
Jika boleh meminta waktu
Tolong hentikan saja masa lalu
Agar aku tak perlu berkepayahan
Menggopoh cerita yang usang
-Wita-
Bandung, Wita-Rani-Pingkan
Kamu tega Wita, kamu benar-benar tidak bisa menunggu?
Sebuah pesan tiba dalam ponsel tebal yang ia genggam. Bergetar ia membaca seolah tak mengerti seraya mengerutkan dahi.
Ting..
Belum sempat jemarinya membalas pesan yang baru ia terima sebuah pesan kembali mendarat di layar yang sedari tadi ia pandangi.
Untuk seorang lelaki brengsek itu? Bahkan aku bisa lebih hebat dari dia!
Keringat mulai membawa hawa tubuhnya memanas. Segera ia menekan tombol telepon untuk melakukan panggilan kepada sang pemilik pesan.
“ayoo.. angkat donk” bibirnya bergetar. Sesak rasanya bahkan untuk sedikit menghelakan nafas. Berkali-kali ia mengulanginya lagi. Tetapi yang tak ada jawaban.
Bahkan kamu memakai baju yang aku berikan, untuk sekedar mempersiapkan pernikahanmu dengan lelaki itu? Kamu benar-benar membuatku kecewa Wita.
Ia mengedarkan pandangannya pada baju yang melekat pada tubuhnya. Lelaki itu ada di sini! Ia berlari keluar menembus pintu menuju jalan. Memanggil kembali sang pengirim pesan. “ayoo angkat sekali saja. Plisss” gumamnya tak karuan seraya memasang mata menuju ke segala arah yang dapat ia pandang.
“hallo.. mas.. alhamdulillah” ia sedikit bernafas lega karena panggilannya telah diangkat. Segera ia melanjutkan kalimatnya, “Wita minta maaf. Ini …”
__ADS_1
Tooot.. toot.. toot..
Pandangannnya seketika menangkap bayangan merah. Secepat kilat menyapa tanda jeda. Terdengar suara mendengung dalam telinga. BRAAAK. Penglihatannya perlahan mengendap menjadi samar, selulernya yang ia genggam erat perlahan terlepas. Lalu diam-diam pandangannya tak ada. HITAM!
******
Tas ransel merah muda beradu dengan punggung mungilnya. Sepasang sepatu kets menemani kakinya melangkah menuju motor matic yang tengah dipanaskan oleh sang adik. “makasih say!” bahu kekar sang adik berkemeja kotak biru itu memang selalu ngangenin untuk ditepuknya. Bahkan dalam setiap harinya. “suy, say, suy, say… cihh”. Nampaknya adik lelakinya tak pernah merasa senang dengan rayuan gombal yang ia lontarkan setiap hari.
Senyuman. Hanya itu yang ia lepaskan dalam sunggingan bibir merah muda polesan pewarna bibir yang merona.
“bismillah, mari kita mulai hari ini dengan ceria”. Sedikit menepuk jok motor dengan jemari lalu memantapkan diri menyusuri gang rumah yang tak terlalu lebar untuk ia lewati, melalui motor matic kesayangan tentunya.
****
“biarkan mereka berada pada dunianya, bermain bagi anak-anak sebanding dengan bekerja bagi orang dewasa. Dalam istilah populer anak pada rentang waktu usia 4-6 tahun berada pada fase golden age. Masa keemasan yang tidak akan memiliki ruang untuk terulang kembali. Maka dari itu, mari hadiahi masa keemaan mereka dengan upaya terbaik”.
Closing statement yang ia berikan tepat pada pukul 10 pagi sesuai dengan rundown acara yang telah disusun oleh pantia sekolahnya. Sekolah Embun Gemintang memang menjadi sekolah terfavorit kota kecil yang sekarang beranjak modern itu. Sekolah yang tak ubahnya seperti sebuah taman bermain, menjadi tempat berkelas bagi para mamah-mamah muda (begitu orang-orang menyebutnya), bahkan tak jarang menjadi ajang perkumpulan para sosialita dengan sebutan orang tua buah hati tercinta.
