Selesa Rindu

Selesa Rindu
Mimpi Indah


__ADS_3

aku tak yakin


mimpiku indah


jika jemari hati ini


tak lagi dapat meraih kedalaman rinduku


untukmu


-Wita-


Bandung, Wisnu-Kang Indra-Ibu


Jawaban yang Wisnu dapatkan dari sosok lelaki yang lebih muda darinya itu sungguh di luar prediksinya. "Saya tidak peduli dengan apa yang anda bicarakan pak Wisnu, Wita TIDAK SAKIT, jika anda ingin bersaing dengan saya kita bersaing secara gentle pak Wisnu. Jangan mengatasnamakan masa lalu menjadi alasan anda, Wita akan saya dapatkan bagaimanapun caranya!!!".


Satria, lelaki yang ia anggap dapat memberi Wita bahagia nyatanya tak lebih dari seorang pemuda berhati panas. Apakah Satria tidak tahu, jika tindakannya telah membangunkan macan yang sedang tidur tenang di peraduan hatinya. Wisnu kini telah menekadkan hati, mencatat dalam buku peperangannya bahwa ia akan memperjuangkan wanitanya sampai titik darah penghabisan. Tak hanya sakit yang didera wanitanya itu yang akan ia tundukan, tetapi hati sang kekasih masa lalunya itu akan ia perjuangkan kembali, catat!


"Bagaimana bang, sudah? bisa?", pertanyaan Andra saat Wisnu tiba di depan mobilnya yang terparkir di halaman belakang gedung firma hukum Satria.


"Kita lihat saja nanti, sekarang kita pulang dulu ke rumah teh Rumi, saya mau ngobrol dulu dengan kang Indra". Tentu.. kini ia perlu meminta pendapat kakak iparnya agar apa yang akan dilakukanya ke depan bukan lagi hal gegabah. Masa depannya kini telah dipertaruhkan.


"Apa Adhis dan teteh sudah sampai rumah?". lanjutnya lagi.


"sudah bang, teh Rumi lagi masakin semur jengkol kesukaan aku. Beuh.. jadi pengen cepet nyampe rumah nih".


Wisnu hanya dapat tersenyum mendengar celotehan Andra di sela perjalanan pulangnya ke rumah sang kakak. Sahabat sekaligus asisten pribadinya itu adalah orang yang paling terdepan membantu mencari berbagai informasi tentang Wita.


"Perusahaan tempat Wita kerja tidak membahayakan Wita kan?, Ndra?" tanya Wisnu seketika.


Membahayakan seperti apa yang Wisnu maksud. Andra sedikit mengerutkan dahi, kerja ya kerja... apanya yang bahaya?.


"mba Wita terlihat enjoy dengan pekerjaan barunya bang. Tak pernah terlihat sakit atau maupun mengeluh saat di kantor". jawab Andra.


"Awas kalau orang suruhan kamu salah ngasih informasi", ancam Wisnu dengan tegas. "Yaelah baang, gak percaya? nih aku kirim fotonya sekarang".


Wisnu membuka foto yang Andra kirimkan. Terlihat wajah cantik Wita tengah menekuri laptopnya dengan serius. Ia lalu melihat beberapa foto lainnya yang menampilkan senyum manis milik sang Wita. Tanpa ia sadari Wisnu terseyum mensyukuri apa yang ia lihat. Meski benar apa yang dikatakan Andra, Wita terlihat lebih kurus sekarang

__ADS_1


"Jangan terlalu dilihatin gitu kalie fotonya!", goda Andra di balik kemudinya yang tak diindahkan oleh sahabat sekaligus atasannya itu.


****


"ayaaaah...", teriak Adhis seraya berlari menyambut kedatangan Wisnu di bibir pintu.


"Wish.. anak ayah udah nyampe duluan nih, cape gak?" tanya Wisnu.


"Enggak... soalnya aku seneng mau bikin kue sama mamah, buat bunda Wita", jawab Adhis dalam gendongan sang ayah.


"Bunda Wita?" tanya Wisnu terkejut, "Teh..?", mata Wisnu terarah pada teh Rumi meminta penjelasan sang kakak.


"euuh kamu mah beut dikasih tau ayahna!", teh Rumi tak menjawab kepenasaranan Wisnu.


"Itu.. tiap teteh ke Bandung teteh suka bikin kue terus dikirim ke rumah bunda Wita, tapi da enggak ko.. gak ketemu langsung bunda Wita ya Dhis?, sesuai titah paduka Wisnu" persekongkolan Adhisnya dan teh Rumi memang terlalu, haduuh.. kaliaaaan ...


