
Kau itu dedaunan kering
yang terselip pada buku hatiku
berwujud indah dan tak berdebu
-Wisnu-
Bandung, Salim-Wisnu-Wita-Satria
"Baik bang, Salim tunggu", sore ini kesempatan yang baik bagi Salim sebelum Wisnu pulang ke Jakarta. Latar belakang pendidikan Wisnu akan sangat membantu kesulitannya kali ini. Sama-sama mengambil kosentrasi pendidikan arsitektur sempat beberapa kali berdiskusi dengan Wisnu.
Tetapi bukan hal itu yang melatarbelakangi keterbukaannya terhadap Wisnu. Mengetahui jika Wisnu adalah masa lalu Wita yang akan bertanggung jawab dengan derita yang Wita alami saat ini, Salim menyadari seutuhnya jika Wisnu adalah jawaban keterpurukan yang dialami sang kakak.
"Gak apa kalau sore kan Lim?, saya harus bertemu klien dulu di PVJ". Jawaban Wisnu dalam teleponnya. Sore tentu tak apa bagi Salim sebab hari ini adalah hari dengan waktu terluang yang ia miliki.
"Wita sedang ada Lim?", tanya Wisnu dalam jedanya.
"Kakak sedang keluar sama ibu, katanya ke pasar buat masak-masak nanti sore", jawab Salim santai.
"owh.., dia.. maksudnya.. kakak kamu.. tidurnya bagaimana?".
"Semalam gelisah lagi bang, saya sama ibu sampai bangun kira-kira jam 2 malam. Kakak tiba-tiba teriak gitu. Kayaknya mimpi buruk lagi".
Wita, apa yang harus dilakukan Wisnu untuk menyembuhkan segala luka yang tak pernah bisa Wita singkap dan utarakan pada dunia. Wita, sampai kapan luka itu akan kau simpan dalam duka?, hingga Wisnu harus meneguk pahitnya cinta tak berbalas dan cinta berkarang duka masa lalu.
"Ya sudah kita ketemu sore saja ya Lim, siapkan saja sumber-sumber yang tadi saya sebutkan", lanjut Wisnu.
"Baik bang".
****
"Kamu mah pasti we demennya rasa coklat, gak seru ah Wit cokelat melulu", seloroh Rani di dapur kecil milik Wita. Dapur yang menyatu dengan ruang tengah dan ruang makan itu nampak berantakan dengan berbagai adonan kue yang di dominasi cokelat.
Rencana pertemuan Satria dan Wita empat mata harus gagal karena kehadiran Rani dan Lanis di rumahnya itu. Tapi jangan salahkan Rani dan Lanis, sebab tadi pagi Wita menghubungi kedua sahabatnya untuk datang sore ini dengan agenda membuat kue bersama.
Bagi Lanis dan Rani, persahabatan adalah harga mati yang harus diperjuangkan. Maka, dengan seizin suaminya Rani dapat meluangkan waktunya sore ini berkunjung ke rumah Wita. Sedangkan Lanis, ia harus membatalkan kencan pertama bersama calon suaminya demi memenuhi undangan Wita. Ya, Wita bukan hanya sahabat bagi mereka, tapi Wita adalah seonggok jiwa yang membutuhkan pertolongan mereka.
Satria hanya dapat menghela nafas panjang melihat pemandangannya sore ini. Apa Wita tidak tahu kalau Satria membutuhkan waktu privasi bersama dengannya?
Bertemu dengan Lanis dan Rani bukanlah hal yang penting bagi Satria. Rani dan Lanis teman semasa SMA Satria itu harusnya mengerti jika sekarang status Satria bukan lagi teman SMA bagi Wita, harusnya mereka menyadari jika Satria kini telah berubah status menjadi... tunangan Wita.
"iyah.. nanti aku buat rasa yang lain. Vanila kan?", jawab Wita menghentikan ocehan Rani yang sedari tadi menggerutu kesal. Lanis bahkan tertawa mengejek sang sahabat yang sudah jelas terlihat cemberut.
