
duhai kisah lalu
menepilah di sudut waktu
menggelenyarkan rona rasa dalam tegapnya hati
aku dan ia adalah cinta
-Wita-
Bandung, Wita-Wisnu
Wita Pov
Aku tengah bermimpi dengan indahnya. Berlari-lari di sebuah taman bermain dengan gulali kacang pemberian ayah dalam genggaman. Ayah mengejarku saat aku telah mengerjainya. Suaraku terdengar kecil dan wajahku terlihat lucu. Aku memakai baju ungu pemberian ayah. Aku berada di lorong waktu. Usiaku sama seperti Adhis, dan dalam mimpiku itu aku teramat bahagia.
Pohon jambu yang aku sandari batangnya membuat tubuhku terasa teduh. Aku bersembunyi di balik pohon itu dari kejaran ayah. Ah.. aku bahagia, terkikik sendiri memikirkan ayah mencari-cari diriku.
Sebuah tepukan di pundakku membuatku menoleh ke belakang. Anak laki-laki yang aku perkirakan lima tahun lebih tua dariku tersenyum manis padaku. Aku yang masih berusia TK ini, disapa oleh anak laki-laki yang sudah bersekolah di kelas 5 atau 6 SD dalam perkiraanku.
"Hei anak lucu! lagi apa?", tanyanya sambil tersenyum. Anak yang jelas tubuhnya lebih tinggi dariku dan bicaranya lebih lantang dariku itu memandangku lekat dan penuh minat.
"Aku.. lagi main sama ayah", aku sontak terkejut dan membentangkan tanganku ke depan dengan telunjuk yang terarah pada ayah yang sudah menemukan persembunyianku. Berharap anak laki-laki ini akan mengerti kalau aku mempunyai ayah yang akan melindungiku jika dia macam-macam.
"Mau main denganku?" tanyanya kembali membuatku terheran. Aku membalasnya dengan tatapan tak mengerti.
"Disana ada taman bermain. Seru kayaknya kalau kita main di sana. Mau ikut denganku?" bujuknya dengan lembut dan senyuman yang ramah.
Aku menggelengkan kepala tanda tak setuju. Wajahku menegang karena bertemu dengan anak asing yang usianya lebih tua dariku tiba-tiba meminta aku menemaninya bermain.
"Aku harus bilang sama ayah" ucapku gemetar. Ia tersenyum lalu berlari meninggalkanku. Namun pikiranku semakin memberikan tanda tanya tak mengerti saat anak laki-laki tersebut ternyata berlari menghampiri ayah.
Kulihat dari kejauhan ayah membungkukkan tubuhnya menyamakan diri agar wajahnya sama tinggi dengan wajah anak lelaki yang tadi membujukku itu. Sekilas ayah menatapku sambil mendengarkan sang anak berbicara. Ayah lalu tersenyum ke arahku. Entah apa yang diucapkan anak lelaki itu. Anak lelaki yang pantas jika aku sebut sebagai kakak.
"Ayahmu membolehkan kita main di sana. Ayo!!", ajak anak laki-laki itu sambil menarik tanganku. Aku menoleh ke arah ayah. Ayah melambaikan tangan dan tersenyum padaku. Seolah ia berkata; nikmati harimu nak, bersamanya.
Aku tertawa menikmati jungkitan yang dimainkan bersama anak lelaki itu. "Kakak... kakak siapa namanya?" tanyaku sambil tertawa dalam permainan jungkitanku itu.
"Aku Wisnu..." teriaknya. "Kamu?"
"Witaaa... aku Witaa... ahahahaha..." aku tertawa bahagia bersamanya.
"Wita.. nama yang cantik".
"Wita... Wita.. Sayaang.. Witaa..", tiba-tiba suara kecil itu berubah menggema di telingaku. Suara pria dewasa yang begitu lembut dan halus. "Sayaang... bangun!" ucapnya sayu dan kurasakan sentuhan tangannya di dahiku yang menepikan rambutku ke telingaku. Aroma segar sabun dan parfum mas Wisnu menyelinap dalam penghiduanku.