Tentu tidak demikian sepenuhnya. Karena di sebuah gedung pertemuan yang luas dan memiliki kesan mewah ini, tepatnya di sekolah ini, banyak pasang mata tertuju pada sang pembicara, Dewita Maharani, si pemilik motor matic bertas ransel merah muda, dengan sepatu wedges saat ini (tentunya). Sepatu ketsnya?, ia simpan di bawah meja kantor yang ia tempati di sekolah ini.
Buku berwarna abu, terselip penyekat bergambar Tedy Bear pemberian anak didiknya menemani malam Wita sebelum pagi ini tiba. Bukan untuk ia catat dengan goresan curahan hati harian layaknya anak-anak SMA semasanya dulu. Karena hal-hal seperti itu telah lama ia tinggalkan. Malam itu ia berkutat dengan pena untuk mencatat hal-hal penting yang akan ia sampaikan pada ratusan pasang mata esok hari. Tak boleh ada kekeliruan! Karena mereka bukanlah kacang-kacangan. Sekolah favoritnya itu digandrungi oleh para petinggi, pengusaha bahkan aparatur negara. Mendapatkan pengalaman yang menggelitikan, ia pernah diancam aparat hukum untuk dituntut ke meja hijau karena sang anak tak memenangkan lomba. Fiuuuhhh.. berurusan dengan anak-anak kecil, tapi kok menegangkan. Hehehe.
Seutas senyum menemani jemari dan pena-nya malam itu, tak lupa buku berwarna abu. “aku tuh bukan kepala sekolah, atau pemilik Yayasan, tapi ko jantungannya berasa terus tiap awal tahun ajaranan ya?” gumamnya sesaat sebelum buku abunya ia lipat dan menyimpannya dalam tas ransel berwarna merah muda yang ia pilih malam itu. Ya.. betapa tidak, seluruh kepercayaan penuh diberikan kepadanya. Untuk menghandle acara tahunan ini, acara penyambutan orang tua murid baru untuk dipikat hatinya yang telah meminang sekolahnya untuk buah hati mereka.
Wita PoV
“Wit, mo pake laptop yang mana nih?”
“punyaku aja” jawabku asal saat membuka sepatu ketsku di meja kerjaku. Temanku yang satu ini memang yahut, semua telah siap dengan sempurna. Kulihat ruangan yang akan menjadi panggungku sesaat sebelum memasuki ruang kantor. Infokus lengkap dengan perangkat audio yang siap dikoneksikan pada layar laptopku nanti, dua buah pena di meja pembicara, dan secangkir teh manis yang masih mengepul. Hehe, Rani memang sahabat andalan. Kuambil the manis itu dengan puas. Kubawa dan kuletakkan pada meja.
“makasih ya, untuk tehnya” aku kerlingkan mataku sambil meyeruput teh hangat itu penuh penghayatan.
__ADS_1
“hallah, makasih setiap hari, kapan atuh sekali-kali aku dibuatin air keruh sama kamu. Tong air keruh, air alami we gak apa-apa” jawabnya sambil melenggang pergi membawa laptopku untuk ia pasang. Selain jagonya dalam menyediakan berbagai sarana, Rani yang hanya lulusan SMA itu juga memiliki tugas untuk menyediakan segala kebutuhan para guru disekolah ini. Rani tidak ditugaskan untu menyapu lantai, atau melap debu-debu lemari. Ia hanya ditugaskan untuk memastikan segala kebutuhan guru dapat terpenuhi. Bahan-bahan media ajar, alat-alat pembelajaran, dan santapan penyuplai energi di pagi dan siang hari, Teacher Service!. Sekolah macam apa ini? Aku memang harus benar-benar bersyukur, meski sesekali memang sedikit risih karena harus terus merepotkan sahabatku yang satu ini.