"Kalian dari dulu gak ada berubah-berubahnya ini", sela Satria seraya mengunyah kue buatan Wita. "Lihat tu Wita, jadi lebih kalem dan anggun", lanjut Satria jemawa.
__ADS_1
Lanis dan Rani hanya dapat saling memandang dan tersenyum. Seperti saling mengerti dan memahami dalam tatapan mereka yang beradu satu sama lain. Tentu saja Wita berubah, butuh banyak luka dan kenangan pahit yang tak mau Satria ketahui catatan sejarah itu bermula dan berakhir.
Riuh canda dan tawa keempat orang yang merupa reuni semasa SMA itu terdengar hingga ke ruang tengah, hingga sosok Wisnu berdiri tepat di depan mereka.
"Ayah Adiiiis...", teriak riang Rani sontak membuat Wita mendongkak dan menatap ke arah Wisnu. "Apa kabar? gak sama Adhis?".
"Alhamdulillah, kabar baik teh Rani. Adhis sudah di Jakarta", jawab Wisnu ramah.
"Pak Wisnu..", Lanis menghampiri. "Apa kabar?".
"Kabar baik bu dokter", Wisnu menyambut uluran tangan Lanis dan melangkah menuju meja makan tempat mereka berkumpul.
Wita hanya terus berfokus pada adonan yang tengah ia cetak di atas loyang kue. Fokus pada apa yang sedang ia lakukan saat ini adalah jalan terbaik. Ia harus mengatur ritme jantung dan nafasnya saat ini.
"Apa kabar Satria?", tanya Wisnu datar.
"Baik pak Wisnu", jawab Satria.
"Ayo cobain kuenya nih, enaak banget, Wita yang bikin". Rani menyela ketegangan yang nampak pada raut wajah Satria dan Wisnu.
"owh ya.. saya coba ya", Wisnu mengecap setiap inci rasa yang menyusup ke sela-sela lidahnya. Kue yang ia kenali rasanya itu kini dapat ia rasakan kembali. Kue yang sesekali menempati tas ranselnya. Menemani perjalanannya meniti setiap detik dalam mewujudkan segenap cita-citanya antara Bandung-Jakarta, dulu.
"Ceritanya kita dapat tamu tak diundang ini?" selidik Satria seraya menatap Wisnu dengan penuh curiga.
Tak sempat menjawab sindiran Satria, suara Salim terdengar seraya menuruni tangga. "Bang Wisnu, sudah sampai? kenapa gak kasih tau?".
Suasana dapur milik Wita kini nampak berbeda. Hanya terdengar ocehan Rani dan Lanis yang memecah suasana yang nampak mencekam. Sedang Satria dan Wita memilih bungkam dengan pikirannya masing-masing.
Hingga menjelang magrib tiba, Satria memutuskan pamit selepas sebuah panggilan masuk menghubungi ponselnya. "aku ada janji temu sama klien Wit, aku pamit dulu aja ya! kalau kamu berubah fikiran buat mulai nyicil persiapan pernikahan kita, kamu kasih tau aku aja".
Lanis dan Rani pun akhirnya beranjak pulang. Wita tatap semua hasil karyanya yang telah sebagian dibawa pulang oleh kedua sahabatnya dan.. Satria. Kue kesukaannya, kue yang dulu sesekali menjadi bekal Wisnunya. Apa yang sudah ia lakukan hari ini?, seharusnya hari ini adalah hari berduaannya dengan Satria. Namun apa sesunguhnya yang ada dalam fikirannya, hingga memanggil Rani dan Lanis?
Wita lalu menatap kamar milik adiknya, Salim. Di dalam sana, sosok yang ia rindu itu berada. Entah sampai kapan Wisnu ada di sana. Mungkin, sama dengan teman-temannya yang lain. Wisnu akan beranjak pulang dan ia tak harus bertemu dengan Wisnu saat ini. Ia lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya, ia naiki tangga dengan sugesti dalam diri. Hadapi Wita!, Lanjutkan tekadmu!.
