Selesa Rindu

Selesa Rindu
Berakhirkah Trauma Itu?


__ADS_3

Kupikir buku usangku telah hangus


dalam genggaman waktu


Lalu.. hari ini apa?


-Wita-


Jakarta, Wita-Wisnu-Wulan-Adhis


Wita PoV


Apa sebenarnya yang aku rasakan hari ini? Pikiranku benar-benar kacau. Wanita yang mengaku dirinya sebagai kakak mba Restari untuk yang kedua kalinya berkunjung ke rumahku. Membawa dua kantong besar yang berisikan mainan untuk Adhis di hari pertama. Sedangkan selang tiga hari ia datang dengan membawa dua buah cake besar. Kue yang ia klaim sebagai ‘makanan kesukaan Adhis’, katanya.


Mas Wisnu sempat mengatakan bahwa wanita yang bernama Wulan itu dulu menginginkan Adhis, untuk dijadikan anak di bawah asuhannya. Tapi 4 tahun lebih sudah berlalu mengapa baru hari ini aku melihat sosoknya. Ah.. iya, aku lupa. Mungkin aku memang tak begitu mengenali setiap inci dari kehidupan mas Wisnu di masa lalu.


Aku menghela nafas panjang saat dengan tegas Mba Wulan mempertanyakan statusku di rumah ini. Rumah yang sebetulnya tak ada sedikitpun kaitannya dengan mba Restari. Rumah yang telah mas Wisnu ijabkan sebagai rumahku sejak dulu, hari ini dan nanti.


“Kamu, benar telah menikah dengan Wisnu?”, pertanyaan yang sama yang ia lontarkan tiga hari lalu. Apa sebenarnya maksud perempuan ini? Apa ia sedang mencurigaiku sebagai wanita yang bergaul dengan lelaki tanpa status? Atau ia sedang mengkhawatirkannku jika aku terjerumus pada kehidupan bebas layaknya tempat ia hidup dulu? Aku tak bisa memprediksi dengan tepat jalan pikir wanita yang aku perkirakan empat tahun lebih tua dariku itu.


“Alhamdulillah Mba, kami menikah. Mas Wisnu mengucapkan ijab kabul di hadapanku. Dua puluh tujuh orang yang hadir saat itu mungkin bisa menjadi saksi atas pernikahan kami di ruang kamar rumah sakit, jika Mba Wulan meragukannya”, jawabku.


Ruang tamu tempatku menyambut Mba Wulan seketika hening dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba kaku. Wajahnya memerah dan nafasnya nampak ia sembunyikan dalam irama memburu. Entah apa yang sedang ia buru? Mungkin aku yang sedang menjadi sasaran kilatan pemburu itu. Apa aku nampak seperti mangsa dalam penglihatannya?


“Kami menikah tanpa persiapan apapun. Kami ingin segera menyegerakan hal yang baik”.


“Aku maksudnya! Aku yang ingin menyegerakan pernikahan kami”, suara Mas Wisnu terdengar dari arah pintu, lalu menggendong Adhis dan mencium keningku setelah aku menyalami punggung tangannya dengan khidmat.


“Sudah lama di sini Wulan?” tanyanya kemudian. “Apa kita ajak dia makan bersama di sini?, kamu masak apa sayang?” tanya mas Wisnu padaku. Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan sederhananya itu padaku.


“Rendang dan salad sayur mas”, aku menjawab apa adanya. “Mas Wisnu mau makan sekarang memang?”, tanyaku menyelidik.


“Aku sebenarnya belum lapar, tapi gak apa. Mumpung ada tamu”, jawabnya seraya menatap ke arah mba Wulan.


Mba Wulan mematung dan membalas menatap ke arahku, mas Wisnu dan Adhis. Seolah mendeteksi sesuatu yang entah apa itu. “Gak usah Wis, aku gak makan jam segini. Aku.. sekalian pamit. Hari ini aku balik ke Swiss”, jawabnya tegas dan tersenyum padaku.


“Aku tunggu kamu bisa berkunjung menemui kami! Aku sama papih maksudnya”. Pernyataan yang sepertinya tertuju padaku, sebab tangannya kini terulur ke arahku dan segera menggenggamnnya dengan erat. Jabat tangan, salam perpisahan!


****

__ADS_1


“Kamu kok dari tadi diemin aku terus sih?”, mas Wisnu menggoyang-goyangkan lengan tangan kiriku. Sejak kami memutuskan untuk tidur, aku berbaring di atas ranjang yang sama dengan mas Wisnu lalu… membelakanginya!


“Kamu marah?” tanyanya khawatir malam ini. “Apa.. aku ada salah?” ungkapnya lagi.


