
mari menoleh ke belakang
nyatanya aku sama bodohnya dengan masa lalu hitamku!!
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Teh Rumi-Wita
Wisnu Pov
Perasaanku hari ini tak karuan. Bekerja bersama Andra tak seperti biasanya. Melewati jadwal meeting dan bertemu dengan klien dalam kondisi yang tak berkonsentrasi. "Ada apa sih bang? gak biasanya kurang fokus begini?". Tender yang barusan aku tanda tangani dengan perusahaan asing hampir saja gagal gara-gara ulahku yang tidak fokus dengan pekerjaannku.
Aku tersenyum sumbang pada asistenku. Lalu menjawab segala kegundahannku hari ini dengan pernyataan bernada gamang. "Aku belum berhasil menyembuhkan traumanya Wita kayaknya Ndra. Wita malah jadi tambah sakit kelihatannya".
Sejenak aku merasa, telah gagal membawa Wita menuju singgasana 'bahagia' yang aku inginkan. Hatiku berdenyut perih membayangkan itu. Orang yang telah menjadi poros bahagiaku, nyatanya belum bisa bahagia seutuhnya bersamaku. Tapi aku tak boleh menyerah bukan? Bukankah aku telah membulatkan tekadku, bahwa apapun yang terjadi aku akan menyembuhkan Wita dari trauma yang ia alami akibat ulahku di masa lalu.
"Emang kelihatannya gimana bang?, masih suka susah tidur?", tanya Andra padaku. Aku memang tak pernah menemukan Witaku kesulitan tidur kecuali wajahnya yang semakin pucat dan sesekali memuntahkan isi perutnya. Tiga hari ini aku memintanya untuk beristirahat setelah dia bersikukuh agar tak menemui Lanis. Sejak dulu ia tak ingin memeriksakan kondisi psikologisnya pada siapapun.
"Enggak Ndra, cuma muntahnya itu sampai gak mau makan seharian", jawabku menerawang. Kondisi Wita sangat tidak baik menurutku. Aku bahkan meneritakan kondisi istriku itu pada Teh Rumi. Seolah mengerti apa yang aku butuhkan, dua hari sudah Teh Rumi berada di Jakarta dengan dalih persiapan resepsi yang sudah mendekati H-8. Nyatanya, Teh Rumi menggantikan peran Wita yang kini hanya mampu terbaring lemah. Teh Rumi memang mamahnya Adhis yang luar biasa. Aku bersyukur karenanya.
"Jangan-jangan mba Wita..!", Andra menjeda dalam kalimatnya. Ia menggantungkan kalimat yang jelas membuatnya ragu untuk melanjutkan ucapannya itu. Ia mungkin tahu jika dugaannya akan menyalakan api ketakutanku yang selama ini aku endapkan dalam-dalam.
"Jangan-jangan apa Ndra?" tanyaku disertai degupan jantung yang tak menentu. Was-was sendiri jika memang dugaanku dengan Andra nyatanya sama.
"Hamil..", jawabnya lemah. Aku mengusap kasar wajahku. Bayangan Restari terbujur kaku di atas blankar Rumah Sakit selepas melahirkan Adhis tiba-tiba menyerang ingatanku. Bolehlah aku egois saja? bahwa aku hanya membutuhkan Wita dalam hidupku. Aku begitu kerdil untuk menyadari bahwa takdir Tuhan sedemikian menguasaiku. Aku ternyata hanyalah lelaki berlabel manusia bodoh yang tak mampu mengibarkan bendera keberanian dan keyakinan bahwa garis kehidupan yang diguratkan oleh Tuhan tak selamanya sama.
"Astagfirullah...", aku menangkupkan kedua telapak tanganku. Gemetar bersamaan dengan gemuruh jantung berdegup kencang dan nafas tersengal. Kini.. jika hukum karma nyatanya ada dalam hidup, maka sebut saja hal itu telah berlaku padaku. Aku bisa merasakan perihnya trauma yang Wita alami. Menusuk setiap sendi nyawa yang kita miliki. Pengap dengan sisa nafas yang tak pernah tau akan berujung pada tepian hidup yang mana.
