
1 jam 10 menit telah berlalu....
Di dalam dunia Hades, lantai 6....
Wussh....
"Tempat ini jauh lebih menyenangkan dari pada lantai-lantai sebelumnya."
Terlihat medan yang sangat luas, sebuah medan padang rumput dan di seberangnya ada sebuah hutan lebat di sana.
Angin alam berhembus di sini dan itu membuatku cukup nyaman sementara, sebab selalu ada ketegangan setiap mau masuk lantainya.
"Tempat ini benar-benar cukup nyaman, tapi ini tetaplah daerah musuh dengan kata lain tidak ada yang aman di sini."
Aku menggunakan "Mata Dewa" dan langsung melihat ke arah hutan lebat itu. Aku melihat ada sebuah gerbang raksasa yang menempel pada sebuah pohon besar di sana.
"Jadi itu gerbangnya yang berarti penjaganya sudah menungguku dari tadi, sebab aku tidak merasakan kehadiran makhluk lain di sini."
Entah kenapa tempat ini berubah menjadi sangat mencekam, sebab tempat senyaman ini akan menjadi umpan bagus bagi sang mangsa untuk memasuki teritori sang predator.
"Medan pertarungan kadang mendukung sekali bagi para penjaga ini."
Lantai pertama sampai empat, medannya gurun pasir yang sangat luas dan dijaga oleh kesatria bertangan pedang, lalu ada lantai lima yang memiliki medan sempit dan tertutup seperti gua, dan dijaga oleh monster bertangan empat.
Tampak dari kemampuan dan dukungan tempat sangat mempengaruhi fleksibilitas pertarungan mereka, sebab dari lantai 1 sampai 4 menggunakan dukungan jumlah karena medannya sangat luas seperti ingin berperang.
Sedangkan di lantai 5 tidak mengandalkan jumlah melainkan mengandalkan kefokusan dan akurasi pertarungan yang sangat tepat, itu sudah dibuktikan sendiri oleh kedua monster itu saat bergerak cepat melalu dinding batu itu.
Mereka tahu bahwa pertarungan jarak jauh sangat tidak menguntungkan bagi mereka, maka dari itu mereka diberikan sebuah medan tertutup dan kecil.
"Jika medan seluas ini maka penjaga selanjutnya mung--"
Syut! Piuh...!
Tiba-tiba sesuatu yang sangat cepat datang kepadaku.
Hap!
Aku berhasil menangkap benda itu lalu melihat benda itu sejenak.
"Kayu?"
Aku langsung melirik ke arah hutan itu dan berasal dari sanalah kayu runcing ini diterbangkan kepadaku.
"Tampaknya musuh kali ini suka melakukan serangan jarak jauh tapi bersembunyi."
Entah kenapa aku teringat ada monster dungeon yang mana mereka sangat lincah dalam hal daerah hutan seperti Elf, Goblin dan Peri.
Krak!
Aku mematahkan kayu itu dan langsung maju ke arah hutan itu.
...•••...
Setelah beberapa langkah akhirnya aku sudah memasuki kawasan hutan ini dan tampak hutan ini mengingatkanku dengan Alas Purwo, hanya saja hutan ini jauh lebih besar untuk dikatakan sebagai hutan lebat.
Cahaya langit menembus sela-sela dedaunan pohon hutan ini sehingga membuat dalam hutan ini cukup terang untuk dimasuki.
"Semakin memasuki hutan ini rasanya bahaya semakin mendekat."
Sesaat berjalan sambil mengawasi sekitar, tiba-tiba suara langkah yang sangat kencang dalam hutan.
Duk... Duk... Duk....
"Suara langkah, tapi di mana?"
Heengah..!!
"Kuda!"
Duk... Duk... Duk....
Suara langkahnya semakin jelas pertanda bahwa mereka sudah mendekat
Heengah..!!
Aku langsung melirik ke arah atas dan tampak due ekor kuda hitam dengan tanduk di kepalanya berdiri di cabang pohon.
[Boss
The Knight 1 - The Damned Six
Level : ???]
[Boss
The Knight 2 - The Damned Six
Level : ???]
Set!
Kedua kuda itu langsung melompat dari cabang pohon tinggi itu.
Bur..! Duk... Duk....
Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Brerh...!
Tampak kaki-kaki mereka seperti para penjaga sebelumnya buntung dan api mengelilingi kakinya hingga membuatnya melayang beberapa senti dari tanah, serta mata mereka merah darah tanpa pupil.
"Aku pikir monster yang akan kulawan seperti Elf, tapi siapa sangka jika dua ekor kuda bisa berlari dengan lincah dan memanjat pohon-pohon ini."
