Selesa Rindu

Selesa Rindu
Jawaban


__ADS_3

kisah ini tiada tepi


menjenguk setiap sudut jiwa yang mengasa


pada keheningan malam hingga pagi


membungkus raga dan deru nafas rasa


hingga kau cukup menatapku


itu saja!


-Wisnu-


Jakarta, Wisnu-Wita


7 tahun lalu


Minggu ini benar-benar kacau. Masih teringat tingkahku yang benar-benar memuatku malu seumur hidupku, ingin kejadian kemarin aku kubur saja bersama cacing-cacing di tanah. Cukup mengganggu pikiranku yang waras. Kecerdasanku yang diatas rata-rata dibuat tak berkutik untuk memahami kejadian di apotik bersamanya.


Kali ini adalah dosen ketiga yang telah menegur kecerobohanku. Hasil penelitianku mengenai konsep desain klasik yang mengusung prinsip rancang bangun asimetris benar-benar memperlihatkan konsetrasiku yang tak baik.


Menjelang senja, kerjaku mengenai laporan-laporan keuangan perusahaan Om Danu menunjukkan banyak keteledoran. Fix, aku harus segera pulang! mengguyur kepalaku yang mumet ini di kamar kosanku dan merbahkan diri di kasur. Sepertinya cara kerja otakku sudah mulai tak seimbang. Aku butuh waktu untuk merefresh ketidakwajaran ini.


Kemarin menjadi hari yang benar-benar di luar skenarioku. Bagaimana bisa terjadi seorang Wisnu meembuat suatu keputusan yang di luar dari rencana. Seperti keahlianku dalam membuat rancang bangun suatu bangunan, hidupku telah tertata rapi sedari dulu. Memiliki konsep yang jelas, perencanaan yang matang, hubungan kejelasan antara satu keputusan dengan keputusan yang lainnya, menjunjung tinggi prinsip proporsionalitas, memiliki irama yang konsisten, menunjukkan komposisi dan skala yang jelas dalam menentukan suatu tindakan.


Tapi apa yang telah tejadi kemarin?, bahkan ulahku membuatku mati kutu. Perempuan yang masih berseragam putih abu itu hanya menjawab dengan tawa yang renyah. Melontarkan sebuah permohonan tentang buku abunya yang masih ada dalam bagasi motorku. Meminta kembalinya barang itu pada pemiliknya dan melenggang pulang melalui angkot berwarna hijau. Lalu, bagaimana dengan hatiku?, bolehkah juga bagian dari tubuhku yang selalu berdetak tak karuan itu menjadi miliknya juga?, hati!. Hei wanita, tidakkah kalian tahu butuh banyak nyali untuk mengeluarkan kata termahal yang baru saja aku lontarkan itu?.

__ADS_1


Pagi dengan semilir angin dingin menemani dudukku yang menjadi tak biasa. Dalam jam yang masih pada ritmenya, aku genggam segenap rasa pasrah dan pilu. Sial, kenapa bis jurusan Bandung-Jakarta itu tak kunjung tiba, hingga suara yang mulai aku kenali menepi ke sudut telingaku. Memanggil namaku, haa? Iya kah? Memanggil namaku?.


“pagi mas Wisnu”.


Ia lalu tersenyum kecil menatap ke arahku. Ah.. tolonglah Wita!, jangan tersenyum begitu. Aku atur irama nafasku dalam hitungan satu kali depalan seperti pada ketukan irama drumband yang pernah aku pelajari semasa SMP dulu. Apa aku juga harus melepas semyumku yang ramah ini?, aku dikenal begitu ramah dan hangat menurut sebagian banyak orang. Apa menjadi hangat harus menjadi suatu pertimbangan pada seseorang yang bernama Wita ini?.


Belum sempat aku membalas senyumnya, ia melontarkan kembali suatu kalimat yang begitu memabukan seperti seteguk madu mengisi sendi-sendi hatiku. Hingga saat itu kalimat yang sering ibu lontarkan, atau teteh antikku juga sering ucapkan menjadi kalimat yang teramat beretalase dan begitu berbandrol mahal. “Hati-hati di jalan ya mas, Wita duluan, angkot Wita sudah datang”. Ia berdiri dan melangkah lalu menjeda langkahnya memutarkan tubuhnya hingga menatapku kembali yang berada di belakang punggungnya. “ah.. sampai lupa, makasih buat salepnya”. Duhai hati, tolong jangan terperangkap disini, oh come on aku harus tetap menjadi Wisnu yang waras. Mulutku terus terkunci, sedang mataku setia memindai angkot berpenumpang gadis putih abu berkepang pita merah hingga tubuh kendaraan baja itu melaju dan menghilang dari pandanganku.


