Sang Pewaris Dewa Kematian

Sang Pewaris Dewa Kematian
Chapter 80


__ADS_3

Sesaat kami kembali ke rumah kayu di tengah hutan dan Aran memulai kilas balik masa lalunya.


Tlak...!


Aku melihat Aran kecil masih terbaring dengan lemas dan selalu mengingau memanggil ibunya dan kakaknya. Di sisi lain, Master Arum masih sibuk membuat sebuah ramuan obat. Tapi saat melihat obat yang dibuatnya sudah jadi, sunggu membuatku sangat terkejut, sebab obat yang dibuatnya sangat tidak asing aku melihatnya.


"Bukankah itu... potion?"


"Itu memang potion, tapi belum sempurna yang sekarang kamu sering pakai."


"Kalau dilihat-lihat, sihir dalam potion yang dibuat Arum sangatlah kecil. Tidak seperti potion yang sekarang aku minum biasanya."


"Tentu saja sihir dalam potion tersebut sangatlah kecil, karena Master Arum baru orang ketiga yang melanjutkan perkembangan potion dari para pendahulu kita."


"Jadi dia orang ketiga. Aku penasaran siapa orang pertama yang membuat dan memiliki ide sehebat ini."


Aran menjelaskan mengenai potion tersebut. Bahwa selain bahan-bahan dari potion sangat mudah ditemui dan tidak jauh bedanya dengan ramuan herbal di mana pun, dan hanya satu bahan yang membedakan dari ramuan herbal lainnya dengan potion yaitu darah dari seseorang yang memiliki Mana yang sangat kuat dan jadilah sebuah potion yang mengandung energi sihir.


Keefektifan dari potion sistem dengan potion buatan para manusia Terbangkitkan di zaman sekarang sangat jauh berbeda, sebab efek pemulihan dari potion buatan mereka sangatlah lambat dan butuh 2 menit agar efek pemulihan potion bekerja sempurna. Sedangkan potion milik sistem memiliki pemulihan instan walau hanya diminum sedikit saja, pemulihannya sangatlah hebat dan langsung membuat orang yang meminumnya langsung segar kembali.


"Aku baru tahu, bahan utama dari pembuatan potion mengandung sihir dari darah orang. Jadi selama ini aku minum darah, dong!" Ucapku dengan ekspresi sedikit panik dan Aran melihat itu hanya memasang ekspresi datar saja.


"Kamu tidak perlu khawatir, kamu memang meminum darah tapi tidak sampai harus meminum segelas darah, hanya setetes saja yang dibutuhkan untuk membuatnya. Jika orang yang meneteskan darah tersebut memiliki Mana  yang sangat kuat, maka terciptalah potion kualitas bagus dan sebaliknya akan tercipta potion kualitas rendah, jika orang yang meneteskan darah tersebut memiliki Mana yang sangat rendah."


"Begitu ya! Fiuh*..., syukurlah kalau begitu," ucapku sembari menghembuskan napas kelegaan dan memegang dadaku. "Aku pikir bakalan jadi Vampir, jika meminum potion itu seterusnya."


"Vampir..."


Aku tak sengaja mendengar Aran menggumamkan sesuatu dan aku langsung melihatnya, tampak Aran mengingat sesuatu dan ia menyadari diriku memperhatikan dia.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, aku teringat seseorang saat kita membicarakan mengenai potion."


"Memangnya di siapa?"


"Dia adalah pendahulumu sekaligus salah satu pewarisku. Dia orangnya sangat kejam dan tak pandang bulu, tapi... berkat pencapaiannya itu, mampu membantu para pewarisnya dari kematian walau hanya sementara saja."


Aran menatapku dan tampaknya ia mengerti bahwa aku sangat penasaran, dan ia hanya menghela napasnya dengan berat.


"Potion pemulihan luka, potion pemulihan tenaga dan Mana, potion penguatan tubuh, dan potion penghilang seluruh efek buruk dan melindungi dari segala berbagai hal buruk yang menimpamu. Dialah pencipta dari semua potion itu, sekaligus dialah yang menyempurnakan potion-potion yang dikembangkan oleh pendahulunya."


