Selesa Rindu

Selesa Rindu
Bahagialah!


__ADS_3

menyambut hari dalam dentuman waktu


aku tergopoh menyibak masa lalu


menyimpan deru nafas yang hilang


menghimpit asa kemenangan


nyatanya, aku kalah dalam peraduanku


aku hanya berharap..


kau berbahagia


-Wisnu-


Bandung, Wita-Wisnu


Wisnu Pov


Jemarinya sungguh halus dan lembut aku rasakan menyentuh wajahku. Aku tak menyangka air mataku mampu menetes di hadapan wanita ini. Sejenak aku mematung merasakan usapan jemarinya, tetapi seketika aku menyadari bahwa bukan ini tujuanku membawanya ke sini.


Oh Wita.. jika sekali saja kau mengucapkan kata 'menginginkanku', detik ini juga aku akan membawamu lari pergi menjauhi Satriamu itu. Persetan dengan keahlian dia sebagai pengacara yang akan memidanakan aku. Aku, akan memiliki hidupmu!!!


Tapi kenyataan bahwa Wita tak lagi memihakku membuatku tersadar, aku telah lama terlempar menjadi masa lalunya yang kelam.


Maka hari ini, biarkan menjadi hari terakhirku membungkam semua kekelaman hidup yang pernah aku guratkan di masa lalunya. Aku.. menceritakan semua kepedihanku tentang kematian orang-orang yang berharga di hidupku bukan untuk memintanya belas kasihan. Tetapi keinginanku untuk memupus masa lalunya dengan kisah yang telah dan akan aku ceritakan.


Tak ingin berlama-lama di sampingnya, aku kemudian berdiri melangkah beberapa langkah menuju nisan yang berdampingan dengan ibuku. Nisan yang bertuliskan nama sosok pahlawan dalam hidupku;


Soepandi Tarmono bin Haryanto


Lahir: Jogjakarta, 7 Juni...


Wafat: ...


"Ini kuburan ayahku, Wita", aku memperkenalkan ayahku seolah ia masih hidup dan menjamu calon menantunya yang selalu aku rindu itu. Aah.. aku bisa gila!!. Aku sejenak menggelengkan kepalaku dan segera menatap kembali wanita yang berada di depanku, di depan kuburan ibuku.


"Kamu mungkin mengingatnya, dulu aku pernah menceritakannya padamu bahwa ayahku meninggal beberapa hari sebelum kelulusan SMAku". Wita mengangguk tanda mengiyakan pernyataanku.

__ADS_1


Ya.. benar, aku menceritakan tentang ayahku yang telah lama meninggal pada Wita saat dulu dengan antusiasnya dia menceritakan hebatnya ayah Wita dalam memperjuangkan keluarga. Ayah yang selalu memanjakan Wita, ayah yang selalu mewujudkan keinginan Wita, ayah yang tak pernah marah pada Wita, ayah yang segalanya!!!


Maka, aku dapat merasakan betul apa yang ada dalam deritanya ketika harus menerima kenyataan tentang kepergian ayahnya tersebut untuk selama-lamanya. Ia terus memperburuk keadaan dengan sulitnya memaafkan diri sendiri, memaafkan masa lalunya, hingga gejala traumanya itu kerap timbul dan tenggelam di sepanjang hidupnya saat ini.


Aku lalu melanjutkan kalimatku seraya mengusap debu yang menempel pada nisan yang bertuliskan nama ayahku itu. "Ia idolaku, mungkin sama dengan apa yang sering bangganya kau ceritakan tentang ayah. Maka, dengan bangga pula aku ingin memperkenalkan, dialah orang terhebat yang dapat membuat aku berdiri menegak sampai saat ini".


Ia mendengarkanku dengan seksama. Melemparkan senyuman dengan jilbab hitam yang tersibak semilir angin siang ini.