“Bunda Pingkan, tolong dampingi gadis yang gak laku-laku ini sampai selamat ya”. Menyebalkan, baru aja aku puji Rani sahabat julidku itu, keusilannya udah mulai muncul. “jangan lupa tolong absensi orang tuanya diteliti, kali ajah ada om nya anak-anak atau duda keren yang mo khilaf ngawinin ni cewek lapuk” lanjutnya lagi sambil memasangkan kabel infokus yang belum beranjak menyala.
Kulempar kertas yang sempat ku remas ke kepalanya “gandeeng!” jawabku kesal. Mana ada daftar hadir diteliti, memang virus apa harus diteliti. Dasar sableng.
“Hahaha..” ia malah tertawa dengan bahagia. Ya silahkan bahagialah. Setidaknya aku sudah memberi kebahagian padamu hari ini. Cih…
“Kalem Teh Rani, aku udah bawa mikrosop buat pantengin cowok-cowok yang ganteng hari ini, daun muda atau daun tua, sikaat. Tahun ini Bunda Wita harus segera sold out. Penelitian pasti akurat!” jawab Pingkan yang akan memoderatoriku hari ini, tak kalah menyeramkan sambil memeragakan jemari telunjuk memotong lehernya. Memang aku daging kurban apa?. Huuh dasaar, paling seneng kayaknya bikin aku kesel pagi ini.
****
“Baiklah, terima kasih kepada Bunda Dewita Maharani, M.Psi yang telah begitu jelas dan lugas menjelaskan tentang bagaimana pentingnya mempersiapkan anak-anak sejak dini untuk masa depan mereka kelak” sebuah kalimat elegan meluncur dari mulut yang tadi pagi baru saja mengejekku. Huu.. kita memang pandai bermain peran ya. Aku geli sendiri membayangkannya.
“Selajuntnya, momy dan Papy, Ayah dan Bunda, Mama dan Papa atau Umi dan Abi dapat mencurahkan isi hatinya nih pada Bunda Wita kali ini, pertanyaan atau pernyataan boleh ya. Untuk kemajuan sekolah kita semua, untuk kemajuan anak-anak kita tentunya” Pingkan sang guru centil itu kembali melanjutkan. Beberapa orang mengacungkan tangan pertanda atensi yang baik selama durasi kurang lebih satu jam tadi.
Senyumku mengembang. Aku memang selalu berhasil dalam menyampaikan pesan. Terlebih pesan tentang pendidikan terbaik untuk anak-anak yang lucu-lucu itu. Aku lalu beranjak dari podium. Menghampiri perempuan yang kira-kira sama usianya denganku, antusias sekali ia menjelaskan kebahagiannya menyekolahkan anaknya disini. Sepertinya ia nikah muda, semuda ini telah memiliki anak berusia 4 tahun.
Aku terus menghampiri perempuan itu, dengan seksama aku mendengarkan dan sesekali mengirim senyuman pada sang mamah muda tersebut. Tetapi senyumku seketika surut saat mataku beralih pada seseorang yang tak hentinya menatapku tajam. Berada tepat di belakang perempuan yang sedari tadi berbicara. Tatapan mata yang begitu aku kenali dulu sehangat mentari, tatapan yang selalu menggetarkan jiwa, tatapan yang selalu dirindu. Kini menghunus tajam merupa kilatan petir yang menyambar.
Wisnuku, lelakiku 7 tahun yang lalu…
######
Tentang judul, Selesa adalah sinonim dari kata yang bermakna luas. Meski kata ini berasal dari kata bernuansa melayu, tetapi telah menjadi bagian dari KBBI. Selesa Rindu, sebuah nama tentang keluasan makna merindu yang sesungguhnya, pada kisah ini yang mengandung berbagai pesan bermakna. Semoga!
Selamat membaca readers, mari sama-sama belajar menemukan berbagai hal. Like ya kalau suka, vote juga untuk si aku yang selalu merindu.
mampir ke ig dan fb-ku ya.🤗😍
kuy ceki-ceki👉 NingTias
__ADS_1
di akun medsos kaliaaan😘.
jangan lupa follow dan share ke semua handai taulan kalian di seantero bumi perhaluan kita ya🤭✌