Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 66


__ADS_3

Adis Ababa, Ethiopia.


Pukul 10-53.


Bom!!!


Terjadi ledakan yang membuat semua orang yang berada di sana sangat terkejut dan kepanikan menyebar dengan cepat.


Niu... Niu... Niu....


Dengan cepat pemadam kebakaran datang ke lokasi dan segera memadamkan api di bangunan tinggi itu. Korban banyak berjatuhan terutama orang-orang yang berada di dalam gedung pencakar langit itu.


Api semakin sulit dipadamkan dan korban semakin banyak berjatuhan. Berita dan media gempar akan peristiwa ini, sesaat pengecekan lokasi kejadian dan belum ada bukti konkret dalam kejadian ini yang menjadi penyebab utamanya.


Pihak yang menangani hal ini segera memberikan pernyataan bahwa penyebab ledakan ini, karena ada gas bocor yang terjadi di lantai 10 tepat berada di dapur khusus karyawan. Pernyataan ini segera diberikan agar masyarakat tidak khawatir karena isu-isu buruk mulai menyebar, bahwa ada pihak pemberontak atau teror dari pihak luar dan sebagainya yang menyebabkan keresahan masyarakat.


Di sisi lain dari lokasi kejadian ada seseorang duduk dengan santai di tepi sebuah bangunan tinggi, dan tampak dia memandangi semua manusia di bawah sana hanya serangga di matanya.


"Membosankan...."


Setelah berkata seperti itu, dia langsung menguap dan wajahnya yang sangat lesu serta di sekitar matanya dikelilingi lingkaran hitam dan tampak wajahnya sudah seperti panda.


Brak...!


"Hm?"


Seketika muncul retakan dimensi lain dan memunculkan sebuah portal kecil. Pria mata panda ini langsung berbalik dan tampak dibalik wajah malasnya itu tidak peduli sama sekali kemunculan dengan portal itu, dan dia langsung berbalik lagi.


Tap....


Muncul sebuah kaki putih nan mulus dari portal itu dan secara perlahan kaki mulus itu keluar dari portal itu. Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan, seketika portal itu menghilang.


"Hehe~."


Terdengar tawa kecil lembut dari orang yang baru keluar portal itu, terlihat seorang wanita yang sangat cantik dan seksi berdiri di belakang sana.


Dengan rambut kuningnya serta warna mata biru langit dan tubuh mulus serta dada besar yang menonjol.


Tap... Tap... Tap....


Dia berjalan ke arah pria di depannya ini sembari memasang senyuman yang bikin siapa pun tergoda yang melihat.


"Untuk apa kamu datang ke sini... Heredis of Empress?"


Tanya pria pemalas yang masih memandang arah ke bawah dan wanita cantik di belakangnya ini tertawa kecil.


"Ayolah, aku ke sini karena rindu padamu~."


"Rindu? Maaf, aku tak suka wanita bekas."


Balas dari pria pemalas ini cukup terdengar kejam di telinga wanita cantik ini. Tapi, dia tidak menghiraukan ucapannya itu dan menganggap hal itu sudah biasa baginya.


"Aku datang ke sini atas permintaan darinya, katanya kamu jangan terlalu banyak membuat kekacauan di dunia ini untuk sementara sampai waktunya tiba."


"Ya, ya, aku tahu... bawel amat si tua itu!"


Tampak pria malas ini sangat kesal mendengarkan itu dan ia lanjut berbicara lagi:


"Aku hanya ingin makanan enak! Kamu tahu sendiri kan, makanan yang disediakan manusia-manusia itu sangatlah sedikit dan itu membuatku tidak puas sama sekali."


"Ya... aku juga setuju akan hal itu, tapi kita harus menunggu sampai yang lainnya tiba di sini. Bagaimana kamu mengikuti caraku saja, selain mendapatkan kepuasan perut tapi kamu mendapatkan kepuasan hati juga." Sembari menjulurkan lidahnya dan langsung menggigit bibir bawahnya dengan manja.


