
simpanlah air mata itu
menjauh, pergi dan hilang
aku.. sulamkan penawar kehampaan
-Wisnu-
Jakarta, Wisnu-Wita
Setengah mengatur nafas Wita berdiri di depan gedung perusahaan yang bergerak di bidang rancang bangun itu. Gedung megah-menjulang yang akan menjadi tempatnya berperang kembali dengan gundukan batin penuh emosi. Ia tak mengira bahwa atasannya yang bernama Pak Hermawan telah menargetkan perusahaan ARC ini selama beberapa tahun ke belakang. Wita pun tak mengira jika perusahaan sebesar ini mau menerima permohonan kerjasama yang diajukan oleh perusahaannya. Bukan tak mungkin jika perusahaan sejenis di ibu kota memiliki keinginan yang sama untuk bermitra dengan perusahaan ARC itu.
Hal yang lebih membuatnya terkejut adalah saat ia berada di lantai 14 dan disambut oleh sosok lelaki hangat nan ramah yang beberapa bulan lalu setia menemani dirinya saat sidang. Andra tersenyum ramah menyambut kehadirannya.
"Mba Wita, kena macet ga? Makasih ya udah jauh-jauh datang ke sini", sambut Andra pada dirinya. "Atasan saya sudah menunggu di dalam, masuk sekarang?"
Pertanyaan Andra membuat bulu kuduknya berdiri. Jika boleh memilih , Wita akan menolak permintaan Pak Hermawan dua hari yang lalu tentang kesediaannya menerima mandat ini. Atau, jika boleh berharap, semoga atasan Andra itu bukan orang yang sedang ia kira.
Memasuki ruangan dingin dengan hawa udara AC lengkap dengan aroma kopi mengharuskan Wita menguatkan diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Jikapun iya, ia harus menguatkan pegangan untuk membuat dirinya tetap berada pada porosnya.
Dan.. benar adanya! sosok tegap berbalut jas casual berwarna abu muda dengan tegas menekuri kertas-kertas di meja kerjanya. Wisnu bak manusia berkilat wibawa bertengger pada wilayah kekuasaannya. Merupa kaisar bertahta mengilatkan pedang kekuasaan.
Wajah tegas Wisnu kini menatap beku dirinya. Sama-sama tak percaya dengan permainan Tuhan yang telah diskenariokan olehNya.
"Duduk mba..!", pinta Andra pada dirinya menyadarkan tentang kerumitan yang akan dihadapinya kembali. Wita memberanikan diri duduk di sofa ruangan itu. Mempersiapkan benteng pertahanan yang tak boleh mudah roboh karena kehadiran lelaki yang menjadi masa lalunya.
Dari sudut matanya, Wita memindai lelaki tegas itu melangkah ke arah dirinya. Duduk bersebrangan dan menautkan kedua tangannya lalu berucap, "Apa kabar Wita?"
Wita menunduk dalam diam, lama dan berserat asa. "Kabar baik Pak Wisnu", jawab Wita seraya menundukkan kepalanya pada buku dan bulpoint yang ia pegang. Jantungnya sedang ia atur dengan baik dan gemetar tangannya sedang ia limpahkan pada buku abu milik dirinya. "Bisa kita langsung pada pembahasan kerjasama ARC dan UniShei Consultant, Pak Wisnu!", lanjutnya tegas dan memantapkan diri memandang ke arah lawan bicaranya.
__ADS_1
"Aah.. iyah.. tentu.. tentu bu Wita", jawab Wisnu dengan senyum yang tak dapat lagi menyembunyikan rasa syukur dan rindunya yang mendalam. "Silahkan.. Anda bisa menjelaskan pada saya design pengajuan kerjasama perusahaan anda bu Wita!" ucap Wisnu pada wanita cantik berbalut hijab bermotif abstrak dengan warna pudar itu.
"Baik terima kasih Pak Wisnu, bismillahorrahmanirrahim.. perkenalkan saya Dewita Maharani dari Unishei Consultant.....".
Sungguh kalimat perkalimat yang diucapkan Wita teramat bersuara kerinduan bagi Wisnu. Ia tak lagi dapat berfikir rasional tentang profesionalisme dan aturan main. Biarkan saja Witanya itu berceloteh hingga kerinduannya terbayarkan dengan suara dan aroma tubuh sang wanita yang namanya tersemat dalam dada.
"Demikian pak Wisnu...", kalimat pamungkas yang diucapkan Wita memecah tatapan Wisnu yang hangat penuh cinta. Hingga ia menyadari jika waktu yang dimilikinya bersama Wita hari ini mungkin akan berakhir sebentar lagi.
Wisnu harus memikirkan berbagai cara untuk memperlambat tempo pertemuannya dengan Wita. Hingga ia memutuskan bertanya kembali tentang apa yang dapat ditawarkan oleh perusahaan UniShei Consultant pada perusahaannya yang dijawab dengan kalimat yang akan memunculkan rencana-rencana manisnya ke depan.
