Selesa Rindu

Selesa Rindu
Lari Saja


__ADS_3

Adalah ketirnya cinta


Membungkus asa berbalut temaram


Tak jelas dan suram


-Wita-


Bandung, Wita-Wisnu-Rani


Wita berlari, menelusuri lorong-lorong kelas sekolah kebanggaannya. Apa ini? Ada apa ini? Tolong jangan! Jangan begini!. Ini bukan waktu yang tepat. Tolonglah.


Berlari kencang harus ia lakukan, lakukan sekarang! Mengapa tidak pernah terpikirkan olehnya, seharusnya ia belajar melatih diri berlari seperti para pelari atletis agar tujuannya segera ia dapatkan. TOILET!. Ini sudah tak lagi bisa dikendalikan. Seluruh tubuhnya sudah tak dapat ia kondisikan untuk berdiri tegak. Kemana keberaniannya yang selama ini ia miliki?. Bukankah ia sudah membuat semua catatan kecil dalam gambarnya dengan banyak kata keyakinan?.


Jika mendapati kehadiran Wisnu ia akan tersenyum.


Jika mendapati kehadiran Wisnu ia akan meminta maaf.


Jika mendapati kehadiram Wisnu ia akan memastikan Wisnu bahagia.


Jika mendapati kehadiran Wisnu ia akan berdamai dengan dirinya.


Jika mendapati kehadiran Wisnu ia akan menjelaskan segalanya.


Jika mendapati kehadiran Wisnu ia akan …


Mengapa segala rencana yang telah ia susun justru tak ada dalam ingatannya? Haruskah Wita melemah saat ini? Tolonglah, bukan begini rencananya.


BRAK!! Dibukanya pintu kamar mandi yang menjadi tujuan utama dalam larinya yang kencang. Hueek.. hueeek.. ia memuntahkan segala isi perut yang mendadak mendorongnya mual. Tangannya gemetar, keringat mengalir dari setiap sudut tubuhnya. Nafasnya sesak!! Gemetar ia merogoh ponsel di saku blazer yang ia kenakan.


Keringat yang mulai menyusup pada pori-pori kulit menemani kalapnya Wita dalam ruangan dingin itu. Tangannya mengerat pada dinding yang sulit ia genggam agar setidaknya ia tak oleng untuk menopang tubuhnya yang mulai terasa melemah. Nafasnya sudah tak dapat lagi ia ajak berkompromi untuk ia atur. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa rekan kerjanya akan mendapatinya yang tak berdaya? Atau bahkan mereka akan menemukan kebenaran tentang Wita sesaat lagi?. Tidak!, jangan!!. Tolong jangan!!. Haruskah pertahanannya yang ia bangun selama bertahun-tahun harus runtuh?. Ia harus segera melakukan sesuatu. Segera!


Ditekannya tombol cepat dengan gemetar, dengan nafas terengah dan kepala yang cukup oleng ia sandarkan punggungya pada dinding kamar mandi itu..

__ADS_1


Tuut.. tuut..


“hallo.. Wit”


“Lanis.. tolong aku!”.


 


Pingkan nampak mulai resah dengan situasi yang tak biasa ini. Wita meninggalkannya untuk hal yang tak dia mengerti. Pingkan! sebentar aku harus ke luar, tolong catat pertanyaan apa saja yang harus aku jawab!, hanya kalimat itu yang ia terima lewat bisikan resah Wita. Dia anggukan saja permohonan tak logis teman kerjanya itu tanpa rasa curiga. Diliriknya jam tangan yang melekat di tangannya. Sudah hampir 30 menit waktu berlalu, bahkan saat ini ia sudah memberikan sesi tambahan forum diskusi para orang tua, demi mengulur waktu menunggu sang pembicara tiba.


Wisnu nampak menggelengkan kepala. Tak habis pikir, gumamnya. Sepertinya dahulu ia memang salah melabuhkan hatinya pada wanita yang bernama Wita itu. Ia tak ubahnya seperti wanita tak bertanggung jawab yang hanya dapat melakukan pelarian atas kesalahan yang ia perbuat, pengecut. “ia memang tak berubah, penampilan dan gelarnya saja yang berubah. Selebihnya, tetaplah sama. Musang berbulu domba”, Wisnu menggumamkan kalimat yang tak henti-hentinya menari-nari dalam pikirannya. Wita memang layak disingirkan dalam kehidupannya.