Aku cukup terkejut mendengar itu, aku tak menyangka bahwa yang orang ini (Pendahuluku) adalah pembuat potion terhebat selama ini. Tapi, kelihatannya Aran sangat kesal saat menceritakan mengenai orang itu, aku tidak tahu apa masalahanya, tapi sebaiknya aku tak menambah minyak ke dalam api


Kami akhirnya kembali fokus ke masa lalunya. Tampak Aran kecil sudah sadar sepenuhnya, tapi ia sangat sedih setelah mengingat apa yang terjadi pada keluarganya, ia tak menyangka melihat satu-persatu orang tersayangnya hilang di depan matanya.


Master Arum melihat anak kecil ini sangat bersedih, ia mendatangi Aran kecil dan memeluknya agar kesedihannya tak terlalu dalam.


"Rasanya sangat berat jika saat kita bangun dari tidur, ternyata orang yang selama ini membangunkan kita dari tidur nyeyak, ternyata sudah tidak ada."


"Ya. Hal itulah membuatku tak berbicara selama beberapa hari."


Tlak...!


Aran memajukan waktunya dan aku melihat Aran kecil masih terdiam di kasur dan menggumamkan sesuatu secara berulang-ulang.


"Jika aku... tak berteriak tadi... mungkin Da Ge datang kepadaku. Jika aku... menuruti... perkataan Ibu... mungkin Ibu datang kepadaku..."


Kalimat itu sudah diulang beberapa kali dan hingga akhirnya, air matanya keluar terus sembari mengucapkan kalimat itu terus menerus.


Aran berjalan ke arah pintu dan kami keluar dari rumah ini. Saat kami keluar, aku melihat Master Arum sedang melakukan meditasi di sana.


Setelah beberapa saat ia menghela napasnya dan tampaknya meditasinya berakhir, lalu berbalik ke arah rumah kecil di belakangnya.


"Sudah tiga hari dia begitu terus. Pasti rasanya sangat berat melihat keluarganya dibunuh tepat di depannya," ucap Master Arum sembari bangkit dari duduknya. "Baiklah, sudah saatnya membantu anak itu sepenuhnya."


Tlak...!


Master Arum berjalan ke arah rumahnya dan di saat itu Aran mengganti lagi gambaran masa lalunya.


"Master benar-benar serius mau membantuku dan dia bahkan mau menjadi ibuku, di saat itu aku sangat membutuhkan kehangatan seorang ibu."


Mendengar itu membuatku sedikit sedih, aku juga sangat merindukan orang tuaku dan sekarang akulah sosok orang tua bagi kedua Adikku.


Setelah berpindah, kami pindah ke waktu di mana Aran kecil sudah beranjak remaja. Kata Aran, bahwa saat ini ia sedang mendalami seni bela diri yang diajarkan Master Arum kepadanya. Di saat itu dia juga diajari cara menggunakan Chi, dan katanya ia bisa menggunakan Chi sepenuhnya saat berumur tujuh belas tahun.


"Baiklah cukup!"


Intruksi berhenti dari Master Arum atas latihan Aran remaja. Aku melihat Aran muda ini benar-benar sangat hebat, tidak mudah bagi siapa pun bisa sembuh trauma menyedihkan itu dengan mudah.


"Kamu benar-benar hebat. Tidak mudah bagi siapa pun bisa bangkit sepenuhnya dari trauma itu, apalagi kejadian itu terjadi saat ia masih kecil."


"Hehe, terima kasih," balas Aran sembari tersenyum. "Aku bisa bangkit kalau bukan karena Master. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya."


Membicarakan mengenai Master Arum selalu membuat Aran tersenyum. Yah... aku tahu perasaan itu, dikala orang yang kamu sayangi dibicarakan seluruh kebaikannya, maka orang terdekatnya pasti sangat senang dan bahagia.


"Master! Apa kamu ingin ke ibu kota?"


"Iya, aku ingin ke sana untuk membawakan ramuan herbal ini. Apa ada yang mau kamu ingin aku belikan di sana?"


"Itu..."


Tampak Aran remaja ragu-ragu memberitahukannya, tapi sang Master tahu apa yang diinginkan oleh anak muda ini.


"Baiklah, kuijinkan. Tapi, camkan kepalamu ini baik-baik! Ketika kamu sudah di sana, kamu hanya perlu membawa obat herbal ini di tabib di sana, dan kalau ingin membeli sesuatu, beli saja yang diperlu dan langsung kembali lagi."