Aku menghela nafas panjang dan menutup kedua kelopak mataku rapa-rapat. Seharusnya Adhis jangan dulu tidur malam ini, agar aku bisa mencari alasan untuk menemani Adhis tidur di kamar sebelah.


“Aku gak suka ih dicuekin gini”, rajuk mas Wisnu padaku.


Aku tak tahan lagi, harum tubuh mas Wisnu begitu terasa menggiurkan di hidungku. Bahkan telapak tangannya yang sedari tadi membelai tepian wajahku yang terselip rambut panjangku begitu menggoda untuk aku hirup sedemikian rupa. Rasanya puas jika telapak tangan itu kutangkupkan pada hidungku setiap menjelang tidur akhir-akhir ini.


Aku membalikkan tubuhku lalu memeluk tubuhnya dan menumpahkan segala kesalku hari ini dengan tangis yang tak bisa kutahan. Ya Allah.. mengapa aku bisa secengeng ini?.


“eh.. eh.. kok nangis?”, mas Wisnu nampak terkejut melihat reaksiku yang tiba-tiba. Ia memelukku dan mengusap punggung tubuhku dengan lembut. “Aku bikin kamu sedih? Heu?”, tanyanya lagi. “Adhis bikin kamu capek seharian?” ia mencercariku dengan pertanyaan yang tak ada kaitannya dengan kekesalanaku hari ini.


“Wita.. mual sama pusing mas”, keluhku dalam pelukannya.


“Enggak.. kamu sehat! Kamu gak pusing sama mual! Kamu hebat!”, seperti biasa mas Wisnu mensugestiku dengan kalimat manisnya untuk melawan segala traumaku di masa lalu.


“Lain kali…”, ucapku terbata.


“….”


Aku menjeda sesaat dan mengatur nafasku yang mulai tersengal oleh tangis. Apalagi gejala rasa mual dan pening di kepalaku kini kembali menyerangku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering merasakan hal yang lama ingin aku tinggalkan. Padahal sejak aku menikah dengan mas Wisnu, gejala traumaku berangsur hilang. Terbukti, saat mas Wisnu mengeggam tanganku seraya melangkahkan kaki menuju nisan bertuliskan nama ayah kandungku bulan lalu. Tubuhku tak menunjukkan reaksi traumatik yang selama ini aku takutkan. Tapi malam ini, mual dan pening yang aku rasakan seolah menepis keyakinan bahwa aku telah sembuh dari traumaku di masa lalu.


“Lain kali kalau ternyata ada wanita yang suka sama mas Wisnu bilang sama Wita”, ucapku tiba-tiba.


“Maksudnya?”, tanyanya tak mengerti.


“Maksudnya.. Misalnya mba Wulan. Kok mas Wisnu gak pernah cerita sih kalau mba Wulan suka sama mas Wisnu” ucapku masih dalam pelukan hangat suamiku.


“…”


“Ahahahahah… kenapa rasanya melayang ya dicemburui sama kamu. Aku gak ke-Ge-Eran kan?” bukannya menjelaskan, mas Wisnu malah memelukku erat dengan jawaban yang absurd. “Untuk apa menjelaskan sesuatu yang bukan duniaku. Duniaku hanya kamu, kamu yang terpenting. Jangan mikir yang aneh-aneh ah ya?!, yang ada nanti aku kayak anak terlantar dicuekin terus sama kamu”.


Aku sontak memeluknya erat dan menghirup dengan nikmat aroma tubuhnya malam ini. Malam ini, biarkan aku serakah meminta waktu pada Tuhan untuk menggelayutkan kemesraanku pada suamiku dengan kepercayaan diri dan cinta yang membuncah.


***


Kehangatan malam tadi nyatanya tak membuat rasa mual dan peningku menghilang. Bahkan tadi pagi mas Wisnu mewanti-wanti padaku untuk beristirahat. Keinginan Adhis untuk bermain di taman kota Sabtu ini dibatalkan sepihak oleh mas Wisnu.

__ADS_1


“Adhis lihat bunda lagi sakit kan?, jalan-jalannya besok sama ayah aja ya?!” Bujukan mas Wisnu dengan mudahnya diiyakan oleh Adhis. Jika perilhal aku, Adhis memang selalu menuruti apa yang dikatakan mas Wisnu.


“Wajah kamu kelihatan pucat banget, ingat kamu harus istirahat! Kalau butuh apa-apa minta bantuan Emak Yati! Kalau masih mual sama pusing segera hubungi aku! Kita hubungi Lanis segera”, pintanya padaku dengan nada khawatir saat aku mengantarkannya sampai ke depan pintu.


