Selesa Rindu

Selesa Rindu
Mestinya Bahagia


__ADS_3

Kemelut jiwaku lantang berteriak


'kau jatuh dalam remuknya genggaman sendiri'


guratan langit memendungkan rasa


memekik pada hantaman penyesalan


-Wita-


Jakarta, Wita-Wisnu-Lastri-Andra


Semenjak pulang dari rumah Wisnu kemarin, perasaan Wita benar-benar dibuat acak-acakan. Tidurnya terganggu bukan karena mimpi buruk atau ingat akan masa lalu. Tapi perasaan yang berkecamuk yang entah apa menjadi penyebanya. Harusnya ia memilih istirahat saja besok. Untuk lebih menenangkan hatinya. Meninggalnya pak Hermawan bisa menjadi sesuatu yang logis untuk dijadikan alasan ia mangkir dari pekerjaan dan mengistirahatan diri.


Namun, meninggalnya pak Hermawan tentu memberi dampak yang sangat besar terhadap perusahaan. Perusahaan sementara dimandatkan kepada adik kandung almarhum yang menduduki posisi wakil direktur. Wita harus tetap menjalankan aktivitasnya dua hari selepas berita duka itu terjadi. Ya.. tentu, sebab ia perlu melakukan sesuatu sebelum waktu pernikahannya tiba demi memberikan yang terbaik untuk almarhum. Profesionalitas itu harga mati!


Seperti kali ini, Wita tengah mengurusi semua berkas target Assesment karyawan baru bulan depan. Ia telah membuat segala draf sekaligus proposalnya hari ini. Dengan begitu, ia dapat meminta cuti pada perusahaan 3 hari ke depan. Hanya dua hari, ya.. dua hari baginya cukup untuk kembali berada di Bandung menghadapi hari itu tiba.


Ia memantapkan deru langkahnya menuju ruangan Andra untuk mendiskusikan nota kesefahaman mengenai permintaan kliennya. Samar-samar ia dengar suara riang dan nyanyian yang sering ia nyanyikan bersama.. Adhis.


Bintang - bintang di langit malam 


Berkelap berkelip tersenyum ramah 


Bintang - bintang di langit malam 


Berkedip gemerlap begitu indah 


Boleh aku kesana turut bermalam 


Mengagumi kuasa ciptaan Allah 


Boleh aku kesana turut bermalam 


Mengagumi kuasa ciptaan Allah 


Berkelap berkelip hiasan alam 


Berkedip gemerlap di dalam kelam


Dan benar saja.. dilihatnya Adhis tengah bergelayut dalam genggaman tangan sang ayah seraya mendendangkan lagu kesayangannya, lagu kesayangan Adhis bersama dirinya.


"Bundaaa...", teriak Adhis riang menghampiri saat sang anak mendapati dirinya dari kejauhan.


"hai.. Adhis sayaaang.. ". Tanpa aba-aba Adhis berlari dan memeluk Wita, pinggang Wita tepatnya.


"Hei.. bu Wita, udah di sini ternyata?", Andra lalu muncul dari balik pintu ruangannya.


"Ada apa Ndra?", tanya Wisnu menyela.


"Ini pak.. draf untuk assesment bulan depan" jawab Andra sambil membaca dokumen tersebut. "Mumpung bapak di sini, apa sekalian aja?"

__ADS_1


Belum sempat Wisnu menjawab, suara merdu seorang perempuan terdengar menyapa. "hai.. lagi pada kumpul nih?, Wis.. gimana jadi?", tanyanya.


"Jadi..", jawab Wisnu. "Adhis berangkat duluan sama tante Lastri ya..!" pinta Wisnu pada Adhis. Permintaan yang membuat hati Wita sedikit gemetar.


"Nanti saya menyusul. Saya gak lama ko Las!" lanjutnya lagi.


Tanpa diminta, Adhis seketika menuruti perintah ayahnya. Ia melepas pelukan pada bunda Wita dengan wajah ceria. "Ayo.. ayoo!, asyiiik", sorak Adhis.


"Ya udah kita duluan ya, pamit dulu ya Ndra, bu guru..!", ucap Lastri sambil menggandeng tangan Adhis yang sejak tadi sudah tak sabar untuk bermain mandi bola bersama ayahnya. Yang benar saja, mandi bola di hari kerja?, Wisnu sampai harus mencuri jatah waktu makan siangnya sambil menemani anaknya itu mandi bola. Adhis harus ia manjakan, sebab sejak saat ini putri kesayangannya akan benar-benar kehilangan, kehilangan bunda Witanya.


"Di ruangan kamu aja Ndra, saya gak punya waktu", ajak Wisnu pada sang asisten. Wisnu kini benar-benar membuat segala sesuatunya serba singkat dan cepat. Ia harus memastikan bahwa dirinya tak harus berlama-lama berurusan dengan Wita. Sudah tak layak demikian!


Sikap Wisnu yang demikian tentu sedikit menyentil sudut hati Wita. Tak tahukah Wisnu jika Wita bahkan masih berada di gedung ini sedang lima hari ke depan ia harus menikah dengan seseorang. Apa sebenarnya yang dilakukan Wita di sini? Masih merindukan Wisnunya? Adilkah bagi Wisnu, Wita?