"Aku tak akan mengikuti cara murahanmu itu. Bagaimana perkembangan proyek yang kamu suruh ke manusia itu, dia bilang nama proyeknya Stigma?"


"Berjalan dengan lancar sih, tapi dia bilang ada kendala sedikit karena salah satu kunci miliknya hilang dan katanya dia akan segera berusaha menemukannya."


"Dengan cara apa kamu membayarnya? Cuma dia satu-satunya yang tidak menerima kekuatan dari kita."


"Aku memberikan dia bayaran kecil dulu dan...." Tiba-tiba dia malu dan langsung memegang kedua pipinya itu. "Semalam kami bermain sepuluh ronde dan dia benar-benar sangat perkasa. Ah~... aku jadi rindu padanya dan ingin melakukannya lagi~."


Terlihat wanita cantik itu tubuhnya kepanasan dan gemetaran serta pipinya memerah sedikit, seketika tangannya menyentuh area sensitifnya.


Pria malas ini kesal dan berbalik dengan wajah marah lalu berkata:

__ADS_1


"Woi! Aku ingin jawaban serius!"


Seketika wanita cantik itu berhenti melakukan kesenangan pribadinya dan langsung memasang ekspresi serius.


"Kamu benar-benar menyebalkan ya."


"Sama aku juga! Makanya aku tak ingin berurusan dengan siapa pun."


Mendengar itu membuat wanita cantik ini menggelengkan kepalanya dan berkata:


"Baiklah, kamu pria yang sangat sulit di dekati...." Langsung maju ke depan dan berdiri tepat di samping pria pemalas itu. "Seperti yang kubilang tadi, dia sudah menerima bayarannya. Aku membayar dia dengan memberikan 'Serpihan Waktu.'"


Pria pemalas ini sangat terkejut dan langsung bangkit dari duduknya dan berkata dengan nada cukup keras:


"Apa!! Apa kamu gila ya, memberikan benda sepenting itu kepada manusia rendahan!"


Tampak wanita cantik ini sangat tenang dan tidak peduli dengan amarah pria di sampingnya ini.


"Mereka berdua setuju kok atas keputusanku ini dan alasan ini juga aku tak memberitahukanmu, karena kamu pasti akan menolak keras."


"Aku memang sangat tidak setuju! Kamu tahu sendiri kan, benda sepenting itu satu-satunya pemberian darinya agar kita semua bisa selamat jika terjadi sesuatu di sini!"


"Bicara soal 'Dia'... aku jadi rindu padanya. Sekarang 'Dia' ada di mana ya?"


Pria pemalas ini langsung memegang kepalanya karena wanita cantik ini tidak menghiraukan semua ucapannya dan malah memasang wajah polos.


"Ah..! Sudahlah, aku capek!" Pria pemalas itu langsung duduk kembali dan memandangi kota ini. "Dia lagi sedang berkeliling di berbagai tempat, karena dia sedang mencari si Penghianat itu berada di mana sebenarnya. Apa alasan kalian memberikan benda sepenting itu kepada manusia rendahan itu?"


Wanita cantik ini langsung berbalik dan memandangi pria itu dari samping sembari tersenyum karena sangat senang mendengar pertanyaan itu.


"Sederhana saja, karena Gading adalah wadah yang tepat untuk itu~."


"...?"


Pria pemalas tak bersuara kali ini dan malah terlihat dia hanya diam saja dan tak peduli sama sekali.


"Hal menarik dari Gading itu... karena dia menyerap dengan sempurna 'Serpihan Waktu' dan lebih mengejutkannya lagi, dia bisa menggunakan kekuatan dari serpihan itu dengan sempurna tanpa harus kehilangan energi kehidupannya."


Pria pemalas ini sangat terkejut mendengar itu dan langsung berbalik memandangi wajah wanita cantik itu.


