"Kau ingin menyelamatakn keluargamu?"


Tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik ke arah suara itu, ia sangat terkejut melihat orang yang tidak asing dan sangat dihormatinya.


"Apa maksud semua ini, wahai 'God of Har Megido'?"


"Bukankah sudah kubilang untuk memberikan aku persembahan yang sangat baik."


"Ta-tapi... kami sekarang membawa persembahan itu pada Anda..."


"Diam!!" Ares tertegun dan kakinya gemetaran akan aura hebat dewa ini. "Persembahan yang kali ini kamu bawa jauh lebih buruk dari sebelumnya, ternyata kamu mulai semakin tumpul ya. Tapi setidaknya semua orang-orang mereka persembahan yang sangat bagus, apalagi istri dan putrimu, mereka berdua paling berkualitas di antara semunya."


"!!!"


Mendengar itu membuat Ares mulai naik pitam dan tanpa sadar ia mengangkat pedangnya dan mengarahkan pada dewanya.


"Oh~, jadi kamu ingin memberontak ya."


Deg! Deg! Deg!


Irama jantungnya semakin kencang dan pikiran Area kali ini tercampur banyak hal.


"Aaahhh!!!"


Tiba-tiba ia berlari ke arah dewanya sembari mengangkat pedangnya untuk siap menebas musuhnya.

__ADS_1


"Cih, sungguh keras kepala." Sembari mengarahkan telapak tangannya ke depan dan muncul cahaya dari telapak tangannya. "Karena aku bosan sekarang, bagaimana kalau kamu menghiburku."


Bing!


"Egh!" Tiba-tiba tubuh Ares tidak bisa bergerak. "Tubuhku...!"


Tap...! Tap...!


Langkah kakinya berjalan sendiri tanpa perintahnya.


"Kuberi kehoramatan kepadamu untuk memberikan persembahan itu kepadaku secara langsung, dan jangn khawatir, istri dan putrimu masih hidup di istana nyamanmu itu."


Ares berusaha mengendalikan tubuhnya, tapi apa daya ia hanya manusia biasa.


Crak! Swoosh!


"Aaah!!!"


"Ya... Yang... Mulia..."


Sesaat memasuki tempatnya, ia membunuh semua rakyatnya tanpa ampun dan tubuhnya tak tergores sama sekali oleh api ini.


"Aaahh!!!"


Ares semakin frustasi karena melihat semua ini dengan sadar, ia sudah memperkirakan akan bagaimana akhirnya.


Sekarang ia berjalan ke arah kediamannya.


Brak!


Dengan tenaga luar biasanya, ia berhasil menghancurkan pintu kayu itu dan di luar kediamannya, ia sudah membunuh semua orang dan tentu saja dibantu oleh dewa itu.


"Sa-sayang..."


Sang terkasih tercinta hanya bisa terdiam dipojokan dengan ketakutan sembari menggendong bayinya.


"Oek...! Oek...!"


Tangisan bayinya membuat hati Ares semakin sakit, pedang yang sudah dilumuri darah banyak orang masih berbekas, dan percikan darah korbannya telah memandikan dirinya.


Tap... Tap... Tap...


Ia berjalan dengan langkah beratnya.


"Kumohon... hentikan... hentikan!"


Ia terus memohon dalam hatinya karena mulutnya telah terkunci sepenuhnya dan hanya matanya yang penuh air mata menjawab semuanya.


"Ini bukan salahmu..."


Mendengar itu dari mulut wanita tercintanya membuatnya semakin sakit. Ia segera mengangkat pedangnya ke atas dan dibarengi tangisan bayinya serta suara hatinya yang terus berteriak, sang istri hanya bisa pasrah karena sudah tahu apa akan terjadi pada dirinya dan putrinya kelak nanti.


Crak!!! Crak!!!


Tebasan demi tebasn dilayangkan dan hanya menampilkan pemandangan mengerikan di mata Ares.


"Tidak... aku minta maaf!"


Air matanya semakin deras dan ia sekarang bebas dari kendalinya dan langsung menghampiri dua malaikat tercintnya yang telah tersimbah darah.


"Aku minta maaf... aku minta maaf...!"


Ia terus meminta maaf sembari menggendong keduanya.


"Hiks...! Aaahhh...!!!"


