
Ayo kita coba
Tak akan ada yang salah bukan?
-Wita-
Bandung, Wita-Tarmin
Tangisan para teman sejawatnya pecah tak terbendung, tapi tidak dengan Wita. Ia mampu memberikan senyuman tegar. “Kita masih bisa saling ketemu kok, jangan pada nagis gitu atuh ah..”, pinta Wita pada teman-temannya. Berjuang dengan mereka adalah sejarah yang tak akan pernah Wita lupakan. Bagi Wita, sekolah Embun Gemintang adalah rumah kedua. Tetapi ia harus mengikhlaskan hati bahwa sejak hari ini, tempatnya yang dulu menjadi ladang dari mekarnya semangat bermimpi harus ia tinggalkan.
“Saya meminta pada pihak Yayasan, supaya kamu saja yang mengundurkan diri”. Pernyataan bu Tarmin seminggu yang lalu menghantam pengap dada dan hatinya. Tetapi demikianlah permainan hidup bukan?, seperti perahu yang dinaiki Yunus yang lebih memilih mengorbankan satu awak kapalnya demi selamatnya kendaraan yang mereka naiki dari hujaman badai dan ketidak seimbangan. Sikap Yayasan sekolahnya yang memilih untuk memberhentikannya dengan tidak hormat memang pantas ia terima. Pantas!.
Namun perjuangan bu Tarmin yang menjelma menjadi sosok ibu dan teman baginya benar-benar membuatnya merasa yakin, bahwa hidupnya akan tetap ia tatap dengan rasa percaya diri. Bu Tarmin menolak sikap Yayasan yang dirasanya tidak adil bagi Wita. Bagaimana bisa, Wita mendapatkan ketidakpantasan itu dari sekolah yang selama ini diperjuangkannya. Apakah ketua yayasannya itu tidak tahu atau tak mau tahu bagaimana Wita memperjuangkan setiap titik dari keberhasilan sekolah yang ia pimpin.
Bu Tarmin, bahkan sangat tidak yakin, ia akan mendapatkan sosok Wita yang lain untuk sekolah Embun Gemintangnya. “Ibu punya teman, ia membutuhkan tenaga pengajar di sekolahnya. Sekolahnya sudah berkembang pesat seperti kita, kamu bisa menirimkan cv kamu padanya. Ibu juga sudah membicarakannya dengan beliau”. Ah bu Tarmin, sebaik itukah hatimu. Meski ia selalu nampak tegas dan penuh kedisiplinan, tetapi ia sungguh adalah sosok yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
“Ibu yakin, ini adalah jalan terbaik. Ibu dan guru-guru disini tak pernah menganggap kamu sebagai akar masalah kejadian ini. Seharusnya pihak Yayasan menyadari bahwa kamu justru memperjuangkan kami. Bahkan Fahrezan lebih memilih tetap bertahan menjadi murid kita kan?. Tetapi, kita memang harus menghormati setiap keputusan yang orang lain ambil, termasuk keputusan para petinggi yayasan kita”.
__ADS_1
Ya, tentu saja.. Wita akan senantiasa menghormati setiap keputusan yang diambil. Hingga, saat ini, surat pengunduran dirinya pada sekolah yang ia cintai itu sudah berada tepat di tangan tua Bu Tarmin. “Kamu akan mendapatkan apa yang kamu mimpikan Wita, Ibu yakin!”. Pelukan erat yang diberikan bu Tarmin tak terasa membawanya hanyut dalam buliran air mata. Isak tangisnya yang tipis sungguh menjadi gambaran ketidak relaannya melepas semua perjuangannya di sini. Ia akan rindu pada bunyi lonceng sekolahnya, ia akan rindu pada ketegasan dan kedisiplian kepala sekolahnya, ia akan rindu pada tangis dan tawa anak-anak muridnya, ia akan rindu pada selorohan teman-teman sejawatnya, ia akan merindukan banyak hal tentang apa yang ia perjuangkan di sini.
“Hadiah kecil untuk kamu”, secarik kertas yang ia lihat sebagai surat tugas dari sekolahnya membuatnya sedikit terheran. Ia dapat melihat dengan jelas tanggal yang terbubuh pada pada surat tersebut. “Kamu jangan heran begitu..” bu Tarmin tersenyum seraya beranjak pada sofa kerjanya. “Saya sengaja menetapkan tanggal pemberhentianmu bekerja disini pekan depan. Besok kamu dapat menghadiri diklat ini. Setelah diklat ini selesai kamu baru dapat dinyatakan berhenti dari sekolah ini”.
