Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 38


__ADS_3

Sesaat berada di sebuah rumah sakit....


"Kamu yakin, tidak menemukan satu pun dungeon di dalam sana?"


"Sudah berapa kali kamu bertanya seperti itu, memang tidak ada dungeon sama sekali, dan bahkan aku sudah menggunakan skill sensor milikku."


Terlihat dua orang pria berjalan menyusuri lorong, mereka membicarakan mengenai sumber energi sihir yang tidak bisa di deteksi oleh detektor mereka.


Pria itu memakai pakaian merah dengan simbol di dada bajunya berbentuk bintang dengan corak api mengelilinginya, dan satunya lagi seorang pria dengan jas hitam serta kacamata hitam juga.


Mereka adalah Rian Kasim dan Adam Buana.


"Untuk apa kau menemui Arkha Peteng dia hanya seorang Venandi Rank-F."


"Kamu tidak tahu, ada yang spesial dari anak itu," ucap Rian. "Tidak salah lagi, firasatku kali ini benar bahwa dialah pria itu yang menyelesaikan semua Hidden dungeon seorang diri."


Pria jas hitam itu bingung apa yang dimaksud kawannya ini.


Setelah beberapa langkah mereka berjalan, akhirnya langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar pasien dengan nomor 210-A.


"Kamu yakin di sini tempatnya?"


"Iya, di sini aku melihat anak itu keluar dari kamar ini. Tapi... apa kamu ingin menghajar anak itu kan? Mengingat kamu pernah menghajar seseorang sampai babak belur hanya karena hal sepele, apa jangan-jangan anak ini juga melakukan sesuatu padamu?"


"Bodoh! Mana mungkin aku akan melakukan hal itu di sini. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padanya."


"Heh... bisa jadi kan kamu hanya berbicara empat mata, terus menghajarnya di tempat sepi."


Seketika wajah pria berpakaian merah ini semakin kesal.


"Sudah kubilang aku--"


"Uhss...."


Tiba-tiba seorang suster yang lewat mendengarnya, memperingati mereka untuk tidak ribut di sini setelah itu suster itu pergi meninggalkan mereka.


"Sudahlah, aku capek berbicara denganmu."


Pria berpakaian merah ini mengangkat satu tangannya ke pintu.


Tok... Tok... Tok....


Krek....


Dia langsung membuka dan mendorong pintu secara perlahan.


"Permisi, maaf kalau menganggu waktunya sebentar," permisi dari Rian.


Mereka berdua memasuki sebuah ruangan pasien, terlihat yang terbaring pulas di kamar pasien adalah dua orang anak kembar.


Lalu seorang gadis muda yang duduk di samping si kembar itu untuk menjaganya. Melihat ada tamu masuk, gadis muda ini bangkit dari duduknya.


"Ada apa ya, Pak. Apa ada sesuatu di sini?"


Gadis muda itu tampak sedikit khawatir, sesaat kamar pasien ini dikunjungi oleh dua orang asing.


"Kamu tidak perlu khawatir, Nona. Kedatangan kami di sini hanya untuk bertemu dengan orang bernama Arkha Peteng. Apa kamu kenal dia?"


Pria berpakaian merah memberitahukan tujuan kedatangannya beserta mengajukan pertanyaan kepada gadis muda ini. Tampak gadis muda ini masih sedikit ketakutan, ketika berhadapan dua orang dengan jumlah Mana yang melimpah dalam tubuhnya.


Mengingat gadis muda ini adalah memiliki tubuh yang diberkahi Mana yang jumlah banyak juga semenjak kebangkitannya, sehingga dia sangat peka terhadap Mana di sekitarnya.


"Kalau boleh tahu, alasannya apa ya Anda ingin bertemu dengan Arkha?"


Pria baju merah ini terbelalak dan dia melihat mata gadis gemetar sedemikian, tapi tetap tegar di hadapan orang yang lebih kuat darinya.


"Kayaknya gadis ini benar-benar menjaga orang itu," pikir Rian.


"Oh, pria ini...." Sembari menunjuk ke arah samping dengan jempolnya. "Dia ingin bertemu dengan tuan Peteng, karena--"


Jitak!


Tiba-tiba sebuah pukulan melayang di atas kepalanya sehingga membuat kacamata hitamnya jatuh ke lantai.


"Sebaiknya kamu diam saja! Ini urusanku dengan pemuda itu. Sekali lagi kamu bicara, aku akan menyumbat mulutmu dengan bola api ini!


Tampak pria baju merah ini kesal dan mengeluarkan sebuah api kecil dari tangannya dan gadis itu terkejut melihatnya.


"Anda kan, Tuan Adam?"


"Oh, kamu mengenalku ya...," jawab Adam lalu mengambil kacamata hitamnya yang jatuh di lantai.


