Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 51


__ADS_3

Di suatu perjalanan....


"Mobil yang bagus."


Tampak dua orang pria menaiki sebuah mobil mewah, pria jas putih mewah itu duduk di bangku belakang dengan santai dan pria jas hitam dengan kacamata hitam itu yang mengemudikan mobil ini.


"Terima kasih atas pujiannya, tapi ini belum cukup mewah untuk seorang Venandi Rank-S."


Pria jas putih menyeringai dan berkata:


"Ya... tentu saja ini sangat tidak cocok denganku, apalagi kecepatannya sangat lambat dibanding mobil Koenigsegg milikku." Langsung berbalik ke arah jendela kaca mobil. "Bagaimana dengan pemakaman Adikku?"


"Kami sudah menguburnya dan itu dilakukan secara tertutup demi menghindari perhatian publik, yang bisa saja terjadi semakin buruk. Apakah anda ingin berziarah ke tempatnya?"


"Tidak perlu, aku tidak tertarik pada yang sudah meninggal."


"Jadi...." Tampak pria jas hitam itu sedikit gugup. "Apakah Anda langsung mencari mereka setelah bertemu Master kami?"


"Tentu saja, aku akan mencarinya ke mana pun mereka berada sekali pun mereka di dalam dungeon." Sembari mengecek ponsel miliknya. "Berdasarkan informan-ku, katanya mereka berdua menghadiri sebuah event di sebuah universitas yang didirikan oleh si 'Iblis' itu."


"Jadi, Anda ingin langsung ke sana sebelum bertemu Master kami?"


"Iya, lagian jalan ini menuju ke arah sana juga kan. Apa... kamu sedang merencanakan sesuatu kepada mereka berdua?!"


Deg!


Seketika kening pria kacamata hitam itu basah dan sedikit merinding.


"Tidak, tidak ada apa-apa, Tuan," ucap pria kacamata hitam itu. "Rian memintaku untuk menjaga keberadaan anak itu, katanya dia tertarik dengan anak itu dan ingin merekrutnya."


Mobil ini mewah ini langsung berganti arah tujuan dan menuju ke sebuah universitas.


...•••...


...•••...


Di sebuah universitas....


Terlihat para anggota guild Si jago merah melakukan banyak persiapan menghadapi portal tekanan sihir kuat ini, dan di luar universitas ini para pengunjung sebelumnya di keluarkan dari sini demi menghindari korban berjatuhan terutama warga biasa.


"Apa semua orang sudah dievakuasi?" Tanya Arjuna.


"Sudah Ketua, tapi mereka malah menunggu di luar sana dan tidak mau pergi dari sini."


"Tidak apa-apa, selama mereka tidak yang menerobos masuk, kamu pergilah ke sana dan pastikan menjaga tidak ada yang masuk."


"Siap!"


Orang yang diperintahkan Arjuna langsung pergi ke arah gerbang utama, dan Arjuna melihat Rian dan Master Pati sedang berdiskusi serius.


"Kayaknya aku tak bisa ikut dalam pembicaraan mereka," pikir Arjuna.


"Ini sudah tiga jam lebih dan belum ada tanda-tanda portal ini akan terbuka," ucap Pati. "Apa asosiasi biro keamanan akan datang?"


"Mereka akan datang, Pak," jawab Rian. "Tapi, mereka sedikit terlambat karena masih ada beberapa dungeon tiba-tiba muncul di dekat sebuah gunung, jadinya mereka mengurus itu dulu mengingat wilayah di sana hanya ada banyak pemula yang baru Terbangkitkan."


"Begitu ya, aku harap mereka di dalam sana baik-baik saja."


Mereka berharap dari dalam hati masing-masing, semoga orang yang terjebak di dalam sana ada yang selamat walaupun hanya satu orang.


"Huh, apa yang terjadi di sini? Aku merasakan energi kuat yang dipancarkan oleh portal kecil itu, apakah itu dungeon Rank-B? Dan kenapa Master guild Si jago merah repot-repot berada di sini?" Dengan seringai sedikit meremehkan.


Semua orang langsung berbalik ke arah sumber suara itu.


"Gading Himar?!"


"O-orang itu.?! Gading Himar, Venandi Rank-S!"


Semua orang yang ada di sini sangat terkejut akan kehadiran salah satu sosok terkuat di negara ini.


"Lama tidak berjumpa, Pati Bagenas."


Master Pati hanya diam dan tidak menanggapi sapaan dari orang yang dia sangat benci.


"Kenapa kamu ada di sini...?"


"Aku hanya mampir sebentar karena sebuah urusan. Tapi, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, kita benar-benar berjodoh," ucap Gading dengan wajah dan nada sedikit mengejek.


Bur...!


Seketika terpancar Mana yang sangat kuat keluar dari tubuh Master Pati, tampaknya dia sangat marah melihat orang itu.


"Jawab saja pertanyaannya! Bukannya kamu sangat sibuk dengan urusanmu di luar sana, dan tiba-tiba punya bisnis di area guild Si jago merah?"


