
memindai jejak cintamu
aku membeku
terkapar segaris harap
hentikan. tolong hentikan!
-Wita-
Bandung, Wisnu-Wita
“Bunda wii taaa..” suara kecil yang khas terdengar ditelinga Wita pagi ini. Diujung pintu ia lihat tubuh mungil Adhis mengintip ke arah meja kerjanya. Lucu dan menghibur, untuk apa bersembunyi jika setengah tubuhnya masih tetap terlihat. Dasar anak kecil.
“salam dulu doonk sebelum masuk” goda Wita pada sang anak.
“heheh lupa..” Adhis menjawab seraya berlari dengan tas gendong yang melekat di tubuh mungilnya ke pangkuan Wita yang berada di kursi kerjanya. Adhis lalu memeluk tubuh sang guru kesayangan bernama Wita. Wajah kecilnya lalu mendongkak, “assalamu’alaikum bunda Wita” ucap Adhis mengabulkan permintaan sang guru.
Tiga pekan sudah Adhis menjadi penghuni ruangan Wita. Sesekali Wita membawanya ke ruang kelas Adhis, tetapi sesuai perjanjian mereka, ya.. janji antara Adhis dan Wita, Adhis akan berada di kelas pada jam sembilan sampai jam sepuluh. Sebelum dan sesudahnya ia akan setia menemani Wita bekerja, atau.. sesungguhya berbalik, Wita yang menemani Adhis menemukan kan rasa aman dan nyaman dalam dirinya mengantarkan pada situasi "belajar" bagi Adhis..
“Tantangan bunda sudah Adhis selesaikan?” tanya Wita pada sang anak.
“sudah doonk, aku kan anaknya hebat” jawab Adhis. Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu merah muda yang dibubuhi berbagai stiker bunga beremojikan senyum dengan penjelasan hari dan tanggal kemarin.
“lho.. ko ada bunga yang cemberutnya?” tanya Wita dengan wajah cemberut tanda kecewa. Sontak memancing Adhis menyusup ke dada Wita dan memeluknya. “aku gak tahan marahin Aa Risyad, terus gigit tangannya”.
“kenapa?” tanya Wita lagi.
“aa Risyad ngambil-ngambil makanan aku”.
“hmmzzz… kalau begitu, hadiah ceritanya Bunda Wita tunda dulu ya, sampai bunga-bunganya semua tersenyum”. Wita lalu bersiap siaga kalau-kalau Adhis membuat penolakan, seperti dua minggu yang lalu. Negosiasi yang Wita buat tidak berhasil. Kulit mulus bahu kirinya harus terkena gigitan Adhis yang… Luarrr Biasa menyengat. Aneh, padahal bahunya terbalut baju dan jilbab, tapi gigi Adhis seperti sebuah pisau tajam yang baru saja diasah.
Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima..
Sampai hitungan ke-lima tidak ada reaksi agresif yang dipertontonkan Adhis, ia hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Fyuuuuh.. alhamdulillah berhasil. Kamu pasti bisa Adhis, pasti bisa menjadi layaknya anak-anak yang lain.
“hari ini kita mau ngapain bunda?”.
“hari ini Adhis ikut bunda ke kelas musik ya. Kita seru-seruan di sana”.
“asiiik”, jawb Adhis seraya turun dari pangkuan Wita. Ia lalu duduk di atas rumput sintetis yang dilengkapi dengan berbagai mainan dan meja lipat lesehan.
“sebelumya Adhis bantu bunda Wita dulu ya!” pinta Wita.
__ADS_1
“Adhis boleh mewarnai gambar yang bunda buat sampai terlihat indah, sambil menunggu Adhis mewarnai, bunda Wita menyelesaikan dulu tugas-tugas Bunda di laptop. Bagaimana?”
“setuju” jawab Adhis penuh semangat.
Satu jam berlalu, dan Wita memutuskan menghentikan perkerjaan di laptopnya. Ia harus bekerja dalam versi yang lain. Ya.. membawa Adhis pada lingkungan belajar yang menyenangkan.
“sudah selesai?” tanya Wita.
