
rindu itu tak cukup satu
menghitung bukanlah aku
sebab cinta tak terhingga
untuknya...
-Wisnu-
Bandung, Wita-Wisnu
Dua manusia yang tengah di mabuk asmara kini bergelimang rasa suka cita. Menghabiskan malam dengan rintikan rindu dan genggaman cinta yang mengerat pada hati mereka. Wita dan Wisnu, membasuh luka lamanya dengan peluh malam dalam taburan hasrat yang menggelora.
"Mas Wisnu.." ucap Wita ragu.
"Hmmm.. apa sayang?"
"Wita.. banyak kekurangan" lanjutnya.
"Apalagi aku istriku.. aku kurangnya lebih dari banyak", jawab Wisnu seraya memainkan tengkuk sang istri.
"Wita.. Wanita pesakitan! Wita.. menduga.. Wita.. mengalami Post Trau.."
"Kamu wanita hebat, kamu wanita kuat! Izinkan aku menebus segalanya Wita! Kamu hanya perlu terus bersamaku". Wisnu memotong kalimat sang istri sambil memeluknya dengan erat. Mencoba meyakinkan istrinya jika cedera hidup yang ia alami akan ia tebus dengan cinta dan kesetiaan hati.
"Jadi..? siapa yang milih gaunnya itu?", tanya Wisnu sambil mengalamatkan pandangannya pada gaun yang tergeletak di sofa hotel yang tengah mereka huni malam ini. Mengalihlan pembicaraan yang tak perlu ia bahas malam ini. Ia akan pastikan, malam ini Witanya dapat tidur terlelap dengan melupakan apa yang telah ia alami di masa lalu.
Dalam pelukannya, Wisnu dapat merasakan deru nafas sang wanita yang membelakanginya. Sang wanita yang terlihat lelah atas apa yang telah dilakukannya barusan.
"Mamah Adhis, Wita gak tau kalo mamah Adhis beli gaunnya yang kayak gitu". Witanya menjawab tanpa pergerakan apapun. Bagaimana bisa, ini adalah kali pertama ia tertidur dalam pelukan seorang lelaki dengan balutan selimut yang sama tanpa busana.
"Berapa banyak Teh Rumi beliin gaunnya?"
__ADS_1
"Satu...".
"Wah.. aku harus ngasih tau teh Rumi nih".
"Ngasih tau apa?"
"Satu itu kurang".
"Mas ih.."
"Hahaha..."
"Kamu harus beli yang banyak baju kayak gitu, khusus untuk aku!" bisik Wisnu di telinga sang istri.
Wita terdiam, ia tengah menikmati sentuhan manis sang suami yang memainkan jemarinya perlahan. Lalu sesekali punggung tangannya mendapatkan kecupan manis dari bibir Wisnu.
"Iya..", jawaban pelan Wita sungguh di luar dugaan. Wanita istimewa ini memang teramat indah untuk diterjemahkan. Ia memiliki sejuta pesona tentang kecantikan alami luar dan dalam. Wanita yang memiliki ketegasan dalam bertindak namun menuruti apa yang diinginkan Wisnu. Adalah anugerah terindah yang didapatkan Wisnu saat ini.
Wisnu semakin mengeratkan pelukannya. Ia kecup rambut hitam yang wanginya menyeruak menembus penghiduan hidungnya. Sejenak membayangkan bercak darah yang menjadi noda sprei nya malam ini. Perasaan bersalah sekaligus bahagia kini menggelayuti hatinya. Wanitanya tengah menyerahkan diri tanpa kecuali. Untuknya, lelaki halalnya.., dirinya.., cinta pertamanya!
"Aku akan memberikan apa yang kamu rencanakan Wis. Darah dagingmu akan aku kandung dengan baik". Wisnu masih mengingat betul pernyataan Restari tentang kesiapan rencana konyolnya dulu.
"Tapi kamu harus tahu, aku telah dulu menyerahkan diriku pada cinta pertamaku. Katakan aku bodoh! tapi aku sangat mencintainya". Air mata Restari menetes perlahan. Entah atas apa ia menangis di hadapan Wisnu. Apakah karena sesal yang mendalam atas dosa yang ia lakukan? Atau karena perasaan bersalah akan menyuguhkan dirinya yang tak lagi suci pada sang sahabat sekaligus suaminya? Atau patahnya hati yang ia miliki atas cinta tak bertuan sepanjang hidupnya semenjak sang kekasih menikah dengan pilihan orang tuanya.
Takdir memang demikian, tapi bagi Wisnu kenyataan pahit itu haruslah menjadi pelajaran berharga. Sebab dengan kilatan benci dan ambisi hidup tak akan lagi berarti. Maka bahagia nyatanya adalah sederhana. Seperti malam ini, memandang wanitanya yang menyelami seluruh hidupnya dengan sederhana. Tak perlu membungkus hati dengan benci. Tak perlu melempar jejak dengan kepala tegak. Jika nyatanya manusia adalah kerdil di hadapan-Nya. Berpasrahlah pada jalan keikhlasan. Wisnu menyadari, dirinya dan wanita yang ada dalam pelukannya telah memilih dua jalan yang bercabang pada guratan tanah yang berbeda. Maka dirinyalah yang kini patut mensyukuri dan memohon ampun pada Sang Pemilik Hidupnya. Sebab cintanya telah ia temukan pada persimpangan jalan yang benar.