"Aku tak sanggup Ndra..", ucapku tanpa berani membuka tangkupan kedua telapak tanganku. Mataku enggan membuka untuk sekedar melihat cahaya lampu kantor di waktu yang kini beranjak malam. "Aku hanya butuh Wita, aku tak perlu Wita melahirkan anakku, tak perlu!", ucapku lirih hingga suara sesuatu terjatuh begitu jelas terdengar di telinga. Mataku membulat melihat sosok yang namanya baru saja aku sebut. Aku mematung menatapnya yang berdiri di hadapanku. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata, Wita berlari menuju pintu keluar meninggalkan tasnya yang terjatuh. Tas yang nampak menghamburkan segala isinya berserak di lantai.
"Wita.. Wita.." aku mengejarnya setelah beberapa menit mematung seperti lelaki bodoh. Aku seperti terhipnotis dengan suasana yang tiba-tiba mencengkam. Dan hari ini.. mencekam bukan lagi kata yang sepadan dengan nasib yang aku alami. Setelah Andra mengungkapkan kalimat yang menohok untukku. Dalam nafasku yang tersengal mengejar mobil yang membawa Wita kini telah lenyap dari pandanganku.
"Semoga, Pak Wisnu tidak lagi membuat cerita yang namanya kehilangan mba Wita!!"
__ADS_1
***
"Ayolah Teh... ini gak adil buat Wisnu, kasihan Wita Teh". Teh Rumi selalu mengabaikan rengekanku untuk menemui Wita. Dua hari Teh Rumi memisahkan aku dan Wita pasca kejadian tempo hari di kantorku. Aku prustasi dibuatnya. Dimana Wita sekarang? Kata Salim Wita ditemani ibu istirahat di suatu tempat. Saat kejadian Wita mendengarkan ocehan bodohku, Wita sudah tak ada di rumah. Aku menyusulnya ke Bandung pun tak ada. Lalu kakak tercintaku menceramahiku dan berujung kalimat, "Wita sama Teteh di kirim ke tempat aman. Kamu jangan khawatir ia ditemani ibu. Kamu, DILARANG MENEMUINYA sampai Wita melahirkan!!!" Mengapa Teh Rumi membuat perkaraku semakin rumit saja?
"Tolonglah Teh!! Wisnu gak bisa hidup tanpa Wita. Wisnu juga pengen ketemu anak Wisnu", ucapku sambil memandangi foto hasil USG atas nama Dewita Maharani. Ada desir kehangatan saat memandangi buah hatiku yang masih nampak gumpalan darah itu. Kamu apa kabar nak?? ayah kangen!
"Biar tahu rasa kamu!!, istrinya hamil malah gak mau. Dimana-mana kalau punya istri itu pengen cepet punya anak", delikan mata Teh Rumi membuat bulu kudukku bediri. "Wita sama bayinya harus sehat, deket sama kamu yang ada bikin Wita tambah sedih. Teteh aja pasti gak bakalan kuat kalau tau suami Teteh gak menginginkan anak dari Teteh".
Aku tak mengindakan ocehan kakakku itu. Aku membuka ponsel dan megirimkan sebuah pesan pada Wita. Pesan yang kutahu tak pernah terbaca olehnya karena ponselnya juga ikut Teh Rumi lenyapkan dari jangkauanku.
Wita..
Mas kangen
Anak kita apa kabar?
Sehat-sehat ya kalian!!
Disela aku memandangi pesanku itu, pesan dari nomor asing kini masuk dan sontak membuatku berdiri, berlari dan mengambil kunci mobilku.
"Hei.. kamu mau kemana? ini sarapannya belum kamu habisin", teriak Teh Rumi padaku.
"Ada keperluan mendesak Teh. Wisnu ada urusan di luar kota. Titip Adhis ya Teh!", aku kembali dengan tergesa ke ruang makan dan mencium kening kakak ajaibku itu dan melenyapkan diri dari pandangannya. Sukabumi, kota tujuanku!