“belum..sedikit lagi” jawab Adhis yang teralihkan perhatiannya oleh boneka-boneka dipinggirnya. Mewarnai boleh saja, tapi bermain alat mainan yang lain memang sudah menjadi hobinya Adhis di ruangan Wita itu.
“setelah selesai kita ke kelas Adhis dulu ya, Bunda Zahra dan Bunda Uswah punya sesuatu”. Ungkap Wita. Ya, sesuatu, sesuatu yang menuntun Adhis untuk mengenali dunia di luar dirinya, teman-teman, aturan, orang dewasa, hak dan kewajiban.
“iya” jawab Adhis.
“setelah itu kita akan seru-seruan di kelas musik” goda Wita.
“iya..iya..” Adhis mengangguk semangat menjawab ajakan Wita dengan senyuman yang merekah dan mereka berdua menikmatinya dengan bahagia.
*****
Siang ini cahaya matahari cukup menyengat dari hari-hari biasanya di kota Bandung.
Tulaliut tulaliut.. tulailit tulaliut…
“hallo assalamu’alaikum. Iya teh ada apa?” tanya Wisnu pada sang kakak yang menelponnya dari tadi.
“lima belas menit lagi nyampe teh, tapi Wisnu mau belok dulu rumah rumah makan nih. Lapar banget”.
“iyah atuh sok, kebetulan teteh belum masak. Terus sekalian jemput Adhis ya, setengah jam lagi jadwal Adhis pulang. Nanti teteh kasih tahu bu gurunya kalau ayah Adhis yang jemput!”.
Wisnu tak menanggapi permintaan tetehnya itu, iya lebih memilih menjawabnya dengan gumaman, “hmmm”, karena sudah hampir tiga bulan ini Adhis belajar di lingkungan prasekolah bernama Embun Gmintang ia belum pernah melihat langsung bagaimana Adhis di lingkungan barunya itu. “gurunya Adhis siapa Namanya teh?”, Wisnu memastikan agar tak terjadi kesalahan, bukan Wita kan?. “Bunda Zahra sama bunda Uswah”, jawab Teh Rumi. “oke aman, biar Wisnu yang jemput”, “haaa..?? apa? Aman kenapa?”.
Wisnu tak menjawab kepenasaranan Teh Rumi, ia memilih menutup pembicaraan telepon mereka dengan kalimat salam. Wisnu tiba di halaman sekolah Embun Gemintang, “assamalu’alaikum, selamat siang pak” sapa sang security dan mengarahkan mobilnya untuk diparkir di pojok sebelah kanan dekat pohon jambu dengan halaman yang luas dan rindang.
“mohon maaf, kelas ceria sebelah mana ya bu? saya mau jemput anak saya” tanyanya pada seorang wanita muda yang ia rasa merupakan guru di sekolah Adhisnya itu, karena dilihat dengan jelas sebuah name tage yang tergantung di leher sang wanita sebuah nama Bunda Sarah-TK Embun Gemintang.
“owh kelas yang berada di tengah, ada nama di depan teras kelasnya, tulisan Kelas Ceria”, jawab Sarah sambil menunjuk ke arah kelas yang dimaksud. Wisnu mengangguk sambil membungkukkan badannya tanda ucapan terimakasihnya. “astagfirullah, bening kitu nyak! Beuh sayangnya udah punya anak. Kalau masih bujangan dibungkus lah buat seseorang. Hihihi…” gumam Sarah sambil cekikikan.
Setibanya di depan pintu Kelas Ceria nampak beberapa anak sedang bermain, sebagian memakai tas, sebagian duduk di kursi. Sekitar enam orang anak, nampaknya sebagian besar teman-temannya Adhis sudah pulang.
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumussalam” jawab Bunda Zahra seraya menghampiri Wisnu yang sudah berada di depan pintu.
__ADS_1
“saya mau jemput Adhis”
“ow iyah sebentar ya!” jawab Zahra sambil tersenyum.
Wisnu nampak bingung denga napa yang dilakukan wanita di depannya. Gurunya Adhis itu melakukan panggilan video pada kakaknya, Teh Rumi.
“assalmu’alaikum, mamah maaf mengganggu. Hanya mau memastikan ini benar yang mau menjemput Adhis?” tanya Zahra pada Teh Rumi dalam panggilan videonya.