Wisnu membaca secara acak proposal yang dibuat Wita. Lalu ia memutuskan menutup dokumen itu, "Aku serahkan saja sama kamu Ndra, kamu yang pelajari, aku setuju-setuju aja. Aku gak bisa lama, Lastri udah nunggu di mobil".


Mba Lastri menunggu di mobil? pergi bersama Adhis? bertiga? Apa mereka? Wita lebih fokus pada fikirannya sendiri. Ada sedikit hati yang tak rela padahal kemarin ia meminta Wisnunya bersama Lastri.


"Saya tinggal dulu ya bu Wita, saya serahkan sama Andra soal proposal dan drafnya", Wisnu tersenyum pada Wita dan meninggalkan wanita itu yang sejak tadi bergeming memandang kabur objek tatapannya.


"have fun, Pak!" teriak Andra yang dijawab dengan anggukan Wisnu sambil melenggang meninggalkan ruangan Andra.


****


Kejadian kemarin di lorong kantor dan ruangan Andra telah mengganggu konsentrasi Wita. Hari ini ia memutuskan mengunjungi kembali kantor Wisnu untuk menyerahkan revisi draft yang kemarin disepakati bersama Andra.


Andra.. ya benar, Andra tujuannya berada di gedung ini. Tetapi entah mengapa sepanjang berada di tempat ini, Wisnulah yang ia cari. Apakah ia hanya ingin sekedar melepas kerinduannya untuk terakhir kali? Bolehkah kali ini ia berkhianat? pada janjinya yang sudah ia pegang teguh, untuk tunangannya, Satria.


Berjibaku dengan dokumen-dokumen yang ia siapkan bersama Revita membuat Wita sibuk dan lelah. Revita hari ini sudah mulai berada di Jakarta. Kemarin ia harus ditahan oleh direktur sementara untuk membahas beberapa kontrak kerjasama dengan klien, termasuk dengan perusahaan yang Wisnu pimpin.


Sesekali Wita meminta izin ke luar dengan dalih kantin, shalat dhuha di mushola, dan.. entah apalagi alasan yang tak logis yang ia sebutkan pada Revita. Namun, orang yang ingin ia temui, bukan! yang ingin ia lihat, tak kunjung ada di hadapan mata.


Sampai menjelang malam, ia memutuskan untuk menyelesaikan semua tugasnya. Berharap dengan demikian ia bisa menemui lelaki yang terus memenuhi isi kepalanya.


"Mba beneran ini mau diselesaikan sekarang? besok-besok kayaknya masih bisa deh. Kalau habis mba-nya honney moon juga kayaknya pak Wisnu gak bakalan apa-apa", Revita berucap setelah baru saja mengetik beberapa kalimat pembuka dalam dokumen laporan kegiatan kemarin di Lembang. Beberapa menit lalu Revita menuntaskan kontrak program Assesment yang akan dieksekusi kegiatannya bulan depan.


"Aku mau tuntasin hari ini Rev, besok aku mau mulai menginventarisir kebutuhan Assesment, bulan depan bisa langsung kelarin. Takutnya bukan aku nanti yang nanganin", ya.. Wita mungkin berniat berhenti dan benar-benar pergi dari hidup Wisnu. Seperti itu rencananya, meski tentu apa yang telah dilakukannya hari ini sangatlah bertentangan dengan segala rencananya itu.


Sebuah dokumen kontrak program kini sudah berada di tangannya. Ia melenggang pergi menuju sebuah ruangan yang membuat hatinya dagdigdug. Padahal jam sudah menunjukan pukul 19.00. "Kata pak Andra hari ini mas Wisnu ada lembur, mungkin sekarang ada di ruangannya".


Setelah naik beberapa lantai di gedung ini, Wita akhirnya tiba di depan pintu ruangan Wisnu. Ditemuinya sekretaris Wisnu dan mengutarakan maksud serta tujuannya.


"Lho.. bu Wita gak ngehubungi dulu pak Andra?", tanya Putri padanya. Ia hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Pak Wisnu ada acara makan malam sekarang, sama bu Lastri", ucap Putri yang membuat hatinya semakin bergetar tak karuan. Secepat kilat ia menghubungi Andra lewat ponselnya.


"Hallo.. pak Andra.. Pak Wisnu sekarang dimana?"


"Sky Garden Cafe mba.., lagi makan malam. Ada apa?"


"Saya ke sana.. mau minta tanda tangan beliau".


Secepat kilat ia berlari menuju lobi dan memesan motor online untuk mengantarkan dirinya ke tempat yang Andra sebutkan.

__ADS_1


Hingga dengan tanpa kontrol diri yang baik kini ia tengah berada di teras cafe dan menghubungi Andra.


"Disana mba...", Andra menunjuk sebuah meja bundar dan kursi kayu yang diduduki oleh Wisnu. Wita lalu berjalan pelan menuju tempat itu.