Heengah..!!
Tiba-tiba salah satu kuda itu langsung melancarkan serangan sihir petir dari tanduknya itu.
Set! Set!
Aku berhasil menghindar terus menerus serangannya itu.
"Hutan salah satu tempat favorit bagi sang Assassin."
Aku memakai "Jalan bayangan" untuk melakukan serangan kejutan pada mereka.
Set!
Berpindah-pindah dari cabang ke cabang yang lainnya, untuk mencari tahu celah yang untuk menyerang.
"Hm, kenapa mereka hanya diam saja?"
Terlihat mereka hanya diam saja dan tidak melakukan apa pun.
__ADS_1
"Terlihat mencurigakan, tapi sebaiknya aku memulainya terlebih dahulu untuk mengetahui pola serangan mereka seperti apa."
Set!
Aku langsung mengeluarkan sabitku untuk menebas mereka.
Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Duk....
Tiba-tiba kuda itu bergerak dan muncul sesuatu dari tanah.
"Apa?!"
Terlihat sebuah akar menjulur keluar dari tanah dan siap mengikatku.
Bing!
Saat ingin menghindar tiba-tiba tubuhku tak bisa bergerak sama sekali.
Slap! Hap!
Akar-akar itu sudah mengikat diriku dan membuatku kesulitan bergerak.
"Egh! Sial! Tak bisa bergerak dan... Mana-ku!"
Aku merasakan Mana dalam diriku tersedot melalui akar-akar ini.
Heengah..!! Duk... Duk... Duk....
Duk... Duk... Duk....
Kedua kuda itu langsung maju dan mengarahkan tanduk tajamnya itu ke arahku, tampak kedua tanduk itu siap mengakhiri hidupku.
"Keluarlah..!!"
Norum dan The Arcana keluar langsung dari tubuhku.
Hap!
Hap!
Bongsor dan Frankenstein langsung menahan kedua kuda itu.
Slash! Slash! Slash!
Dani langsung menggunakan kedua belatinya untuk membebaskanku dari jeratan akar ini dan langsung membawaku menjauh dari sini.
Brerh...!
Brerh...!
"Herrgh...!"
"Ahh...!"
Sish... Sish....
Tampak Bongsor dan Frankenstein terdorong mundur secara perlahan oleh kedua itu.
Di sisi lain, aku yang berusaha menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa sama sekali.
"Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?"
Aku terpikir ingin menggunakan "Pemulihan instan" tapi Mana-ku sangat terkuras hebat tadi sehingga aku harus menghemat Mana dulu.
"Guk...."
Norum mengendus sesuatu dari tanganku dan dia mengetahui sesuatu, bahwa ada benda kecil menempel di tangan kananku ini.
Karena tak bisa dilihat dengan mata biasa maka aku langsung menggunakan "Mata Dewa."
"Apa itu?"
Terlihat ada beberapa serpihan kayu kecil telah berhasil menembus sarung tanganku.
"Kayaknya waktu menghancurkan kayu itu." Aku langsung menghela napas. "Cerobohnya aku."
Terlihat dari serpihan ini menyerap Mana-ku sedikit demi sedikit.
Dami mendekatkan diri dan melihat dari dekat tanganku ini, setelah itu dia mengeluarkan sebuah bola air dan langsung membungkus tanganku ini.
"Jadi begitu ya, sangat pintar."
Terlihat bola air mengangkat serpihan-serpihan kayu kecil yang menancap di tanganku.
Splash!
Setelah itu Dami langsung melempar bola air itu sejauh mungkin dariku.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku secara perlahan dan ternyata aku sudah bisa bergerak lagi. Melihat sekitar hutan dan pohon-pohon ini membuatku tidak nyaman lagi dengan pemandangan alam, sebab kedua kuda itulah yang membuat hutan ini jadi berbahaya lagi.
"Jadi... medan ini sekaligus senjata bagi kedua kuda itu ya."
Bur! Bur!
Bongsor dan Frankenstein terlempar cukup jauh hingga membentur pohon-pohon itu dengan keras.
Heengah..!!
Heengah..!!
Wush....
Tiba-tiba angin berhembus sangat kuat di dalam hutan ini.
Jeder!
"..?"
Aku langsung melirik ke atas dan tampak cahaya yang masuk melalui sela-sela daun pohon ini mulai meredup secara perlahan.
Jeder!
"Tunggu, itu kan...." Seketika aku terkejut melihatnya. "Sial! Semuanya kembalilah!"
Norum dan The Arcana langsung menghilang lalu masuk ke tubuhku.
Set!
Jeder! Bom!