“iyah betul bunda, itu adik saya, ayahnya Adhis”
Ayah Adhis? Zahra sedikit bingung dengan jawaban Teh Rumi, lalu lelaki yang dipanggil ‘papa’ itu siapa?. Tapi ia memilih untuk tidak memperdulikannya, biarlah nanti ia akan tanyakan sendiri pada mamahnya Adhis. Tak perlu sekarang. Zahra lalu menutup sambungan video callnya dan mengantarkan lelaki yang terlihat menawan itu menuju ruangan Wita, tempat Adhis berada saat ini.
Wisnu tersenyum manis, sebegitu hawatirnya gurunya Adhis ini jika anak didiknya dijemput oleh orang yang tak pernah dikenali. Pantas saja kang Indra menolaknya mentah-mentah saat dirinya meminta memindahkan Adhis ke sekolah yang lain. “ini sekolah terbaik yang akang pilih. Akang udah tanya-tanya kesana kemari. Sekolah ini baik untuk Adhis. Buktinya Adhis sekarang mendapatkan perhatian penuh dari guru-gurunya”, jawab Kang Indra ketika itu.
“Adhis kalau pulang memang suka dijemputnya tidak di kelas. Betahnya sama bunda yang lain”, Wisnu mendengarkan ucapan Zahra dan berjalan mengikuti langkahnya. Wisnu hanya mengangguk dan tersenyum.
Zahra lalu mengetuk pintu ruangan yang berwana peach dengan hiasan gambar strawbery dan pohon serta bunga-bunga kartun. Didengarnya suara gemericik air di dalam ruangan.
“assalamualaikumn bunda… ada yang jemput Adhis” ucap Zahra sambil membukakan pintu.
“masuk aja bunda Zahra, tunggu di dalam, Adhis masih di ******. Sama maaf minta tolong ya.. ke teh Rani celana panjang buat Adhis ditunggu di ruangan saya” teriak seseorang di dalam kamar mandi.
“baik bund” jawab Zahra.
“ayah tunggu di dalam aja, ada sofa di sana, saya ambil pakaian buat Adhis ke Teh Rani dulu” pinta Zahra pada Wisnu.
“baik terimakasih” Wisnu tersenyum dan memutuskan masuk ke dalam ruangan.
Didengarnya suara tawa riang Adhis dan candaan guru Adhis di dalam kamar mandi tersebut. Diedarkannya pandangan pada seluruh sudut ruangan yang terlihat begitu menyenangkan itu. Benar-benar ruangan guru anak TK, gumam Wisnu. Tatapannya terhenti pada barang yang ia kenali beberapa bulan lalu, sebuah boneka dan satu toples cokelat yang pernah ia beli di negeri Malaysia. Owh tidak!! Jangan-jangan..
“gufroonaka.., alhamdulillah sekarang Adhis udah bisa bilang kalau mau pups, mamah.., jadi udah boleh gak pakai popok lagi”, Wita mengucapkan beberapa kalimat seraya membawa Adhis ke depan Wisnu sambil mengeringkan kaki Adhis yang nampak masih basah. Dilihatnya baju Wita basah dan ia pastikan sepertinya ulah Adhis.
Wisnu hanya dapat mematung dalam duduknya yang terasa memanas, menatap seososok wanita yang terus berbicara hingga membungkam hatinya beribu bahasa. Ia tak lagi dapat membedakan, apakah degup jantungnya masih menyimpan dendam, setipis itukah perbedaan cinta dan benci?
Dilihatnya sang Wita mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk pada handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan tubuh Adhis. Lalu seketika Wita mengalamatkan tatapannya pada bola mata miliknya yang sejak tadi memindai sang guru.
Wita terdiam membeku, membatu tak bergerak dan menjatuhkan handuk yang ia pegang saat mendengar suara mungil sang Adhis.
“ayaaaah…”
####
duh... kaget banget pan ya... Teh Rumi siiih pake ada acara gak bisa jemput segala😁😁😁
__ADS_1
Wisnu plisss deh ah. bikin aku deg degan teroooos. nulisnya sampe tahan nafas gini nih.
ayooo readers kasih aku suntikan nafas ya. Sahre, vote, like en komeeen. plis plis plis...😘😘😘😘🤫