Selepas shalat magrib Wisnu memutuskan duduk di teras belakang. Ia teguk secangkir kopi hangat menemani dirinya yang tengah menatap bintang gemintang. Langit dulu yang ia tatap dengan hangat saat merindu sang kekasih kini membentangkan kegagahannya menahan rindu yang sama meski jarak waktu telah ditempuh.


"Gimana? Apa yang akan kamu lakukan sekarang?", tanya kang Indra seraya menepuk bahu kekar milik Wisnu.


"Sudah istikharah?", tanya kang Indra menyelidik. "Pasrahkan semua pada Allah Wis, hidup kamu, langkah kamu, keputusan kamu akan terasa ringan jika kamu memulainya dengan kepasrahan diri pada Allah"


"Kamu tahu Wis, saat akang waktu itu meminta tetehmu yang jelas-jelas menolak lamaran akang? Waktu itu akang marah dan mengeluh pada almarhumah ibu kamu. Ibu hanya menjawab; jangan terlalu memaksakan kehendak, boleh jadi yang kamu anggap baik itu ternyata buruk untuk kamu, atau sebaliknya. Kamu hanya perlu tawakkal setelah usaha dan doa yang kamu lakukan agar kecewa tidak menjadi akhir dari takdir yang kamu terima".


Ya.. benar! ia hanya perlu memasrahkan semuanya dengan keimanan dan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhannya yang akan bertanggung jawab memberinya cerita kehidupan.


****


"Wita tidak mau diganggu katanya nak Wisnu", jawab ibu di depan teras rumah kecilnya itu.


"Bagaimana keadaan Wita sekarang bu?" tanya Wisnu disela helaan nafasnya.


"Malam tadi tidur nyenyak karena dia minum obat tidur setelah empat hari berturut-turut susah tidur dan sesekali tidurnya terganggu oleh mimpi buruk".


"Ibu sering ngajak dia ngobrol dan bertanya apa yang membebani dirinya tapi dia gak pernah jawab", lanjut ibu.


"Apa Lanis pernah menyarankan sesuatu?" tanya Wisnu.

__ADS_1


"Ibu gak ngerti nak Wisnu, cuma Lanis bilang biarkan Wita bekerja dan menyibukan dirinya agar fokus Wita teralihkan oleh pekerjaannya".


Pedih dan sakit rasanya mendengar Witanya kini merapuh di kedalaman jiwa yang tak tenang. Wita, gadis kecilnya dulu yang berseragam putih abu yang selalu menyematkan senyum yang dirindu. Wita, wanitanya yang selalu menyimpan dan menorehkan semangat juangnya untuk dirinya di masa lalu. Wita, guru favorit Adhisnya yang terhempas dari gelimang anak-anak yang baginya telah menjadi candu.


"Ibuu...", Wisnu memberanikan diri bertanya dengan lirih dan gemetar.


"Apa tidak ada kesempatan untuk saya, memperbaiki hubungan saya dengan Wita. Saya... mencintai Wita".


Pertanyaan yang dibalas dengan tatapan ibu dengan senyum dan usapan hangat pada lengan milik sang Wisnu. Ada sesal dan harap dari sorot mata tua yang dialamatkan pada Wisnu itu. Bagi ibu, Wita adalah permata dan harta yang tak ternilai harganya.


"Ibu menyesal telah memaksa Wita menerima Satria. Karena ibu tidak tahu apa-apa tentang anak ibu itu. Ibu sudah meminta Wita membatalkan pertunangan ini, tapi Wita menolak karena ia tidak ingin mengingkari janji yang sudah ia terima. Yang bisa ibu lakukan hanyalah mengulur waktu.. memberi Wita kesempatan untuk berpikir apa yang terbaik bagi dirinya". Jawaban ibu sungguh menghujam getaran dada penyesalan yang dalam untuk Wisnu.


Dalam langkahnya yang gontai ia lalu memutuskan pergi dari rumah sederhana itu. Masuk ke dalam mobil miliknya dan merogoh ponsel yang ia simpan di saku kemejanya.


Sedang di tempat lain. Di kamar berukuran kecil dengan wangi aroma lavender Wita membuka ponsel yang baru saja berbunyi tanda pesan masuk ke nomor ponselnya.


08XXXX..


assalamualaikum Wita..


tadi aku ke rumah kamu


kata ibu kamu sedang istirahat


aku bawa kue buatan Adhis


katanya buat bunda Wita


semoga kamu suka ya..


malam ini... tidurlah yang nyenyak


bermimpilah yang indah


Selamat malam


Wisnu

__ADS_1


__ADS_2