"Maksudku, Gading akan sangat cocok jadi wadah pewaris bagi 'Dia' jika berada di si---"


"Bukan itu maksudku...!" Pria pemalas ini langsung menyela dalam kalimat wanita cantik itu. "Maksudku tentang energi kehidupannya yang tidak berkurang sedikit pun saat menggunakan 'Serpihan Waktu.' Kamu tahu sendiri kan, 'Serpihan Waktu' bagian kecil dari inti kehidupan 'Dia.' Mana mungkin manusia rendahan dan lemah sepertinya bisa menggunakan kekuatan sebesar itu?"


Wanita cantik ini menaikkan bola matanya ke atas dan dia memikirkan jawaban tepat untuk teman pemarahnya ini.


"Maaf, aku tidak tahu pasti jawabannya, tapi... mungkin dia pewaris sejati."


"Pewaris sejati?"


"Iya, seperti pewaris dari Penghianat itu. Dia memberikan kekuatannya kepada manusia itu dan manusia itu juga bisa menggunakan kekuatan sebesar itu tanpa membebani dirinya serta kesadaran manusianya masih ada. Contohnya saat kita melawan orang bertopeng gagak itu, padahal kita ada berlima waktu itu. Tapi, dia masih bisa melancarkan kekuatan terbesarnya dan berhasil membuat kita semua terpojok, dan pada akhirnya kamu menerima serangan fatal darinya dan Heredis of Tower harus mati di tangan pewaris penghianat itu."


Pria pemalas ini langsung memegang dada kirinya dan tangannya gemetar hebat dan tampak wajahnya sangat marah mengingat kejadian itu.


"Mengingat bajingan si Brengsek itu! Membuatku sangat ingin mencabik-cabik dirinya! Aku tahu dia masih hidup, mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat!"


Tampak dia sangat marah dan sudah terlihat jelas dari wajahnya. Wanita cantik ini hanya diam sementara saat pria pemalas ini mengumpat tak jelas mengenai orang bertopeng gagak itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya pria pemalas itu kembali tenang dan dia meminta teman wanitanya ini melanjutkan penjelasannya lagi.


"Kami bertiga sangat berterima kasih pada kalian berdua jika bukan karena kalian berdua, mungkin kita semua akan dijebak oleh penghianat itu."


"Ya, saat itu aku merasakan rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan waktu itu, tanpa sadar aku lepas kendali dan mengeluarkan 20% kekuatanku sehingga menyebabkan bencana di mana-mana dan wabah mengerikan."


"Berkat itu kita semua bisa lepas dari sihir aneh miliknya dan si penghianat itu malah lebih memilih menyelamatkan umat manusia dengan mengorbankan dirinya."


"Padahal kita punya kesempatan membunuhnya saat itu juga, karena dia sangat kelelahan waktu itu."


"Ya, itu benar, tapi saat itu kita semua juga hampir kehilangan wadah masing-masing dan lebih memilih mundur secepat mungkin." Wanita cantik itu langsung menyilangkan tangannya, lalu menghela napas saat mengingat kejadian itu. "Setelah insiden mengerikan umat manusia waktu itu, kita memutuskan untuk melepaskan monster-monster peliharaan Heredis of Tower, yang dia simpang di menara kecilnya. Penyebab pelepasan makhluk-makhluk aneh itu, membuat umat manusia malah semakin berkembang karena sihir aneh yang ditanam penghianat itu ke dalam jiwa manusia-manusia itu, dan berkat itu juga kita mendapatkan banyak energi kehidupan. Baiklah, sudah waktunya aku kembali."


"Jangan buang-buang sumber makanan kita."


Wanita cantik itu hanya tersenyum mendengar itu. Setelah obrolan itu wanita cantik ini langsung berbalik dan berjalan meninggalkan pria pemalas itu, tapi langkahnya terhenti sementara lalu berkata:

__ADS_1


"Dan satu hal lagi." Langsung balik badan dan memandang pria pemalas itu. "Alasan jiwa Gading tidak diambil itu karena dia istimewa, dia bisa menggunakan jiwanya itu sebagai senjata dan ikut bertarung juga."