"Baik, aku mengerti!"


Aran remaja mengambil keranjang kecil yang berisikan obat herbal yang dibuat Master Arum.


"Satu hal lagi. Selama kamu di sana, jangan termakan omongan orang-orang di sana dan abaikan mereka saja."


Aran remaja mengangguk dan langsung pergi ke arah ibu kota dan menuruni gunung dan keluara dari hutan lebat.


Tlak...!


Kami berpindah ke waktu lain lagi. Kami sekarang berada di dalam ibu kota dan banyak orang lalu lalang di sini, tampaknya ini pasar di tempat ini.


"Loh, bukan Arum yang membawanya, melainkan anak muda ini."


Aran remaja mendetangi salah satu toko obat herbal dan tampak wanita paruh baya yang menjaga tokoh, dan menyambut kedatangannya.


"Hehe, aku hanya ingin membantu Master saja. Aku tak ingin menyusahkan Master seterusnya."


"Hoh..., jadi kamu anak muda yang dibilang Arum, ya. Dia bilang bahwa sekarang ini sedang merawat seorang anak dan mengajarinya berbagai hal untuk jadi penerusnya."


"Begitu ya," kata Aran remaja. "Aku tak menyangka Master menceritakan diriku ke orang lain. Yah, aku tak kaget sih, mengingat hal ini sudah menjadi sifat ibu-ibu yang suka menceritakan mengenai anak mereka."

__ADS_1


Aku melihat tatapan Aran muda ini sedikit sedih, dan aku melihat Aran di sampingku yang tampak memiliki tatapan sama dengannya. Ini sudah hal wajar, karena Aran sangat merindukan sosok ibunya yang sudah lama pergi darinya.


Setelah tabib itu menerima barang pesanannya dan memberikan beberapa koin tembaga sebagai bayarannya ke Aran.


Aran muda langsung keluar toko dan melihat sekeliling, tampak ada banyak hal dijual di sini.


"Apa sebaiknya aku membeli oleh-oleh untuk Master?"


Tampak Aran muda ini sangat senang memikirkan hadiah yang cocok buat masternya ini. Ia berjalan menyusuri pasar ini, dan ada banyak stand jualan yang berjejer di sini. Mulai dari makanan dan minuman, aksesoris, pakaian dan berbagai barang-barang sehari-hari.


"Hm? Tampaknya kamu kebingungan, Nak."


Tiba-tiba seorang wanita tua menyapa Aran yang kebingungan membeli sesuatu. Dan wanita tua ini salah satu penjuak di stand itu.


"Itu... aku memang kebingungan. Karena tidak tahu, hadiah apa yang cocok untuknya."


"Apa dia seorang wanita?"


"Iya."


"Kalau begitu berikan ini kepadanya..."


Wanita tua ini memberikan sebuah kalung dengan batu ukiran unik dan beebagai hiasan menarik lain di sekitarnya kepada Aran muda.


"Asal kamu tahu. Batu ini ditemukan jauh di dalam sungai dekat gunung. Aku dan mendiang Suamiku menemukan sebagian batu kecil di sana, dan kami membawanya lalu mengukir berbagai bentuk unik yang melambangkan kesetiaan."


Aran muda memandangi kalung unik sembari memikirkan perkataan wanita tua itu. Pikirnya bahwa kalung ini akan sangat cocok untuk masternya jika dikenakan di lehernya.


"Ini memang kalung yang sangat bagus. Tapi... ini pasti harganya mahal. Maaf, aku tak bisa membelinya..."


Saat Aran muda ini ingin mengembalikan kalung itu, wanita tua itu menghentikan dirinya dan memintanya untuk mengambilnya secara percuma saja.


"Apa Anda yakin memberikannya kepada saya?"


"Ya. Sejak awal kalung itu kami tak pernah menjualnya sama sekali. Melainkan aku dan Suamiku menghadiahkan kepada pasangan yang saling mencintai dan menyanyangi, kami tak pernah ada niatan mencari untung dari pasangan setulus seperti itu. Tapi kami sangat menghargai pasangan seperti itu dan hanya ingin membuat mereka bahagia saja. Kamu sangat menyanyangi dan mencintai dia, kan?"