"Masih cape? masih mau tidur?" tanyanya sambil tersenyum saat aku membuka kedua kelopak mataku. Aku sontak memeluknya. Membayangkan jika lelaki kecil yang membuatku tertawa riang itu adalah mas Wisnu.
__ADS_1
"Hei.. kenapa? masih kangen?" tanyanya terkejut. "Semalem gak cukup?", godanya sambil mengusap-usap kepalaku.
Aku menggelengkan kepala. Aku hanya ingin memastikan, bahwa mimpi indah itu nyata adanya.
"Shalat ya? subuh berjama'ah?"
"Wita belum mandi.. mas aja duluan! Takut nunggu lama" jawabku lemas.
"Ya sudah, ayo?" ajaknya bersiap menggendongku.
Aku yang terkejut sontak mendorong tubuhnya ke belakang. "Wita bisa sendiri mas.. jangan digendong!", ujarku melayangkan protes.
"Yakin? gak mau dimandiin?"
"Enggak ih mas. sana! katanya mau shalat". Ucapanku ternyata berhasil mengurungkan niat mas Wisnu. Ia melenggang menuju sajadah yang telah membentang menghadap kiblat setelah menyerahkan handuk yang aku minta untuk menutupi tubuhku yang masih tertutup selimut.
"aduh!" aku mengaduh saat posisi berdiriku tegak sempurna. Ketika kaki ini ingin melangkah rasa sakit di bagian itu mulai terasa.
"Eh.. eh..kenapa?" tanya mas Wisnu khawatir. Belum sempat ia mengucap takbir ia langsung berlari ke arahku. Aku mengernyit dan tersenyum dihadapannya. Mengadukan sakit yang aku rasakan dengan isyarat yang mungkin telah ia mengerti.
"Ahahahahaha... " tawanya terdengar begitu bahagia. "Kamu harus dimandiin kayaknya. Shalat berjama'ah aja, setelah mandi berjama'ah!" bisik mas Wisnu di telingaku. Sepertinya mandi dua kali dalam waktu berdekatan bagi suamiku ini menjadi hal yang tak masalah hari ini.
****
"Jadi, mimpinya tadi bukan mimpi buruk?". Mas Wisnu memainkan jariku dalam pelukannya di sofa hotel seraya menghadap nyalanya televisi yang sebetulnya tidak benar-benar kami tonton itu. Dalam balutan kemeja putih mas Wisnu yang longgar, aku menyandarkan tubuhku pada dada bidangnya dan mengangguk pelan atas pertanyaan yang ia layangkan.
"Hhhmmmmmmzzz... pernah gak ya?" mas Wisnu terlihat berpikir. "Pertama aku lihat itu, ya waktu kita sering ketemu di halte. Aku langsung suka. Cuma aku ragu aja, masa suka sama anak SMA", ucapnya sambil memelukku dari belakang.
"Kamu tuh ya Wit.. kadang bikin aku merinding sendiri. Kadang bikin gak konsentrasi waktu aku kuliah dulu".
"Emang Wita ngapain? Wita kan gak pernah ganggu!"
"Iya gak ganggu, tapi ngebayangin kamu udah gak sekolah. Terus enggak lagi duduk di halte tiap pagi. Aku ko gak rela. Makanya aku kayak orang bodoh tiba-tiba minta kamu jadi pacar aku". Terangnya sambil menyuapiku kue coklat yang ia pesan barusan.
"Sebelumnya.. kamu sudah pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menggelengkan kepala tanda jawabku yang memang tak pernah menerima kehadiran laki-laki istimewa di hatiku. Satu-satunya laki-laki yang aku tempatkan sebagai calon suamiku dulu ya hanya mas Wisnu.
"Serius?" tanyanya meyakinkan.
"Wita ga terlalu cantik untuk jadi perempuan yang bisa punya banyak pacar mas" jawabku asal.
"Ah bahagianya..." mas Wisnu mengecup telingaku. "Terus aku sempet pangling lihat kamu berhijab. Sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak ingatan Wita kembali", jawabku. "Wita patut bersyukur Allah masih ngasih kesempatan buat Wita untuk memperbaiki diri".
"Aku yang akan lebih bersyukur" ucapnya kembali mengeratkan pekukannya dan mengecup rambutku.