"Sial! Itu petir!"
__ADS_1
Ternyata penyebab langit menjadi gelap ternyata itu sihir milik kedua kuda itu, mereka mengubah cuaca di sekitar menjadi buruk.
Set! Set!
Jeder! Bom! Bom!
"Kalau begini terus aku bisa kena kapan saja!"
Aku terus berlari menghindari sambar petir itu yang tampak sangat merepotkan.
Set!
Aku langsung maju ke arah kedua kuda itu sembari mengeluarkan sabitku, dan siap mengayunkannya sekuat mungkin.
Ting!
"Hah? Barrier?"
Tiba-tiba ada sesuatu yang melindungi mereka tampak perlindungan itu samar-samar terlihat.
Heengah..!!
Slap!
Seketika akar menyebalkan itu muncul dari tanah lagi dan siap menangkapku lagi.
Karena sudah mengetahui serangan itu aku langsung menggunakan "Pemilik sejati" dan memunculkan tangan hitam tak terlihatku, lalu aku mengarahkan tangan-tangan itu ke pohon.
Hap! Set!
Setelah tangan hitam tak terlihatku berhasil menggapai pohon itu, aku langsung menarik diriku dengan tangan-tangan itu dan berhasil menjauh dari kedua kuda itu.
Jeder!
"Sial!"
Satu petir datang secara mendadak dan langsung mengarah kepadaku.
Syut! Ting...!
Aku langsung membuat sabitku melayang dan menghalangi sambaran petir itu dengan memutar sabit itu seperti baling-baling.
Bom!
Tak! Set!
Setelah sampai di salah satu cabang itu, aku langsung melanjutkan berlari lagi.
"Karena hutan ini adalah senjata mereka, bagaimana jadinya jika keluar dari hutan ini?"
Set!
Karena merasakan kejanggalan, akhirnya aku langsung berlari keluar dari hutan itu sembari menghindari hujan petir itu.
Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Duk... Duk... Duk....
Kuda-kuda itu mengejarku keluar dari hutan ini.
Setelah beberapa langkah, akhirnya aku sudah berada di luar hutan dan menuju tengah padang rumput itu.
"Eh! Jadi begitu cara kerja sihir mereka...."
Aku menggunakan "Mata Dewa" dan tampak hutan itu dikelilingi Mana yang sangat banyak, maka tak heran kenapa kedua kuda itu leluasa mengendalikan sihirnya di dalam sana.
Heengah..!!
Duk... Duk... Duk....
"Akhirnya mereka datang, keluarlah!"
Norum dan The Arcana keluar dari tubuhku.
Dami langsung melemparkan sihir bola apinya dan itu sangat besar dari sebelum.
Swuush...!
Bola api itu langsung dilemparkan ke arah kedua kuda yang berlari ke arahku.
Brerh..!
Seketika tanduk kedua kuda itu bersinar dan mengeluarkan jumlah Mana yang sangat banyak.
Setelah dikeluarkan, sekumpulan Mana terkumpul di udara dan membentuk seperti bola hitam.
Wush...!
"Lubang hitam...!"
Aku terkejut tiba-tiba sebuah lubang hitam besar muncul di udara dan menghisap semua yang ada di sekitarnya termasuk bola sihir milik Dami.
Kedua kuda itu menghentikan langkah cepatnya.
Heengah..!!
Heengah..!!
Kedua kuda itu berteriak sekeras mungkin dan seketika Mana di sekitar hutan itu tertarik ke arah kuda-kuda itu.
"Apa yang dilakukannya?"
Aku ingin mendekatinya tapi lubang hitam besar itu memiliki daya tarik gravitasi yang sangat kuat.
Semua Mana itu masuk ke tubuh kedua kuda itu.
Heengah..!!
Heengah..!!
Seketika tubuh mereka membesar dengan jumlah Mana yang sangat banyak dalam diri mereka.
"Kalian mengingatkanku akan trauma dengan raksasa juga."
Mimpi buruk yang mendorongku hingga seperti ini karena tak ingin dipandang sebelah mata lagi, aku rela menempuh jalan sulit ini untuk menjadi kuat sekuat mungkin melampaui semua orang.
Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Dur....
Heengah..!! (Sembari mengangkat kedua kakinya ke depan.) Dur....
Pijakan kakinya membuat tanah ini menjadi bergetar.
"Pertarungan ini akan menjadi sangat sulit." Sembari mengeluarkan sabitku. "Kalian semua berjuang keraslah!"
__ADS_1
"Grrrgh..!"
Norum dan para The Arcana bersiap diri melawan kedua hewan tunggangan raksasa itu.