Aran memandangi kalung itu sesaat dan tersenyum melihatnya, tampaknya ia sangat senang menerima hadiah seindah itu dan sangat berterima kasih pada wanita tua itu.


Aran muda segera kembali ke kediaman masternya dengan perasaan yang sangat bahagia. Tapi, langkahnya terhenti sesaat melihat kerumanan di depan sana.


"Inilah salah satu yang membuatku sangat marah dikala itu."


Aku melihat ada orang berkumpul di satu tempat dan tampak sebuah panggung kecil, kayaknya akan ada sebuah pertunjukan kecil di sana. Aran muda mellihat itu, menyempakkan waktunya sebentar untuk menonton.


"Sebuah teater kecil ya," kataku.


Kami melihat berjalannya pertunjukkan ini berjalan sangat meriah, tampak para penonton sangat antusias akan pertunjukan ini.


Cerita yang ditampilkan dari teater ini adalah kisah dari kekaisaran yang telah berhasil dijatuhkan. Ceritanya benar-benar sangat kompleks dan mampu membawa emosi kebencian para penonton terhadap sosok karakter kaisar yang dimainkan di teater tersebut.


Berbagai cacian, hinaan dan sumpah serapah dijatuhkan kepada kaisar dan seluruh keturunannya. Tapi, cerita ini akan dicerahkan dengan hadirnya sang pahlawan yang sekarang sudah menjadi kaisar di kerajaan ini sekarang. Tampak para penonton ini sangat memuji dan senang akan kehadiran pemimpin barunya ini.


Dan kisah ini ditutup dengan menceritakan sepenggal cerita dan bumbu kebohongan ditaburi di dalamnya. Tampak pertunjukan terakhir ini menunjukkan sebuah kisah di mana seluruh keluarga kerajaan berhasil ditangkap dan dieksekusi.


Katanya, bahwa kaisar yang memimpin mereka sebelumya, katanya memiliki perjanjian dengan iblis, sehingga para rakyat sangat murka mengetahui hal ini dan segera mengeksekusi seluruh keturunannya.


"Ya! Mereka pantas mendapatkannya!"


"Mereka pantas mati! Dasar pemuja iblis!"


Teriakan para penonton ini membuat suasana panggung sedikit ribut, tapi kisah berakhir di mana sang pemimpin pemberontak berhasil naik tahta dan menjadi kaisar di masa depan.


Pok! Pok! Pok!


Suara tepuk tangan meriah terdengar di sekiar Aran muda yang tampak sangat marah di balik ekspresi datarnya, dan tatapannya sangatlah kosong tapi sangat membara dibaliknya. Ia mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan siap dilayangkan ke siapa pun.


"Wah! Tak kusangka kita bisa bebas dari kaisar sesat itu. Bagaimana jadinya nasib kita, jika masih dipimpin kaisar sesat itu."


"Ya tentu sensara lah. Tapi berkat kaisar sekarang, kita bisa hidup makmur."


Pemuda yang sedari tadi menahan api keluar dari tubuhnya, membuatnya hampir meledak. Tapi, ia mengingat perkataan masternya, bahwa ia harus mengabaikan semua ucapan yang akan didengarnya nanti.


Akhirnya Aran muda ini memutuskan kembali. Yang awalnya ingin pulang dengan perasaan bahagia, tapi sesuatu yang menyedihkan datang kepadanya, sehingga luka yang selama ini sudah diperban di hatinya kini terbuka sedikit demi sedikit, sehingga rasa sakitnya mulai terasa lagi.


"Pemenanglah yang akan mengubah suatu kisah, mau itu kebohongan atau pun kebenaran. Semua hal itu akan dikendalikan sepenuhnya oleh pemenangnya," ucapku sembari menatap Aran yang ada di sampingku, dia juga merasa sangat sedih melihat semua kebohongan ini.


"Memang ini membuatku sangat marah, tapi aku juga harus senang karenanya. Kata Ayah waktu itu, bahwa seorang pemimpin sejati yaitu melihat orang yang dipimpinya hidup makmur. Ia tak keberatan posisinya diambil jika hal itu memungkinkan rakyatnya hidup makmur, Ia tak keberatan jika harus mati, jika hal itu memungkinkan rakyatnya hidup bahagia. Aku baru paham kata-katanya ketika umurku sudah dua puluh tahun."