Aku menancapkan pedal gas mobil menuju alamat yang ibu kirim. Bahkan aku tak membutuhkan waktu untuk mengistirahatkan tubuhku, sebab Wita dan anakku adalah tujuan yang teramat aku rindu.
Tiba di rumah yang ibu sebut villa itu aku melebarkan senyum. Ibu menyambutku dengan suara pelan. Setengah berbisik ia berkata, "nak Wisnu mau makan dulu? mau ibu buatkan kopi?"
"Witanya di mana bu?" tanyaku mengabaikan tawarannya. Aku sungguh tak sabar ingin bertemu Wita.
"Di kamar, lagi tidur". Ibu menujuk ke arah kamar berpintu kayu jati yang tinggi dan lebar. Aku memutuskan langkah kakiku dengan jatung berdebar. Jika dipikir, aku seperti saat pertama kali akan bertemu dengannya. Saat dengan nekadnya aku memintanya menjadi kekasihku.
Aku membuka pintu kamar, sudut mataku menangkap sosok wanita yang aku rindu. Meringkuk lemah di atas ranjang kecil rumah ini. Aku menghampirinya yang tengah terbaring membelakangiku.
__ADS_1
Aku tahu ia sedang terjaga. Aku memeluknya dari belakang, menyelusupkan jemariku ke atas perutnya.
"Apa kabar anak ayah? Baik-baik kan sama Bunda?" ucapku yang disambut dengan sentuhan tangan Wita pada jemariku. Aku memeluknya erat. Kesalahan terbesarku yang tak termaafkan kembali, yaitu terlalu takut menghadapi takdir yang bahkan belum menjadi takdirku. Akulah manusia sombong itu! Yang mendahului kehendak Tuhan dengan prasangka dangkalku.
"Makan ya!" pintaku.
"Wita suka muntah", ucapnya lemah.
Aku membalikkan tubuhya pelan. Kucium perutnya yang tengah mengandung buah hatiku. Lalu kuucapkan kalimat rindu untuk hadiah terbesar bagiku itu. "Anak ayah yang hebat, bantu bunda buat bisa makan ya? biar bunda kuat kamu juga sehat".
Wita mengusap lembut rambutku. Aku mendongkak dan mencium lembut bibir tipisnya. "Jadilah bunda yang kuat buat anak-anakku sayang! Maafkan aku! maafkan aku! Tolong dampingi aku sampai tua kelak. Bersama anak-anak kita".
"..."
"Kamu, mau punya anak berapa?"
"Empat", jawabnya.
"Waah.. banyak sekali, di rumah pasti ramai nih".
Wita sontak memelukku erat. Aku balas pelukannya dan mencium puncak kepalanya.
"Makan ya!"
"Wita mau jalan-jalan ke sawah yang di depan sama ayahnya dede utun", suaranya sungguh manis di telingaku.
"Iya.. kita jalan-jalan ke sawah. Biar kita bertiga kuat, kita makan dulu ya!". Ia mengangguk dan menggelamkan wajahnya pada dadaku, menghirup tubuhku dalam-dalam. Wita, kaulah wanitaku itu. Bunda untuk anak-anakku.
***
Cinta bagiku merupa semilir angin pagi, meyapa dedaunan hati yang menyegarkan jiwa. Menggauli kedalaman rupa kasih sayang dengan rindu tak terperi. Cinta bagiku merupa langit biru. Luas membentang harapan dan jejak kehangatan mentari hati. Cinta bagiku merupa keberanian. Memasang senapan keteguhan untuk memporak-porandakan virus bernama rasa takut yang menggerogoti nyali. Cinta bagiku merupa genggaman tangan. Bertemali pada janji, menyematkan jalanan kehidupan menjadi ribuan tapak dan jejak sejarah rindu yang terbentang luas hingga ujung waktu. Cinta bagiku adalah Selesa Rindu..
###
__ADS_1
kira-kira, dede utun mirip siapa ya?ðŸ¤ðŸ¤
....