Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 07


__ADS_3

Saat berada di rumah....


"Kakak, mau pergi kerja?" Tanya Rena.


"Iya, apa ada sesuatu yang kamu mau Kakak belikan?"


"Itu Loh... Kak, apa Kakak bisa libur besok?" Tanya Rena.


"Bisa sih, Kakak bisa libur kapan pun."


"Berarti besok kita pergi jalan-jalan, dong," ucap Reno yang lagi semangat.


"Memangnya, mau pergi ke mana?"


"Huh... masa Kakak lupa hari apa besok," kata Rena sedikit kesal.


"Hari Rabu, memang hari apa lagi selain itu?"


Seketika kedua pipi si kembar mengembung dengan wajah kesal.


"Hehe, bercanda, mana mungkin Kakak bisa lupa hari ulang tahun Adik-Adikku yang manis. Jangan khawatir, besok kita pergi ke taman hiburan setelah itu kita pergi makan pizza."


Sembari mengusap kepala kedua adiknya, dan seketika raut wajah adik kembarnya berubah menjadi cerah.


"Horeee..!"


...•••...


...•••...


...•••...


Kembali lagi ke dalam dungeon....


Sekilas cahaya masuk secara perlahan dalam kegelapan dan cahaya itu semakin besar dan menerangi semua pandangan sehingga membuat penglihatan kabur, ia pun mengedipkan beberapa kali matanya agar semuanya terlihat jelas.


"Eh? Aku masih hidup... argh..!"


Tanpa sadar ia menggerakkan dirinya dan langsung merasakan sakit lagi.


"Oh iya, aku meminta mereka memasuki gerbang yang dijaga oleh monster itu. Aku harap mereka baik-baik saja."


...•••...


Di sisi lain sisa anggota party menuju ke gerbang mereka masing-masing. Tujuh orang tujuh gerbang.


GULP!


"Haruskah aku masuk ke sini, di sana ada monster yang menjaganya..."


Susan yang berdiri tepat gerbang dijaga oleh monster bersenjata cambuk dan ia gemetaran, tapi mengingat kata-kata Arkha bahwa mereka semua akan baik-baik saja.


"Baiklah, semangat!"


Ia pun berjalan kencang ke gerbang itu, melewati monster yang berdiri tanpa memandang ke atas sedikit pun, ia terus berjalan ke depan saja dan ia juga menutup matanya saat melewati monster itu.


Sedangkan si Pak Tua Adrian Handaru menuju ke gerbang yang dijaga oleh monster bersenjata pedang. Ia berjalan terus tanpa ragu sedikit pun.


Untuk si wanita berkacamata Zara, ia pergi menuju gerbang yang dijaga oleh monster bersenjata tombak. Awalnya ia ragu.


"Apakah ini benar-benar aman?" Pikirnya.


Tapi, melihat keadaannya seperti ini, ia langsung berlari masuk tanpa menghiraukan monster itu.


Sisanya mereka memasuki gerbangnya masing-masing.


Saat mereka sudah di dalam, yang terlihat hanya lorong panjang yang dihiasi api obor yang menyala setiap sudut. Mereka terus berjalan hingga terlihat sesuatu di ujung sana.


Sebuah tangga dengan tujuh anak tangga, di atasnya ada sebuah wadah besar di sana.


Mereka pun menaiki satu persatu anak tangga itu hingga mencapai puncaknya.


"Bukankah ini... cawan?"


Terlihat sebuah benda kecil menyerupai benda-benda sehari-hari dan di sampingnya ada dua buah obor panjang menyala.


"Jadi ini maksud Tuan Peteng."

__ADS_1


Mereka langsung meneteskan darahnya di cawan itu. Satu atau dua tetes jatuh.


Dan...


Wosh!!


"A-apa?!"


Seketika muncul api besar dari cawan itu dan api itu mengalir menyusuri lorong panjang ini bagai sungai mengalir. Api itu terus mengalir hingga ujung gerbang dan setelah keluar, api itu masih terus berjalan hingga menuju ke batu yang pria sekarat ini bersandar.


...•••...


"Aku benar-benar tidak berdaya..."


Pria ini merenung nasibnya yang sangat terpuruk dan ia mengingat soal mimpi diceritakan kebanyakan orang.


"Mimpi ya... hehe, aku benar-benar tidak punya. Tapi, kalau aku berhasil selamat dari sini, maka mimpi yang harus aku punya... menjadi yang teratas."


[Syarat pertama telah terpenuhi.]


"Aku benar-benar bingung..., jalan yang aku tempuh tidak mengubah sedikit pun nasibku. Aku ingin mengubah nasib bodoh ini, agar kedua Adikku tidak menderita. Aku sangat ingin seperti mereka yang kuat, kaya, dan tidak dipandang rendah."


[Syarat kedua telah terpenuhi.]


"Aku benar-benar pengecut, selama ini aku selalu dibantu terutama Susan. Dia bahkan selalu membelikan Rena dan Reno pakaian saat aku tidak mampu beli apa pun terkecuali makanan, dan kali ini aku masih dibantu olehnya. Hehe... aku benar-benar tergantung olehnya."


[Syarat ketiga telah terpenuhi.]


"Suara apa ini terus bergema di kepalaku, Apa ini halusinasi sebelum kematian?"


Dia mengangkat mata dengan susah payah dan melihat sesuatu menghampiri dirinya.


"Eh! Apa itu?!"