“Adhis juga, temenin aja dulu bunda istirahat hari ini ya!” titahnya pada putri kecil kami yang dibalas dengan anggukan kecil dari Adhis.


Seharian ini aku isi waktuku dengan rebahan, mager tak karuan. Tidur, makan, shalat, tidur lagi, nonton dan berakhir dengan duduk di sofa ruang keluarga sambil menemani Adhis bermain lego. Pikiranku sudah mulai tenang dan jernih. Mba Wulan tak lagi mempengaruh pikiranku. Atau bayang-bayang masa lalu tak sama sekali mengusikku, tapi entah mengapa rasa mual dan peningku belum juga mereda. Sedemikiankah penyakit traumaku senantiasa bertengger dalam jiwaku. Aku benar-benar harus mensugesti diri dan melakukan hal yang menyenangkan hari ini.


Tiba-tiba, ide cemerlang muncul dalam benakku. Aku gak boleh jadi orang yang kacau seharian. Dan juga, rutinitasku di hari Sabtu bersama Adhis tak harus gugur bukan? Karena aku yang sedang melawan rasa traumaku ini Adhis tak perlu merasakan kesedihan yang sama.


“Adhis.. mau main-main sama bunda?” tanyaku pada putri kesayanganku.


“Kemana bunda? Kata ayah kita gak boleh ke taman”.


“Joged? Mau?”


“Asiiik.. mau.. mau..” Adhis menjawab dengan riang tawaranku.


“cak dum-dum.. cak dum dum”, pintanya sambil menjingkrak-jikrankkan tubuhnya tanda bahagia.


“Let’s go..” ajakku sambil menuntun dirinya ke arah kamarku.


Aku ganti pakaianku dengan droped suit pants dan kaos pendek rumahan. Kuplay musik berirama Hindustan yang sering aku putar bersama Adhis di sekolah Embun Gemintang dulu. Menari menjadi salah satu hobiku bersama anak-anak TK Embun Gemintang, termasuk Adhis. Tentu tidak dengan pakaianku saat ini. Toh.. aku sekarang berada di rumahku sendiri, bersama putraku. Kututup pintu kamar dan.. kami pun menari dengan lincahnya dengan ketukan dan birama dalam lagu yang menghentak. Kaki dan tangan kami bergerak lincah dengan indah.


Adhis nampak tertawa bahagia dengan ulah yang kami lakukan. Namun wajahku seketika menegang saat kulihat tubuh tegap lelaki yang semalam memelukku dengan erat berdiri tepat di bibir pintu. Menyenderkan tepian tubuhnya seraya bersedekap dan mengulas senyum yang merekah.


Aku mematung menatapnya, sedang Adhis tetap bergerak dengan lincahnya. Entahlah, tiba-tiba perutku mual dan ingin memuntahkan sesuatu. Aku segera berlari ke toilet kamarku dan memuntahkan seisi perutku. Berkali-kali dan terasa mendorong tanpa bisa kucegah dari ulu hati.


Aku rasakan elusan lembut pada tengkuk dan punggungku. “Ya Allah.. kamu kalau lagi sakit kenapa jogged-joged gitu??, bukannya istirahat”. Ucap mas Wisnu khawatir.


“Aku seharian tiduran mas, aku suntuk. Malah jadi tambah gak bersemangat. Makanya cari aktivitas biar lelah, sama Adhis”, kutegakkan tubuhku dan memutar diriku yang sedari tadi membelakanginya. Memandangi wajah suamiku dengan rindu. Mengapa akhir-akhir ini rasanya rinduku terus terasa berkali lipat ya? Apa benar 7 tahun telah membuat rinduku tak ada habisnya? Tanpa berpikir panjang aku segera memeluk tubuhnya yang begitu harum di hidungku. Kurasakan tangannya membelai lembut kepalaku dan mengusap-usap punggungku.


“Besok.. kita konsultasikan ke Lanis ya?! Kamu.. adalah segalanya untukku. Tak akan kubiarkan kamu menanggungnya sendiri. Aku akan selalu berada di sampingmu”.


“Segera lepaskan bebanmu Wita, Sayangku..”.


Aku didekapnya dengan erat dan kecupan bertubi di ujung rambutku. Ada rasa bersalah yang mendalam dari sudut hatinya, kurasakan itu tanpa bisa kubendung dan kucegah. Cinta yang teramat mendalam untukku, dari lelakiku, Wisnuku!


####

__ADS_1


Tinggalkan jejak ya kawan-kawan! Vote, like, komen, hadiah dan share ke berbagai relasi kaliaaan…😘😘😘😘😘


__ADS_2