Aku sangat kagum akan sikap kegigihannya itu. Aku mungkin akan sangat kesulitan hidup seperti itu, jika orang seperti Master Arum ada di sisiku sekalipun.


Tlak...!


Kami berpindah lagi ke waktu lain. Kami berada di kediaman Master Arum dan Aran. Aku melihat Master Arum mengumpulkan beberapa tanaman herbal di keranjang kecilnya yang dibawanya.


"...?"


Master Arum berbalik dan tampaknya ia .merasakan kehadiran seseorang. Dia bangkit dan berjalan ke arah di mana orang itu akan datang.


"Hm?"


Tampak sesosok anak muda berjalan dengan wajah yang sangat sedikit gelap. Master Arum langsung mengerti apa yang menimpa anak didiknya ini dan langsung mengahmpirinya.


"Master..."


Seketika air matanya keluar dan langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya itu. Tangisannya yang selama ini ia tahan sekarang dilepas dan tak bersuara sama sekali. Di sisi lain, Master Arum harus bersikap selayaknya sebagai seorang ibu sekarang.


Tlak...!


Seketika kami berpindah lagi. Kali ini kami berpindah di mana Aran sudah berumur delapan belas tahun.


"Hiat!"


Tampak Aran muda ini berlatih dengan serius dan di sisi lain Master Arum memperhatikan dirinya.


"Kayaknya sebentar lagi dia akan siap," ucap Arum.


Aran masih berlatih dan di sisi lain aku sangat bingung, apa yang maksud akan persiapan yang dikatakan Master Arum.


"Maksud Master Arum, dia ingin aku menjadi pewaris selanjutnya dari kekuatannya itu. Maka tak heran, dia sangat keras dan memperhatikan setiap perkembanganku, ternyata untuk semua hal ini."


Kalau diperhatikan, keadaanku juga hampir sama dengannya dan sekarang aku dalam keadaan di mana aku sekarang menjadi seorang Heredis, dan melewati ujian yang diberikan oleh sistem.


Aku melihat Aran muda ini selesai dengan latihannya dan langsung menghampiri Master Arum.


"Master!"

__ADS_1


"Ya?"


"Itu... aku sangat mencintai Master, tolong jadilah istriku!"


Aku sangat terkejut mendengar itu dan langsung memandangi Aran yang di sampingku. Tampak ia sangat malu dan berpaling dariku sementara.


"Alah~, anak ingusan yang dulu kurawat dan memandangiku sebagai ibu, kini sudah menjadi anak muda pemberani dan memandangiku sebagai lawan jenisnya."


"Aku benar-benar mencintai Master. Menurutku, tidak ada wanita sepertimu di dunia ini."


"Kamu yakin memilihku, aku ini bukan wanita muda loh. Umurku mungkin jauh lebih tua dari ayahmu."


"Tapi, kalau diperhatikan. Master sangat muda dan terlihat seperti kakakku sendiri. Bagaimanapun aku tak peduli dengan umurmu, aku benar-benar mencintaimu!"


Mendengar itu membuar Master Arum tersenyum dan berkata :


"Dasar keras kepala. Baiklah, aku akan menerimamu, jika kamu menunjukkan dirimu benar-benar seorang pria sejati."


"Bagaimana caranya menunjukkan jika aku seorang pria sejati di matamu?"


"Sederhan saja. Kamu yakin mau?"


"Ya! Aku melakukan apa pun, asal mendapatkan pengakuan darimu!"


"Bagus," balas Arum sembari menjulurkan lidahnya.


Tlak...!


Seketika semuanya menjadi gelap dan kali ini kami memulai obrolan singkat.


"Aku penasaran, umur Arum memangnya berapa?"


"Kamu akan tak menyangka dengan umurnya. Umur Master Arum lebih dari 300 tahun..."


Aku sangat terkejut mendengar itu dan tak menyangka jika, bahwa ada orang hidup selama itu di masa lalu.


"Dia satu-satunya di antara pewaris yang memiliki umur ratusan tahun."


Aku tak bisa berkata apa-apa untuk hal ini dan hanya kagum akan perjuangan yang selama ini ditempuh Master Arum selama hidupnya sebagai Heredis.