Bu Tarmin, sebaik itukah dirimu?, ungkapan terima kasih apalagi yang harus ia ucapkan untuk perhatiannya itu. “Saya tahu, ini kesempatan emasmu mencari banyak hal di diklat ini. Sejak awal saya tahu kamu menginginkannya”. Ucap Bu Tarmin.
*****
Bandung, Lanis-Wita
“Aku pikir kamu bisa melakukannya Wit”, jawab Lanis. Senja ini, Wita bersama Lanis menghabiskan waktu di sebuah restoran bernuansa alam yang sejuk. “Jakarta bukan lah tempat yang menyeramkan loh..” selorohya sambil tersenyum.
“Aku pikir kamu mengalami progres yang signifikan. Bersentuhan dengan apa-apa yang berkaitan dengan masa lalu kamu akan membantu mempercepat kesembuhanmu Wit. Kita dapat membuktikannya kemarin, saat persidangan kamu bahkan dapat mengendalikan diri dengan baik. Aku rasa, kehadiran Wisnu dan apa-apa yang melekat dengan dirinya sudah dapat kamu tolelir dengan oke”. Lanis menjelaskan secara singkat analisa rasionalnya tentang perkembangan mental Wita saat ini.
“Jadi.. baiknya aku ambil saja?”. Tanya Wita
“Ambil saja, hanya seminggu ini. Kamu bisa menjadikan momen ini sebagai self healing yang kamu lakukan. Kamu tahu betul sebenarnya, cara menghilangkan trauma yang satu ini memang tidak mudah, yaitu dengan mengingat kembali kejadian traumatis yang dialami, lalu mencoba untuk mengatasi rasa takut yang menyertainya. Hal ini dapat membantu mengendalikan apa yang kamu rasakan secara bertahap. Cobalah untuk berdamai dengan kejadian traumatis yang kamu alami. Pikirkan bahwa kamu harus bisa menghadapi dan melawan rasa takut untuk mengembalikan kualitas hidup kamu”.
__ADS_1
Penjelasan yang sesungguhnya sering ia temukan pada buku-buku yang ia baca semasa kuliahnya. Namun melakukannya tak semudah dengan apa yang tertuang dalam tulisan. Ia bahkan mencoba banyak hal demi memulihkan kesehatannya.
“hmmzzz.. ambil saja. Aku yakin kamu akan baik-baik saja”.
“Tapi.. salah satu pembicaranya.. itu Wisnu Lan” ungkap Wita ragu.
“Biarkan saja, itu tidak akan mempengaruhi apapun. Kalian kan sudah selesai. Kibas.. kibas.. kibas.., semua udah hilang”, Lanis memeragakan kedua tangannya seperti menghalau lalat dihadapan. Terlalu bersemangat mengingatkan Wita untuk menghalau masa lalunya. “Cobalah untuk memaafkan masa lalu Wit, dengan begitu kamu dapat menatap masa depan yang lebih baik. Setelah itu, cobalah kau terima tawaran temanku ya.., kamu bisa memulai kembali hidup kamu. Kamu tetap harus mengalihkan kondisi kesehatanmu dengan bentuk pengembangan diri yang bisa membuatmu lebih percaya diri. Eksistensi kamu di dunia konseling tak harus terhenti karena masalah ini”.
Apa benar yang dikatakan Lanis, bahwa kepercayaan diri Wita telah hilang? Wita tentu tidak ingin, melewati tiap jengkal hidupnya dengan keterpurukan. Ia akan mencobanya, menghalau segala sesak yang terjadi pada dirinya. Mencoba menyugesti diri bahwa ia telah selesai.
“aku akan coba..”
“ya, harus!, kamu itu Wita yang penuh mimpi dan percaya diri. Kamu hanya harus ingat, kemana pun kamu pergi masa lalu itu akan terus ada. Balaslah kejadian masa lalumu itu dengan membuat kebaikan di masa depan”.
Baiklah, besok Wita akan memantapkan diri menerima kegiatan yang Bu Tarmin sebut sebagai hadiah kecilnya. Menandangi sebuah kota untuk ikut serta dalam diklat yang diselenggarakan oleh Asosiasi Internasional yang konsen dalam pengembagan pendidikan anak di Indonesia, Jakarta, kota yang begitu ditakutinya.
####
__ADS_1
terima kasih buat readers yang setia sama Wita dan Wisnu. gak sabar ya kapan ih Wisnu bisa melihat sisi Wita yang sesungguhnya. 🙄
aku sendiri usah siap-siap di bab ini☺️, eh tapi kok belom nyampe juga. yang sabar ya.. semoga 1 sampai 2 bab lagi kita bisa ketemu sama Wita dan Wisnu yg berdamai🤭🤭🤭🥰😘