
Pertanyaan ini
membeku sesaat dalam hening
konyol dan beraroma rasa rindu
-Wisnu-
Bandung, Wisnu
7 Tahun Lalu
Wisnu Pov
Jumat kali ini akan menjadi sejarah bagiku. Aku akan menemui seseorang melalui motor pemberian ayah waktu aku masih menyandang nama calon sarjana tekhnik. The Abah Caffe sebagai tujuanku siang ini. Aku putuskan berangkat pukul 10 karena Ibu memintaku memberikan pepes ikan ke rumah Teh Rumi, menu favorit kang Indra, mantu kesayangan ibu.
Benar saja, kang Indra terlihat sangat senang menerima buah tangan yang aku bawa. “duh ibu, coba kalau ibu mau tinggal bareng kita, bisa makan pepes ikan tiap hari nih”. Kang Indra terus saja mengungkapkan keinginnanya membawa ibu tinggal bersama di rumahnya. Tapi apa mau dikata, bagi ibu rumah tuanya itu menyimpan banyak kenangan manis bersama almarhum ayah.
Karena jam sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh aku memutuskan untuk shalat Jum’at di masjid yang berada di komplek perumahan Teh Rumi.
“habis jum’atan bantu teteh dulu ya”.
Seperti biasa tetehku yang satu ini paling gak mau kalau lihat adiknya ini bersantai.
“mau ke mana lagi teh? Butik Holis atau Butik Cantika?” tanyaku. Tempat apalagi yang akan dikunjungi the Rumi selain toko baju yang akan memuaskan hatinya di setiap minggunya.
“atuhlah Wis, apal meureun Kang Indra mah riweuh wae. Susah diajak untar-anteur teteh”. (ayolah Wis, tahu kan Kang Indra sibuk terus. susah diajak mengantar teteh).
“sampai jam setengah 2 ya teh, aku ada acara jam dua nya”
“iyah” jawabnya dengan bahagia. Sebetulnya aku ragu, apa cukup satu jam untuk tetehku ini memilih baju. Ah, tetehku ini semakin membuatku takut untuk mengenal lebih dekat dengan yang namanya perempuan. Berbelanja bagiku adalah kegiatan yang mengahambur-hamburkan waktu.
Di sebuah ruangan yang nampak elegan dengan kaca-kaca yang transparan, dilengkapi aroma pewangi ruangan yang lembut serta ditemani sofa dan meja berwarna hijau muda aku duduk menunggu tetehku yang sedang fokus memilih baju, di butik yang kali ini belum pernah aku kunjungi, bersama teteh tentunya!.
Aku buka kembali buku abu yang akan menjadi pengantarku menemui wanita putih abu bernama Wita. Oh ****..
__ADS_1
Masih teringat malam itu saat ia tertawa dengan permintaan tak masuk akalku. Bukan tak masuk akal sepertinya, tapi sesuatu yang kupikir lucu.
“hahahaah.. baca aja mas gak ada rahasianya ko” jawabnya saat itu.
Kubuka lembar perlembar buku abu itu. Aku mengernyitkan mataku, bingung dan tak habis pikir. Ini tulisan apa maksudnya?
Pojok kanan kertas ia bubuhi dengan gambar matahari yang tercantum sebuah kata “matematika”, lalu selebihnya halaman tersebut diisi dengan gambar yang menurutku seperti sebuah… karikatur?, kulihat sekilas beberapa rumus yang berhubungan dengan gambar yang ia buat. Dan dapat aku pastikan, hanya penulisnya yang mengerti.
Halaman berikutnya aku lihat sebuah kata yang berbeda, “Bahasa Indonesia”. Gambar karikatur yang ia buat seperti menyimpan pesan tentang teori pembuatan artikel. Uh.. ini gadis ada-ada saja. Aku sedikit kecewa, karena nyatanya buku yang aku temukan tidak sepenuhnya menggambarkan siapa Wita sesungguhnya. Yang kutemukan dari halaman berikutnya adalah nama mata pelajaran semasa SMAku dulu yang dilengkapi dengan berbagai gambar karikatur.
Waktu menunjukkan pukul empat belas kurang sepuluh menit. Owh, sial! Aku akan terlambat. Kuhampiri teh Rumi untuk mengingatkan kekhilafannya saat memilih-milih baju. Bisa habis gaji Kang Indra kalau teteh berlama-lama di sini. Setelah mengantar pulang teteh aku putuskan menghubungi Wita melalui pesan singkat.
Assalamu’alaikum
Wita maaf, sepertinya aku akan terlambat. Insya allah 15 menit lagi aku tiba di The Abah Caffe.
Wa’alaikum salam
Iyah mas tidak apa-apa, Wita tunggu.