"Pak Wisnu..", ucap Wita. Sontak ucapannya membuat Adhis yang duduk diapit antara Wisnu dan Lastri berlari ke arahnya.


"Bundaaa....", Adhis memeluk Wita yang dibalas dengan senyum serta belaian di puncak kepala oleh sang bunda.


"Hai.. sudah sampai? dianter sama siapa?" tanya Wisnu sebab ia tahu jika Wita akan menemuinya saat ini. Andra memberitahukan jika ada dokumen yang harus ia tanda tangani. Wita menjawab tanyanya dengan gelengan kepala pelan.


"Sendiri?", tanya Wisnu sedikit kaget. Ia tak bisa membayangkan jika kejadian tempo hari terulang lagi.


"Ya sudah, duduk dulu!" pinta Wisnu padanya. "Adhis duduk lagi di kursi Adhis ya..!! makannya habiskan! Adhis kan udah janji", ucap Wisnu pada sang anak.


"iyah.. sini sayang habiskan makannya!", ucap Lastri menyela.


Kehadiran Lastri kali ini sungguh... membuat nafas Wita sesak! Dilihatnya sang Adhis duduk di samping Lastri. Anak itu memakan makanan kesukaannya dengan lahap dan.. mandiri. Ingin rasanya ia diminta kembali dengan manja oleh sang anak untuk disuapi. Seperti dulu menangis dan merèngèk hingga makanannya ditumpahkan oleh sang Adhis. Biar saja seperti itu, agar ia dapat merasakan hangatnya manja sang anak pada dirinya.


"Ada lagi yang harus saya tanda tangani?", tanya Wisnu setelah menyelesaikan tanda tangan terakhir di dokumen yang Wita serahkan barusan.


Wita tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala dan menerima dokumen itu dari tangan Wisnu.


"Sudah makan?", tanya Wisnu yang hanya dijawab dengan tatapan dan diam. "Aku pesankan ya.., makan dulu sebelum pulang!"


Wisnu memesankan makanan favorit Wita, sebab saat diminta menu apa yang diinginkan Wita tetap diam. Inisiatif Wisnu ini membuat Lastri memahami dengan jelas sedalam apa cinta yang mereka miliki. Hingga satu hal yang membuat sang artis tersenyum samar, dengan sigap Wisnu berucap pada sang pelayan, "pake bawang daun mentah ya.. goreng bawangnya ganti sama itu aja.. sama.. bumbu pedasnya dipisah !"


Makan dengan dentingan sendok, lalu sesekali melirik ke arah Adhis yang nampak belepotan dengan nasi dan sayur, Wita benar-benar berada di ambang batas sesak dan sesal. Sejenak ia pun melihat, Lastri memberikan perhatian manis pada kedua manusia yang ia rindukan ini, melap pipi Adhis yang basah dan memberi segelas air putih pada Wisnu.


Wita tak mampu lagi melihat adegan yang ada di hadapannya itu. Ia lalu menandaskan hidangannya dan berpamitan pada sang Wisnu.


"Diantar sama Andra ya.. Andra sudah nunggu di depan", Wita hanya mengangguk pelan menerima perintah Wisnu saat ia perpamitan untuk pulang.


"Bu guru.. selamat ya.. katanya mau nikah minggu ini. Maaf saya gak bisa hadir soalnya sudah diagendakan untuk ke luar negeri", ucap Lastri memotong langkahnya.


Wita menoleh lalu menatap Wisnu yang tersenyum ke arahnya, "kaliaan.. apa kalian sengaja membuat hatiku begini..?"


Wita tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju mobil yang akan dikemudikan oleh Andra. Sekuat tenaga ia tahan tangis dan sesak di dada. Hingga tiba di mobil, duduk dan memasang sabuk pengaman. Ia dekap dokumen kontraknya tadi dan membekap mulutnya yang kini mulai bersuara. Tangisnya pecah dalam hening malam dan gerimis hujan kota Jakarta.


Dalam heningnya malam itu, suara Andra terdengar menghujam dadanya.. "jika memang harus diikhlaskan seperti ini, mba Wita.. harus bahagia. Karena yang diinginkan Pak Wisnu.. adalah kebahagiaan anda.. mba Wita".


Tangisnya kembali pecah dan merintih.. menyayat seluruh lorong hati yang pedih.


#####


jangan sedih terus ih.. soalnya sampai hari ini aku bahagia bangeeeet... pembaca novelku terus beranjak naik. 🥳🥳🥳


Punya karya dengan penikmat setia itu benar-benar anugerah. Sehat-sehat selalu ya kesayangaaan🤗🤗🤗


Mau minta maaf juga hari ini😔😔😔 soalnya dua hari ke depan aku mau off dulu. Ada tugas ke luar kota, mudah-mudahan ketemu Wisnu di sana. 🤣🤣🤣


Sambil nunggu Wita reda nangisnya nih... terus bantu promoin novel aku ya.. semoga banyak kabar baik dua hari ke depan. Aku target naikin rating dan followers. Bantu terus aku ya...😭😭😭✌

__ADS_1


__ADS_2