
izinkan aku berhenti
sebab perhiasanmu terlalu tak dapat aku raih
-Wita-
Jakarta, Wita-Wisnu-Lastri
Lanis benar, ternyata menandangi kota Jakarta tidak seburuk yang ia pikirkan. Sepertinya Wita harus mulai yakin, bahwa dirinya kini baik-baik saja. Di lobby hotel dengan segala kemegahannya ia tengah menunggu, bersama para peserta diklat lainnya yang datang dari berbagai provinsi, agama dan jenjang pendidikan. Ia barusan telah berkenalan dengan guru SMA dari Papua. Hal ini terlalu menyenangkan baginya, dunia pendidikan telah menjadi candu.
Para panitia pelaksana diklat sudah membagikan serangkaian acara yang akan ia jalani selama 3 hari di sini. Tiga hari yang baginya akan terlalu singkat. Padatnya acara yang akan ia tempuh tak akan menjadi penghalang bagi semangatnya mengikuti acara ini, karena ia dapat melihat betapa acara ini teramat bergengsi untuk dihadiri orang sekelasnya.
Beberapa pemateri berkelas akan hadir mengisi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan turut serta dalam membuka acara malam ini. “Seneng banget ya bisa diundang ke sini? kita sekamar kayaknya bu”, seorang wanita yang dapat ia perkirakan berusia 50 tahun menyapa dan menghampirinya seraya menunjukan kunci digital kamarnya. “lantai 7 kamar 281”, lanjutnya lagi.
“Wita, dari Embun Gemintang Bandung”, Wita mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Riah, Qodariah..” jawab lawan bicaranya menyambut uluran tangan Wita. “Jawa Tengah, SMP Pelita Harapan”, lanjutnya lagi.
Berbincang-bincang beberapa saat sebelum memasuki kamar mereka dengan berbagai tema. Bertukar informasi mengenai jadwal pemberangkatan, kondisi jalanan, jumlah rombongan dan.. status pernikahan.
"Kayaknya belum nikah nih? betul kan?".
"Belum ada jodohnya bu".
"Usianya berapa ini? coba ibu tebak. 24 atau 23 ya?", Riah memasang wajah kepo ala emak-emak rempong. Apa sih bu Riah.. tanya-tanya usia segala, kan malu.
__ADS_1
Membahas usia bagi perempuan yang sudah matang untuk menikah itu sangatlah menyinggung perasaan. Tapi biarlah, toh memang keputusannya untuk setia dalam status lajangnya memang tak dapat membantah keadaan bukan?.
"Mau masuk 26 bu", jawab Wita singkat.
"Wallah udah punya calon belum? sodara ibu ikut juga hari ini, ngajarnya di Solo, lagi cari calon buat istri, udah matang usianya, kali aja cocok".
Ampun deh bu Riah ini, misinya ikut diklat hari ini sebetulnya apa. Wita hanya dapat menggelengkan kepala sambil tersenyum. "enggaklah bu.. saya mau fokus aja diklat hari ini. Ngebahas jodohnya ditunda dulu".
"ah udah punya calon ini ya.. ya sudah.. semoga lancar sama calonnya ya", bu Riah menyunggingkan senyum sahajanya pada Wita.
Mereka berdua bersama dengan peserta yang lainnya akhirnya menuju kamar masing-masing. Acara hari ini akan dimulai pada pukul 15.30. Wita dan para peserta harus segera bersiap untuk mengikuti rangkaian acara pembukaan yang diselenggaran di area convention hall yang luas di hotel ini. Setelah shalat asar selesai, Wita segera melenggangkan kakinya menuju lantai 10 hotel tersebut.
Rangkaian acara pembukaan dilengkapi dengan pesan singkat sang menteri pendidikan. Dilanjutkan oleh sambutan dari berbagai pihak yang mendukung acara tersebut, termasuk dari para dewan penyantun di berbagai perusahaan ternama yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.
Hardika Burhan Setya, yang menyatakan dirinya sebagai Direktur Asosiasi tersebut memberikan penjelasan gamblang tentang pendidikan di Indonesia saat ini. Sosok yang ia sebut dengan nama pendek Burhan itu nampak kocak, humble dan ringan.