Kubuka pintu caffe yang menjadi tujuanku hari ini. Aku sedikit merasa heran setelah melihat banyak orang yang berdiri dan memandang ke arah meja yang berada di sudut kanan caffe.
Aku dengar suara tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri wanita yang akan aku temui. Wita..
“sok cantik kamu Wita!, jangan keganjenan kalau jadi cewek”, teriak wanita yang membelakangiku.
“kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya merebut pacar orang” lanjutnya lagi.
Langkahku untuk menyelamatkan Wita tiba-tiba terhenti setelah mendengar ucapan wanita di depan Wita itu.
“Sinta sudahlah!” pinta seorang lelaki di sebelahnya.
“aku tidak merebut pacar orang Sinta” jawab Wita.
“hallah, kalau saja kamu gak kepergok ketemuan sama Satria sekarang, kamu pasti akan ngelak terus”
__ADS_1
“aku tidak ketemuan sama Satria, kami kebetulan bertemu. Iyakan Sat?” tanya Wita pada lelaki yang sedari tadi menenangkan wanita yang melayangkan tamparannya pada Wita. Sejenak aku mencoba memahami situasi ini. Aku lalu melangkah menuju tempat yang menjadi pusat perhatian para pengunjung.
“lalu, untuk apa kamu disini? Mengambil cowok-cowok tajir lainnya. Heu?”
“aku..” jawab Wita ragu.
“Wita, maaf aku terlambat” ucapku memancing tatapan ketiga orang yang sedang beradu biacara itu.
“jadi pria ini yang membuatmu menolakku Wita?”
“SATRIA!!!” teriak wanita sebelahku yang sedari tadi amarahnya ia tujukan kepada Wita.
“iyah,” jawabku tanpa jeda.
“ayo Wit, kita bisa cari tempat lain” kuraih tangan Wita, lalu kubawa tubuhnya melenggang keluar dari tempat yang memanas itu.
Jalanan kota Bandung menuju sore hari menemaniku. Penumpang yang berada dibelakan motorku terdengar sedikit terisak. Kutepikan motorku di seduah apotek. “maaf kita mampir dulu ke sini ya?” tanyaku tanpa meminta jawaban darinya. Ia hanya menjawab dengan tatapan dan senyuman tipis. Kubeli salep untuk mengobati merahnya pipi yang barusan telah ditampar temannya itu.
“mas wisnu!” tiba-tiba suaranya terdengar di telingaku.
“saya pulang saja, dari sini saya bisa naik angkot”, permintaannya membuatku kaget.
“eh, maaf kita bisa duduk dulu disana?” aku arahkan mata dan telunjukku ke sebuah bangku yang berada di teras pojok kiri apotek. “obati dulu pipinya”, aku acungkan salep yang barusan aku beli dan kuarahkan mataku pada pipinya yang milulai memerah akibat tamparan temannya. Ia tersenyum lalu mengangguk.
Dicobanya salep yang aku beli tadi untuk dioleskan ke arah pipinya. Aku tersenyum melihatnya, kulihat salep yang ia olesakan menepi ke bagian-bagian kulit mulusnya yang cantik. “biar aku bantu, salepnya jadi belepotan kemana-mana”. Aku ambil salep ditangan kanannya, lalu kuoleskan pada pipinya yang sudah nampak memerah. Aku dapat memastikan, tamparan temannya itu sangatlah keras.
“eh..!”, ia nampak kaget dengan ulahku. Hei, jangankan dia, aku saja kaget dengan tingkahku yang di luar kontrol akal sehatku. Kulihat matanya menunduk, tak sedikitpun berani menatap mataku yang dari tadi mengarah ke arah wajah manisnya. Namun seketika matanya beradu tepat dengan pandanganku.
Deg-deg. Deg-deg.
“maaf atas ketidaknyamanannya” ungkapnya melepas kecanggungan dengan melempar tatapannya ke arah jalanan kota.
"Wanita yang tadi menampar saya, adalah sahabat saya sendiri. Amarahnya bisa jadi buah dari kesalahan-kesalahan saya”, jelasnya membuatku sedikit bertanya-tanya. Aku hanya diam menunggunya melanjutkan ceria. “kali ini mungkin sudah mencapai puncak amarahnya, siapa yang tak marah jika lelaki yang menjadi pacarnya justru menginginkan wanita lain, sahabatnya sendiri”.
Ia lalu menoleh ke arahku, aku tatap senyumnya yang tulus dan begitu manis itu. Tatapan dan senyuman yang sama sekali belum pernah aku temui. Membuat degup jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya, membawa keringat lembut mematri pada seluruh tanganku yang aku eratkan sendiri pada telapak tangan yang kumiliki.
__ADS_1
“kamu... mau jadi pacarku?” tanyaku tanpa sadar keluar begitu saja dari mulutku.
“ha??”