"Aku pernah melihat Anda berbicara dengan Pak Adrian."


"Jadi kamu salah satu anggota dari pak tua itu, sekarang dia ada di mana?"


"Sekarang dia dirawat di rumah sakit ini, tangannya hampir hancur setelah menyelamatkan anak-anak ini yang terjebak di dalam dungeon dan dia sekarang berada di kamar 204-A."


"Begitu ya, memang orang tua itu sangat kuat dan mengingat usianya yang seharusnya dia pensiun sekarang. Baiklah, aku akan pergi menjenguknya, sekarang kamu bebas bertanya mengenai pemuda itu padanya."


Pria berjas hitam ini langsung pergi meninggalkan mereka dan keluar dari ruangan ini melalui pintu.


Seketika suasana hening semenjak pria jas hitam itu pergi.


"Ehem..., aku akan menjawab pertanyaanmu tadi. Alasanku ingin menemui dia adalah untuk mengucapkan terima kasih padanya, setelah membantu aku beserta tim kami menyelesaikan dungeon."


"Eh? Apa yang Anda katakan itu benar? Arkha hanya seorang Venandi Rank-F, dia tidak akan pernah mau memasuki dungeon lain selain tingkat F saja, dia sendiri mengatakan itu padaku."


Seketika pria baju merah terkejut mendengarnya, sebab ini sangat jauh dari apa yang ia bayangkan mengenai pria itu.

__ADS_1


"Aku rasa ada alasan kenapa si Arkha ini menyembunyikan kemampuannya, apa dia 'orang palsu?'"


Tiba-tiba matanya terlirik ke arah dua anak kembar itu yang tertidur pulas di atas kasur pasien dan berpikir:


"Mana itu... yah, kurasa firasatku benar dialah orang itu." Langsung mengarahkan matanya lagi ke gadis di hadapannya ini. "Aku rasa kamu benar, aku salah orang. Tapi, tolong berikan kartu namaku ini padanya."


Pria baju merah ini memberikan sebuah kartu dan tertulis nama dia di dalamnya beserta nama perusahaannya.


"Aku akan memberikannya jika sudah bertemu dengannya," balas gadis itu sembari mengambil kartu nama itu.


"Kalau begitu, aku permisi dulu."


Pria baju merah itu langsung pergi ke pintu itu dan keluar dari ruangan ini.


"Lambang bintang di bajunya itu kalau tidak salah berasal dari guild Si jago merah...." Gadis ifu melihat kartu nama yang dipegangnya. "Rian kasim, jadi benar dia dari guild besar itu. Arkha, aku harap kamu tidak punya masalah dengan mereka."


Terlihat jam dinding menunjukkan pukul 11.46 dan bulan purnama semakin terang di malam ini.


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam dunia Hades, lantai 4...


Sudah dua jam lebih aku berada di dunia ini dan aku baru berada di lantai empat.


[Boss


The Pawn 7 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Pawn 8 - The Damned Six


Level : ???]


Set!


Syut! Syut! Syut!


Berbagai tebasan pedang terbang ke arahku dan itu membuatku sedikit kewalahan menghindarinya.


"Sekarang..!!"


Tiba-tiba lingkaran sihir besar muncul tepat di bawah kaki kami.


"Hoarrggh..!!"


Tiba-tiba tubuh mereka tak bisa bergerak sesaat menatap Norum dan ini berkat skill pasif "Insting liar" dari Norum yang sulit bergerak dalam beberapa detik.


Set!


Bur... Bom!


Tiba-tiba muncul tornado api dari bawah kaki kedua penjaga gerbang itu dan tampak mereka kesulitan bergerak berkat tingginya panas sihir api ini.


"Saatnya mengakhiri ini...."


Aku langsung mengambil kuda-kuda dan siap mengayunkan sabit ini, tiba-tiba bola merah pada sabit ini menyala dan itu berkat Mana yang aku alirkan melalui sabit ini.


Sesaat Mana yang terkumpul di rasa cukup banyak, aku langsung siap-siap mengayunkan sabit ini.


Dan....


Swoosh..!! Wush...!


Gelombang kejut yang sangat kuat tercipta dari ayunan kuat dari sabit ini.


Bom!!


Seketika gelombang kejut meledak cukup besar sesaat mengenai kedua penjaga gerbang itu yang terjebak di dalam tornado api itu.


Dun....


Tiba-tiba gerbang itu terbuka lebar dengan sendirinya.


Kraaak... Kraaak....


Terlihat dari belakang para prajurit tak berisi itu, jatuh satu persatu dan menghilang begitu saja seperti debu.