Shalat isya dengan ditemani irama bising klakson dan deru kendaraan malam kota Jakarta menjadi sangat berbeda saat ini. Aku eratkan kedua tanganku, membungkuk dan menempelkan dahi dengan tumpuan kedua tanganku itu dalam silaku yang panjang setelah ucap kedua salam dalam shalatku usai. Masih di atas sajadah pemberian ibu, aku bersimpuh mengadukan segala rasa keterasinganku.


Aku tatap kipas angin yang terus berputar di atas atap kamar kosan, bergerak mengitari temali tebal yang menggantungkan dirinya. Sesaat putaran kipas angin milikku yang semenjak tiga tahun menemaniku menjadi objek peneman ketidakwarasanku. Kuatur degup jantung yang mulai tidak baik semenjak adegan berepisode “apotek dan salep” di kota Bandung. Kugapai handphone yang tergeletak diatas kasur tepat berada di samping telingaku. Aku putuskan mengirim sebuah pesan yang menurutku akan menjadi penawar dari gejala tak normalku.


“assalamu’alaikum, Wita.. sudah tidur”


Satu menit.. dua menit.. lima menit.. sepuluh menit..


Kuputuskan menutup mata, dengan sarung yang masih menutupi setengah badanku. Hingga..


Ting..


“wa’alaikum salam, iya mas Wisnu. Wita belum tidur. Ada yang bisa Wita bantu?”


Mau kan jadi pacarku? -delete-


Kamu lagi apa? -delete-


Aku belum jawab ucapan terimakasihmu. -delete-

__ADS_1


Fyuuuh.. mengapa mendadak sulit mendapatkan kalimat yang tepat. Aku bahkan dengan sangat mudah membuat berbagai judul dalam jurnal atau artikel untuk tugas-tugas kuliahku.


“aku belum mendapat jawaban dari pertanyaanku, kemarin”. -send-


akhirnya kalimat tersebut yang aku kirimkan pada wanita itu.


“mas Wisnu serius?”


Jawabannya benar-benar diluar dugaan. Aku pikir aku akan ditolak mentah-mentah, sekedar coba-coba mengundi nasib ternyata mendapat sedikit celah meski remang.


“tentu” jawabku.


“aku gak bisa. Maaf!”, pernyataan yang kutunggu-tunggu namun tak disukai kehadirannya, sebuah kepastian yang menggila untuk hatiku.


“selamat malam mas Wisnu”.


“apa sudah punya pacar?” tanyaku tak terima. Enak saja dia menutup obrolanku tanpa izin.


“hahahah.. bukan, bukan begitu. Wita gak punya pacar”.


“lalu?”.


Pertanyaanku menggantung tanpa sebuah jawaban. Dasar gila!. Aku buka handphone dalam genggamanku setiap hampir 5 menit. jika kuhitung mungking sudah lima puluh kali aku membukanya. Mengapa rasanya dada ini ingin meledak. Tolonglah Wisnu, kamu bukan lagi anak ABG yang terbuai dengan cinta monyet kan?.


Kulangkahkan kaki untuk menemui seseorang yang selalu menemani hari-hariku. Yang selalu mengekoriku kemanapun aku pergi, yang sekarang setia memituskan berdampingan ruangan meski kuliah kita sudah berbeda, dia masih saja menikmati statusnya sebagai mahasiswa S1, sedang aku sudah jauh meninggalkannya untuk segera menuntaskan tesis pasca sarjana di kampus yang sama. entah apa yang ada dalam fikirannya. Anak orang kaya bebas melakukan apapun. Tak seperti diriku yang harus berjibaku dengan mimpi dan kenyataan. Usaha dan jerih payah.


Dia, sahabat setiaku yang selalu menemani kesendirianku. Yang mengaku setia dalam suka dan duka, hingga kadang aku mual mendengarnya. BURHAN!, tiba-tiba aku rindu berduaan dengannya. SIAL…

__ADS_1


__ADS_2