"Mas, kita emangnya mau tidur begini aja?" pertanyaan Wita menyadarkan lamunannya.
"Begini aja Wiiit... aku kangen tau..", ucap Wisnu manja pada wanitanya itu. Entah rindu sebanyak apa yang Wisnu miliki hingga sampai detik ini tak pernah terasa habis meski keringatnya telah bercucuran barusan.
"Wit...", Wisnu bersuara kembali dalam lirih. "Maaf ya! kemarin gak sempat tanya mahar apa yang kamu minta buat pernikahan kita". Sembari memainkan jari yang tersemat cincin berlian senilai dua ratus delapan puluh empat jutaan rupiah.
"Wita malah gak tau, Mas Wisnu mau nikahin Wita".
__ADS_1
"Hahaha... iyah maaf ya! aku tuh udah kalap ajah. Gak kebayang kalo kamu pergi diambil orang lagi".
Wita memutar tubuhnya menghadap dada bidang milik suaminya. Mengusap lembut apa yang dihadapannya dan berkata, "Wita mau kemana lagi mas? Wita udah sesak ajah mengingat kalo mas Wisnu gak bisa pulang nemuin Wita. Wita bisa gila!"
Tak terasa isak tangis terdengar dari sang Wita. Wisnu semakin mengeratkan pelukannya pada wanita tercintanya itu. "Maaf.. maafkan!" Wisnu mengecup ujung kepala sang Wita dalam pelukannya.
"Kamu adalah tempat pulangku sejak dulu. Sejak pertama kamu menerima kehadiranku. Sejak tanggal itu. Tanggal dan bulan yang menjadi maharku untukmu. Delapan belas bulan sepuluh, angka yang aku catat dalam buku harian hidupku. Kemana lagi Wita aku harus pulang? Pada siapa lagi aku harus kembali, Wita? Hmmm?"
Wita mendongkak, mengusap lembut wajah sang suami. Ia memberanikan diri mengecup bibir yang sedari tadi menyatakan cinta untuknya.
Wisnu terkejut mendapatkan perlakuan istrinya yang selalu menjaga kehormatannya dengan norma dan agamanya itu. Ciuman singkat yang merupa kecupan itu nyatanya membuat hatinya berdesir. Ia tarik kembali tengkuk sang wanita untuk mengulang kembali apa yang dilakukannya.
"Kalau ngasih sesuatu jangan setengah-setangah!", Wisnu menegakkan kembali kepalanya saat ciuman yang ia berikan telah tandas ia berikan. Aku ulang ya.. cara yang benar buat suamimu ini.
Dan.. bibir semanis kembang gula itu kembali ia rasakan kehangatannya dalam naungan cinta. Membawanya tenggelam pada hati yang menggelitik dan hasrat yang timbul tenggelam diantara remangnya lampu kamar. Hingga ia akan mengulang kembali ulahnya untuk membuat sang Wita lelah. Abaikan niat hatinya untuk mengantarkan istrinya tidur terlelap. Karena nyatanya.. selimut yang mereka pakai tak berhenti bergerak menemani ranjang empuk mereka malam ini.
Biarkan keduanya hanyut pada kegilaan hati berselimutkan rindu tak terperi. Biarkan luka mereka mengering dalam basahnya tubuh penuh peluh dan gelinjang rasa yang menggebu. Biarkan suara mereka merindu dalam paraunya irama saling bersahutan. Hingga pernyataan cinta sang lelaki disambut dengan kepasrahan sang wanita pada hembusan nafas tak beraturan; "Mas Wisnu... Wita sayaaang... Maaas..!!"
Suara wanita itu bagai irama merdu yang bertalu pada hatinya yang rindu. Bagi Wisnu, suara itu merupa suara biduan bertaut emas yang mengantarkan gelombang cinta berhasrat keindahan. Mengalirkan desir tak tertafsirkan oleh apapun di dunia ini. Semakin bergelayut hingga semakin mendalam mengayuhkan kedalaman hati bagi sang pemilik tubuh indah ini.
Hingga sang lelaki kini harus menyuarakan rasa yang sama. Memberinya cinta dan keindahan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Aaaaaaaahhhh... Witaaa...!!!!"
Malam ini.. nyatanya lelah saja tidak cukup untuk membuat keduanya terlelap dalam tidur yang indah.
###
hahai... siapa bilang malam pertamanya sudah berakhir??🤭
maafkan baru bisa up. Insya allah mulai hari ini aku usahain tiap hari bisa up. semoga 🤲🙈
like, vote, hadiah dan bintangnya ya... peliiissss🙏🙏
__ADS_1
tumbler nya sudah ready nih... buat siapa kira-kira???😘