"Aku merasa MP-ku sangat terkuras, sebaiknya aku meminum satu potion MP ini untuk memulihkan sejenak MP-ku, mengingat pemulihan MP-ku sangat lambat."


Aku membuka inventori:


[(- Belati taring putih X1) X


(- Belati taring hitam X1) X


(- Colt Revolver M-1836 X1) X


- Potion HP 20% X4


- Potion MP 20% X3.]


Aku mengambil satu potion MP 20% dan langsung meminumnya.

__ADS_1


"Saat meminumnya tidak ada rasa sama sekali."


Setelah meminumnya aku langsung maju ke arah gerbang itu dan meminta Norum serta para The Arcana masuk kembali ke dalam tubuhku.


...•••...


Di dalam dunia Hades, lantai 5....


"Hm, kali ini tempatnya sangat berbeda. Aku pikir bakalan sama seperti sebelum-sebelumnya, aku sudah mengingat gaya bertarung kesatria dua pedang yang menjaga gerbang itu dan kekuatannya meningkat setiap naik lantai, tapi bakalan jadi sangat mudah setelah beberapa kali melawannya."


Aku maju ke arah depan dan tampak tempat ini memiliki medan luas yang di kelilingi banyak batu-batu.


"Batu? apa jangan-jangan...."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" dan melihat ke arah depan.


"Eh? Tidak ada, di mana gerbangnya?"


Aku memutar seluruh pandanganku berbagai arah dan tidak menemukan gerbang itu berada.


"Ini sangat aneh, entah kenapa ini sangat hening dan tidak ada tanda-tanda kemunculan monster."


Perasaanku semakin tidak enak sesaat memasukinya lebih dalam tempat ini, benar-benar semakin sunyi hanya suara langkahku menggema di sini.


"Tidak ada jejak Mana sama sekali semenjak mengaktifkan skill ini."


Aku menonaktifkan "Mata Dewa" karena tak bisa memakai lama skill ini, sebab efek sampingnya bisa mempengaruhiku nanti.


"Grrgh...!"


"Ada apa, Kawan?"


Aku langsung mengeluarkan Norum dan tampak dia sangat khawatir. Arah pandangnya sama sekali tak menentu kadang di depan atau di belakang lalu di kiri atau di kanan.


"Indra Norum jauh lebih peka dariku, mungkin saja monsternya tipe Hidden."


Aku langsung menggunakan "Mata Dewa" sekali lagi dan mengikuti arah pandang Norum ke mana pun.


Sesaat melihat berbagai arah, tiba-tiba aku melihat sesuatu bergerak dengan sangat cepat di dinding.


"Apa itu? Sial! Ini sangat tidak baik... Dami!"


Aku mengeluarkan Dami dan meminta itu mengeluarkan sebuah sihir AOE yang bisa menjangkau seluruh medan ini.


Tapi, Dami menggelengkan kepalanya yang berarti dia tidak bisa melakukan sihir perluasan.


"Tidak bisa ya, kalau begitu... tembakan sihir anginmu berbagai arah secara bertubi-tubi, kamu bisa kan?"


Dami mengangguk dan langsung menyiapkan sihirnya.


Set! Syut!


"Jumlah mereka ada berapa? Gerakannya sangat cepat dan masih sangat sulit melihatnya walau memakai skill ini."


Setelah beberapa menit, Dami siap menembakkan sihir anginnya.


Bus... Whush...!


Bur... Bur...!


Sihir angin itu berhasil menghantam setiap dinding batu itu dan membuat lantai 5 lima ini bergetar.


Bus... Wush...!


Bus... Wush...!


Sihir angin ini masih terus di keluarkan.


Bur..! Bur...!


"Grrgh..! Hoarggh..!!"


Tiba-tiba sesuatu dari atas muncul tepat di hadapan kami dan memunculkan banyak kabut asap menutupi pandangan kami.


"Akhirnya muncul juga...."


[Boss


The Rook 1 - The Damned Six


Level : ???]


[Boss


The Rook 2 - The Damned Six


Level : ???]


Terlihat dua sosok dengan tubuh kekar dan tinggi kira-kira melebihi 2 meter, dan terlihat mereka memiliki empat tangan.


"Kakinya...."


Aku terkejut melihat kakinya, tampak kaki mereka buntung seperti penjaga sebelumnya dan kaki mereka dikelilingi sebuah api menyala yang membuat mereka melayang beberapa senti dari pijakannya.


Ora..!!


Era..!!


Tiba-tiba kedua monster itu berteriak membuat tempat ini cukup bergetar akibat teriakan itu.

__ADS_1


Aku langsung mengeluarkan The Arcana yang lainnya dan mereka langsung bersiap bertarung melawan kedua monster itu.


"Bersiaplah semuanya, mereka lawan kita selanjutnya."


__ADS_2