Sesi selanjutnya setelah makan malam adalah sesi kontrak belajar. Semua teramat terasa menyenangkan bagi Wita, tetapi mendapati lembar terakhir ia harus mulai berjaga-jaga dengan keseimbangan jiwanya. Sebab, nama yang tercantum dalam hand out yang ia terima pada halaman ketiga adalah nama yang ia takuti, Special Guest; Wisnu Permana dan Cindya Lastri Cenaya.
******
"Kamu tuh udah cantik, sholehah lagi", komentar bu Riah saat mendapati sosok Wita mengucapkan kalimat terakhir dengan shodaqollohul 'adziim, seraya menutup mushaf Quran dan menyimpannya pada side table bernuansa kayu modern.
Wita membalasnya dengan senyuman. Bu Riah mungkin tidak tahu perlu banyak waktu bagi Wita untuk belajar fasih membacakannya. Beberapa bulan ini saja ia sempat lupa untuk menyentuh benda suci itu sebab suatu alasan kesibukan. Hingga suatu malam ibu menghampiri dirinya. "Akhir-akhir ini kamu terlihat sering melamun, siga (seperti) nu banyak beban kitu. Bawa ini kalo kemana-mana teh, baca walaupun sedikit sebelum tidur we. Maca quran mah nenangkeun hate".
Wita terlalu terlena dengan kondisinya yang mulai membaik memasuki tahun ke-7 pasca kecelakaan. Ia harusnya mengingat betul bagaimana perjuangannya "mempertahankan diri" di saat-saat tergenting. Memperdalam ilmu jiwa dan ilmu agama menjadi pilihan terbaiknya. Semasa kuliahnya di Jogja ia memutuskan menggunakan hijab dan mendekatkan diri pada Sang Khaliq lalu terlibat pada lingkungan yang lebih religius.
__ADS_1
"Masih terus belajar bu", Wita lantas menjawab pujian Bu Riah. Bu Riah hanya melihat bagian terluar dirinya, mungkin jika beliau tahu siapa sesungguhnya Wita, ia akan berfikir ulang untuk mengucapkan kalimat pujian tadi.
*****
Hari ini adalah hari ke-2, ia telah mempersiapkan diri untuk mengikuti diklat pada sesi-sesi berikutnya. Satu hal yang membuatnya khawatir, sejak malam kemarin tubuhnya terasa lemas dan berkeringat tak nyaman. Telapak tangannya terasa hangat dan kepalanya sesekali terasa pusing. Mungkin efek Wisnu mulai menjalar pada reaksi tubuhya, ya.. mungkin.. ia hanya berfikir demikian.
Wita tentu tak boleh berfikir macam-macam. Ia lalu menepis segala fikiran negatifnya dan menekan tombol panah lift hotel. Seketika tubuhnya mematung, menatap ke arah sosok yang baru saja ia fikirkan.
"Jadi masuk?", tanya Wisnu kesal sebab pintu lift sebentar lagi meminta tertutup kembali. Wita lalu memutuskan masuk menuju lift yang belum berpenghuni satu orang pun itu kecuali, Wisnu.
"Lantai?", tanya Wisnu menghentikan lamunannya.
"ah.. sepuluh.. lantai sepuluh".
Tak pernah terfikirkan oleh Wita, ia dapat berada dalam situasi seperti ini. Berduaan kembali dalam satu ruangan bersama Wisnu pasca konsultasi menegangkannya tempo hari bukanlah hal yang ia bayangkan sebelumnya.
Belum sampai pada lantai yang dimaksud, pintu lift kembali terbuka. "Hai Wisnu.. nginep di sini juga?," tanya seorang wanita yang melenggang masuk ke lift tersebut.
"Kalian saling kenal?", tanya sosok wanita yang Wita tahu sebagai artis papan atas Indonesia yang menjadi salah satu special guest diklatnya hari ini. "dari tadi lihatin terus mba nya kayak kamu udah kenal gitu,", lanjut sang artis.
"gurunya Adhis", jawab Wisnu tegas dan datar.
"owh... gurunya Adhis ya.. seneng banget bisa ketemu. siapa namanya nih? nanti biar saya cerita ke Adhis", tanya Lastri dengan antusias dan semangat.
"Wita, gurunya Adhis..", Wita mengulurkan tangan pada sang artis yang tiba-tiba wajahnya memucat. Lastri lalu memutuskan tersenyum dan berhenti dari segala ketegangannya seraya menyambut uluran tangan Wita, "Lastri.. teman dekat Wisnu".
__ADS_1