"Jadi ini area mili guild-mu ya, karena aku adalah Businessman di mana pun aku bisa melakukan bisnis. Tapi, aku akan langsung ke intinya...."


Bur...!


Seketika Gading Himar juga memancarkan energi Mana yang sangat kuat dari tubuhnya, dan udara semakin sesak sesaat kedua manusia berkekuatan bencana ini saling melemparkan tatapan tajam masing-masing.

__ADS_1


"Di mana orang-orang bodoh itu?!"


"Apa maksudmu?" Tanya balik Pati.


"Aku membicarakan kedua bocah itu, Arkha Peteng Venandi Rank-F dan Santia Wati Protector Rank-E!"


"Arkha Peteng? Bagaimana dia tahu tentang anak itu?" Pikir Pati.


Gading Himar maju ke arah portal itu dan tidak ada siapa pun yang menghalangi langkahnya.


"Energinya benar-benar besar," ucap Gading. "Apa dungeon ini terdistorsi? Aku datang jauh-jauh dari sini dan terhambat oleh portal ini, padahal aku ingin melihat wajah bocah-bocah itu!"


Tampak wajah dari Gading tersenyum dengan penuh amarah dan kesenangan akan niat membunuhnya terhadap dua orang itu.


"Kenapa Gading sangat ingin bertemu dengan Arkha Peteng? Dan lagi, ini pasti bukan pertemuan biasa mengingat niat membunuhnya sangat kuat yang aku rasakan darinya," pikir Pati. "Bisnis apa yang kamu punya dengan anak itu, sampai-sampai rela membuang waktu bisnis berhargamu di luar sana?"


"Itu bukan urusanmu, aku hanya ingin bermain sebentar dengan bocah itu."


"Aku tidak tahu tujuanmu apa, tapi ini dungeon terdistorsi yang diperkirakan Rank-B ke atas. Jika dungeon itu rank tinggi, maka ada kemungkinan mereka terdampar di sebuah medan yang sangat luas, dan ada banyak makhluk tak dikenal di dalam sana karena tempatnya sangat luas," jelas Pati.


"Aku juga ingin masuk ke portal ini, selagi sesuatu hal menarik terjadi sekarang saat aku berlibur. Tapi ini sangat membosankan, karena aku tak ingin menunggu portal ini sampai buka."


Terlihat seorang pria berjas hitam dengan kacamata hitamnya datang ke lokasi ini sendirian.


"Adam..., kamu di sini, di mana anggotamu yang lainnya?" Tanya Rian.


"Anggota? Aku di sini bersama Tuan Himar, Master memintaku untuk menjemput dirinya bertemu dengan Master," jawab Adam sembari melihat ke arah portal. "Tampaknya anak yang kamu cari-cari itu beruntung tidak bertemu dengan dia, tidak... mungkin dia akan sangat beruntung jika bisa keluar hidup-hidup dari dungeon itu."


Rian yang mendengar itu hanya diam saja dan berpikir sama dengannya, bahwa mustahil bagi rank tingkat rendah bisa keluar hidup-hidup dari dungeon Rank-B. Tapi, anak yang ingin dia rekrut dalam guild-nya bukanlah orang biasa, tapi orang yang punya sejuta kejutan yang siap ditunjukkan kapan pun.


"Ya, kamu benar, semoga saja mereka semua bisa selamat dari dalam sana," ucap Rian.


...•••...


...•••...


...•••...


Di dalam dungeon....


"Para Putri kegelapan? Siapa mereka...?"


Kakek bungkuk itu hanya diam sejenak saja dan melanjutkan menyapunya membersihkan kediaman ini.


"Kalau kamu ingin tahu tentang mereka, maka kamu harus bertemu dengan mereka secara langsung." Sembari menyapu.


"Kamu tidak akan bisa membuka pintu itu sampai menyelesaikan semua tantangannya."


"Tantangan?"


"Ya, semuanya ada di balik pintu-pintu." Sembari menunjuk ke arah salah satu pintu itu. "Kamu hanya perlu mengalahkan setiap penghuni pintu-pintu itu."


Mendengar jawaban itu, aku langsung pergi menuju tengah-tengah ruangan ini dan menatap semua pintu-pintu itu.


"Ada sepuluh pintu...."


Di kiri dan kanan masing-masing ada lima pintu, lalu di depanku sana ada sebuah pintu raksasa yang tampak belum bisa dibuka.


"Kakek itu bilang aku hanya perlu mengalahkan semua penghuni pintu-pintu itu, tapi tidak harus satu-satu kan... kalian semua keluarlah!"


Tiba-tiba muncul sesuatu yang hitam dari tubuhku dan mereka adalah The Arcana, mereka semua menundukkan dirinya kepadaku dan siap menerima perintah.


"Kalian masuklah ke setiap pintu itu dan kalahkan semua yang ada di dalam sana."


Set! Set! Set!


Dengan cepat mereka langsung bergerak dan masuk ke setiap pintu itu. Kakek yang menyapu tadi sedikit terkejut melihatku di saat bersamaan tersenyum juga.


"Anak yang menarik," gumam.


Dua puluh menit telah berlalu....