Kembali Wisnu memainkan seluler yang ia pegang. Membuka setiap pesan yang masuk dalam aplikasi pesannya itu. Tayangan dalam layar ponselnya lebih menarik daripada situasi saat ini. Pertanyaan-pertanyaan para orang tua yang ia dengar begitu antusias tak sedikitpun membuatnya tertarik.


Nampak pesan kakaknya yang cerewet memenuhi chat pribadinya.


Gimana acara parentingnya? Lancar?


Ini Adis udah nangis-nangis terus nanyain kamu. Masih lama?


Kok gak dibalas sih?


Seru kayaknya acara parentingnya ya? Teteh emang gak salah pilih sekolah kan? Sekolah Embun Gemintang memang the best


Haah? Sekolah the best? Wisnu pastikan sekolah yang bernama Embun Gemintang ini sebentar lagi tinggal nama. Karena ulah sang guru yang bernama Wita. Lalu? Wita sepertinya akan segera menjadi ‘buronan’ kepala sekolah dan pemilik yayasan. Hahaha, tapi jangan khawatir, seorang ‘buronan’ bernama Wita akan selalu ada jalan untuk lari dari kenyataan. Seperti yang ia lakukan dahulu. Mencari tanpa jejak, memohon tanpa jawab.


7 Tahun Lalu


Satu malam tanpa sebuah kepastian, Wisnu akhirnya menyerah. Biarlah ia meminta dan memohon saja. Persetan dengan segala mimpi dan cita-citanya. Persetan dengan harga diri. Persetan dengan mimpi-mimpinya yang sudah ia bangun merupa deret ukur prestasi, tata ruang karir, dan penataan kata sukses dalam hidupnya.


Kamu ingin menikah segera kan Wita?. Ayo.. aku bahkan bisa melakukannya malam ini juga!!. Amarah dan resah Wisnu tak karuan, menjadi sempurna melolong membabi buta saat ponsel Wita justru tak dapat ia hubungi sama sekali sejak sore tadi. Sejak marah dan sesaknya diluar kontrol akalnya sebagai lelaki.


Kita perlu bicara Wita! -send-

__ADS_1


Ayo kita bicara Wita, tolong!. -send-


Kamu sebenarnya mau apa Wita? -send-


Siapa lelaki itu? Apa dia lebih hebat dariku? -send-


Jawab pesanku Wita!!! -send-


Kamu benar-benar menghindariku Wita? -send-


Ayolah Wita.. apa aku menyakitimu? aku ada salah? -send


Wita tolonglah.. jangan bengini!! -send-


Wita.. -send-


Wita.. -send-


Jawab pesanku Wita! -send-


Wita.. kita menikah ya! kita Wita -send-


Wita, I love you…-send-


Tahukah Wita? Bahwa sesungguhnya ia tengah mengubah segalanya. Wisnu menghilang merupa sosok yang berbeda. Setelah seluruh hidup Wisnu menjadi semrawut atas keputusan dan sikap yang Wita ambil. Maka berlari menjauh menjadi jalan tempuh penuh amarah dan dendam. Mencumbu hari dari sekedar jarak Bandung-Jakarta bukanlah lagi jalan hidupnya. Bahkan ujung dunia saja tidaklah cukup. Wisnu dengan segenap ambisi yang menggebu akan membuat benteng pertahanan yang kokoh dengan seribu ilmu dan jurus, kalau bisa melebihi kokohnya tembok Cina, atau Tembok besar Sacsayhuaman Amerika, jika perlu merupa Tembok Dubrovnik Kroasia atau seperti Phoenician Marine Wall, Lebanon.


Hancur berkeping bukanlah lagi padanan kata yang tepat untuk disematkan pada Wisnu. Karena remuk telah menjadi rasa sakit yang ia rasakan dulu. Pecah dan luluh lantah dalam diam dan dendam. Saat itu boleh saja ia mati dalam hidup, tetapi hari ini ia tak lagi harus menundukkan diri dalam kehancuran. Ia menegak dengan keberanian sejak saat dulu, saat memutuskan pulang ke Indonesia, kembali.


****


“Wita, kamu memang tak pernah ada. Selalu lenyap dengan ulahmu sendiri. Kamu!, nampaknya sedang menggali kuburanmu sendiri. Sekarang!”


Seringai senyum puas tersungging dalam bibirnya. Entah kepuasan apa yang membuatnya tersenyum. Kekacauan yang dibuat Witakah? Atau.. pertemuan yang tak diingikannya? Kebencian macam apa yang ia simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun ini? Ataukah? Rindu macam apa yang ia pendam selama rentang waktu tak berbalas ini? Biarlah takdir yang menjawab.

__ADS_1


__ADS_2