Adzan maghrib kini berkumandang, Wita dengan mukena berwarna biru muda menunggu setia sang adik yang senantiasa memimpin shalat berjama'ahnya bersama ibu.
"ibu wudhu dulu ya", ungkap ibu pada Wita yang tengah duduk menghadap kiblat di mushola rumahnya. "iya bu..".
Sayup-sayup Wita dengar suara yang sejak tadi menggetarkan hatinya. Tertawa bersama sang adik, semakin jelas menuju bibir pintu. Wisnu kini berada di mushola kecilnya, berdiri memunggungi dirinya. Tubuh tegapnya sungguh membakar setiap detak jantungnya, memanas pada keheningan jiwa yang rimba. Sesat semakin dalam dan sayu dalam rindu.
"Kamu imam Lim?", tanya Wisnu pada Salim.
"Abanglah.. masa saya. Kan ada yang lebih tua"
"Hahahaha..", tawa Wisnu tersengar menggema.
__ADS_1
Dengan iqomat syahdu yang dilantunkan oleh Salim, Wisnu memulai takbirnya dengan penuh ketundukan.
Allohu akbar...
....
Tabaarokalladzi biyadihil mulku...
Mata Wita kini memanas, wajahnya menunduk dan matanya berkaca-kaca menahan segala tangis yang ingin ia pecahkan.
Hingga jekhusyuannya saat berdoa setelah mengucap salam tergoyahkan dengan ingatan tentang sang ayah. Yang selalu menjadi imam dalam setiap shalat magribnya. Lalu memenuhi tawanya di senja itu, "keinginan ayah mah gak muluk-muluk, cukup dia bertanggung jawab dalam hidup kamu, bisa menjadi imam, tak hanya imam dalam shalatmu, tetapi imam dalam setiap langkah hidupmu".
Ayah.. inilah Wisnu yang ingin Wita kenalkan itu. Ayah.. inilah Wisnu yang Wita tunggu itu. Ayah.. inilah Wisnu yang akan menjadi menantu ayah itu. Ayah.. inilah Wisnu yang akan menjadi imam itu..
"Wita..", suara Wisnu kini memecah keheningan hatinya. Ia tetap menunduk diatas sajadahnya yang membentang dengan segala rasa yang membuncah.
"Saya pamit dulu ya, saya harus ke Jakarta. Andra sudah marah-marah aja nih karena saya bolos terus".
Wita tetap mematung dalam tunduk menahan gelisah yang membuncah.
"Saya usahakan bisa kesini minggu depan, selama itu, kamu jaga diri ya..., jangan terlalu lelah.., tidurnya gak malam-malam..."
Hening merajai ruangan itu...
"tidurlah yang nyenyak, bermimpilah yang indah..!".
Dalam hening tak bergeming, Wita mengangkat wajahnya dan menatap Wisnu yang menyejajarkan dirinya dengan duduk bersila. Tak terasa air matanya jatuh dalam tetes yang teduh. Berbalas senyum dari Wisnu dan menyimpan pesan, dengan suara yang lirih dari sosok tegap yang namanya tersemat dalam hati, Wisnunya bersuara..
"Jangan lagi bersedih...!"
#####
hello kesayangan aku.....π€π€
makasih yaa readers sayang,,sudah menemani mas Wisnu dalam meluluhkan hati Wita..
gimana nih up kali ini???
gereget apa gemes nihπππ
gimana ya biar Wita luluh nih??π₯Ίπ₯Ί
yuk,sayang sayang nya aku,,biar Wisnu makin semangat dan makin kreatif meyakinkan Wita,vote dan kasih bunga nya yang banyak yaa...πππ
biar mas Wisnu makin romantis ke Wita...
__ADS_1
selamat membaca readers...makasih banyak yaa
mohon maaf lahir batin kalo ad typo.hihihiπ€