"Mereka sudah sangat lama di dalam sana, apa musuh-musuhnya sangat kuat..., hm?"


[MP : 2576/3060 (+25%).]


Seketika muncul jendela pemberitahuan, Mana-ku tiba-tiba berkurang drastis dan membuatku sedikit terkejut melihatnya.


"Tampaknya musuhnya benar-benar kuat."


Bur... Klak...!


Tiba-tiba salah satu lilin dari pintu itu mati dan keluar sesuatu di balik pintu itu.


"Ah, kamu yang pertama keluar... Belial."


Belial tampak menyeret sesuatu di tangannya dan setelah itu dia menundukkan tubuhnya di hadapanku sembari menunjukkan sesuatu.


"Tuanku, hamba membawakan budak baru untuk Anda."

__ADS_1


Aku melihat yang ada di sampingnya itu, tampak seorang gadis cantik dengan rambut putih dan gaun seksi berwarna putih juga. Tapi, tubuh wanita itu dipenuhi sisik seperti reptil.


"Kerja bagus." Sembari menepuk pundak besarnya itu.


Aku memandangi wanita jadi-jadian ini dengan seksama, dengan tubuh yang sangat sempurna siapa pun pasti sangat tergoda akan kecantikannya.


[Dia telah memenuhi syarat untuk menjadi The Arcana-mu.]


"Bangkitlah...."


Wush....


Seketika Mana yang ada di dalam tubuhnya keluar sangat banyak dan langsung masuk ke dalam tubuhku.


Deg!


"Egh..! Apa-apaan perasaan ini?"


Aku merasakan sesuatu yang mencekik di dadaku, tapi rasanya tidak sakit sama sekali melainkan aku merasa ada yang tidak enak di hatiku.


Tiba-tiba tubuh wanita itu bangkit dan membungkukkan badannya kepadaku.


[Kamu telah berhasil mengikat jiwa tersesat, sekarang jiwa dia telah menyatu dengan jiwamu.]


[Sekarang kamu boleh memberikan dia nama.]


"Nama... bagaimana dengan Nurbiyah."


[Nama telah berhasil diberikan.]


[Nurbiyah (Level 23)


Evolusi : ... (Belum berevolusi.)]


[The Arcana : 14.]


Sekarang aku mendapatkan satu pasukan baru lagi, tapi aku merasakan perbedaan di antara mereka, bukan dari fisik maupun kemampuannya tapi kesadaran mereka sebagai individu sangatlah berbeda.


"Belial...."


"Ya, Tuanku?"


"Kenapa kamu bisa berbicara layaknya seperti makhluk lainnya?"


"Hamba menjawab, hamba sudah terlahir dalam keadaan seperti ini dari dulu."


"Seperti dulu...?" Kataku. "Diantara semua The Arcana milikku hanya Belial, Arane, Prudens, Dani dan Dami, mereka semua memiliki akal yang bisa berpikir dengan cepat. Tapi, diantara mereka ada yang bisa berkomunikasi secara langsung denganku tanpa melalui telepati, Bongsor saja yang awalnya manusia biasa tapi saat dibangkitkan semua akal sehatnya menghilang dan hanya seperti boneka tanpa kendali. Mungkin mereka semua akan memiliki kecerdasan masing-masing jika sudah berevolusi."


Bur... Bur... Bur....


Klak..! Klak...!


"Tampaknya mereka semua sudah selesai."


Sesaat semua pintu-pintu terbuka dan muncul semua The Arcana, mereka tidak membawa apa pun seperti Belial atau tidak ada yang bisa dibawa karena makhluk-makhluk di sana sangat berbeda dengan Nurbiyah?


Dur....


Seketika kediaman ini bergetar dan pintu raksasa di depanku ini terbuka lebar-lebar.


"Tantangannya sudah selesai, kalian semua masuklah kembali."


Semua The Arcana menghilang dan menjadi aura hitam lalu masuk ke tubuhku.


"Eh, di mana dia?"


Sesaat berbalik aku sangat terkejut, sebab kakek bungkuk itu menghilang dan hanya sapu miliknya yang tertinggal tersandar di tembok.


"Sebaiknya aku harus masuk segera, mereka pasti sangat khawatir aku pergi terlalu lama."


Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu raksasa itu dan memasukinya.


"Tempat ini...."


Saat masuk, aku hanya melihat kekosongan dan hanya satu jalan yang diterangi lilin-lilin sepanjang jalan ini, jalan itu hanya lurus saja.


Tap... Tap....


Aku langsung melanjutkan lagi langkahku ke depan, sesaat beberapa langkah aku melihat sebuah pintu dengan corak dan ukiran mewah di pintu itu.


Klak... Ngek....


Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka pintu dan cahaya cukup terang keluar dari balik pintu itu.


"Akhirnya kamu datang juga."


"...?" Aku sangat terkejut melihat apa yang ada di depanku ini. "Apa mereka para Putri kegelapan?"


Tiga orang wanita cantik, wanita gaun kebaya merah itu duduk di tengah dengan anggun dan tersenyum dengan bibir merahnya, lalu dua wanita lainnya berdiri dengan tenang di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2