Pria pemalas itu terbelalak mendengar itu dan berkata:


"Jadi itu alasanmu melakukan proyek ini?"


"Ya."


Brak...!


Setelah menjawabnya, wanita cantik itu langsung memunculkan sebuah portal kecil dan dia langsung memasuki portal itu.


Keheningan terasa di tempat ini lagi dan hanya suara angin atmosfer berhembus di atas gedung tinggi ini. Pria pemalas ini kembali memandangi kota dan tampak wajahnya mulai berubah sedikit demi sedikit karena tersenyum.


"Menjadikan jiwa sebagai senjata, ini seperti memiliki kepribadian ganda seolah-olah jiwa dan tubuhnya memiliki kesadaran masing-masing. Jadi ini alasan si ****** itu menyuruhnya mengerjakan proyek ini, agar ada manusia seperti dirinya dan bahkan hal ini bisa jadi senjata terburuk bagi penghianat itu!"


Seketika tawanya pecah di langit cerah ini dan angin-angin berhembus semakin kencang di atas sana.


...•••...


...•••...


...•••...


...07-06-2030...


Jawa timur, Indonesia.


Pukul 10-09.


Di sebuah rumah kecil ada seorang pemuda melakukan latihan pagi di halamannya.


"203... 204... 205...."


Pemuda itu melakukan push-up dan terlihat tubuh berototnya yang mengkilap itu terkena cahaya Matahari karena keringat yang sudah membasahinya.


"Fiuh*..., akhirnya selesai semua."


[Quest harian:


- Push-up (210/100)


- Sit-up (189/100)


- Squat (230/100)


- Berlari sejauh 10 kilometer (12 Km)


- Bermeditasi selama 1 jam (1,13,49)


...Batas waktu...


...05.37.20...


PERINGATAN!


Akan ada hukuman sebagai balasannya jika seluruh quest belum terselesaikan hingga waktu habis.]


Dia sedang melihat jendela quest miliknya dan tampak dia sangat terkejut melihat daftar latihan quest itu.


"Tanpa sadar aku melewati semuanya, apa karena tubuhku sudah tambah sangat kuat?"


Karena tak ingin pusing, aku pun langsung masuk ke dalam rumah dan mulai mandi.


Setelah beberapa menit, akhirnya aku selesai berpakaian dan saat ingin keluar rumah, aku melihat sebuah berkas di meja makan.


"Ini kan berkasnya Susan...."


Susan tadi datang ke rumah dan ia masuk ke dapur untuk membuatkan bekal untuk si kembar sebelum berangkat ke sekolah. Aku sangat terbantu dia sangat mengurus Rena dan Reno dengan baik, itu dia lakukan karena pada dasarnya mereka bertiga saudara sepupu.


Susan keponakan dari Ayahku dan bapak dia saudara dari Ayah juga. Orang tua Susan pergi lebih cepat sebab sebelum orang tuaku. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya dan ayahnya seorang tentara juga, mati saat pergi mengevakuasi warga yang terjebak di reruntuhan akibat portal mengalami retakan di lima tahun lalu dan memunculkan monster besar yang menghancurkan sebuah gedung, dan ayah dia berhasil menyelamatkan orang itu tapi dia harus menjadi korban dalam kecelakaan itu juga.


Orang tuaku sangat memperhatikan Susan seperti anak mereka sendiri dan aku akui bahwa dia itu anaknya sangat pintar dalam hal belajar. Aku pernah meminta dia untuk tidak perlu terlalu mengurus si kembar dan biar aku sendiri saja melakukannya, tapi wanita keras kepala ini menolak keras dan malah mengomeliku kalau apa aku benar-benar bisa mengurus si kembar dengan baik.

__ADS_1


"Aku harus membawa kertas ini padanya, siapa tahu dia sangat membutuhkannya."


Aku langsung membawa kertas itu bersamaku dan keluar dari rumah sembari mengunci pintu. Aku harus menuju ke Universitas Jember, tempat Susan kuliah sekarang.


__ADS_2