"Assessment psikologis sebagai metode identifikasi aspek kompetensi atau potensi psikologis karyawan secara lebih komprehensif dalam aktivitas rekrutmen, penempatan, promosi, konseling karir, atau pelatihan. Proses assessment dilakukan dalam bentuk identifikasi profil atau model kompetensi..", ucapan Wita sontak membuat Wisnu menganggukkan kepala.
"Baik, penjelasan anda cukup menarik bu Wita. Saya akan mempelajarinya lebih lanjut dan besok saya akan mem-follow up-i kerjasama kemitraan kita ke depan seperti apa". Jawaban Wisnu yang kemudian mengantarkan keheningan dalam ruangan ini.
Wisnu lalu berdiri dari tempat duduknya. Membuka jas yang ia kenakan dan melangkah menuju toples permen cokelat di atas meja kerjanya. "Cobalah!, permen coklat.." seraya menyimpan toples itu di meja tamunya. Memastikan jika keringat yang keluar dari pelipis Witanya segera mereda. Sepanjang penjelasan yang Wita lakukan, Wisnu tak lepas mengamati pergerakan tubuh Witanya itu. Tangan Wita nampak gemetar, sesekali membuat gambar pada buku abunya, sesekali memandang Wisnu yang dibalasnya dengan senyuman, sesekali kerudungnya ia betulkan, sesekali nampak berbicara seraya menahan sesuatu, seperti ingin.. muntah? Dan.. keringat yang muncul dari pelipis, dahi, hidung Wita sungguh menandakan bahwa Witanya belum baik-baik saja.
Trauma apa yang telah Wisnu beri untuk Witanya itu hingga saat ini wanita yang ia cintainya nampak tertatih memerangi jiwanya sendiri. Nampak tergopoh dengan berat mendera segala upaya yang ditopangnya sendiri.
"Tidak terima kasih Pak Wisnu, saya masih ada agenda lain bersama rekan-rekan saya".
"Teman anda sudah berada di resto bersama Andra", jawab Wisnu seraya meraih ponselnya yang ia simpan di meja kerjanya dan melangkah menuju daun pintu.
"Atau makan di sini?", tanya Wisnu yang sudah berada di dekat daun pintu dan berbalik berjalan menghampiri Wita yang masih duduk mematung di sofanya. Sontak Wita berdiri dan berjalan mendahului Wisnu. Kini.. senyum tersungging dari bibir Wisnu yang memindai sosok Wita berjalan tergesa ke arah lift kantornya.
Resto yang Andra pilih untuk kliennya itu, bukan!, untuk calon kekasih atasannya itu nampak luas dan nyaman. Wita tak habis pikir dengan temannya yang sekaligus ditunjuk oleh Pak Hermawan sebagai asistennya selama ia di Jakarta, dengan mudahnya menerima ajakan Andra untuk makan siang bersama di sini. Lalu, apa ini? mereka sedang asyik makan santapam siang tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
"mba.. makannya di meja nomor 12, udah Pak Andra pesankan. Kalau di sini gak ada yang kosong", tukas Revita sang asisten pada Wita.
Wita kini hanya mampu pasrah duduk berhadapan dengan lelaki yang membuat jantungnya tak menentu sejak tadi. Ia tatap Wisnu dengan lekat tanpa permisi dan tak henti. Wisnu.. masih sama seperti dulu.. alis matanya.. jemarinya.. rambutnya.. dan caranya makan daging steak... sungguh membuatnya terpaku rindu.
__ADS_1
"Berhentilah menatapku Wita", ucap Wisnu tanpa menghentikan aktivitasnya. "Makanlah..!", ucapnya lagi.
Wita mengerjap. Menyadari kebodohannya tak mampu mengontrol diri dengan benar.
Keheningan menerpa peran yang mereka lakoni saat ini. Hingga Wita memecah diamnya mereka mencoba memberanikan diri, bertanya tentang sesuatu yang tak dapat lagi ia tahan.
"Adhis.. apa kabar?", tanya Wita ragu.
Wisnu, mencoba abai dengan pertanyaan yang Wita lontarkan. Ia mengatur ritme nafasnya. Menandaskan makanannya dan menutup aktivitasnya dengan meneguk segelas air putih milik dirinya.
Berfikir jernih dan menjawab, "tidak begitu baik Wita. Sama sepertiku. Adhis terjebak dalam rindu tak terbalas dari wanita kami yang bernama..." Wisnu menjeda dan menatap Wita. "..bunda Dewita Maharani".
Wisnu menatap Witanya yang kini menahan sesuatu yang hendak menyeruak menggelar lemahnya sang wanita dalam hening.
Air mata... tolonglah bertahan sejenak.
.
.
.
####
sayang-sayang semuaa...🤗
kaliaaanu suka kan dengan cerita aku??...
Ayo gencarkan novelku di berbagai medsosmu ya..
__ADS_1
kalau bisa share ke sekelilingmu.. sodara, kakak, teteh, adik, uwa, mamah, teman, sahabat, mantan, tetangga... semua mua pokoknya ya...😘😘😭🙏
Aku butuh banget dukungan dari kaleaaaan...😢😫🙏🙏🙏🙏🙏