"Ia ... selalu ingin mewujudkan segala cita-citaku. Termasuk cita-citaku menjadi seorang arsitek. Ia.. selalu dengan bangga memperkenalkan aku pada teman-temannya, atau saudara-saudaranya, bahwa kelak aku akan menjadi seorang arsitek ternama".


"Ia selalu mengatakan bahwa kepintaranku adalah warisan yang ia turunkan padaku. Ia selalu berseloroh bahwa kelak aku akan membangunkan rumah istimewa untuknya dari hasil rancanganku".


"Ayahku, meninggal saat aku belum sempat mewujudkan segala cita-citanya. Aku.. belum sempat memperlihatkan tanda kelulusanku, jauh bahkan sampai pada mewujudnya cita-citaku menjadi seorang arsitek".


Wita.. menatapku dengan tatapan yang tak dapat aku artikan. Tubuhnya gemetar menahan nafas yang tersengal. Aku melihatnya dengan jelas, ia tengah mengatur emosinya yang mungkin sedang tidak baik-baik saja.


"Kematian akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Banyak kisah yang akan mengantarkannya. Kamu hanya perlu yakin bahwa kamu bukanlah satu-satunya orang yang terpuruk itu. Mulai hari ini belajarlah memaafkan dirimu sendiri! Mulai hari ini maafkanlah masa lalumu! Aku akan merelakanmu pergi, namun aku berharap, segala trauma yang kamu alami berakhir sampai hari ini!"


Ia mengerjap sesaat saat aku melontar


kan kalimat-kalimat itu. Matanya berkaca-kaca lalu menundukan pandangannya pada rerumputan yang ia jadikan tumpuan tubuhnya. Aku lalu melanjutkan kalimatku.


"Berbahagialah untuk hari esok dan seterusnya! Masa depanmu telah menanti, bahkan mungkin cita-citamu akan segera terwujud. Aku doakan, semoga kamu segera mendapatkan anak yang kamu mimpikan itu. Kalau perlu sebelas, biar jadi tim kesebelasan", ucapku yang membuatnya terkekeh memberikan tawa kecil untukku. Ah.. senyum dan tawamu manis sekali Wita. Teruslah seperti ini!


"Jangan hiraukan Adhis! Dia anak hebat karena punya ayah yang hebat", jawabku yang mengundang senyumnya kembali. Aku suka sekali melihat senyumannya.


"Adhis dan aku akan membuat kisahku sendiri yang baru. Kau telah menentukan hidupmu, maka aku hanya perlu terus menjalani hidupku bersama Adhis. Tidak akan ada masalah apapun ke depannya. Seperti katamu Wita, kita telah berakhir. Maka, berbahagialah dengan akhir kisah kita ini!", aku.. memantapkan kalimatku ini meski jauh di lubuk hatiku, terasa perih dan pedih menusuk hampir seluruh perasaanku. Sungguh kebodohanku hari ini merelakan Witaku telah menyeretku pada keterpurukan hatiku. Namun, aku harus melakukannya, karena aku.. tak bisa memaksakan kehendakku memiliki wanita yang ada di hadapanku ini.


Aku rasa, telah cukup hari ini aku mengajaknya berbicara, dari hati ke hati untuk yang terakhir kali. Aku melirik jam di tanganku, lalu mengajaknya untuk beranjak dari sini. "sudah jam empat, aku antar kamu pulang. Atau.. mau ikut mengantarkan jenazah pak Hermawan?", tanyaku.


"Wita.. pulang saja", jawabnya pelan. Aku lalu mengangguk dan memutuskan melangkah mendahuluinya. Namun tiba-tiba langkahku terhenti saat ia memanggil namaku, "Mas Wisnu..", ia menjeda, lalu melanjutkan dengan terbata, "Mba Lastri.. kayaknya.. cocok untuk mas Wisnu".


Aku menoleh ke belakang dan menatapnya, tanpa kusadari aku tertawa mendengar ucapannya, "hahahahah.. apa kamu sedang menjodohkan aku Wita?, bisa carikan yang lain selain Lastri?", ucapku menggodanya.