Tangisannya semakin pecah dan terus meratapi kematian kedua orang tercintanya. Setelah cukup lama terpuruk dan hanya ada suara kobaran api di mana-mana.


"Sial...! Har Megido!!!"


Ares langsung berlari keluar sembari membawa pedangnya dengan perasaan marah yang memuncak itu.


Setelah sampai di luar, tampak sang dewa masih di sana menikmati pemandangan ini.


"Har Megido!!!"


"Sudah selesai?" Sembari hanya tersenyum di balik topengnya.


Mendengar itu membuat Ares semakin marah dan langsung menghampiri dewa itu dengan pedangnya.


Shoot! Piuh!


Crak!


"Aaahh...!!"


Satu tembakan cepat darinya berhasil memutuskan satu tangan Ares. Tapi Ares tetap maju dengan tubuhnya yang sudah cacat itu.


Shoot! Piuh! Piuh!


Crak! Crak! Crak!


Serangan bertubi-tubi dan memotong kedua kaki dan tangannya yang satu sehingga Ares hanya bisa terbaring menatap langit dengan perasaan marah.


Sang dewa menghampiri dirinya dan menatapnya dengan tatapan rendah.


"Sangat cocok, memang seharusnya manusia disamakan dengan tanah yaitu selalu diinjak-injak."


"Har... Megido...!"


Bing!


Crak!


Sang dewa kali ini mengakhiri semuanya dan menghancurkan kepalanya Ares.


...•••...


...•••...


...•••...


"Aaahhh...!!!"


Dirinya langsung terbangun di tempat tak asing ini.


"Aku... hidup?"


Seolah-olah kejadian itu hanya mimpi saja, tapi perasaan sakit masih besar di hatinya.


"Sayang!"


Sang istri langsung menghampiri Ares dengan wajah khawatir. Ares melihat mereka berdua masih ada di depan matanya yang masih sehat.


"Hiks!"


Tiba-tiba Ares memeluk istrinya yang masih menggendong bayinya. Sang istri merasakan rasa takut besar dari suaminya dan berusaha menenangkannya.


"Sudah, kamu pasti bermimpi buruk. Lihat, sekarang aku dan putri kita masih ada di sini."


Mendengar itu membuat hati Ares semakin bahagia dan segera menggendong bayinya lalu menciumnya. Walau itu terlihat mimpi, tapi orang yang merasakannya menurutnya itu adalah suatu hal kenyataannya.


"Kali ini aku akan melindungi semuanya," pikir Ares yang semakin tekad.


Setelah beberapa saat, Ares memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menghancurkan setiap kuil dewa di setiap wilayah kerajaannya. Tentu tindakannya ini sangat membuat semua orang ketakutan dan marah, karena raja mereka telah menghina dewanya, tapi mereka hanya orang biasa tak ada satu pun melawannya.


Bing!


Tindakannya ini justru mengundang yang disembah dan dia datang secara langsung dari atas langit. Para penyembah melihat hal itu langsung bersujud dan memohon ampun pada dewanya.


Ares melihat itu malah membuatnya semakin marah dan menantang dewa itu melawannya.


"Sampah."


Bom!! Bom!!


Tidak butuh waktu lama bagi dewa ini membunuh mereka semua dan serangan demi serangan dilancarkan dan meratakan semuanya. Ares yang masih bertekad dan melawannya.


Shoot! Piuh!


Kali ini serangan telak menghujaninya dan membunuh dirinya lagi.


...•••...


...•••...


...•••...


"*Hosh*... *Hosh*...!"


Dirinya kali ini terbangun di tempat yang sama dan tak percaya ia kembali lagi ke masa lalu. Kali ini Ares mengulang hal yang sama tapi berbeda tindakan. Tapi hasil akhirnya masih sama di mana dirinya mati mengenaskan lagi.


Tapi dia kembali lagi di waktu sama dan tindakan ini terus terulang dengan rencana berbeda, Area bertekad akan melakukan hal seperti terus menerus sampai jiwanya hancur sekalipun, agar ia bisa mengubah takdir buruk yang menimpa orang-orang tercintanya.


Sudah ribuan waktu dan kematian mendatanginya dan hal ini terus berulang sampai dirinya merasa bahwa ia sudah mengubah takdirnya.

__ADS_1


__ADS_2