Seketika kami berada di dalam rumah kecil Arum dan melihat sebuah pemandangan yang sangat panas.


"Ah~ ah~, kamu benar-benar seorang pria sejati, Sayang, ah~!"


"Master~!"


"Lebih kuat lagi, Sayang~, ah~!"


Tlak...!


Dengan cepat Aran mengganti kilasan itu dan kami sama-sama menunjukkan ekspresi terkejut.


"Jadi itu tes menunjukkan dirimu menjadi seorang pria sejati?"


"Bisa dibilang begitu. Dan belum saatnya kamu melihat hal itu."


"Tapi umurku sudah dua puluh tahun, Kakek."


"Tetap saja tidak bisa! Ini menyangkut privasiku!"


Agak kecewa sedikit sih. Sudah tak lama aku tak melihat hiburan panas dan lagi, aku melihatnya secara langsung, jadi sensasinya akan sangat berbeda jika menontonnya melalui internet.


Kali ini aku diperlihatkan sesuatu yang sangat menegangkan. Di mana terjadi gerhana matahari dan itu membuat orang-orang yang melihatnya panik. Di sisi lain, di balik gunung tinggi itu.


Terjadi pertarungan yang dahsyat dan tak bisa dipikirkan dengan akal sehat.


"Bukankah itu 'Mereka'!"


"Ya, Master saat ini melawan 'Mereka' lagi dan kali ini jumlahnya semakin banyak."


Aku sangat terkejut akan apa yang kulihat ini, ada lebih dua puluh orang yang sedang melawan Master Arum dengan kekuatan mereka masing-masing. Dan di sisi lain, Master Arum sangat kewalahan menghadapi mereka karena jumlahnya.


"Hehe! Kalian benar-benar busuk. Setelah aku membunuh beberapa dari kalian, kalian malah membawa teman lebih banyak lagi. Ini membuktikan, bahwa kalian sangatlah lemah."


Mendengar itu membuat "Mereka" sangat marah dan langsung menyerang Master Arum sekaligus.


"Keluarlah, sayang~."


Bussh...!


Seketika angin kencang tertiup di langit dan tampak sesosok mahkluk raksasa dan tubuhnya sangatlah panjang, mampu menutupi langit dengan kulitnya yang sehitam malam.


"Haaarrrh!!!"


Semua dewa ini sangat terkejut akan sosok mengerikan ini dan aku pun begitu terkejut melihatnya.


"Bukankah itu... naga?!"


"Itu memang naga. Tapi, naga ini adalah partner dari Master."


Aku dibuat terkejut lagi dan tak menyangka, bahwa ada partner Heredis sebesar ini dan mampu mengelilingi sebuah gunung dengan tubuhnya.


"Baiklah~, Nodrac-ku sayang~, saatnya kamu makan."


"Haaarrrh...!!!"


Naga hitam itu langsung menyerang separuh dari dewa itu dan mampu memecahkan formasi mereka.


"Hok! Kayaknya waktuku sudah mau habis," ucap Arum sembari menatap ke arah bawah dan melihat ke arah Aran muda yang terpaku akan pertarungan dahsyat ini. "Aku sangat senang menghabiskan waktu dengan anak nakal itu."


Master Arum melihat partnernya kewalahan melawan "Mereka" semua dan aku melihat Master Arum menggumam :


"Paschimmu destum..."


Bing!


Tiba-tiba muncul cahaya menyilaukan dari tubuh Master Arum dan itu membuat Aran muda tersadar juga.


"Master!"


Master Arum berbalik setelah dipanggil oleh Aran muda dan dia hanya tersenyum saja, dan seketika seluruh apa yang terjadi barusan menghilang begitu saja, dan kembali seperti semula.


Aran muda yang melihat itu, masih tak percaya jika sang master yang sangat dicintainya telah menghilang di hadapannya.


"Mulai dari sinilah, perjalananku dimulai sebagai Heredis dari Master. Dan Master berpesan kepadaku, bahwa aku harus menunjukkan kebangganku sebagai manusia di hadapan 'Mereka' kelak nanti."

__ADS_1


Tlak...!


Kami berpindah lagi dan kali ini kisahnya akan berfokus sebagai pelindung umat manusia.


__ADS_2