__ADS_1
"Mimpinya gimana tadi? mau bercerita?". Mas Wisnu entah kenapa ternyata selalu detail dengan urusan tidurku. Sejak statusnya berubah menjadi suamiku, pertanyaan yang sering aku dengar adalah bagaimana tidurku, apakah aku mimpi buruk ataukan aku mimpi indah. Bahkan ia selalu berkata "bangunkan aku kalau kamu susah tidur".
Kenyataannya beberapa hari aku menikah dengannya, aku selalu tidur lebih dulu sebelum dirinya. Bahkan setelah kejadian kemarin saat aku melihat kecelakaan motor di sebrang salon, aku mampu tertidur lelap di sisa lelahku menikmati 'berduaannya' kami di hotel ini.
"Aku ketemu ayah" ucapku memulai cerita. "Berlari-lari bersama ayah lalu bermain dengan mas Wisnu".
"Ayah.. tersenyum bahagia melihat kita bermain berdua".
"Ayah kamu pasti orang hebat", pujinya saat aku hampir saja meneteskan air mata. "Doakan selalu ayah! Aku belum sempat menemuinya semasa hidupnya, namun doa aku akan selalu aku titipkan dalam shalatku untuknya".
"Ayah tiada, karena Wita mas!" ucapku parau.
"Setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Kita memiliki cara masing-masing dalam menjemput ajal kita. Perasaan bersalahmu akan membuatmu terluka selamanya".
"Puteri ayah yang hebat seperti kamu, tidak pantas hidup seperti itu!" ia memutarkan wajahnya dan mengusap air mataku.
"Jikalah ada orang yang harus bertanggung jawab, itu adalah aku. Izinkan aku menebus segalanya Wita. Ampuni segala kesalahanku!"
Mendengar semua kalimatnya aku beringsut memeluknya. "Lusa? antar aku ke makamnya ya? bisa? boleh?" Aku mengangguk pelan. Mencoba meyakinkan diri bahwa mulai hari ini aku harus melawan segala resah dalam jiwa ini untuk membungkus semua takdir hidup dengan kata 'ikhlas'.
"Teruuus", ucapnya ragu dan hati-hati. "Selama tujuh tahun ini, kamu pernah punya kekasih?"
Pertanyaan apa ini mas Wisnu? bagiku tanya itu tak perlu mas Wisnu lontarkan untukku. Jelas jika aku membutuhkan bayak nyali untuk mengahadapi hidupku. Maka kata 'kekasih' bukan hal yang menjadi fokus utamaku selama ini.
"Gak ada yang mau jadi kekasih Wita" jawabku asal.
"Hahahah... bohong kamu itu! aku banyak informasi tau.., kalau kamu banyak dilamar orang".
"Dan.. hanya Satria yang lamarannya kamu terima.." mas Wisnu menjeda, seperti terkejut dengan ucapannya sendiri.
"Kamu.. gak ada suka kan sama Satria?" ucapnya dengan tatapan yang nampak tegang.
"Kasih tau gak ya???" godaku. Salah sendiri ia tiba-tiba membahas Satria. Apa urusannya nama Satria tiba-tiba masuk dalam obrolan ini.
"Aaah kamuu.. awas ya!! aku hukum nih!!!" mas Wisnu mendorong pelan tubuhku hingga aku berposisi tidur dalam kungkungannya di sofa.
"Ahahahaha..." tawaku pecah saat melihat wajah menggemaskan mas Wisnu. Dan.. mestinya aku pikirkan sebelum aku menjawab barusan. Sebab, matanya yang mengilatkan kecemburuan telah mengantarkan dirinya membuka setiap kancing kemejaku. Hukumanku siang ini harus siap aku terima dengan dekapan cinta yang terus mendera, saling bersahutan kembali dalam paraunya irama cinta, bergelinjang kembali dalam sentuhan kasih dan sayang, dirinya dan diriku!!
####
vote hari ini sisakan untuk yang selalu rindu ya....
salam cinta dari Wisnu dan Wita
Semoga hodie-nya bisa segera rampung dan meluncur untuk reader terhebat🤲🤗😘
__ADS_1