Ia hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah yang tegang. Aku lalu melayangkan sebuah pertanyaan yang menurutku konyol dan akan hanya membuat hatiku tambah sakit dan perih. "Apa jika.. aku bersama Lastri, kamu akan bahagia?"


Ia tak memberikan jawaban apapun. Ia hanya terus menatapku. Aku dapat menyimpulkan sesuatu yang tak harus aku ucapkan. Aku lalu hanya menjawab permintaannya dengan berkata, "sudah sore, ayo.. aku antar kamu pulang!"


Kami lalu meninggalkan tempat ini. Ada perasaan lega dalam hati, karena aku merasa aku sudah menuntaskan segala tugasku. Aku benar-benar berharap ia dapat melupakan masa lalunya, dan berbahagia dengan masa depan yang ia pilih.

__ADS_1


Kami memasuki mobil yang aku parkirkan di lahan parkir pemakaman. Namun aku merasa, ada sesuatu yang aneh. Aku edarkan tatapanku ke segala arah sebelum aku menstarter mobilku. Bahkan kepalaku aku condongkan keluar untuk memastikan sesuatu. Aku.. merasa ada seseorang yang mengikutiku.


Aku mengabaikan kecurigaanku yang tak terbukti itu. Lalu mulai melajukan kendaraanku. Kami berada dalam mobil dalam hening dan sepi, sibuk pada pikiran kami masing-masing. Hingga akhirnya mobilku tiba di jalanan menuju gang rumahnya.


Aku antar ia sampai menuju rumahnya, dan aku bertemu dengan ibunya. Kulihat ibu Wita tengah sibuk dengan buku undangan yang dapat aku pastikan sebagai buku undangan Wita dan Satria. Aku.. merasa nyeri melihatnya.


"Nak Wisnu.. kok bisa bareng Wita?", tanya ibu Wita dengan bahagia.


"Kebetulan tadi ketemu di rumah almarhum pak Hermawan bu", jawabku.


"Duh, maaf ya ibu gak bisa lama-lama, itu di dalam ada tamu. Nanti air minumnya biar Wita yang nyediain ya!", ucap ibu Wita tergesa dan segera masuk kembali ke dalam rumah.


"Wita.. sediakan dulu minum ya mas?", ucap Wita lembut.


"Gak usah", jawabku. "Aku langsung aja, takut gak sempat ke pemakanan pak Hermawan".


Ia mengangguk. Aku lalu tiba-tiba bertanya sesuatu padanya, "Wita.. kamu.. mau kado apa dariku untuk pernikahanmu?"


Ia hanya mematung tak menjawab pertanyaanku. Beberapa menit aku menunggu tetapi tak ada jawaban darinya. Aku lalu tersenyum dan berucap, "sudah lupakan saja.. aku pamit ya.. assalamualaikum"


"wa'alaikum salam", jawabnya samar dan lirih menyentuh hati ini yang harus segera pergi menjauh darinya.


####


iiih... kadonya mau apa atuuuh?? ada yang bisa bantu jawab?🤭🤭🤭


Sebelum jawab, siapkan juga kado buat aku ya, Spesial untuk hari ini... aku minta vote yang banyak untuk kado terindahnya Wita-Wisnu nanti 🙈🙏. hehehehe


.


.


owh iya reader tersayang.. aku titip doa untuk readernya Selesa Rindu ya..


Syafahallah untuk mamahnya reader Suci Katrisa... Semoga sakit yang dideritanya menjadi kafarat dan segera disembuhkan seperti sedia kala.. Aamiin🤲😍


Allihummagfirlahum..., untuk mamahnya reader Uphe Fenti Agesti dan mamah mertuanya reader Poernama. Mereka yang telah mendahului kita semoga digolongkan menjadi ahli surganya Allah🤲. Aamiin


Untuk kita semua dan keluarga kita tercinta, semoga selalu berbahagia🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


Salam Selesa Rindu...


mmuach.. mmuach...💋💋💋💋


__ADS_2