Merasa ada yang sangat bahaya baginya, ia berusaha bangkit tapi sayang luka parah dialaminya harus membuatnya tetap diam di tempat.


"Tidak! Jangan...!"


Semakin mendekat, semakin mendekat dan...


"AAAHHH!!!"


"Arkha!"


Karena teriakan itu, mereka bergegas berlari keluar dari gerbang. Rasa khawatir menguasai mereka sehingga mereka melewati monster itu begitu saja.


"Tidak! Arkha...!"


Susan yang panik melihatnya, dia bergegas berlari menuju kobaran api itu.


"JANGAN MENDEKAT!!!"


Teriakan seseorang dari dalam kobaran api itu, tapi wanita ini tidak mau mendengarnya dia tetap maju ke sana tanpa peduli peringatan itu.


Tapi...


"Apa kamu gila ya!"


Seseorang menarik dirinya ke belakang dan itu ternyata Zara.


"Apa kamu ingin mati juga, hah!"


"Ta-tapi Ark..."


"Dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi!"


"Tidak! Aku harus menyelamatka--"


BLAM!


Seketika seseorang memukulnya dari belakang.


"Maaf Susan..."


Yang memukulnya ternyata Adrian, dia meminta Zara menjaganya sementara dan maju ke kobaran api itu.


"Tuan Peteng, terima kasih."

__ADS_1


Katanya sembari menundukkan badannya ke depan, dia mengatakannya dengan berat hati dan tidak sanggup melihat tragedi ini.


Tapi, sesuatu terlempar ke arahnya berasal dari dalam kobaran api itu dan itu sebuah kantong berisikan sesuatu, dan kantong itu terlindungi oleh Mana sehingga tidak ikut terbakar juga.


"Tuan... tolong... berikan... ini padanya...."


Adrian terbelalak dan masih menundukkan badannya, dia tidak sanggup melihatnya lagi dan berkata:


"Jangan khawatir, aku pasti memberikannya padanya."


Setelah percakapan singkat itu, seketika muncul sebuah cahaya yang terkumpul di atas batu itu dan cahaya itu langsung terbang menuju ke arah belakang mereka.


"Apa itu?"


Seketika cahaya membentuk sebuah lingkaran yang sangat besar.


"Itu..., itu portalnya!"


Seketika raut wajah penuh harapan muncul dan mereka bergegas keluar dari sini dan Adrian menggendong Susan, sesaat sudah berada di depan portal ia berbalik.


"Terima kasih."


...•••...


Sesaat situasi di luar....


"Lihat! Portalnya muncul lagi."


Semua orang berkumpul dan menyaksikan munculnya kembali portal tersebut.


"Lihat! Ada sesuatu yang muncul."


Semuanya terkejut karena orang-orang yang menjelajahi dungeon ini sekarang tinggal tujuh orang.


"Semuanya menjauh dari portalnya, cepat!"


Instruksi orang berpakaian jas hitam berkumpul di depan portal, mereka berbaris membentuk benteng manusia agar orang-orang tidak ada yang menerobos masuk.


"Tim medis kemari cepat, di sini ada yang terluka."


Tim medis dari pemerintah datang beserta ambulans, mereka membawa Susan yang pingsan ke dalam mobil ambulans.


"Apa Anda Adrian Handaru, ketua tim Raid ini?"


Seorang pria berjas hitam menghampirinya.


"Iya, itu saya."


"Kami dari asosiasi biro keamanan, sekarang anda bisa istirahat beserta anggota Anda, sisanya biar kami yang urus."


"Baiklah, terima ka--" seketika raut wajah terkejut terpampang darinya. "Pak! Aku bisa minta tolong sesuatu?!"


"Iya, katakanlah."


"Salah satu anggota yang ikut kami masih ada di dalam sana!"


Zara yang ada di sampingnya terkejut dan dia ingin buka suara, tapi dia memutuskan tutup mulut, sebab melihat mata ketuanya yang masih percaya bahwa pria itu masih hidup. Walaupun dia yakin bahwa pria itu tidak bisa selamat lagi.


"Apa! Masih ada satu di dalam?"


"Iya! Dia mengulur waktu untuk kami agar bisa keluar. Tolong selamatkan dia, Tuan!" Ucapnya sembari membungkuk.


"Baiklah, kami akan menolongnya. Tolong tegakkan diri Anda, kami akan sebisa mungkin menyelamatkannya."


"Terima kasih banyak, Tuan."


Pria berjas hitam itu hanya mengangguk dan pergi mengumpulkan seluruh anggotanya untuk segera memasuki portal ini.


"Tuan, mohon ikut saya untuk melakukan pemeriksaan."


Seseorang berjas putih menghampirinya, dia meminta agar Adrian dan seluruh anggotanya dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, apakah ada luka dalam atau semacamnya.


Mereka pun menaiki sebuah ambulans dan di tengahnya Susan berbaring tak sadarkan diri.


"Pak, kenapa Anda berkata begitu, mana mungkin dia...."


"Ya aku tahu, tapi... setidaknya mereka menemukan jasad atau abunya. Sehingga itu memperjelas semuanya bagi gadis ini."

__ADS_1


Katanya sembari menatap gadis tak sadarkan diri ini. Semuanya merenungi diri sendiri, mereka tak percaya bahwa mereka masih bisa lolos dari mimpi buruk ini. Walau harus mengorbankan seseorang agar bisa selamat.


__ADS_2